|
Ringkasan Khotbah : 5 Oktober 2008
Nats: Markus 10:17-27 Pengkhotbah : Ev. Junedy |
Bandingkan nats kita hari ini dengan Matius 19:16-28 dan Lukas 18:18-27. Dalam Matius dikatakan bahwa orang ini muda dan kaya, dalam Lukas dikatakan bahwa orang ini adalah pemimpin. Kemungkinan dia adalah pemimpin sinagoge lokal di tempat itu. Dia juga adalah seorang yang baik kerohaniannya karena dia sudah menjalankan hukum Taurat dan menjadi pemimpin sinagoge. Orang yang seperti ini sulit ditemukan di zaman ini. Markus menceritakan bahwa ketika orang tersebut datang kepada Tuhan Yesus, dia datang dengan berlari, kemudian dia berlutut di hadapan Tuhan Yesus. Orang muda yang mempunyai kapasitas seperti orang itu biasanya sombong, tidak akan mau berlari datang kepada Tuhan Yesus, apalagi berlutut di hadapan Tuhan Yesus.
Orang muda itu dengan sikap yang benar, mengajukan pertanyaan yang benar yaitu bagaimana saya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, bagaimana saya bisa memperoleh hidup yang kekal itu. Tetapi di balik pertanyaan itu ada konsep yang salah yaitu hidup kekal bisa diperoleh dengan usaha manusia, dengan prinsip memberi dan menerima. Selain itu, orang muda itu mempunyai maksud mencari konfirmasi bahwa yang sudah dia lakukan dapat menjamin dia memperoleh hidup kekal.
Tuhan Yesus bertanya kepada orang muda itu, apakah dia sudah melakukan perintah Allah. Urutan perintah Allah yang disebutkan Tuhan Yesus berbeda dengan yang ada di kitab Keluaran. Mengapa demikian?
Orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus menganggap diri mereka layak untuk masuk surga karena:
1. mereka adalah keturunan Abraham.
2. mereka menjalankan hukum Taurat termasuk tradisi leluhur.
Orang muda itu datang kepada Tuhan Yesus untuk konfirmasi akan hal itu.
Tuhan Yesus menjawab orang muda itu : masih ada yang kurang yaitu juallah seluruh hartamu dan bagikan kepada orang miskin, lalu ikut Aku. Kalau kita mendapatkan pertanyaan yang sama dari Tuhan Yesus, bagaimanakah respon kita? Akankah kita menjual seluruh harta kita atau pergi dengan sedih?
Apabila kita katakan bahwa perintah itu hanya berlaku untuk orang muda itu, bukan untuk semua orang, tetapi ada prinsip kekal yang berlaku bagi kita semua, yaitu melalui perintah di atas Tuhan Yesus hendak menunjukkan siapakah yang menjadi prioritas hidup orang muda itu. Apakah dia benar-benar mencari Tuhan, mencari hidup kekal ataukah tuhannya adalah hartanya. Orang muda itu tidak bisa menyangkal diri dengan menjual seluruh hartanya dan mengikut Yesus.
Perintah itu berlaku bagi kita semua. Tuhan Yesus berkata : kalau kita ingin menjadi pengikut Kristus, kita harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus. Sangkallah dirimu dengan menjual kenyamananmu, segala milikmu, kesenanganmu. Andalan orang muda ini adalah kedudukannya, kekayaannya, pencapaian dari segala usahanya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa hidup kekal itu diperoleh dari pemberian Tuhan bukan dengan kebanggaan diri ataupun dengan pencapaian dari segala usaha diri.
Kalaupun orang tersebut membagikan hartanya kepada orang miskin, Tuhan Yesus menjanjikan harta di surga sebagai gantinya, selain itu bukankah akan menjadi berkat bagi orang lain. Pada zaman itu, banyak sekali orang miskin yang 80% dari penghasilannya dipakai untuk makan. Oleh sebab itu, ketika Tuhan Yesus mengadakan mujizat memberi makan 5000 orang, mereka mau menjadi Yesus sebagai raja agar dapat memberi makan gratis setiap hari.
Kekayaan bisa menjadi tanda dari berkat Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penghalang bagi manusia untuk lebih beribadah kepada Tuhan. Orang muda itu tidak bisa menuruti perintah Tuhan Yesus karena satu hal, yaitu karena hartanya banyak, dalam bahasa aslinya dikatakan karena propertinya banyak, tanahnya banyak. Kisah seperti ini juga terjadi sampai zaman ini.
Cerita tentang manusia yang menjual jiwanya untuk mendapatkan harta terjadi terus sepanjang masa karena manusia merasa bahwa hidup kekal itu tidak bisa ditentukan oleh makna di luar diri manusia, karena merupakan sesuatu yang abstrak, padahal zaman modern ini menekankan hal yang konkrit. Hidup manusia harus bermakna, kalau tidak, akan menjadi kosong. Muncullah filsafat materialisme, logical positivisme, dan sebagainya, yang mengatakan bahwa makna hidup itu tidaklah ada karena tidak bisa dibuktikan, tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, dan tidak bisa diuji keberadaannya; materi lebih penting karena bisa dilihat. Itu adalah versi Barat.
Versi Timur mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Muncullah allah-allah yang merupakan gambaran dari manusia, misalnya dewa yang memegang uang, ada dewa hujan, dewi kesuburan, dewa kekuatan. Ini semua hanyalah proyeksi dari keinginan manusia.
Akibat dari materialisme adalah: walaupun punya kekayaan, jiwa tetap kosong, sehingga perlu diisi dengan hiburan. Banyak hiburan yang ditawarkan, seperti televisi, komik, dimana gambar lebih menonjol daripada perkataan. Hiburan yang paling utama dalam zaman ini adalah kekerasan, humor, seksualitas, dan komedi. Ironisnya, justru di zaman yang penuh dengan hiburan ini, manusia merasa lebih kosong dan lebih kosong lagi. Kita mengalami tekanan mungkin 20 kali lebih besar dari zaman sebelum ini, sehingga mempercepat kita menghadap Tuhan.
Ketika muda, kita pakai tenaga kita untuk kerja berat untuk mengumpulkan uang. Ketika tua, kita kehilangan kesehatan, lalu kita memakai uang yang kita peroleh waktu muda untuk mengganti kesehatan yang telah hilang tersebut. Bukankah hidup manusia itu seperti roda yang terus berputar seperti itu? Orang yang kaya, hartanya dihabiskan oleh cucunya, kemudian cucunya mencari harta lagi tetapi dihabiskan oleh cucunya. Hal ini terus berputar. Cerita ironis seperti yang dialami orang muda itu terus terjadi di sepanjang sejarah manusia.
Markus mengkontraskan cerita orang muda ini dengan Bartimeus, orang yang buta, yang setelah disembuhkan oleh Tuhan Yesus rela menanggalkan jubahnya (harta satu-satunya miliknya) lalu mengikut Yesus ke Yerusalem. Kontras dengan orang muda itu yang tidak bisa meninggalkan hartanya untuk mengikut Yesus.
Cerita orang muda ini juga memiliki banyak kesamaan dengan cerita tentang anak yang kerasukan (Markus 9:14-29) yaitu sama-sama memiliki sesuatu sejak masa kecil mereka, anak itu sudah dirasuki setan sampai umur 12 tahun, sedangkan orang muda itu sudah melakukan Taurat sejak umur 12 tahun ketika dia ditahbiskan menjadi anak Taurat; keduanya sama-sama dirasuki, anak itu dirasuki roh jahat, sedangkan orang muda itu dirasuki materialisme. Ironisnya adalah anak itu dilepaskan sedangkan orang muda itu tidak pernah dilepaskan karena dia sendiri tidak mau dilepaskan dari kerasukan materialisme itu.
Tuhan Yesus menawarkan hal yang lebih baik yaitu : ikutlah Aku. Apakah ada yang lebih baik daripada mengikut Tuhan? Dalam kitab Kejadian diceritakan bahwa Yusuf dapat berhasil karena Tuhan menyertai dia. Kalau kita mengikut Tuhan, Tuhan akan menyertai kita, bukankah ini adalah hal yang besar? Ketika kita menjadikan materialisme sebagai andalan kita, itu hanya akan menjadi fatamorgana bagi kita, karena sepanjang sejarah terbukti bahwa materialisme tidak pernah bisa memuaskan manusia. Kesenangan yang kita lakukan terus menerus akan menimbulkan kebosanan, itulah fatamorgana.
Yang bisa memuaskan kita adalah ketika Tuhan beserta kita dan kita beserta Dia. Itulah yang menjadi permasalahan manusia sejak awalnya. Ketika dosa terjadi, manusia terpisah dari Tuhan, dosa memisahkan manusia dengan Sang Sumber Kebahagiaan, Sang Sumber Hidup, maka terjadilah kesengsaraan yang terbesar.
Kejadian 3:22 sepertinya menunjukkan bahwa perkataan iblis kepada Hawa adalah benar yaitu manusia tidak akan mati ketika makan buah yang dilarang oleh Tuhan melainkan akan menjadi seperti Allah. Kita melihat sepertinya iblis yang benar, Allah yang salah, karena definisi “mati” kita mengikuti dunia. Mati menurut dunia adalah terpisahnya tubuh dengan jiwa. Arti “mati” yang sesungguhnya adalah ketika dosa memisahkan kita dengan Sang Sumber Hidup. Tumbuhan yang tercabut dari tanah sebagai sumber haranya, maka dia sudah mati walaupun dia masih kelihatan segar.
Ketika manusia kembali kepada Allah, dia mengalami hidup yang sejati, hidup yang kekal, hidup yang dicari oleh orang muda ini. Orang muda itu sudah menjalankan sikap yang benar, mengajukan pertanyaan yang benar, tetapi ketika jawaban sudah diberikan, dia tidak bisa mengambil keputusan yang benar. Ironis sekali!
Tuhan Yesus menaruh belas kasihan kepada orang muda ini. Tuhan bukan ingin menyusahkan orang muda ini, Dia mengasihi orang muda ini. Tuhan hanya ingin mengatakan bahwa usahamu, dirimu, pencapaianmu, kerohanianmu, dsb tidaklah bisa diandalkan untuk dapat memperoleh hidup kekal.
Cerita ini juga kontras dengan kisah hidup Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus tidaklah sukses kalau dilihat dari sisi materialisme. Menurut filsuf zaman dulu, sukses adalah ketika seseorang menjadi bijaksana, dapat mengatur hidup dengan baik. Zaman ini mengatakan bahwa sukses adalah ketika kita menjadi kaya; kita kuliah bukan untuk menjadi orang yang lebih baik melainkan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih baik. Ironisnya, Tuhan Yesus ketika akan mati di atas kayu salib mengatakan bahwa Dia sudah selesai, Dia sudah sukses; padahal Dia dikhianati oleh muridNya, ditinggalkan oleh murid-muridNya, Dia mati di usia yang begitu muda sebagai seorang penjahat.
Ketika kita mengejar kepuasan di luar Tuhan, itu semua hanya fatamorgana, maka Tuhan Yesus mengajar kita untuk menyangkal diri. Sangkal diri, ikuti jalan Tuhan, maka kita akan bisa kembali kepada hidup yang sejati. Hidup yang kekal adalah mengenal Allah dan mengenal Yesus sebagai satu-satunya juru selamat. Hidup yang kekal adalah sebuah relasi, sebuah pengenalan (=relasi yang intim). Dosa memisahkan manusia dengan Allah, Kristus datang ke tengah dunia untuk mencari manusia berdosa, untuk memulihkan relasi manusia dengan Tuhan. Dengan pulihnya relasi tersebut, manusia akan memperoleh hiburan yang sejati, bahagia yang sejati.
Prinsip yang indah yang ditawarkan oleh Alkitab adalah benda yang sejati adalah bukan berupa benda melainkan berupa hidup yang sejati yaitu hidup yang kembali kepada Allah, hidup yang didefinisikan oleh Sang Pemberi Hidup. Kalau manusia menyimpang dari tujuan semula ketika diciptakan oleh Tuhan, manusia menjadi rusak sehingga kehilangan maknanya/ nilainya, kehilangan arti dan tujuannya. Mari kita kembali kepada tujuan hidup yang Tuhan tetapkan bagi kita.
Ketika teknologi menawarkan kepada manusia segala sarana untuk dapat hemat waktu, hemat tenaga, pertanyaannya adalah dikemanakankah waktu yang dihemat tersebut? Bukankah orang modern/ post-modern sekarang ini waktu luangnya makin sedikit, makin dihibur makin stress. Ketika teknologi menawarkan kemudahan hidup, manusia kehilangan makna hidup. Di dunia dengan kecanggihan alat komunikasi yang ada, manusia merasa kesepian. Dengan informasi yang banyak, manusia menjadi semakin tidak bijaksana. Dengan bijaksana manusia sendiri, manusia ingin hidup yang lebih baik. Dengan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, manusia ingin menjadi seperti Tuhan, bukan kehendak Tuhan yang jadi melainkan kehendakku yang jadi. Semuanya ironis!
Cerita orang muda ini dapat terjadi dalam kehidupan kita, dan hal-hal yang ironis juga dapat kita alami. Akankah kita seperti orang muda ini yang datang dengan sikap yang benar, kepada guru yang benar dengan pertanyaan yang benar, tetapi kita gagal mengambil keputusan yang benar? Apakah materi dapat memberikan kepada kita kepuasan dan kebahagiaan hidup? ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)