|
Ringkasan Khotbah : 28 September 2008
Nats: Matius 20:17-19 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Tema bahasan Matius 20 adalah melihat apa yang Tuhan lihat. Inilah yang disebut sebagai visi. Visi bukan ambisi. Visi, di dalam pengertian Firman, bukanlah impian saya, juga bukan tujuan yang ingin saya raih yang merupakan aktualisasi diri belaka. Visi adalah melihat apa yang Tuhan bukakan/ revelasi wahyu Allah, sehingga kita bisa menanggalkan seluruh pikiran kita, seluruh konsep kita yang salah dan berdosa lalu kita bisa melihat, berpikir dan menjalankan seperti yang Tuhan inginkan. Tuhan membukakan kebenaranNya, menyatakan isi hatiNya, dan kita mengerti akan hal itu karena kita adalah umat yang Tuhan panggil untuk itu. Orang dunia yang berdosa tidak berhak memakai istilah “visi” karena istilah ini sudah mengalami re-definisi yang tidak tepat sebagaimana yang Alkitab nyatakan. Yang lebih celaka adalah ketika konsep visi yang sudah rusak ini dibawa kembali ke gereja dan gereja menerimanya. Makna visi harus dikembalikan kepada yang seharusnya. Visi adalah revelasi, wahyu. Jika tidak ada visi/ wahyu maka manusia akan binasa.
Mari kita melihat Matius 20:17-19 ini dari sudut pandang Tuhan, bagaimana Tuhan bertindak dan bersikap. Ayat diatas merupakan perikop kedua dari Matius 20. Pada perikop pertama kita melihat bagaimana cara Tuhan melihat anugerah di dalam seluruh aspek. Manusia hidup dengan hitungan bisnis, sedangkan Tuhan melihat hidup berdasarkan anugerah. Cara manusia melihat dengan keuntungan pribadi, sedangkan Tuhan melihat dengan prinsip belas kasihan Allah.
Matius 20 ini merupakan posisi antara, yaitu Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem dari Galilea, sebelum sampai ke Yerusalem Tuhan Yesus menyisih sebentar, menyeberang ke Sungai Yordan untuk memberikan suatu pembekalan kepada para murid, umatNya, orang yang akan meneruskan pekerjaanNya. Dalam Matius 20:17 : Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas muridNya tersendiri .... Di sini kita lihat bahwa Tuhan Yesus masih terus memberikan pengajaran tentang bagaimana muridNya melihat apa yang Dia pikirkan dan rasakan, bagaimana mengerti realita dunia berdasarkan yang Kristus tunjukkan, mengerti sikap manusia berdasarkan sudut pandang Tuhan yang berbeda daripada yang dunia bisa lihat.
Dalam perikop ini sekali lagi Tuhan mengajarkan bagaimana Anak Manusia akan pergi ke Yerusalem, akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dihukum mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, bangsa-bangsa pagan, bangsa-bangsa non theis. Ini adalah berita ketiga tentang misi Kristus. Kenapa bisa Yesus Kristus yang adalah Allah, yang begitu baik harus mengalami hal tersebut diatas? Kenapa bisa orang-orang yang seharusnya tidak bersikap demikian, melakukan perbuatan tersebut diatas? Kenapa manusia bisa berespon seperti itu? Tuhan Yesus hendak mengajak para murid melihat realita dunia yang mana dunia sendiri tidak bisa melihat.
Kita melihat di sini adalah kesulitan/masalah dalam kehidupan beragama. Agama seharusnya dapat membuat manusia hidup baik, tetapi kenapa imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat menjatuhi Tuhan Yesus hukuman mati? Agama ada supaya dunia bisa lebih baik, tetapi yang kita temukan bukanlah demikian. Itu adalah definisi yang salah tentang agama. Agama pada hakekatnya bukan seperti itu. Faktanya, ketika agama bertemu dengan orang baik sejati, bukannya menghormati dan menghargai orang baik, bahkan ketika agama bertemu dengan orang benar, dengan Tuhan sendiri yang hadir di tengah dunia, bukannya menyembah Tuhan yang sejati. Paulus dalam Roma 1 mengatakan bahwa manusia berdosa/fasik bukan tidak tahu Allah tetapi manusia merasa tidak perlu menghormati, menghargai dan mendatangi Allah. Kalau begitu, agama itu apa?
Seorang mengatakan bahwa agama adalah refleksi egoisitas manusia yang memuncak sampai ke tingkat allah, agama adalah tempat di mana saya memakai nama agama untuk memaksakan kedaulatan saya sebagai allah. Perjalanan dunia sampai pada zaman dimana manusia mengatakan bahwa manusia adalah allah.
Seorang theolog mengatakan bahwa agama adalah upaya manusia melarikan diri dari Allah dengan cara membuat allah yang baru menurut manusia. Jadi, allah itu apa? Allah adalah refleksi daripada pikiran manusia yang dia puncakkan seturut keinginan dia atau mengutip perkataan Ludwig Feuerbach, seorang theolog calon pendeta yang akhirnya menjadi atheis, allah dicipta oleh manusia menurut pikiran/ peta teladan manusia. Allah adalah refleksi, pikiran, gambar kita yang kita ciptakan sendiri.
Konsep dunia tentang agama ternyata tidak seperti yang dunia sendiri umumkan. Ketika agama bertemu dengan Tuhan sendiri, mereka tidak suka karena mereka punya tuhan sendiri.
Di Kaisarea, Filipi, orang-orang zaman itu suka datang ke supermarket dewa-dewa. Konsumen bisa memilih dewa yang sesuai dengan kebutuhan/ tujuan konsumen itu sendiri. Dewa yang dipilih akan dibeli, dibawa pulang, lalu disembah. Kalau setelah itu, si pemilik dewa merasa dewanya tidak manjur, dewa tersebut dipulangkan dan ganti dewa yang lainnya. Berarti manusia mencari dewa/illah/allah yang cocok dengan kepentingan manusia. Jadi, allah adalah pemuas kepentingan manusia.
Problematik supermarket dewa dan agama di abad pertama tidak selesai sampai abad 21. Di abad 21 ini, orang datang ke gereja bukan untuk mencari kebenaran, tunduk kepada kebenaran, dikoreksi oleh kebenaran sampai dia dapat melihat visi/ apa yang Tuhan ingin dia lihat, tetapi orang selalu minta Tuhan yang mesti cocok dengan yang dilihat manusia.
Dalam Roma 1:19-23 Paulus secara tajam mengkoreksi bagaimana manusia beragama. Manusia bukannya kembali kepada Tuhan Allah tetapi justru menghina Tuhan, mereka mengganti dengan gambaran manusia/ binatang yang fana, karena manusia merasa begitu berhikmat sehingga menjadi sombong, hati manusia yang bodoh sudah menjadi gelap.
Agama kalau tidak kembali kepada Tuhan yang sejati, kalau tidak tunduk kepada apa yang Tuhan inginkan, agama justru akan menjadi tempat yang mengerikan. Agama menjadi alat dengan nama Tuhan membunuh Tuhan Yesus, membunuh kebenaran, membasmi semua yang bajik. Agama bisa menjadi jahat karena menjadi alat memusuhi orang lain yang tidak cocok dengan pikirannya.
Kristus hadir di tengah-tengah dunia mengajarkan kebenaran dan melakukan kebajikan tetapi orang-orang tidak suka dengan Dia. Orang beragama benci sekali dengan kehadiranNya, dan Alkitab mencatat bahwa kebencian tersebut memuncak sampai membunuh Kristus.
Situasi ini adalah riil di tengah dunia ini, seberapa jauh kita memiliki mata yang bisa melihat seperti Kristus melihat? Agama adalah tempat dimana kebenaran tidak punya tempat, situasi dimana kebajikan disingkirkan, tempat dimana kejahatan manusia egois merajalela, tempat dimana manusia menolak kembali kepada kebenaran melainkan memaksakan pikiran manusia dengan mengatasnamakan Tuhan. Sebetulnya, ada apa di ujung-ujungnya agama? Ujung-ujungnya agama adalah cinta diri dan cinta uang/ humanis dan materialis. Agama ada untuk kepentingan, kenikmatan manusia, untuk menggarap semua aktualisasi manusia, dan ujung-ujungnya materi/ uang, kenikmatan, keduniawian, seluruh sifat berdosa.
Seberapa jauh sebagai orang Kristen kita betul-betul dikoreksi oleh Tuhan, belajar tidak melihat agama, bahkan tidak melihat kekristenan, bahkan tidak menjadi seorang Kristen seperti yang dunia lakukan? Ketika kita membaca Matius 20:18, yang menjadi pertanyaan adalah : di mana posisi kita, di posisi yang akan menyalibkan Kristus ataukah di posisi umat yang berada di posisi Kristus?
Tuhan mengajak para murid untuk melihat hal ini, karena kalau para murid mengerti yang Kristus lihat, mereka bukan hanya mengerti tetapi akhirnya menjadi seperti Kristus, sama seperti yang dikatakan Paulus : aku hidup bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku; kalau aku hidup, biarlah aku ikut masuk ke dalam kesengsaraan Kristus supaya aku bisa bersatu dengan kematianNya dan dengan itu aku boleh bersama-sama dengan kemenanganNya, dibangkitkan bersama-sama dengan Dia.
Matius 20:28 : sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Kita semua dituntut untuk menjadi sama seperti Kristus. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang melihat bagaimana dia mau menjadi orang-orang yang berbagi di dalam Dia, seorang yang mau masuk ke dalam pergumulan Kristus, mengerti bagaimana Tuhan Yesus menderita sengsara di tengah-tengah dunia yang katanya bereligiositas tinggi. Inilah kunci bagaimana kita harus hidup.
Banyak orang mau menjadi Kristen tetapi tidak mau memiliki visi Kristus. Banyak orang mau menjadi Kristen supaya hidup enak, mau mencari semua berkat Kristus, mau mencari semua ekstensi dari keberadaan Kristus, tetapi tidak pernah mau bergaul dengan Kristus, tidak mau dekat dengan Kristus, tidak mau menerima Tuhan Yesus sendiri, tidak mau menyatu dengan Kristus.
Orang dunia tidak bisa mengerti, kalau Kristus tahu ke Yerusalem akan menderita, mengapa harus pergi, tetapi Kristus tetap pergi. Orang Kristen hidup bagi Tuhan dan kadang-kadang untuk itu harus mengalami penderitaan. Orang dunia tidak bisa mengerti hal ini untuk apa, tetapi itulah melihat visi. Melihat visi Tuhan adalah kerelaan dan kesungguhan kita untuk mau mengerti isi hati Kristus, mengerti realita dunia, mengerti realita agama, mengerti dunia ini seperti apa, lalu mau seperti Kristus.
Iman Kristen adalah satu-satunya iman yang dimulai dari Allah yang bertindak bukan manusia yang mencari, Allah yang berinisiatif bukan manusia yang mau, sadar bahwa manusia berdosa membutuhkan anugerah dan anugerah Allah turun. Aslikah iman kita? Sudahkah kita berpaut kepada Kristus ataukah selama ini kita hanya mempermainkan iman, mencari ekstensi dari berbagai hal tetapi gagal menangkap esensi yang sejati? Ketika kita boleh mengerti esensi iman yang sesungguhnya , inilah anugerah besar yang boleh kita terima.
Kita bukan saja melihat esensi agama dibandingkan dengan kekristenan tetapi kita juga akan melihat esensi kemanusiaan dibandingkan dengan kemanusiaan yang lain. Apa itu rasa peri kemanusiaan dan bagaimana menjalankannya secara tepat, dunia belum selesai dengan hal ini.
Di Matius 20:18 kita melihat esensi agama yang rusak, sedangkan di Matius 20:19 kita melihat esensi kemanusiaan yang rusak. Ketika manusia melihat kebenaran seharusnya hormat dan taat kepada kebenaran. Seharusnya seluruh humaniora/ peri kemanusiaan harus tunduk di bawah kebenaran, kalau tidak tunduk maka bukanlah peri kemanusiaan. Tidak ada jawaban tentang siapakah manusia, bagaimana memperlakukan manusia secara manusiawi. Siapakah manusia hanya bisa dijawab dengan pengenalan akan Allah (menurut John Calvin). Tanpa mengenal Allah dan kebenaranNya, tidak mungkin manusia mengenal manusia dengan sebaik mungkin.
Dalam Matius 20:19 Tuhan hendak mengatakan bahwa setelah Saya diperhadapkan kepada orang-orang yang katanya beragama tinggi, sekarang Saya diserahkah kepada orang-orang yang katanya berperi kemanusiaan, yang katanya memiliki pemikiran yang bijaksana yaitu orang-orang Romawi yang pada saat itu dianggap mempunyai filsafat/ pemikiran yang begitu baik dan tinggi. Tetapi yang terjadi adalah: kebenaran diolok-olok, dihina, disesah, dan disalibkan.
Ketika kita mau hidup di dalam kebenaran, mau menyatakan kebenaran sejati, menyaksikan hidup yang benar, orang dunia tidak suka walaupun mereka tahu akan hal yang benar dan salah. Orang dunia tidak suka ketika diberitahu hal yang benar dan yang salah. Tetapi sayangnya, ketika orang Kristen berada di posisi ini, orang Kristen pikirannya menjadi duniawi bukannya ikut Tuhan.
Anak Tuhan sejati berjalan berdasarkan apa yang Tuhan inginkan, berjalan melihat seperti Kristus melihat, berjalan di dalam penyertaan Tuhan, berjalan tidak ikut format dunia berdosa. Kita akan dimusuhi orang karena hal itu. Masihkah kita akan tetap setia kepada kebenaran dan tidak bergeming terhadap kejahatan dunia?
Walau kita harus menderita dalam pengiringan kita akan Tuhan, mari kita meneladani Paulus yang berkata : sekalipun aku harus mengalami penganiayaan, hidupku adalah Kristus, mati adalah keuntungan, dan kalau aku mati aku akan bertemu dengan Kristus, puji Tuhan, dan kalau aku hidup, hidupku harus menjadi berkat. Biarlah prinsip Paulus ini boleh menjadi prinsip hidup kita juga.
Humaniora sejati adalah kembalinya kita kepada Kristus, berarti melihat manusia dari kacamata Kristus, berarti saya melihat manusia seperti Kristus melihat manusia.
Point dari perikop ini ada pada Matius 20:17 yaitu pada kata “tersendiri”. Kata ini penting sekali, menggambarkan bahwa anak-anak Tuhan adalah eksklusif/ disisihkan oleh Tuhan. Cerita ini khusus untuk para murid, bersifat eksklusif, hanya untuk anak-anak Tuhan, karena hanya anak-anak Tuhan yang bisa mengerti perbedaan ini. Sudut pandang ini terjadi bukan hanya fenomenal tetapi karena ada hal yang esensial yaitu tentang misi Kristus datang ke tengah dunia. Di Alkitab kita bisa melihat pekerjaan Kristus yaitu mengajar, menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan memberitakan Injil. Pekerjaan ini adalah pekerjaan ekstensif/ pekerjaan di luar pekerjaan yang esensi, yang semua orang boleh tahu karena tidak akan ada orang yang ambil pusing dengan pekerjaan tersebut, karena pekerjaan tersebut adalah bersifat umum dan juga bisa dilakukan orang lain.
Kalau Kristus hanya mengerjakan pekerjaan tersebut, perlukah Dia harus turun dari surga/ inkarnasi? Tidak perlu! Ada satu pekerjaan yang menjadi inti dan yang tidak tergantikan oleh siapapun juga yaitu Anak Manusia harus pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan dari imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, mati, bangkit pada hari ketiga. Dia datang untuk menyelesaikan masalah terbesar dalam alam semesta ini yaitu DOSA.
Dunia tidak bisa mengerti mengapa Kristus harus mengerjakan semua hal tersebut di atas, hanya anak-anak Allah/ murid Tuhan yang bisa mengerti. Murid Tuhan tidak hanya mengerti tapi juga harus minum cawan pahit seperti Sang Kristus meminumnya. Orang Kristen adalah orang yang melihat esensi di belakang permasalahan yang ada, dan esensi itu sangat membencikan dunia, yaitu masalah DOSA.
Manusia paling benci ketika diberitahu bahwa dia adalah orang berdosa. Orang berdosa tidak memiliki jalan keluar, tidak ada jawaban, satu-satunya upah adalah maut/mati. Tidak ada perbuatan baik yang bisa membuat manusia berdosa masuk surga. Makin berbuat baik akan makin berdosa dan akhirnya masuk neraka. Teori ini diungkapkan 2300 tahun yang lalu tapi langsung ditutup supaya manusia masih mempunyai harapan. Hanya ada satu jalan keluar yaitu kembali kepada Kristus, berlutut di hadapan Tuhan, mengaku dosa dan bertobat. Hanya murid Tuhan yang bisa mengerti hal ini.
Tujuan hidup manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan. Menikmati Tuhan tidaklah sama dengan menikmati berkat Tuhan atau hal-hal di luar Tuhan. Menikmati Tuhan adalah mau kembali kepada Tuhan, bergaul dengan Tuhan, hidup bersama dengan Tuhan. Untuk itu perlu anugerah Tuhan.
Dunia ini menawarkan kenikmatan dunia, tergiurkah kita akan tawaran itu, ataukah kita tetap akan ikut Kristus? Akankah kita menjadi milik dunia ini ataukah kita lebih senang menjadi milik Kristus walaupun kita tidak mendapatkan dunia ini? Seberapa jauh kita menjadi anak Tuhan yang melihat dengan kacamata Tuhan? ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)