Ringkasan Khotbah : 21 September 2008

Bertumbuh dalam Menghidupi Firman

Nats: Kolose 3:12-17

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

 

Ketika kita berusaha untuk mengerti satu bagian dari surat Rasul secara khusus, alangkah baiknya kalau kita membaca surat tersebut secara keseluruhan terlebih dahulu. Dengan membaca secara keseluruhan, kita akan dapat menangkap maksud dari penulisan surat tersebut. Perlu diingat oleh setiap kita bahwa suatu surat bahkan suatu bagian Alkitab ditulis selalu dengan tujuan tertentu dan penulisnya ingin kita tahu tujuan penulisan tersebut. Untuk mengetahui tujuan penulisan Injil memang agak sulit bagi kita karena isinya panjang, sedangkan isi surat cukup pendek sehingga lebih mudah untuk mempelajari tujuan penulisannya. Kalau kita membaca secara keseluruhan dan lebih detail, kita akan lebih tepat mengenai sasarannya. Ada penulis yang secara eksplisit mengungkapkan tujuan penulisannya, contohnya : Injil Yohanes.

Mari kita mempelajari tujuan penulisan surat Kolose dan bagaimana kondisi jemaat di Kolose waktu surat tersebut ditulis.

Untuk mengetahui tujuan penulisan surat, kita perlu tahu kondisi jemaat yang dikirimi surat, keduanya saling berkaitan. Dari pembacaan ayat-ayat di atas, kita mengetahui adanya pengaruh ajaran yang salah dalam jemaat Tuhan. Ajaran-ajaran Yunani berusaha masuk ke dalam gereja. Ajaran-ajaran tersebut salah karena tidak kembali kepada Kristus. Jemaat Kolose sudah merendahkan diri, beribadah kepada malaikat dan mendapatkan penglihatan, tapi menurut Paulus semuanya itu salah karena tidak kembali kepada Kristus. Paulus dalam surat Kolose berkali-kali menekankan untuk kembali kepada Kristus. Kolose 1 adalah salah satu pengajaran yang penting mengenai Kristologi.

Dari 2 ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa jemaat Kolose adalah jemaat yang baik. Mereka memiliki iman, pengharapan, dan kasih, bahkan kasihnya adalah kasih dalam Roh.

Jadi ada 2 kondisi jemaat Kolose yaitu ada ajaran lain yang berusaha mempengaruhi, dan jemaat Kolose adalah jemaat yang baik.

Surat Kolose 1-3:4 banyak berbicara tentang hal doktrinal yaitu prinsip-prinsip, doktrin-doktrin, dan pengajaran tentang membedakan yang benar dan yang salah baik dalam hal ajaran maupun doktrin.

Surat Kolose 3:5 : Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Dalam ayat di atas Paulus membicarakan tentang perilaku, sikap, etika, bagaimana orang Kristen harus hidup. Yang menarik dalam hal ini adalah di satu sisi Paulus tahu adanya ancaman yang nyata terhadap jemaat Kolose dari ajaran lain yang berusaha mempengaruhi tetapi di sisi lain Paulus masih memberikan ruang yang cukup panjang, porsi yang cukup banyak untuk membicarakan hal-hal tentang perilaku, sikap, etika dan bagaimana harus hidup, bahkan sampai hal-hal detail dari suami-istri, anak, orang tua, dll.

Sebagai ilustrasi pembanding, ada 2 orang anak yang mempunyai karakter malas dan yang lainnya berkarakter berantakan. Besok ada ujian, maka yang menjadi fokus kita adalah anak yang malas bukannya pada sifat berantakannya. Paulus tahu adanya ancaman tersebut di atas, ketika dia hendak memberikan pengajaran tentang doktrin yang benar, dia juga merasa hal-hal tentang perilaku/ etika adalah juga sangat penting. Yang menarik lagi, jemaat Kolose adalah jemaat yang sudah baik, tetapi Paulus merasa masih belum cukup. Surat-surat yang lain bahkan surat dari Yohanes, Petrus juga berisikan hal yang sama yaitu tentang perilaku, sikap, bagaimana harus berelasi. Jadi bukan hanya hal-hal doktrinal saja yang penting, melainkan hal-hal tentang perilaku, sikap, bagaimana harus berelasi juga penting. Kedua hal tersebut harus diajarkan bersamaan.

Yang menjadi pergumulan saya setelah mendapatkan kesempatan studi di Amerika adalah setelah studi apakah saya akan mengalami perubahan atau tidak, apakah istri dan anak saya dapat merasakan adanya perubahan pada diri saya. Adalah sesuatu yang tidak beres jika kita yang sudah belajar kebenaran tetapi tidak berubah dalam hal perilaku, iman kita. Seharusnya, kedua aspek tersebut saling berkait.

Ada jemaat yang ketika berada di luar kota atau luar negeri takut memasuki gereja dengan pengajaran yang salah. Tetapi, adakah diantara kita yang memiliki ketakutan: setelah sekian lama beribadah di tempat ini tetap tidak mengalami pertumbuhan dalam aspek praktis. Ataukah kita mempunyai prinsip bahwa doktrinal dibereskan dulu, baru aspek praktis diperhatikan. Seharusnya, kita harus berusaha untuk tidak jatuh dalam hal doktrinal dan pada saat yang sama harus berusaha bertumbuh dalam hal praktis, dalam hal iman.

Dua per tiga bagian surat Kolose berbicara tentang hal-hal doktrinal, sepertiga bagiannya berbicara tentang hal-hal perilaku, sikap secara detail. Paulus dan penulis surat yang lain memberikan porsi yang besar dalam aspek moral, etika ini karena mereka menyadari bahwa hal ini tidaklah mudah. Bertumbuh dalam aspek moral, etika, sikap memang tidak mudah, kita perlu bersabar dan memerlukan usaha yang khusus.

Orang yang sudah lama menjadi orang Kristen tidak otomatis memiliki sikap, moral yang baik. Kita harus bersabar terhadap orang lain dan tidak cepat puas diri dengan  keadaan kita sendiri. Jangan dibalik, kalau terhadap orang lain tidak sabar akan perubahannya tetapi kalau terhadap diri selalu penuh “ampun”.

Jemaat Tesalonika terkenal dalam hal kasihnya, tetapi Paulus mengatakan kepada mereka : aku mau kamu lebih lagi dalam mengerjakan kasihmu.

Bertumbuh di dalam aspek moral, etika, sikap memerlukan disiplin, perhatian, usaha, dan waktu.

Aspek indikatif (yaitu hal-hal yang berbicara hal-hal doktrinal, status kita, bagaimana Allah memandang kita, aspek fakta) dan aspek imperatif (yaitu aspek perintah) harus berjalan bersamaan. Kalau kita memisahkan keduanya, adalah hal yang berbahaya.

Seorang teman saya dari Cina mengatakan bahwa kehidupan moral di Amerika (daerah Chicago) masih lebih baik daripada di Cina. Sejak pemerintah Cina membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk berkarir, banyak wanita yang berpendidikan tinggi dan berpenghasilan baik, tapi mereka kesulitan dalam menemukan suami. Mereka tidak mungkin menikah dengan pria yang status ekonominya lebih rendah, tetapi pria yang status ekonominya lebih tinggi kebanyakan beristri lebih dari satu atau punya wanita simpanan. Pemerintah Cina tidak memiliki dasar untuk melarang poligami, kecuali kalau muncul gejolak sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kalau aspek indikatif tidak ada, maka aspek imperatifnya pun menjadi sulit. Dalam kekristenan, ada indikatif bahwa Allah menciptakan pria dan wanita yang bersatu menjadi satu daging, imperatifnya adalah tidak boleh cerai. Sebaliknya, orang Israel tahu indikatif bahwa mereka adalah umat pilihan Allah yang harus disunat sebagai tandanya, tapi secara imperatifnya tidak jalan.

Seorang teman saya yang bekerja di Starbucks, membandingkan pekerja Starbucks di Jepang dengan di Amerika. Yang di Jepang bekerja lebih akurat dan cepat sepanjang waktu, sedangkan yang di Amerika sedikit ceroboh dan lambat ketika jam sibuk, karena bagi orang Jepang pekerjaan yang buruk akan mempermalukan Negara Jepang dan nama keluarga. Kita yang secara identitas sudah jelas sebagai anak Tuhan, seharusnya juga mempunyai aspek imperatif yang benar.

Kita kembali melihat Kolose 3:12, indikatifnya adalah sebagai orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, imperatifnya adalah kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Paulus beroleh hikmat dari Tuhan, dia melihat bahwa indikatif dan imperatif harus berjalan bersamaan, ancaman dalam jemaat Kolose adalah berasal dari doktrin yang salah juga dari perilaku yang salah. Jemaat bisa jatuh karena doktrin yang salah dan juga dari perilaku yang salah. Perilaku jemaat yang salah dapat mempengaruhi perilaku jemaat yang lain. Ada orang yang tidak mau lagi pergi ke gereja karena sudah dikecewakan oleh jemaat lain. Saudara seiman dapat menjadi batu sandungan. Kolose 3:12 mengajarkan bahwa untuk dapat memiliki perilaku Kristen yang benar, kita harus sadar akan identitas kita sebagai orang Kristen.

Kolose 3:13 mengajarkan aspek imperatif yaitu sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, aspek indikatifnya adalah sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu. Kita harus tahu terlebih dahulu bahwa kita adalah orang yang diampuni, baru kita bisa mengampuni orang lain.

Kita adalah orang yang dikhususkan oleh Allah dari bangsa-bangsa lain untuk melayani Allah seperti bangsa Israel yang dikhususkan oleh Allah untuk melayani Dia. Kita dikhususkan menjadi kaum pilihan Allah, imamat yang rajani. Kita bukan hanya dikhususkan tetapi juga dikasihiNya sebagai umat kesayangan. Ini semua aspek indikatif. Kalau kita sudah tahu identitas kita ini, maka kita harusnya bersikap sebagai orang Kristen yang benar.

Hari ini kita hanya akan membahas 2 aspek imperatif yaitu belas kasihan dan kemurahan. Belas kasihan berarti simpati yang mendalam, hati kita tersentuh dan memikirkan pertolongan untuk orang lain. Kapan terakhir kali kita berbelas kasihan kepada orang lain? Kalau kita kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu berdoa mohon Tuhan berikan kepada kita hati yang berbelas kasihan. Berbelas kasihan bukan berarti menjadi sinterklas. Kalau Tuhan bukakan, maka kita juga akan dipakai Tuhan untuk menolong orang lain. Mulailah menganggap kesulitan orang lain sebagai hal yang penting. Dalam kehidupan berjemaatpun, kita perlu memperhatikan kesulitan jemaat lain.

Kehidupan moral bukan hanya hubungan Tuhan dengan saya tetapi juga hubungan saya dengan jemaat lain dalam gereja lokal. Satu jemaat harus berelasi dengan jemaat yang lain. Kesalehan yang dituntut Tuhan bukan hanya kesalehan secara pribadi yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga kesalehan komunitas yang menyangkut kehidupan bergereja yang baik. Berikanlah belas kasihan kepada semua orang, khususnya kepada saudara seiman, khususnya saudara seiman yang secara rutin kita jumpai.

Belas kasihan lebih berfokus pada hal-hal yang menyentuh hati kita, sedangkan kemurahan lebih pada pertolongan yang nyata, praktis kepada orang yang kita jumpai. Kapan terakhir kali kita memberikan pertolongan kepada saudara seiman yang kita jumpai setiap minggu?

Ketika saya berada di Amerika, saya mendapatkan pertolongan yang benar-benar nyata dari orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar saya. Satu hal yang sangat saya syukuri adalah pertolongan teman-teman Amerika saya dalam memeriksa tata bahasa Inggris saya dalam paper yang saya susun. Bagi mereka, pertolongan tersebut tidaklah sulit, tapi bagi saya pertolongan tersebut sangatlah besar. Mungkin pertolongan yang kita berikan tidaklah terlalu sulit bagi kita tapi mungkin akan sangat berharga bagi orang yang kita tolong. Inilah indahnya! Inilah prinsip tubuh Kristus, satu hal adalah mudah bagi seseorang karena sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan tapi tidak bagi orang lain, karena itu kita harus saling memberikan kemurahan, saling berbelas kasihan, kepedulian kepada orang lain.

Mari kita gumulkan dukungan apa yang dapat kita berikan kepada jemaat yang kita jumpai setiap minggu. Kita akan melihat bagaimana nama Tuhan dipermuliakan.

Jemaat Kolose yang baik, ketika memiliki kesaksian hidup yang baik, bukan hanya membuat mereka tidak jatuh tetapi juga akan dapat membawa orang luar masuk ke dalam. Waktu mereka tidak hanya membantah dan menjawab tetapi juga menunjukkan kesaksian hidup yang riil, mereka akan dapat membawa orang yang semula hendak mempengaruhi mereka dengan ajaran yang salah, masuk ke dalam persekutuan orang yang diselamatkan.

Seorang teman yang semula studi di Universitas Trinity tetapi kemudian pindah ke universitas sekuler, dapat merasakan bedanya dalam hal komunitas hidup mahasiswanya. Mahasiswa dari 2 universitas tersebut sama integritasnya tapi beda dalam hal relasi satu sama lainnya. Di sini kita kembali diingatkan akan Firman Tuhan yang mengatakan bahwa ketika kamu saling mengasihi, maka orang lain akan tahu bahwa kita adalah murid Tuhan. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)