Ringkasan Khotbah : 14 September 2008

To See What's God See

Nats: Matius 20:1-16

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

 

Matius 19 dan Matius 20 adalah posisi pertengahan yang menghubungkan kondisi sebelum dan sesudahnya. Kondisi sebelumnya adalah ketika Tuhan Yesus bersama murid-muridNya berada di Galilea dan Matius 21 dst adalah menapaki via dolorosa yaitu mulainya Tuhan Yesus menggenapkan misi utamaNya yaitu datang ke Yerusalem untuk menanggung penderitaan dari pihak para tua-tua, imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit hari ketiga. Misi utama Tuhan Yesus adalah menjadi juru selamat. Dari Galilea, Tuhan Yesus menyisih ke seberang Sungai Yordan. Matius 19, 20 adalah posisi Tuhan Yesus di seberang Sungai Yordan untuk mempersiapkan para murid menghadapi panggilan tugas yang begitu berat untuk meneruskan tongkat estafet menjalankan misi pekerjaan Tuhan di dalam Kerajaan Surga.

Matius 19 bertemakan Vocational Calling dalam Kerajaan Surga. Menjadi warga Kerajaan Surga bukan untuk menikmati surga, bukan sekedar untuk mendapatkan segala berkat surgawi, ini semua adalah konsep egois. Menjadi warga Kerajaan Surga adalah bagaimana kita dipanggil untuk mengerjakan panggilan surgawi, menjalankan misi yang Tuhan inginkan untuk kita kerjakan, taat kepada Sang Raja menjalankan apa yang Dia inginkan. Matius 19 mengajar kita bagaimana menjadi warga Kerajaan Surga yang baik yaitu taat menjalankan misi Kerajaan Surga, setia kepada Sang Raja, dan senantiasa mau bekerja untuk Kerajaan Surga.

Matius 20 mengajar bagaimana kita mengerjakan misi Kerajaan Surga, apa yang harus saya kerjakan di dalam mengerjakan pekerjaan surgawi. Tema Matius 20 adalah “melihat apa yang Tuhan lihat”. Istilah ini begitu besar, begitu agung, tetapi sudah diselewengkan. Kata tersebut adalah kata “visi”. Visi adalah melihat apa yang Tuhan lihat, melihat apa yang Tuhan ingin kita lihat, meninggalkan apa yang disodorkan dunia dan mengkoreksi diri untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita lihat, cara pandang kita sama dengan cara pandang Tuhan. Kalau kita gagal mengerti konsep visi ini, kita sendiri akan hancur. Pada zaman sekarang ini, istilah “visi” sudah ditarik keluar oleh dunia, diberi definisi oleh dunia, lalu ditarik balik masuk ke gereja. “Visi” versi dunia adalah ambisi saya, impian saya, apa yang ingin saya dapatkan, apa yang saya idamkan; visi berpusat pada diri.

Alkitab mengatakan, “visi” adalah istilah theologis, prinsip dari Tuhan. “Visi” banyak dipakai oleh motivator dunia yang mengutip ayat Alkitab tetapi diisi dengan hal-hal duniawi. Bahkan dunia juga meniru ayat Alkitab dengan mengatakan bahwa kalau tidak ada visi maka manusia binasa, liar, celaka.

Amsal 29:18 : Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Kata “wahyu” di sini memiliki pengertian sama dengan “visi”. Visi berarti melihat apa yang Tuhan bukakan (yaitu wahyu), mengerti apa yang Tuhan wahyukan. Jadi visi tidak bisa lepas dari wahyu. Tanpa wahyu, tidak akan ada visi dan tidak dapat mengerti visi. Visi adalah mengerti apa yang Tuhan katakan (yaitu Firman). Inilah yang dikatakan sebagai melihat apa yang Tuhan lihat, melihat dari sudut pandang Allah melihat, melihat seperti Allah melihat.

Matius 20 membahas tentang melihat apa yang Tuhan lihat, yaitu melihat anugerah Allah. Berdirinya Kerajaan Surga adalah pernyataan anugerah Allah atas diri manusia, yaitu Allah datang ke dunia ini supaya manusia bisa menikmati hidup yang kembali kepada natur asli. Berdirinya Kerajaan Surga adalah seperti yang dikatakan oleh para reformator sebagai sola gratia, yaitu hanya oleh anugerah. Hanya oleh anugerah sajalah semua ini boleh berlangsung. Kalau kita boleh menjadi orang Kristen, itu hanya karena anugerah.

Matius 20 memperlihatkan kepada kita 4 konsep anugerah Tuhan, agar kita bisa mengerti bagaimana Tuhan bekerja dan bertindak dalam anugerahNya. Cerita perikop pertama dalam Matius 20 menceritakan bagaimana Allah bermurah hati, yang nantinya mendorong kita untuk dapat bermurah hati secara tepat, tidak seperti yang dilakukan dunia. Perikop kedua membahas tentang pengorbanan Kristus demi kita manusia berdosa, yang nantinya mengajar kita untuk dapat berkorban bagi orang lain, bukannya menuntut orang lain yang berkorban untuk kita. Perikop ketiga membahas tentang bagaimana melayani yang sejati, datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Perikop keempat membahas tentang Allah yang berbelas kasihan, Dia peka akan keperluan manusia untuk dikembalikan kepada titik yang seharusnya. Perikop keempat ini ditutup dengan sebuah mujizat yaitu pencelikan mata orang buta. Pencelikan mata orang buta adalah mujizat yang tidak lazim di dunia ini, hal ini merupakan manifestasi dari pencelikan rohani daripada sekedar jasmani.

Matius 20:1-16 sudah pernah dikhotbahkan, bahkan sudah beberapa kali mengenai prinsip etos kerja. Semula, saya hendak melewati bagian ini, tetapi bagian ini justru merupakan kunci untuk dapat mengerti 3 perikop selanjutnya.

Matius 20:1-16 menceritakan tentang orang yang bekerja di kebun anggur sang tuan. Jika hari itu kita ada di sana, kita setuju dengan sang tuan ataukah pekerja yang brengsek? Konsep yang hendak diajarkan adalah melihat bagaimana manusia berdosa melihat, konsep yang rusak di dalam dunia kita yang membuat manusia menjadi bejat dan ke neraka. Konsep yang dibukakan bukan hanya berkait dengan abad 1 Masehi, bukan hanya konsep yang terjadi di zaman Tuhan Yesus, sampai saat ini (abad 21) masalahnya tetap sama. Brengseknya cara berpikir mengakibatkan seluruh tatanan masyarakat menjadi rusak total karena tidak mengerti pikiran Tuhan melainkan hanya mau mengerti pikiran setan. Prinsip dari Tuhan dihadapi dengan sungut-sungut dan tidak suka karena menganggap prinsip diri lebih benar.

Mengerti visi adalah mengerti bagaimana menghancurkan konsep-konsep brengsek dari dunia ini, menghancurkan pikiran-pikiran berdosa yang diwarnai oleh setan, supaya kita bisa mengerti yang menjadi pikiran Tuhan. Kalau kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi selalu melawan prinsip Allah maka kita adalah pengkhianat yang bukan merupakan warga Kerajaan Surga yang sejati. Sebagai warga Kerajaan Surga sejati, kita seharusnya mengerti apa yang Sang Tuan pikirkan, sejalan dengan Sang Tuan, melihat persis sama dengan Sang Tuan. Betulkah kita di posisi tersebut? Sudahkah kita berada di posisi Tuhan, ataukah di posisi musuh Tuhan? Mari kita membongkar, mengkoreksi konsep-konsep yang salah yang dipegang oleh banyak orang, termasuk banyak orang Kristen, bahkan banyak pikiran humanis yang masuk ke dalam gereja.

Ketika Tuhan membuka isi hatiNya, itulah kesempatan bagi kita untuk belajar, untuk mengkoreksi diri dan kembali kepada Tuhan. Alkitab sudah memberikan prinsip yang benar, tetapi kita tidak mau kembali ke Alkitab, kita pikir dunia lebih hebat. Dunia tidak lebih pintar dari Tuhan. Mengikut Tuhan pasti lebih pintar, lebih bijak daripada dunia.

Proses dimana kita semakin bertumbuh dalam menangkap visi Tuhan merupakan point yang paling bahagia dalam hidup kita.

Mengerti anugerah Allah akan membawa kita semakin menyadari brengseknya dunia ini dalam menilai sesuatu, bagaimana menilai kerja, menilai panggilan kerja kita sebagai warga Kerajaan Surga. Tuhan mengajarkan satu prinsip dalam cerita Matius 20:1-16 ini yaitu ada 3 aspek penting dalam anugerah Tuhan dalam konteks murah hati.

Allah adalah dirinya murah hati, semua kemurahan yang dimiliki ciptaanNya adalah kemurahan turunan yang harus dikembalikan kepada kemurahan yang sesungguhnya seperti yang dimiliki oleh Sang Pencipta. Tanpa kembali kepada kemurahan yang utama, kemurahan yang di bawah hanyalah kemurahan palsu belaka.

1. Ketidak layakan.

Secara logika, reaksi orang-orang dalam cerita Matius 20:1-16 adalah logis, padahal sangat brengsek. Inilah salah satu kelemahan logika, yaitu hal yang logis dapat merupakan hal yang brengsek.

Orang yang pertama bekerja setelah ada kesepakatan upah satu dinar sehari. Satu dinar adalah upah yang wajar untuk kerja satu hari. Orang-orang yang lainnya disuruh kerja tanpa didahului kesepakatan upah, tetapi orang-orang ini tetap mau kerja walaupun ada resiko upahnya sangat sedikit/ tidak wajar. Waktu pembayaran upah tiba, sang tuan menyuruh mandornya membayar mulai dari yang bekerja terakhir yaitu yang mulai bekerja jam 5 sore. Tidak ada yang protes dengan upahnya, tetapi begitu yang bekerja mulai jam 6 pagi diberi upah, mereka mulai protes karena mereka berharap mendapatkan lebih. Inilah logis yang brengsek. Ada pemikiran dari orang-orang ini bahwa mereka layak untuk mendapatkan lebih banyak. Sedangkan orang-orang sebelumnya merasa tidak layak menerima sejumlah itu.

Waktu orang-orang tersebut marah, saat itulah rusaknya mereka. Sang tuan menjadi marah, karena bukankah mereka sudah sepakat dengan besar upah tersebut. Kalau bicara masalah keadilan, sang tuan ada di posisi yang benar karena para pekerja tersebut sudah sepakat dengan upah tersebut. Di sini kita melihat bahwa ketika upah mempermainkan kemurahan, terjadilah kerusakan. Ketika upah dicampur aduk dengan kemurahan, hidup kita akan hancur. Kemurahan Allah harus dilihat dari sisi anugerah Allah. Kita dapat melihat kemurahan Allah ketika kita sadar akan ketidaklayakan diri untuk terima. Di dunia ini, semua hal mau ditetapkan secara kontrak, secara keadilan, maka semua akan binasa. Hidup kita pun kalau mau ditetapkan secara keadilan, maka pasti menuju ke neraka.

Mari kita menyadari bahwa dalam hidup ini, kita tidak mempunyai satu apapun yang dapat kita sodorkan kepada Tuhan, melainkan kita tidak layak di hadapan Tuhan, kita bukan siapa-siapa, kita datang kepada Tuhan dengan segenap kekotoran dan kehancuran kita. Kita tidak salah kalau menuntut keadilan, tetapi jangan menuntut keadilan semata di hadapan Tuhan, karena secara keadilan tempat kita adalah di neraka. Tuhan bertindak lebih dari sekedar adil, Dia tidak meniadakan keadilan, tetapi Tuhan mau memberikan lebih dari adil, yaitu anugerah. Anugerah adalah lebih dari adil. Grasi adalah pemberian yang tidak layak kepada orang yang terhukum.

Berelasi dengan Kerajaan Surga adalah berelasi dalam jalur anugerah. Konsep sola gratia hanya ada satu-satunya dalam agama Kristen. Konsep anugerah yang dalam, yang tuntas adalah seperti yang diteladankan oleh Kristus, yang diberikan Allah kepada manusia. Dan dalam kekristenan, Theologi Reformed yang satu-satunya menjaga warisan para reformator yaitu sola scriptura, sola fide, sola gratia (hanya Alkitab saja, hanya iman saja, hanya anugerah saja). Di luar Theologi Reformed (hampir semua agama) mempunyai konsep bahwa ada andil manusia selain anugerah Allah.

Tuhan bekerja, Tuhan memberi, Tuhan bermurah hati, kita tidak ada andil sedikitpun. Kita tidak layak! Theologi Reformed mengemukakan konsep: anugerah Allah mendahului respon manusia. Allah yang beraksi, manusia yang bereaksi; Allah bertindak, manusia yang berespon. Waktu kita memberikan perpuluhan, kita harusnya sadar kalau kita sudah terima 100% dari Allah, kita harusnya sadar bahwa kita tidak punya apa-apa, semuanya adalah dari Tuhan. Kita seringkali tidak sadar akan anugerah Tuhan. Kita diberi udara, matahari oleh Tuhan, itulah anugerah umum. Semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, anugerah Tuhan. Kita seharusnya bersyukur karena kita yang tidak layak boleh menerima anugerah Allah.

Orang yang bekerja mulai jam 5 sore pasti kualitasnya kurang dari yang bekerja mulai jam 6 pagi. Kalau mau adil, seharusnya dia dibayar 1/20 dinar; tapi orang tidak bisa hidup dengan upah tersebut, maka sang tuan memberikan kemurahan dengan membayar upahnya sebesar 1 dinar. Kemurahan kalau dituntut sebagai sesuatu yang seharusnya diterima (seperti: UMR) akan terjadi kerusakan moral dan kehancuran hidup.

30% penduduk Indonesia dibiayai oleh TKI. Inilah kecelakaan bangsa ini. Kecelakaan ini terjadi karena bangsa ini tidak mengerti anugerah, anugerah Tuhan dipandang sebagai sesuatu hal yang memang seharusnya diterima, anugerah diterima sebagai kesombongan dan kelonjakan. Suatu analisa bisnis beberapa tahun yang lalu mengemukakan bahwa produktivitas 1 orang Cina sama dengan 6 orang Indonesia. Kalau orang Kristen tidak membangun bangsa ini, siapa yang akan membangun bangsa ini?

Orang Reformed yang sejati mestinya bisa kaya karena etos kerjanya berdasarkan anugerah. Ciri etos kerja Reformed yaitu :

- kerja keras yang sungguh-sungguh karena Tuhan sudah memberikan anugerahNya terlebih dahulu.

- kerja mengejar kualitas yang terbaik karena Tuhan melihat semua yang kita kerjakan. Kualitas yang terbaik tidak akan tergeser oleh zaman. Kita kerja buat Tuhan, bukan buat uang.

- hidup hemat karena setiap sen yang kita pegang adalah kepunyaan Tuhan, maka harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.

- mau menjadi berkat, selalu hidup untuk Tuhan bukannya untuk diri.

2. Membuang hak dan menggantinya dengan kewajiban.

Orang Kristen tidak berhak bicara soal hak. Hak adalah hak Tuhan. Semua hak akan merusak dan mengganggu hak orang lain. Kerusakan dunia ini dimulai dari perubahan satu kata yaitu dari tanggung jawab menjadi hak. Di hadapan anugerah Tuhan/ kemurahan Tuhan, tidak ada hak. Ketika kita mulai bicara hak, kita menjadi orang egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ketika kita bicara hak, kita mulai memutar konsep anugerah menjadi konsep yang membangun humanitas berdasarkan manusia. Allah memberi kepada kita lebih dari hak kita. Kita tidak berhak mengklaim Tuhan. Hak kita adalah masuk neraka. Tuhan memberi lebih dari itu, itu hak Tuhan, iri hatikah kita kalau Tuhan murah hati? Kita harus meresponi anugerah Tuhan dengan mengerjakan kewajiban kita sebaik-baiknya, itulah tanggung jawab kita.

Melakukan kewajiban bukan dilihat besaran nilainya, tetapi pertanggung jawabannya atas apa yang sudah diterima dari Tuhan. Tanggung jawab kita adalah memberikan yang terbaik untuk Tuhan.

3. Keadilan.

Konsep keadilan dalam Theologi Reformed adalah siapa yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit. Kekristenan jangan tergiur oleh angka, tapi harus selalu menilai tanggung jawab terhadap pemberian Tuhan. Mengerti anugerah akan membuat kita berbeda dengan dunia dalam melihat orang, dan akan membuat kita mengerti tanggung jawab kita. Orang yang memberi banyak tidak berarti memiliki hak untuk mengatur gereja, pemberian itu hanyalah tanggung jawab.

Kalau kita kembali kepada kebenaran, kita akan melihat apa yang Tuhan ingin kita lihat. Dapatkanlah visi Tuhan! Hal ini tidaklah mudah, tapi mari kita berproses. Orang yang kebaktian di gereja Reformed belum menjamin memiliki konsep Theologi Reformed karena masih perlu proses, perlu komitmen, perlu waktu. Mari kita belajar menjalani proses ini. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)