|
Ringkasan Khotbah : 07 September 2008
Nats: Matius 19:27-30 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Matius 19:27-30 merupakan klimaks dari pembahasan Matius 19 yang bertemakan Vocational Calling of The Kingdom atau panggilan kerja dari Kerajaan Surga. Kita hidup sebagai pengikut Kristus/ orang-orang percaya sebagai warga Kerajaan Surga dan sekaligus sebagai warganegara Indonesia. Sebagai warga Kerajaan Surga, kita harus taat, setia, mengabdi kepada Tuhan dan memikirkan pekerjaan Tuhan. Sebagai warganegara Indonesia kita harus taat kepada hukum Indonesia, mengabdi untuk bangsa ini, membangun bangsa ini. Kalau kita tidak pernah memikirkan untuk mengabdi kepada bangsa ini dan membangun bangsa ini, maka identitas kita bisa hilang, kita tidak lagi tahu hidup itu untuk siapa dan untuk apa. Sebaliknya, kalau kita tidak sadar akan identitas kita sebagai warga Kerajaan Surga, maka kita tidak punya hati untuk taat kepada aturan, memikirkan yang terbaik dan kita bukanlah pengikut Kristus yang baik. Kondisi dimana kita mengerti identitas kita, panggilan kerja kita, merupakan hal yang sangat penting. Hal ini membawa kita untuk mengerti pentingnya pengajaran yang Kristus berikan dalam permasalahan ini.
Beberapa penafsir mengatakan bahwa Matius 19:27-30 merupakan hal yang sangat serius, klimaks/ inti yang menjelaskan bagaimana kita harus bertindak sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Ayat ini juga menajamkan posisi status kita. Penafsir Leon Morris sengaja membuang perikop Matius 19:27-30 karena menurut beliau ayat ini tidak bisa lepas dari ayat-ayat sebelumnya. Menurut saya, point ini sangat penting, kita perlu mem-paradoks-kan dua hal ini. Judul perikop ayat ini yaitu “upah mengikut Yesus” tidaklah tepat karena ayat ini merupakan sambungan dari ayat sebelumnya dan pointnya bukan dalam hal itu.
Matius 19:27 : Petrus menjawab pergumulan pada ayat di atasnya, Petrus menjawab bukan dengan kalimat pernyataan tetapi dengan pertanyaan yang merefleksi balik ayat sebelumnya. Tuhan Yesus menyuruh anak muda menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia, Petrus merefleksi balik dengan bertanya bahwa dia sudah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus, lalu apakah yang akan dia peroleh? Seringkali kita memasuki iman dengan konsep yang tidak jelas, dengan konsep yang sangat sekuler, sangat duniawi, sangat humanis dan materialis, maka ketika membaca ayat ini, kita merasa pertanyaan Petrus adalah wajar. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan esensial, yang sangat serius dalam agama. Kerusakan dan kesalahan fatal keagamaan dimulai dari kalimat ini.
Pertanyaan : apa yang bisa saya dapatkan, mengandung 2 unsur religiositas yaitu :
1. Unsur Manfaat
Konsep dibalik pertanyaan : kalau kita mengikuti suatu agama/ ritual, kita memperoleh apa, disebut dengan keagamaan dengan konsep manfaat. Masuk agama tertentu karena mendapatkan keuntungan dari agama itu baik keuntungan finansial, atau keuntungan sosial, keuntungan politis, dsb. Ini adalah konsep humanistis yang sangat egois.
2. Unsur Penyerahan Total
Konsep ini menyatakan bahwa beragama itu berarti menyerahkan segalanya, berkorban untuk Tuhan, takut dengan Tuhan, Tuhan memakai manusia yang taat kepada Dia. Kita sebagai manusia yang bertemu dengan Allah memang seharusnya menyerahkan sampai habis, sampai hancur seluruhnya. Tuhan suka kalau kita hancur. Kalau sudah habis-habisan, masih adakah hak untuk memperoleh sesuatu?
Di dalam dunia ini muncul 2 golongan yang mewakili 2 konsep di atas. Dalam bangsa Yunani, muncul golongan stoicisme dan epikurianisme. Ada juga golongan happy-life yang selalu cari bahagia dan sacrifice-life yang selalu penuh penderitaan. Pertanyaan di atas adalah sangat esensial. Kristus mengatakan bahwa itu adalah cara yang salah mengerti iman, itu adalah cara duniawi mengerti iman, seperti anak muda kaya yang ingin mendapatkan Surga, tetapi justru mendapatkan neraka karena kaya.
Kunci jawaban dari pertanyaan di atas adalah pada Matius 19:28: Kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Kata-kata dalam ayat ini sangat mendalam dan perlu dibahas bagian demi bagian. Berikut 3 bagian pembahasan ayat ini:
I. Kata “sesungguhnya” berarti amin, tidak bisa diganggu gugat, itu adalah hakekat yang tidak bisa diubah. “penciptaan kembali” berasal dari kata Yunani: paliggenesia yang berarti penciptaan kembali, dalam Alkitab bahasa Inggris kata ini memakai istilah “regeneration” yang berarti lahir kembali. Istilah “genesis” bisa berarti penciptaan dan juga keturunan. Kata paliggenesia bisa berarti lahir baru, bisa berarti restoration/ pemulihan. Jadi arti “sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali” adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat pada saat seseorang dicipta kembali/ di re-kreasi/ berhenti dan memikirkan ulang seluruh hidup kita, waktu mulai lagi mulai dengan kesegaran yang baru. Rekreasi versi dunia justru capek total.
“apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya” berarti sesudah Yesus naik ke Surga dan duduk di atas takhta-Nya, Roh Kudus dikirim ke dalam dunia. Saat itulah waktu kita dilahirkan kembali, saat itulah waktu kita menjalankan Vocational Calling kita di tengah dunia ini. Saat itulah kita serahkan semuanya dan mengikut Tuhan. Pertanyaan tentang memperoleh apa tidaklah menyelesaikan apa-apa, justru kita harus bertanya: kita ini jadi apa?
Paliggenesia berarti kembalinya saya pada ciptaan pertama, pada posisi pertama. Iman sejati, spiritual sejati adalah kembalinya manusia menjawab pertanyaan Tuhan kepada Adam di Taman Eden yaitu : Adam, di manakah engkau? Religiositas sejati adalah religiositas yang menjawab pertanyaan pertama Tuhan di atas. Pertanyaan Tuhan tersebut bukan karena Tuhan tidak tahu dimana Adam berada tetapi justru memberitahu Adam bahwa dia sudah keluar dari posisinya yang seharusnya. Adam sudah jatuh.
Agama sejati mempertanyakan kita jadi apa. Agama sejati memulihkan kita menjadi orang sejati sebagaimana Tuhan mencipta kita semula. Krisis identitas dialami oleh banyak orang bahkan yang sudah berumur karena kehilangan posisi mula-mula. Semua filsafat selalu bertanya: saya siapa, saya dari mana, saya mau ke mana. Semua filsafat tidak bisa menjawab karena sudah hilang posisi. Hanya kekristenan yang dapat menjawab karena paliggenesia yang berarti dicipta kembali, dikembalikan ke posisi yang sebenarnya.
Betulkah kita sudah mengalami penciptaan ulang, menjadi warga Kerajaan Surga? Iman sejati membawa kita kepada spiritualitas sejati yang membawa kita ke posisi sejati yaitu sebagai manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah untuk mengerjakan pekerjaan yang Allah inginkan.
II. Setelah kita mengerti bagaimana kita menjadi (being) seorang anak Allah, hidup kita seperti apa? Tuhan mengatakan: bagaimana kita mencapai harkat kemuliaan sebagaimana Dia sudah duduk di takhta kemuliaan-Nya. Kalimat ini mengkaitkan manusia yang sudah dilahirkan kembali dengan Kristus sebagai standard kemuliaan. Kristus yang mati, bangkit dan naik ke Surga, duduk di takhta kemuliaan menyelesaikan bagaimana seharusnya hidup yang terintegritas, yang mencapai harkat kemuliaan. Kristus adalah yang sulung, yang utama, kita mengikut Dia. Kristus adalah gambar dan rupa Allah, kita dicipta menurut gambar dan rupa Allah itu (Kristus).
Ketika jatuh ke dalam dosa, kita kehilangan kemuliaan Allah yang ada pada diri kita. Hanya Allah yang dapat memulihkan kemuliaan tersebut. Kemuliaan adalah gambaran dignitas tertinggi bagi manusia, ketuntasan hidup dalam moralitas yang tertinggi, hidup berharkat yang mencapai tingkat integritas yang teratas. Hidup umat Allah harusnya kembali menjadi makhluk mulia yang menjalankan integritas, harkat, nilai, hormat. Status harkat dan kemuliaan tidak bisa dibayar dengan apapun kecuali dengan integritas dan moral yang tinggi.
Janganlah kita mempermainkan posisi kita, baliklah pada Vocational Calling kita, kepada posisi sejati kita. Menjadi anak Allah adalah kembali ke posisi anggun yang Tuhan sediakan. Setiap manusia pernah berbuat dosa, Tuhan mau kita bertobat dan tidak berbuat dosa lagi, kembali menapaki via dolorosa untuk menuju kemuliaan. Manusia dituntut berproses menuju kesempurnaan. Agama sejati bukan membawa kita bisa mendapatkan “apa”, yang mana semakin kita mendapatkan “apa” tersebut, kita semakin hedonis, humanis, duniawi.
Pdt. Stephen Tong dalam seminar pendidikan yang lalu mengatakan bahwa pendidikan yang salah membuat kita menjadi hancur. 20 tahun pertama adalah bagaimana mengisi container hidup kita, dunia ini penuh dengan segala sesuatu dengan banyak aspek, ada yang mulia tapi juga ada sampah. Dunia ini begitu limpah, tetapi diri kita begitu terbatas. Jadi kita harus berusaha mendapatkan isi yang baik untuk diri kita dari limpahnya dunia ini. Pilih yang paling berharga untuk hidup kita, jangan pilih sampah!
Supaya kita bisa mempermuliakan Allah, kita sendiri harus mulia, punya harkat. Tugas kita sebagai orang Kristen adalah mengejar hal yang mulia, bukan yang hina yang satanik. Sebagai orang Kristen kita harus mencerminkan sifat Allah yang duduk di atas takhta kemuliaan. Allah adalah Allah yang integritasnya tinggi, konsisten sekali, bukan Allah yang bisa disuap, bisa dipermainkan, bisa diperintah. Hidup Kristen adalah hidup yang taat, yang memuliakan Dia.
III. Tuhan menyatakan keadilanNya. Tuhan sudah mengangkat kita dari lumpur dosa, maka kita juga harus mencerminkan keadilan sejati. Matius 19:28 menyatakan bahwa kamu, yang telah mengikut Tuhan Yesus akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Seorang hakim adalah seorang yang mempunyai keadilan melalui kebenaran. Kita berhak menjadi hakim kalau kita mempunyai hidup yang berintegritas, hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang, hidup yang benar, hidup yang punya ketegasan, keadilan. Hakim yang hidupnya tidak berintegritas, maka hukumannya harus 10 kali lebih keras.
Allah adalah Allah yang adil, yang tidak pernah mempermainkan. Orang hidup menderita bukan karena Tuhan. Kalau kita menderita karena hidup benar, itu adalah ulah setan, tapi seringkali kita menyalahkan Tuhan. Setan sangat sengit kalau kita hidup jujur, suci, setan akan berusaha kita hancur karena jujur dan suci. Kalau kita menyuarakan kebenaran, kita akan menderita. Tuhan bukan Tuhan yang ngawur, Dia bahkan akan ganti 100 kali lipat semua yang kita tinggalkan. Tuhan mengerti orang yang setia demi Dia. Tuhan sangat baik.
Hudson Taylor, seorang misionaris Inggris di Cina, mengatakan bahwa dia belum pernah berhasil untuk berkorban untuk Tuhan karena setiap kali dia berkorban sedikit, Tuhan malah memberkati dia 100 kali lipat, terlalu banyak berkat yang dia terima.
Tuhan sangat peduli kepada kita kalau kita setia menjalankan perintah-Nya. Mari kita berkorban demi nama Tuhan, hidup adil adalah hidup kembali kepada Tuhan, hidup adil berarti menyatakan kebenaran Allah, hidup adil berarti berani meneriakkan kebenaran meskipun harus berkorban. Bukan Tuhan yang membuat kita hidup susah melainkan iblis. Marilah kita menjadi orang yang adil, yang benar kita katakan benar, yang jahat kita katakan jahat, yang baik kita katakan baik. Jangan memutar balikkan fakta. Orang dunia mengatakan baik kalau menguntungkan diri, tergantung egois. Tuhan berkata : baik atau tidak, tergantung pada kebenaran Allah bukan pada egois manusia.
Matius 19:30 : mengajak kita untuk tidak berpikir linier, yaitu yang terdahulu bisa jadi yang terbelakang dan yang terbelakang bisa jadi yang terdahulu; barangsiapa memegang nyawanya, dia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa yang melepaskan nyawanya, akan mendapatkannya. Iman Kristen adalah iman yang menggabungkan 2 realm yaitu realm kekekalan dan realm kesementaraan. Keduanya berlawanan. Realm kekekalan bersifat tetap, absolut, tidak bisa digeser/ diubah, di luar ruang dan waktu, tidak terkena proses sama sekali, statis. Realm kesementaraan bersifat terus berubah, bergeser, terikat ruang dan waktu, dinamis. Kedua realm tersebut harus tergabung secara harmonis. Hidup kekristenan bukan hidup yang menjepit 2 realm menjadi 1 realm, tetapi hidup dengan merelasikan 2 realm secara paradoksikal. Realm adalah dunia abstrak, seperti: dunia olahraga, dunia seni, dunia fashion, dll.
Semua yang ada di dalam dunia dinamis merupakan akibat dari dunia kekekalan, tetapi tidak dikunci oleh yang kekal. Sebaliknya, yang kekal adalah tujuan dari yang dinamis.
Konsep yang terdahulu bisa jadi yang terbelakang dan sebaliknya, contohnya naik pesawat Boeing, yang masuk duluan akan keluar akhir. Di dunia ini jangan berpikir linier, tetapi berpikirlah paradoks.
Pertanyaan orang Kristen seharusnya bukan seperti Petrus yaitu: setelah mengerjakan ini saya mendapatkan apa, tetapi seharusnya bertanya: setelah mengerjakan ini Tuhan senang atau tidak. Ketika akan jalan, bertanya dulu kepada Tuhan : Tuhan, apa yang Engkau inginkan?, bukan apa yang saya mau. Inilah GRII, yang tidak bertanya kita dapat apa dari setiap kegiatan yang kita adakan. Kalau GRII mengadakan kegiatan, pertanyaannya bukan kita untung apa, tetapi Tuhan untung apa, nama Tuhan dipermuliakan atau tidak, Kerajaan Tuhan diperluas atau tidak. Terus relasikan kesementaraan dengan kekekalan. Gereja ini ada untuk mempermuliakan Tuhan. Tuhan panggil kita untuk menjalankan misi Kerajaan Surga. Itulah yang mendorong kita menjalankan tugas pelayanan kita dengan baik, mendorong kita bagaimana bekerja di tengah dunia, mendorong kita bagaimana hidup di tengah-tengah masyarakat. Kiranya ini bisa memuliakan Tuhan. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)