Ringkasan Khotbah :  31 Agustus 2008

Salvation: The Mission Impossible

Nats: Matius 19:16-26

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Matius 19:16-26 menceritakan tentang seorang muda yang kaya yang bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai perbuatan baik apa yang harus dia perbuat supaya dapat memperoleh hidup yang kekal. Cerita ini mewakili semua manusia di dunia ini. Cerita ini merupakan cerita tragis yang diawali dengan keinginan seorang muda untuk memperoleh hidup/ masuk surga/ memperoleh keselamatan tetapi berakhir dengan kegagalan yaitu masuk neraka/ kebinasaan karena gagal mengerti yang Tuhan nyatakan, gagal kembali kepada Firman, gagal taat kepada Tuhan.

2 hal yang manusia pikirkan tentang keselamatan adalah :

1. berbuat baik supaya dapat masuk surga.

2. punya kekayaan dan bisa memakainya supaya dapat masuk surga.

Keduanya adalah justru menjadi penyebab kegagalan untuk mencapai keselamatan. Orang beranggapan bahwa dengan memiliki kekayaan, semua hal bisa diatur, tetapi ada satu hal yang tidak bisa diatur oleh kekayaan yaitu perihal masuk surga. Kekayaan justru seringkali menjadi penghalang seseorang untuk dapat masuk surga, seperti cerita dalam Matius 19:16-26 yang menceritakan bahwa anak muda tersebut tidak dapat masuk surga karena hartanya banyak. Harta banyak bagi dunia adalah suatu kesuksesan tetapi menurut Alkitab adalah suatu kecelakaan. Tuhan Yesus menambahkan bahwa sungguh-sungguh sulit orang kaya untuk dapat masuk surga, bahkan masih lebih mudah unta masuk lubang jarum. Murid-murid Tuhan Yesus menjadi gempar.

Ketika nilai hidup digeser dari tempatnya yang asli, ketika natur dari hidup itu sendiri dibuang dari tempatnya dan dimasukkan ke tempat yang salah maka seluruh aspek hidup/ nilai hidup/ tujuan hidup menjadi hilang dan hidup menjadi sia-sia total dan semua yang dikerjakan menjadi hancur. Jadi kita perlu kembali kepada konsep yang sejati yaitu Firman Tuhan. Sebagai orang Kristen, kita harus kembali kepada esensi hidup yang sejati, kalau keluar darinya kita akan mati. Tetapi manusia sudah berdosa sehingga ketika manusia hendak menyelesaikan masalah dosa ini, manusia mengalami kegagalan. Konsep-konsep penyelesaian dosa sudah mengunci pikiran manusia dan membawa kepada kegagalan.

Manusia gagal untuk dapat masuk ke dalam hidup, untuk mendapatkan hidup yang kekal, walaupun sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Penyelesaiannya adalah kita harus balik ke esensi dasar yang seharusnya, karena kalau tidak maka masalah ini tidak akan terselesaikan, karena yang kita selesaikan hanya gejalanya saja bukan sumber permasalahannya. Kristus adalah satu-satunya jalan dan jawaban bagi pergumulan manusia tentang keselamatan.

Alkitab, khususnya Matius 19:16-26, mematahkan pandangan pertama dunia tentang keselamatan yaitu dengan berbuat baik kita bisa memperoleh keselamatan. Pandangan ini menyatakan bahwa dengan banyak-banyak berbuat baik kita dapat masuk surga. Perbuatan baik adalah jalan untuk masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak ada perbuatan baik. Perbuatan baik tidak menyelesaikan dosa sama sekali, karena :

1. Perbuatan baik yang banyak tidak dapat menutup dosa walau hanya sekali saja dosa tersebut dilakukan, bahkan peribahasa dunia mengatakan bahwa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Satu perbuatan dosa cukup membuat semua perbuatan baik yang jutaan jumlahnya pun menjadi tidak ada artinya, dan setelah itu perbuatan baik yang dilakukan tidak pernah lagi dipandang baik.

Dari aspek keadilan/ hukum juga demikian, orang akan tetap dihukum setelah melakukan pembunuhan walaupun dia sebelumnya sudah berbuat baik begitu banyak, perbuatan baik tersebut hanya dapat sedikit meringankan hukuman, tetapi tidak dapat menghapuskan hukuman. Prinsip keadilan ini tidak bisa dibuang, ini adalah prinsip umum. Jadi dari aspek keadilan ini dapat kita lihat bahwa tidak ada cara mengatasi dosa dengan perbuatan baik.

2. Perbuatan baik yang dilakukan dengan motivasi supaya dapat masuk surga adalah perbuatan yang tidak baik. Makin berbuat baik akan makin berdosa dan masuk neraka. Konsep ini sudah diungkapkan 2350 tahun yang lalu dengan teori Sommum Bonum dari Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa perbuatan baik yang seperti di atas adalah tidak sah dan tidak logis untuk dapat masuk surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya Satu yang baik. Paulus dalam Kitab Roma juga mengatakan bahwa tidak ada manusia yang baik. Teori seperti ini dari level dunia saja sudah tidak sah, apalagi dari level kekristenan yang lebih agung dan mulia. Konsep ini tidak banyak dijelaskan karena membentur pikiran manusia berdosa.

Perbuatan baik seharusnya dilakukan sebagai buah dari penebusan yang sudah dikerjakan Tuhan atas hidup manusia.

Pandangan kedua dunia tentang keselamatan menyatakan bahwa dapat membeli keselamatan dengan kekayaan yang dimiliki. Hal ini berkaitan dengan perbuatan baik untuk dapat masuk surga, misalnya dengan berbuat amal banyak-banyak. Dari sinilah muncul konsep bahwa manusia dapat membeli apapun termasuk surga dengan uang. Orang Kristen pun juga beranggapan bahwa dengan memberi uang persembahan yang banyak berarti memperbanyak investasi di surga. Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk dapat masuk surga, manusia harus mentaati semua perintah Tuhan. Inilah iman ! Iman adalah ketaatan, penyangkalan diri, menanggalkan segala keinginan diri, menanggalkan semua ambisi dan kembali kepada Tuhan.

Tuhan Yesus menyuruh orang muda itu menjual semua hartanya, kemudian ikut Tuhan. Orang muda itu sedih hatinya karena uangnya itulah tuhannya. Tuhan hendak menyatakan bahwa semua harta itu pun sebenarnya tidak sebanding nilainya dengan surga. Berapa harga nyawa kita? Alkitab menyatakan bahwa seluruh isi dunia ini tidak sebanding dengan harga sebuah nyawa. Berapa harga yang cocok untuk sebuah nyawa? Sebuah nyawa adalah seharga sebuah nyawa. Tuhan Yesus mati untuk menggantikan nyawa kita. Manusia menghargai hidup/ nyawa terlalu murah. Kalau memang murah, mengapa Anak Allah harus turun menjadi manusia, mengapa Tuhan Yesus harus mati menggantikan kita? Alkitab mengatakan : kita tidak bisa bayar dengan emas dan perak untuk mengganti nyawa kita, hanya satu kemungkinan yaitu dibayar dengan darah Anak Domba.

Tidak ada cara apapun yang dapat dilakukan manusia untuk dapat masuk surga. Manusia sudah berdosa, keluar dari natur aslinya, melawan Tuhan. Semula Tuhan mencipta manusia dengan tujuan yang agung, dicipta menurut gambar dan rupa Dia, untuk memuliakan Tuhan. Manusia berontak kepada Tuhan, manusia melanggar hukum relasi antara pencipta dan ciptaan, hukum paling dasar dari semua relasi. Hukum relasi antara pencipta dan ciptaan mengatakan bahwa semua ciptaan dicipta oleh pencipta berdasarkan tujuan pencipta, didesain oleh pencipta, dijadikan oleh pencipta dan hasil akhirnya untuk pencipta. Hukum ini adalah kebenaran asasi yang berlaku tanpa perkecualian. Ketika ciptaan tidak kembali kepada fungsi semula, diselewengkan, ciptaan akan mengalami penurunan nilai. Ketika manusia berontak kepada Tuhan, manusia mati bukan Tuhan yang mati.

Dosa di dalam kekristenan bukanlah membunuh, berzinah, dll. Itu semua hanya sekunder. Orang muda tersebut beres melakukan hukum pada loh batu yang kedua (relasi dengan sesama) maka Tuhan Yesus mempertanyakan penerapan dari hukum pada loh batu yang pertama (relasi dengan Tuhan), inilah intinya, dan gagallah orang muda itu dalam hal ini. Roma 1 mengatakan bahwa dosa berasal dari 2 sifat yaitu fasik dan lalim. Fasik artinya tahu adanya Allah tetapi sengaja melawan Allah. Lalim artinya tahu adanya kebenaran tetapi sengaja melawan kebenaran.

Orang atheis akan berteriak marah kalau mendengar orang lain berkata tentang Allah. Kalau memang Allah itu tidak ada menurut mereka, seharusnya mereka tidak perlu marah, kemarahan mereka menunjukkan bahwa dalam hati mereka sebenarnya tahu kalau Allah itu ada tetapi mereka tidak mau mengakui dan sengaja melawan. Inilah kefasikan. Semua orang tahu kalau mencuri, menyontek, dll itu salah, tapi tetap melakukan. Semua orang tahu kebenaran tapi sengaja menindas, melawan. Itulah kelaliman. Ketika manusia fasik dan lalim, Roma 1 mencatat, maka Allah menyerahkan mereka kepada berbagai ekses dosa seperti berzinah, membunuh, dll. Jadi manusia melakukan dosa karena terlebih dahulu manusia melawan Allah dan kebenaran, maka Allah mengatakan : carilah dulu Kerajaan Allah dan KebenaranNya, berdamailah dengan Allah, maka semuanya akan beres. Untuk berdamai dengan Allah, hanya ada satu cara yaitu  Yesus harus naik ke atas salib menjadi perantara kita dengan Tuhan. Itulah sebabnya Kristus harus disalibkan.

Semua yang Tuhan kerjakan diatas adalah hal yang mustahil bagi manusia. Mustahil manusia bisa selamat, mustahil Allah menjadi manusia, Allah disalib dan mati lebih mustahil lagi. Semua itu memang mustahil bagi manusia tetapi tidaklah mustahil bagi Allah.

Allah menjadi manusia adalah penurunan derajat kualitatif yang merupakan penghinaan luar biasa. Dia harus mengosongkan diri dan tidak menganggap kesetaraan hak sebagai Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Dia begitu menderita, dihina habis-habisan. Manusia tidak bisa mengerti akan hal ini dan tidak mau melakukannya. Hal itu adalah mustahil bagi manusia. Tapi justru yang mustahil tersebut rela dilakukan oleh Allah. Salib adalah titik penghinaan yang luar biasa.

Salib adalah gambaran dari :

1. Kebaikan sejati/ total.

Kebaikan sejati adalah memberikan diri. Kristus memberikan diriNya tanpa menginginkan imbalan dari kita. Dunia berbuat baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Berbuat baik bukan menarik manfaat, hanya memberi tanpa pamrih. Memberi yang terbesar adalah memberikan diri/ hidup. Kristus memberikan kebajikanNya kepada musuh yang menyakiti Dia. Dia memberi tanpa pamrih.

Sesudah kita menerima keselamatan, Tuhan menuntut kita untuk berbuat baik, yaitu memberi tanpa menarik manfaat dari memberi. Pelajaran memberi yang baik adalah memberikan perpuluhan. Memberikan perpuluhan adalah kunci untuk mengerti memberi, karena merupakan kesadaran diri bagaimana memberi. Tidak memberikan perpuluhan berarti tidak mengerti arti berbuat baik, berarti belum mengerti kebaikan Tuhan atas hidup kita. Ketika kita memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita berarti kita tahu total penghasilan kita, dengan kata lain kita tahu Tuhan sudah memberkati kita terlebih dahulu, Tuhan sudah berbuat baik kepada kita dahulu, semua yang ada pada kita adalah anugerah yang Tuhan titipkan pada kita.

Kerusakan manusia bahkan gereja dalam hal ini adalah memutar balikkan prinsip di atas dengan mengatakan bahwa kalau kita memberi maka Tuhan akan mengganti 10 kali lipatnya. Tuhan yang menjadi berhutang pada manusia. Inilah kerusakan pola pikir humanis. Manusia berbuat baik dengan keinginan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Efesus 2:10 : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

2. Pengorbanan yang paling tuntas.

Kristus berkorban luar biasa bagi kita, Dia disiksa dengan sangat kejam. Orang Kristen seringkali menganggap penebusan Tuhan begitu sepele. Maukah kita mati bagi orang lain, bukan karena kita bersalah, tapi karena orang lain yang bersalah? Kristus mau melakukannya untuk orang yang telah menyakiti Dia, karena Dia mencintai kita semua. Kristus mati untuk kita waktu kita masih berdosa, bahkan kita masih sering tidak taat, suka berjalan menurut kemauan diri. Kalau kita mencintai, kita harus berani berkorban, memikirkan yang terbaik untuk yang dicintai.

Mari kita pikirkan, apa artinya Kristus mati bagi kita? Dia telah melakukan pengorbanan yang dasyat bagi kita. Orang yang mengerti hal ini, serahkan kepala untuk Tuhan pun belumlah impas, bekerja mati-matian untuk Tuhan pun belum impas. Banyak orang yang berlagu, tidak mau melayani Tuhan.

Roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus bukanlah jimat yang dapat menyembuhkan, membuat menjadi kaya, tetapi seharusnya mengingatkan kita akan pengorbanan Kristus di atas kayu salib bagi kita dan bagaimana seharusnya kita berespon akan hal itu. 

3. Bijaksana Allah yang luar biasa besar.

Keadilan Allah menuntut hukuman yang keras sekali sedangkan cinta kasih Allah menuntut penyelamatan atas manusia. Pengadilan tanpa mempedulikan kasih akan menjadi kekejaman yang mengerikan, tetapi mencintai tanpa keadilan akan menjadi kerusakan moral yang luar biasa. Dunia tidak bisa mempertemukan keadilan dan kasih, tapi hanya bisa memilih salah satunya. Keadilan dan kasih adalah dua hal paradoks yang tidak mudah untuk dipertemukan. Untuk mempertemukan keduanya hanya bisa dilakukan dengan salib. Di salib, keadilan Allah menuntaskan murkaNya, dan cinta kasih Allah menyelesaikan penyelamatan manusia. Kristus harus mati! Ini semua keluar dari bijaksana dunia, keluar dari philo sophia (pencinta bijaksana=filsafat). Bijaksana sejati ada di kayu salib.

Kita berada dalam posisi paradoks yaitu sebagai warganegara Kerajaan Surga dan juga warganegara dunia. Kedua posisi itu harus disatukan tapi tidak dikompromikan. Untuk menyelesaikan hal ini kita perlu kembali kepada bijaksana sejati yaitu Kristus.

Ketika kita belajar mengenai Kristus, kita belajar sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh pikiran manusia, tetapi di situlah kemustahilan manusia diselesaikan oleh bijaksana yang sejati. Kita pun belajar menerobos keluar dari pemikiran dunia. Banyak orang menghina konsep pikir kekristenan, lebih suka membaca buku-buku bijaksana dunia, menganggapnya lebih pintar dari cara Tuhan. Bijaksana sejati ada di dalam Firman, di dalam Kristus. Mari kita belajar menghargai Firman, menghargai Kristus sebagai Firman yang hidup.

Bijaksana sejati adalah ketika kita taat kepada Tuhan, menuruti segala perintah Tuhan. Itulah penyelesaian yang paling tuntas atas pergumulan hidup kita. Menyangkal diri, pikul salib dan ikut Tuhan, itulah syarat yang Tuhan tuntut dari kita. Amin  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)