Ringkasan Khotbah :  17 Agustus 2008

Kemerdekaan Sejati dalam Kristus

Nats: Yohanes 8:30-32

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

 

Yohanes 8:30-32: Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepadaNya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya :”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Hari ini kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-63. Kadang kita men­dengar komentar yang berkata bahwa kita sepertinya terlepas dari penjajahan asing tapi masuk ke dalam penjajahan bentuk lain baik dari pihak luar maupun dari bangsa sendiri. Dalam hal rohani, apa­kah ada orang yang merasa sudah merdeka padahal masih berada dalam bentuk-bentuk per­bu­dak­an yang lain. Tema khotbah hari ini adalah tentang kemerdekaan dan bagaimana kita dapat menjadi orang yang benar-benar merdeka dalam Tuhan Yesus.

Dalam minggu yang lalu ini saya sempat menyaksikan acara Today’s Dialogue di Metro TV yang meng­hadirkan beberapa panelis: seorang ibu korban bom Bali, wakil dari tim pembela Amrozi Cs, juga dari kejaksaan dan 2 panelis yang lain. Ibu ini menceritakan penderitaannya yang diakibatkan oleh aksi bom Bali itu. Akibat badan dan wajahnya yang terbakar itu, anaknya menolak untuk diambilkan rapor olehnya karena malu. Ketika ia pergi ke warung untuk makan, orang yang ada di warung segera pergi dan terang-terangan berkata tidak bisa makan karena jijik. Setiap orang yang mendengarkan kesaksian ibu merasa trenyuh. Di tengah-tengah acara tersebut, juga ditayangkan dokumentasi wa­wan­cara dengan Amrozi Cs yang tampil dengan wajah tanpa penyesalan, tanpa ketakutan. Mereka mengatakan bahwa mereka berada di jalan yang benar. Salah seorang dari mereka berkata adalah kebodohan orang yang menghukum mati mereka karena begitu ditembak mati, mereka langsung masuk sorga. Ketika mereka ditanyakan, bagaimana dengan korban yang tidak bersalah, termasuk orang Islam? Mereka menjawab bahwa di dalam perang pasti ada korban, itu adalah konsekuensi dari jihad. Sungguh suatu logika yang melawan moralitas dan keagamaan yang waras.

Di sini kita melihat bahwa suatu kepercayaan yang keliru dapat membuat manusia menipu diri se­hing­ga dapat melakukan kejahatan yang keji namun menganggap telah melakukan ke­salehan terting­gi, padahal hal tersebut sudah melawan logika kemanusia­an, logika agama yang normal. Seseorang berkata, “Tidak ada yang dapat memperbudak manusia lebih daripada agama dan di dalam agama tidak ada ajaran yang lebih menghancurkan manusia daripada ajaran tentang ketaatan.”

Kekerasan dan ketidakberesan dalam agama dengan berbagai dampak destruktif dalam hidup ma­nu­sia telah menimbulkan sikap sinis terhadap agama, misalnya John Lennon dalam lagunya “Imagine,” mengharapkan lenyapnya agama dari kehidupan manusia baru ada kedamaian dalam hidup manusia, sebab agama dilihat hanya mempertajam perbedaan dan memicu perang dan teror.

Tetapi agama tidak bisa ditiadakan, karena ada kebutuhan manusia akan agama, dan agama sejati itu ada. Ka­rena itu, sikap yang bijaksana bukanlah menolak agama, tetapi jeli untuk mengetahui agama yang salah dan menghindarinya.

Peringatan keras tentang kesesatan dalam agama ini, bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga bagi orang-orang Kristen. Sebab Kekristenan yang dimengerti secara keliru dapat menjadi sangat ber­bahaya dan menghancurkan, topeng bagi banyak kejahatan berkedok agama.

Kita harus menghindari kesesatan ini. Ada banyak versi agama yang begitu liar, yang bertumbuh subur di lahan postmodern dan pluralisme masa kini. Orang bisa melakukan segala macam hal yang aneh dan menjijikkan, tetapi siapa yang mengkritisi dianggap sebagai musuh seluruh masyarakat. Inilah kegilaan zaman kita. Akibatnya keliaran dalam moral dan keagamaan menjadi-jadi dan sulit untuk dibendung. Jika kita berada di bawah pengaruh buruk demikian, hidup kita berada di dalam kebahayaan besar.

Kita bersyukur, di tengah dunia dengan banyak orang yang suka menipu dan ditipu, masih ada gereja yang memelihara ajaran yang benar, dan dengan motivasi yang lurus, tidak memanipulasi manusia, takut akan Tuhan, mengajar orang akan jalan yang lurus sebagaimana yang Tuhan inginkan agar dapat memancarkan cahaya di tengah dunia yang gelap. Tetapi dalam gereja dengan ajaran yang benar apakah menjamin orang-orang di dalamnya memiliki kerohanian yang baik, yang lurus, yang berkenan kepada Tuhan?

Yohanes 8:30 memberi tahu kita bahwa setelah Yesus menyaksikan bahwa Dia adalah terang dunia, Dia berasal dari sorga, yang diutus Allah sebagai penggenapan janji keselamatan umat manusia, sambutan orang waktu itu adalah banyak orang percaya kepada- Nya. Ini adalah berita baik.

Tapi kisah ini dilanjutkan dengan akhir yang tidak menggembirakan. orang-orang yang katanya per­caya kepada-Nya berubah menjadi memusuhi Dia, mau membunuh Dia, ditelanjangi oleh Tuhan Yesus sebagai anak iblis, budak dosa, dan bukannya anak Allah yang sejati. Ini adalah suatu anomali/ keganjilan yang luar biasa. Bagaimana mungkin orang yang percaya kepada Dia menjadi musuh-Nya. Respons orang-orang ini harus menjadi peringatan bagi kita. Jika mereka yang telah mendengarkan pengajaran dari Guru Teragung pun tidak terjamin merespons dengan iman yang sejati, kita yang menerima pengajaran dari pengkhotbah yang terbatas harus waspada untuk tidak menolak Dia. Orang-orang yang hidup secara kafir dan bertentangan dengan Injil tidak seharusnya memiliki keyakinan bahwa mereka adalah murid sejati Kristus.

Kecenderungan dalam diri manusia adalah kebutaan dalam diri manusia, bahkan ketika salah dan tidak beres pun tetap merasa yakin bahwa dirinya diperkenan oleh Tuhan (seperti Amrozi cs). Tuhan Yesus sudah memperingatkan dalam Matius 7:21-23: jangan berpikir kalau kamu sudah melakukan pengakuan Iman Rasuli, sudah aktif melayani, bisa melakukan mujizat, maka kamu sudah termasuk anak Allah; ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi. Kita harus selalu koreksi diri secara ketat.

Koreksi diri yang ketat tidak bertentangan dengan jaminan keselamatan dalam theo­logi Reformed. Rasul Paulus menegaskan jaminan keselamatan Kristen, bahwa tidak adanya kuasa apa pun di dalam alam rohani maupun alam fisik, peperangan, kelaparan dan kesulitan, yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus; juga menasihati supaya kita selalu mengoreksi diri dengan ketat dan rendah hati. Dia berkata dalam 2 Korintus 13:5, janganlah kamu anggap tegak, kuat, padahal kamu akan jatuh, itulah pangkal keteledoran dan kesombongan yang akan menjatuhkan. Paulus yang berpegang pada jaminan keselamatan berdasarkan anugerah yang tidak dapat gagal, tetap menjaga diri, memeriksa diri, menguasai diri agar jangan sampai setelah melayani, dia sendiri ditolak Tuhan. Orang Reformed yang memegang jaminan keselamatan juga harus senantiasa memeriksa diri, menjaga diri, karena satu bahaya yang selalu terjadi adalah penipuan diri. Alkitab juga pernah menyatakan bahwa jangan ada orang yang menipu diri, Allah tidak pernah membiarkan diri-Nya dipermainkan.

Dalam Yohanes 8:31 Tuhan Yesus menggarisbawahi apa yang membedakan seorang murid sejati dari yang palsu, yaitu: tinggal di dalam Firman-Nya (Jikalau kamu tetap di dalam Firman-Ku, kamu adalah benar-benar murid-Ku). Kata “tetap” berasal dari kata Yunani “menō” yang berarti sekali tinggal dan tetap. Kata “meno” ini muncul lagi dalam Yohanes 15 dalam pembahasan tentang pokok anggur yang mengajarkan bahwa di luar Kristus kita akan mati, di luar Kristus kita tidak bisa apa-apa. Jadi kita harus tinggal di dalam Kristus, di dalam Firman-Nya, hidup di dalam Firman-Nya, terkait dengan Dia, seperti carang dengan pokoknya, tidak boleh pernah dilepaskan, dimana ada aliran hidup yang mengalir dari Dia dan bergantung sepenuhnya kepada Dia.

Bagi orang Reformed kita menjunjung tinggi Alkitab, dengan slogan Sola Scriptura. Slogan ini bukan sekedar ciri tapi merupakan dasar doktrin yang mana dari situ semua doktrin ditegakkan dan kehidupan yang beres boleh dibangun. Bagi orang Reformed, seluruh hidupnya berdiri dan runtuh bersama Alkitab. Kalau Alkitab diabaikan, maka runtuhlah gereja, runtuhlah iman Kristen, akan terjadi penyelewengan. Bagi orang Reformed, Firman memiliki signifikansi yang begitu tinggi, karena mereka sadar hidupnya sangat bergantung dan berdasarkan pada Firman. Orang Reformed sadar bahwa mereka bisa menjadi Kristen, bisa lahir baru, bisa bertumbuh, bisa menjadi sehat rohani, disucikan, mengalami pengudusan progresif, mendapatkan penghiburan, mendapatkan kekuatan rohani, dibentuk, diubahkan, diperlengkapi, diberi kuasa untuk memberitakan Firman, semuanya itu adalah melalui Firman. Tanpa Firman, kita akan tersesat, dan menjadi berdosa. Karena itu, bagi orang Kristen yang sejati, Firman itu harus dicintai dan dipelajari dengan rajin.

Pengajaran yang simpang siur harus diteliti. Kita harus minta pimpinan Tuhan dalam mempelajari dan menggumulkan kebenaran Firman. Kita seringkali sudah tahu kebenaran Firman tapi masih saja melanggarnya, tidak mau melakukannya. Kita harus selalu menggumulkan Firman Tuhan, agar Firman Tuhan tidak hanya sebagai slogan tetapi memiliki kuasa memerdekakan, yang mengubah hidup kita. Inilah orang Kristen yang sejati.  

Ketika kita memberi tempat seluas-luasnya bagi firman untuk mempengaruhi hidup kita, maka kita akan diubahkan secara ajaib dan dilperlengkapi bagi pekerjaan Tuhan. Dalam sejarah gereja, kita menyaksikan sejumlah orang Reformed yang hebat dalam kerohaniannya, itu karena hidup mereka diisi oleh Firman. Orang-orang ini memiliki kestabilan hidup kerohanian. Hidup mereka diserahkan kepada Firman sehingga memiliki pengaruh yang luar biasa.

Jonathan Edward, diakui sebagai salah satu orang yang paling suci yang pernah hidup. Seorang yang sejak muda membuat Ketetapan Hati (telah diterbitkan oleh Momentum), menyatakan tekadnya untuk hidup dalam kesalehan dan mengabdi kepada Tuhan. Dia selalu tekun mempelajari Firman, kadang-kadang pergi ke hutan untuk merenungkan Firman, itulah sebabnya dia menjadi satu tokoh yang hebat, menjadi salah satu tokoh pemikir Amerika, seorang teolog terbesar Amerika, yang memiliki jasa rohani dalam hal doktrin yang begitu baik.

John Calvin adalah orang biasa yang studi utamanya ialah bidang hukum, kemudian dia mulai belajar Firman sendiri, tetapi dengan tekun seumur hidupnya. Hidupnya begitu mengabdi kepada Firman, mengajarkan Firman sampai menjadi tafsiran yang hampir lengkap dari kitab Kejadian sampai dengan Surat Yudas, kitab Wahyu tidak dia kupas, di dalamnya penuh dengan otoritas Firman. Dia menjadi salah seorang yang mempengaruhi seluruh dunia dengan ajarannya. Bahkan orang di luar Kristen pun mengakui pengaruhnya yang hebat. Semuanya itu karena dia berakar, hidup, bertumbuh di dalam Firman, nafasnya adalah Firman.

Satu tokoh lagi yaitu John Bunyan, penulis Pilgrim’s Progress yang merupakan kisah alegoris yang tiada duanya. Pilgrim’s Progress dipuji sebagai suatu karya yang hebat. Charles Spurgeon di usia 5 atau 6 tahun sudah membacanya, dan seumur hidupnya sudah membaca 100 kali lebih, setahun sekitar 2 kali dia membacanya. Charles Spurgeon mengatakan bahwa Bunyan adalah seorang yang dipenuhi Firman, begitu limpah oleh Firman seperti darahnya mengalir Firman. Buku ini memiliki penggambaran karakter yang lebih hebat daripada Shakespeare, memiliki pengaruh yang lebih hebat daripada karya John Milton. Padahal orang ini bukan orang yang terpelajar, melainkan seorang tukang reparasi, tetapi setelah bertobat, dia belajar Firman dan berkhotbah, dia masuk penjara, lalu menulis Pilgrim Progress. Itu semua karena dia berakar di dalam Firman. Firman telah mengubah seorang tukang yang tidak terpelajar menjadi penghasil karya yang luar biasa hebat. Ketika John Owen, seorang Reforme yang begitu terpelajar dan terhormat, ditanya oleh raja mengapa dia mau mendengarkan seorang yang tak terpelajar seperti John Bunyan, Owen menjawab bahwa kalau dia bisa memiliki kemampuan John Bunyan tersebut, dia rela meninggalkan keterpelajarannya. Firman bisa mengubah orang penghujat menjadi orang yang saleh dan begitu efektif bagi Tuhan.

Tuhan Yesus menginginkan kita tinggal tetap di dalam Firman-Nya. Kita sangat sulit menemukan keteladanan pada zaman sekarang ini. Yang banyak pada zaman ini adalah pengaruh-pengaruh media, isme-isme yang sangat kuat berpengaruh sehingga kita sulit untuk membangun kestabilan hidup rohani.  Karena itu, mari kita kembali kepada Alkitab. Sudahkah kita memberikan waktu yang terbaik untuk mempelajari Firman, lebih daripada koran, televisi, ngobrol kosong? Sudahkah kita memberikan hati kita kepada Firman sebagai standar tertinggi, yang memerintah hidup kita, yang berotoritas memberitahukan yang baik dan yang salah? Apakah kita sudah memberikan usaha yang terbaik untuk mempelajari Firman dibandingkan usaha untuk mencari uang ataupun belajar keahlian tertentu?

John Sung dipenjarakan selama sekitar 9 bulan karena dianggap gila. Selama itu, dia baca Alkitab 40 kali. Dia kembali kepada ajaran yang dasar. Setelah kembali ke Tiongkok, semua ijazahnya dia buang. Dia memiliki kuasa dalam memberitakan Firman, karena dia hidup di dalam Firman.

Dalam Yohanes 8:32 Tuhan memberitahu kita bahwa orang yang tetap dalam firman Kristus akan memiliki Kebenaran yang akan memerdekakan. Pengetahuan teologi yang  bertambah tidak menjamin sese­orang menjadi benar, tapi justru mungkin akan terjadi penyesatan, penipuan diri dan kejahatan. Pengajaran yang tidak beres akan menghancurkan tatanan dunia. Pengajaran yang tidak berpusat ke­pada Kristus akan membawa penyesatan. Karena itu kita harus tahu jelas apa Ciri-ciri sesungguhnya dari orang yang mengetahui kebenaran yang memerdekakan adalah :

(a) memahami esensi Alkitab dan melalui Alkitab mengenal Yesus Kristus sebagai penggenapan janji Allah. Melalui Kristus, kita mengenal Allah Bapa, memahami rencana keselamatan Allah, dan menerima Injil anugerah, mengalami transformasi/perubahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Sebagai kontrasnya ialah orang-orang Yahudi tersebut. Walaupun punya Alkitab tetapi tidak sampai pada Yesus. Walaupun Yesus hadir di hadapan mereka, tetapi mereka justru menolak Dia. Yesus menga­ta­kan mereka tidak mengenal Bapa (dan Allah Tritunggal), tidak mengerti keselamatan yang disediakan di hadapan mereka. Tidak tahu saat Allah melawat kamu. Penolakan mereka berarti kebinasaan mereka.

(b) Mengenal suara Yesus dan memahami perkataan-Nya. Domba Kristus me­ngenal suara Sang Gembala Agung. Jika kita telah beroleh anugerah, maka kita akan mendengar suara Yesus, kita akan mengikutnya. Tetapi banyak orang tidak mampu dan tidak mau mendengarkan suara Yesus karena hati mereka jahat (baca Yohanes 8:43). Banyak orang sekarang menganggap perkataan Yesus itu tidak masuk akal, tidak relevan, tidak konteks­tual, tidak dapat diterapkan, dan harus dimodifi­kasi (direvisi disesuaikan dengan zaman). Tetapi begitu muncul pengajaran yang aneh dan bahaya, semua diterima secara tidak kritis. Sebaliknya orang Kristen sejati yang berakar dalam firman memiliki kepekaan untuk mendeteksi apakah suatu pengajaran berasal dari Allah atau si jahat, apakah berguna atau menyesatkan.

(c) Melakukan seluruh firman Kristus (kebenaran Allah, kehendak Allah). Orang-oarng Yahudi itu melaku­kan perbuatan yang jahat. Mereka mau membunuh Yesus, mereka berdusta, melakukan siasat licik untuk membunuh Yesus. Semua ini merupakan hidup yang meniru tingkah laku setan. Jika kita mengenal ke­be­naran, maka hidup kita akan diproses Tuhan, dibawa masuk ke dalam kebenaran, bertumbuh dalam kebenaran, melakukan kebenaran, dibentuk dalam keserupaan dengan Kristus yang adalah Sang Kebe­naran. Jika tidak demikian, maka kita hanya menipu diri kita sendiri dan masih dalam perbudakan dosa.

Biarlah Tuhan menolong kita untuk dapat memiliki kemerdekaan yang sejati.  Amin  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)