Ringkasan Khotbah :  10 Agustus 2008

Basic Assumption in Christian Family

Nats: Matius 19:1-12

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

 

Tema pembahasan dalam Matius 19 adalah Vocational Calling dalam Kerajaan Surga, yaitu panggilan Kerajaan Surga untuk tugas kita sebagai professional. Matius 19 berbicara bagaimana kita mempunyai 2 kewarganegaraan sekaligus yaitu sebagai warganegara Kerajaan Surga dan warganegara dunia. Warganegara Kerajaan Surga memiliki Kristus sebagai Sang Raja yang berdaulat, yang memerintah atas hidup kita. Tugas kita adalah menggenapkan tugas yang Tuhan berikan kepada kita. Pada saat yang sama, kita adalah warganegara dunia yang mempunyai prinsip dan cara yang terbalik total dengan Kerajaan Surga. Timbullah ketegangan karena harus menjalankan Vocational Calling (mandat Kerajaan Surga) kita di tengah dunia berdosa yang berpusat pada kepentingan diri, nama baik diri, bukan berpusat kepada Tuhan. Augustinus mengatakan : Inilah ketegangan antara kota Allah dan kota dunia. Inilah ketegangan laten dimana Allah bekerja dan berdaulat bersamaan dengan manusia dan iblis yang bekerja dan berdaulat.

Dalam ketegangan ini, Alkitab mengajarkan bagaimana kita harus hidup. Point pentingnya terletak pada Matius 19:11,26,30, yang mewakili 3 tugas Vocational Calling kita yang tidak boleh kita abaikan satupun, yaitu : aspek keluarga, aspek property / pekerjaan, aspek pelayanan kita/ relasi kita dalam gereja. Salah satu aspek saja kita abaikan berarti kita berdosa di hadapan Tuhan. Ketiganya harus dikerjakan secara simultan. Kalau dikerjakan secara simultan maka akan tercapai keindahan hidup, makna hidup manusia akan mencapai kepenuhannya ketika memenuhi apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tuhan ingin kita menggarap ketiga aspek tersebut sehingga kita bisa menjadi representatif Allah di tengah dunia, kita menjadi mahkota ciptaanNya yang mewakili Tuhan di tengah dunia.

Point pertama yang dibereskan adalah masalah keluarga. Ayat awal Matius 19 menunjukkan bahwa Yesus sedang menuju ke Yerusalem, Matius 21 akan menceritakan tentang jalan salib di Yerusalem, dimana Kristus harus menderita kemudian dibunuh di atas kayu salib. Sebelum memasuki babak yang begitu dasyat dalam serangkaian penyelamatan yang dikerjakan oleh Tuhan atas diri manusia berdosa, karya Allah yang begitu besar harus konflik dengan keinginan manusia dan bertemu di kayu salib. Salib menjadi titik yang paling sulit dan paling krusial di dalam pemikiran sejarah manusia. Sebelum titik ini tiba, Kristus menyadari bahwa murid-murid adalah orang yang paling sulit menghadapi problematik ini, bagaimana mempertemukan ketegangan diantara 2 hal  ini. Maka sebelum memasuki Yerusalem, Tuhan mengajak para murid menuju daerah dekat Yerusalem yaitu Yudea di seberang sungai Yordan.

Matius 19 diawali dengan kedatangan orang Farisi kepada Tuhan Yesus, motivasi orang Farisi datang kepada Tuhan Yesus adalah untuk mencobai Tuhan Yesus, supaya kalau mungkin Tuhan Yesus bisa diplintir supaya jatuh. Tema Matius 19:1-12 adalah perceraian. Tuhan mengatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Lalu sejarah mengatakan, mengapa manusia boleh cerai, mengapa Musa mengeluarkan surat cerai, ini menjadi legalitas karena realitanya manusia memang bercerai. Kekristenan mendapatkan tekanan dalam hal ini, karena seluruh agama di dunia ini tidak ada satupun yang melarang perceraian kecuali Kristen.

Musa membuat surat cerai karena kebebalan manusia, tapi itu bukan kehendak Allah. Itu adalah pemberontakan manusia. Tuhan bahkan mengatakan bahwa kalau sudah cerai tidak boleh nikah lagi. Kalaupun yang menceraikan adalah pengadilan, bukan gereja, tetap tidak boleh menikah lagi. Kalau begitu caranya, manusia tidak mau kawin. Zaman sekarang ini banyak orang yang kumpul kebo.

Pergumulan pertama ini menyangkut masalah keluarga, bukan sekedar masalah cerai atau tidak, peraturan setelah cerai kawin lagi atau tidak, itu bukan inti yang sebenarnya. Tujuan orang Farisi bertanya tentang perceraian bukan untuk tahu bagaimana menyelesaikan perceraian dengan baik, bagaimana prinsip pernikahan. Matius 19:5-6 merupakan kutipan dari Kejadian 2:24-25, orang Farisi tahu persis tentang hal itu. Pertanyaan yang diajukan hanya untuk menjebak Tuhan Yesus supaya masuk perangkap mereka.

Point ini merupakan point yang penting, karena itu Matius meletakkannya pada urutan yang pertama. Inilah inti dari semuanya. Hidup kita dimulai dari keluarga. Seorang anak tumbuh dalam sebuah keluarga. Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang ribut, ayah memukuli istrinya, akan menjadi anak yang bermentalitas tidak beres. Anak adalah produk dari keluarga. Iblis merusak masyarakat, gereja dan dunia dengan cara merusak keluarga. Ketika hubungan suami-istri dalam keluarga rusak maka hidup tidak beres, kerja juga tidak beres. Adalah tidak mungkin kalau seseorang memiliki keluarga yang tidak harmonis dapat memiliki relasi kerja yang baik; kalau hidup moralnya di rumah tidak beres, di luar rumah menjadi bagus. Sebaliknya, kalau dalam keluarga menjaga kesucian,

moralitas yang baik, waktu suami mau berbuat dosa, istrinya mengingatkan sehingga suami tidak jatuh ke dalam dosa.

Istri yang dominan, suami yang tunduk, maka anak akan menjadi banci. Ini adalah relasi yang terbalik dalam keluarga. Inilah kerusakan dunia kita. Keluarga rusak, maka seluruh hidup kita rusak, pekerjaan rusak, hubungan dengan Tuhan juga rusak. Keluarga adalah tempat pertama pembentukan masyarakat. Keluarga adalah inti, pusat. Kita harus potong semua aspek pencemaran dosa yang mungkin masuk melalui keluarga, orang tua, lingkungan, dsb, supaya kita bisa kembali kepada Tuhan.

Tuhan minta kita untuk mengerti dan kembali kepada Firman Allah. Mengerti berarti masuk ke dalam kebenaran Allah dan mau menjalankannya. Mengerti berarti menerima penuh apa yang Tuhan ajarkan dan tidak melawannya.

Orang Farisi bukan tidak mengerti tapi masalahnya adalah pada pemberontakan. Manusia ketika berhadapan dengan Tuhan cuman mau menyatakan apa yang manusia anggap benar. Manusia tidak mau mengerti yang Tuhan katakan. Di sinilah mulainya terjadi perpecahan karena manusia tidak mau kembali kepada Tuhan. Relasi manusia dengan Allah adalah relasi yang pertama, karena inilah relasi utama yang membangun semua relasi yang lain. Relasi dengan Allah beres barulah relasi dengan diri menjadi beres, baru relasi dengan sesama beres, setelah itu relasi dengan alam pun akan beres. Inilah rentetan relasi yang tidak bisa dibalik. Relasi dengan Allah adalah kunci utama.

Suami-istri tidak mungkin bercerai kalau keduanya menjadi satu, kalau cerai berarti keduanya tetap dua, yang satu jalan ke kanan, yang satu jalan ke kiri. Bercerai berarti pecah karena ditarik ke 2 arah yang berbeda. Kalau keduanya menjadi satu, mengikat satu sama lain, tidak mungkin bisa cerai. Itulah keluarga yang sebenarnya.

Tuhan membangun keluarga dengan prinsip : laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya, bersatu dengan istrinya, menjadi satu daging. Ini adalah prinsip pernikahan yang utama. Kalau salah satu prinsip dilanggar, maka pernikahan tidak mungkin beres.

Ketika manusia hendak menyatukan pria dan wanita, dasar penyatuannya apa? Kedua manusia itu sama-sama relatif, jadi sama-sama tidak berhak memerintah orang lain. Alkitab memerintahkan suami untuk mencintai istrinya seperti Kristus mencintai jemaatNya sampai mati untuk jemaatNya. Alkitab juga memerintahkan istri untuk tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus. Kalau kita balik kepada Firman Allah, akan terjadi penyatuan yang sejati.

Kunci penyatuan ini ditengah dunia dimengerti oleh satu pemikiran bahwa tidak mungkin 2 relatif mencapai penyatuan tanpa ada pengunci absolut. Filsafat Jerman pada abad pertengahan menuju modern, muncul seorang filsuf yang bernama Leibniz, yang mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencapai komunikasi relatif secara absolut. Semua relasi antar relative tidak dapat mencapai bangunan yang absolut. Relasi ini dapat menjadi baik kalau memakai relasi pantul. Inilah teori “monad tidak berjendela”, artinya seluruh relasi bersifat tertutup, kita dapat berelasi kalau kita kembali kepada monad utama. Monad utama inilah yang nantinya memantulkan relasi kita kepada orang lain, barulah relasi tersebut menjadi absolut karena ada pengunci utamanya yaitu monad absolut. Pertanyaannya adalah : monad absolut itu siapa dan di mana? Apa merupakan ideologi? Kalau merupakan ideologi, berarti sudah melanggar prinsip “monad tidak berjendela” itu sendiri, karena tidak ada ideologi yang absolut, semua ideologi terus bergerak setiap saat, karena ideologi adalah hasil produk pikiran manusia yang tidak absolut. Manusia yang tidak absolut tidak mungkin bisa membangun sesuatu yang absolut. Jadi untuk mencapai kesatuan harus kembali kepada Allah yang absolut.

Keluarga yang melawan Allah sebagai titik pemersatu absolut akan menjadi pecah karena titik pemersatunya dibuang. Suami bisa mencintai istrinya karena Tuhan yang perintahkan. Kalau seandainya istri minta suami untuk tidak mencintai Tuhan melainkan hanya mencintai istrinya, maka suami akan berkata : kalau saya tidak mencintai Tuhan lagi, saya juga tidak bisa mencintai kamu karena Tuhanlah yang memerintahkan saya untuk mencintai kamu. Demikian juga istri ketika diminta oleh suaminya untuk tidak taat kepada Tuhan, hanya taat kepada suami, istri akan berkata : kalau saya tidak lagi taat kepada Tuhan, saya juga tidak bisa taat kepada kamu karena Tuhanlah yang memerintahkan saya untuk taat kepada kamu. Semangat perceraian muncul karena di titik pertama manusia sudah membuang monad absolut yaitu Allah sebagai titik pemersatunya.

Esensi dari perceraian adalah sebagai berikut :

1. Ada sikap melawan Allah.

Esensi ini pertama-tama didemonstrasikan oleh orang Farisi sendiri yang mencobai Tuhan Yesus sebagai wujud dari pemberontakan terhadap Allah. Waktu mereka melawan Kristus, itulah mulainya perceraian. Iman Kristen bukan iman yang ngawur melainkan iman yang mengajar kita mencapai relasi dalam tingkat yang tinggi. Konsep-konsep yang dipaparkan oleh dunia baik dunia psikologi maupun dunia religius tidak ada yang dapat memberikan jalan keluar untuk mempersatukan suami dan istri. Hanya kekristenan yang sanggup mencegah perceraian, bukan hanya secara teori ataupun ngawur tapi di dalam prinsipnya kalau dijalankan memang tidak perlu ada perceraian. Seluruh kunci untuk mempersatukan sudah disiapkan formatnya.

Keluarga-keluarga yang baik akan membangun masyarakat maupun gereja yang baik, demikian juga sebaliknya. Kalau keluarga-keluarga tidak beres maka akan sulit bagi gereja untuk membangun karena gereja terdiri dari orang-orang yang rusak. Kembalilah kepada Tuhan dari sejak pertama berproses di dalam pacaran sampai membentuk keluarga agar dapat membentuk pernikahan yang baik.

2. Ada sikap yang sengaja mau menjatuhkan, melawan. 

Orang Farisi bertemu Tuhan Yesus dengan semangat mau melawan, mau menjatuhkan. Hal ini merupakan ketidak beresan. Absolut palsu bertemu dengan absolut palsu yaitu relatif yang diabsolutkan akan membentur satu sama lain dan juga membentur absolut asli. Dunia kita penuh dengan teror. Negara yang satu menyerang negara yang lain karena tidak sepaham. Teror adalah pemaksaan relativitas kepada yang relatif. Yang relatif melawan yang relatif, teror lawan teror. Di mana-mana penuh dengan teror. Hanya Kristen yang diam saja, inilah prinsip yang diajarkan Tuhan. Tuhan sebagai absolut sejati yang akan bertindak.

Teror terjadi karena manusia ingin lebih hebat dari yang lain. Yang tidak cocok dengan pikirannya adalah musuh. Inilah kerusakan dunia kita. Teror juga terjadi antara suami dan istri. Ini sumber perceraian. Ini merupakan masalah serius. Hubungan suami-istri seharusnya dibangun di atas dasar cinta kasih dan kembali kepada Allah sebagai sumber kasih. Kasih adalah basis dari semua relasi. Kita harus belajar membawa kasih tersebut ke tengah dunia ini. Kita harus belajar mencintai pasangan kita, memberikan yang terbaik untuk dia, menjaga di dalam kesucian, keindahan dan kebaikan, sampai dikatakan dalam Efesus 5 : cinta seorang suami akan menjadikan istrinya perempuan yang tidak bercela, yang begitu sempurna. Seorang istri yang mencintai suaminya, mendukung habis suaminya, taat mutlak, tunduk penuh, menjadikan suaminya orang yang terhormat. Istri menjadi penasehat suami. Seorang suami tidak mungkin dapat menjadi orang yang terhormat tanpa dukungan istri. Dibelakang suami yang besar ada istri yang luar biasa.

Perceraian tidak perlu ada ketika cinta kasih yang dari Allah menjadi pemersatu suami-istri. Kalau keluarga saling mengasihi, maka hidup keluar pun akan saling mengasihi, karena di rumah sudah menikmati kasih dan hidup di dalam kasih. Kalau di rumah penuh kebencian, keluar rumahpun akan penuh kebencian.

3. Ada kerusakan akibat dosa.

Gagal menikah adalah karena :

a. aspek keturunan. Dosa menyebabkan manusia cacat, tidak bisa hidup beres. Kondisi dunia ini makin menakutkan, orang sebelum menikah sebaiknya periksa secara laboratorium apakah terjangkit toxoplasma, rubella, herpes, dll, karena janin akan cacat kalau dikandung dalam kondisi terjangkit penyakit tersebut. Perokok berat juga menimbulkan cacat janin. Dosa kalau mencengkeram manusia, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Diberitahu yang benar pun tidak bisa mengerti, kalaupun mengerti, itu karena anugerah. Orang yang tahu pun tidak bisa mengerti. Orang bisa mengerti kalau dikaruniai.

b. karena pengaruh sosial. Orang dijadikan demikian karena diperlakukan oleh orang lain. Pengaruh social meracuni kita sampai keluarga-keluarga rusak. Negara-negara maju saat ini setuju untuk tidak kawin, kumpul kebo saja, karena nikah hanya bikin repot dan sulit. Kita dipanggil Tuhan bukan untuk dipengaruhi oleh dunia tetapi harus dapat mempengaruhi dunia sebagai wakil Allah. Manusia selalu merasa orang lain yang salah, tidak mau mengakui kesalahan sendiri. Kita harusnya membawa kebenaran ke tengah-tengah lingkungan.

c. karena ketaatan kita kepada Tuhan. Inilah yang Tuhan mau. Ketegangan antara kerusakan dosa dengan ketaatan menjadi masalah yang serius dalam hidup ini. Kita sudah dirusak oleh setan mulai dari hal yang kecil. Biasakan komunikasi antar suami-istri. Kalau bepergian, biasakan terus komunikasi via telpon. Hal ini untuk menghindari masalah yang lebih jauh. Suami-istri yang terus komunikasi tidak akan sempat berbuat dosa. Cara setan bekerja luar biasa jahat dengan mencegah komunikasi antar suami-istri. Jangan biarkan setan memakai mulut kita untuk mengacaukan komunikasi antar suami-istri.

Zaman sekarang ini adalah sudah menjadi hal yang biasa melihat homoseksual. Alkitab marah terhadap homoseksual. Betapa celakanya dunia ini kalau kita tidak lagi memakai format Allah di dalam keluarga, tidak ada lagi kesucian, tidak ada lagi kesetiaan, tidak ada lagi hubungan Kristus dengan jemaat, tidak ada lagi kehidupan. Manusia dapat lebih hina daripada binatang. Kalau gereja masih menekankan kebenaran dan kesucian, mungkinkah masih ada yang mau mendengarkan? Alkitab mengajarkan : barangsiapa dapat mengerti hendaklah ia mengerti. Amin  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)