Ringkasan Khotbah : 03 Agustus 2008

Dinamika iman Simson

Nats: Hakim-hakim 13-16

Pengkhotbah : Rev. Thomy J. Matkaupan

 

 

Kita akan menyoroti beberapa ayat yaitu : Hakim-hakim 13:1-5, 24-25, 14:1, 15:20, 16:1-4, 21-22, 31.

Kitab Hakim-hakim adalah kitab yang menceritakan sejarah perjalanan hidup bangsa Israel yang paling gelap, sebab kitab ini banyak mengisahkan bagaimana bangsa Israel memberontak kepada Allah. Paling sedikit ada 7 kali kitab ini mencatat apa yang jahat yang dilakukan oleh bangsa Israel kepada Tuhan. Kitab ini hendak membertahukan kepada kita bahwa inilah kondisi kerohanian satu bangsa yang percaya kepada Yahwe tetapi yang dapat terjatuh ke dalam dosa yang paling dalam. Kitab ini membongkar sisi-sisi hidup kerohanian yang selama ini tidak pernah diperhatikan/ menjadi pusat kewaspadaan sehingga terabaikan dan tidak disadari. Kitab ini juga membuka dengan gamblang sekali bagaimana pengalaman kerohanian percaya kepada Allah.

Hari ini kita akan menyoroti tokoh Simson. Simson muncul pada saat kondisi bangsa Israel terpuruk jauh sekali, tetapi gaya hidup/jiwa bangsa Israel tetap memberontak kepada Tuhan, juga termasuk hakim yang seharusnya memutar kehidupan kerohanian bangsa Israel waktu itu. Sudah menjadi pola waktu itu yaitu waktu bangsa Israel memberontak kepada Tuhan, Tuhan menghukum mereka, mereka lalu berseru kepada Tuhan, dan Tuhan lalu mengirimkan seorang hakim, lalu bereslah kehidupan kerohanian bangsa Israel. Tetapi ketika hakim tadi meninggal dunia, bangsa Israel kembali lagi berbuat apa yang jahat di mata Tuhan. Pola ini terus menerus berulang. Tetapi dalam kitab Hakim-hakim 13-16 yang disoroti bukan kerusakan bangsa Israel tetapi kerusakan dari hakim itu sendiri.

Mengapa bangsa Israel bisa terjatuh ke dalam kondisi berdosa yang begitu dalam seperti ini? Hal ini dimulai dari Hakim-hakim 1:1 : Sesudah Yosua mati, orang Israel bertanya kepada Tuhan:”Siapakah daripada kami yang harus lebih dahulu maju menghadapi orang Kanaan untuk berperang melawan mereka?” Penekanan ayat ini adalah : Sesudah Yosua, hamba Tuhan ini, mati. Waktu Yosua hidup, bangsa Israel tidak berani berbuat jahat kepada Tuhan karena mereka melihat Yosua sebagai wakil  Tuhan. Sosok Yosua betul-betul membawa wibawa kerohanian, yang menjadi cermin kehadiran Allah. Sosok Yosua cukup untuk membawa semua hidup takut kepada Allah. Tapi segera setelah Yosua meninggal, bangsa Israel berpikir bahwa tidak ada lagi otoritas. Hal ini dapat dilihat pada Hakim-hakim 21:25 : Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Pasal pembuka dan penutup kitab Hakim-hakim inilah yang menjadi jiwa dari kitab Hakim-hakim itu sendiri. 

Situasi saat itu benar-benar tidak terkendali karena setiap orang melakukan perbuatan menurut pandangannya sendiri. Hidup kerohanian kalau ditentukan oleh “apa yang kita lihat”, akan menjadi sesuatu yang mengerikan sekali; jikalau yang kita lihat sekarang tidak lagi terlihat maka kita akan terpuruk dan melampiaskan seluruh dosa dan keinginan daging yang tetap masih ada dalam hidup seorang Kristen. Tapi kehidupan kerohanian kalau ditentukan oleh “melihat apa yang tidak terlihat” maka akan terjadi orang Kristen yang bertumbuh. Di sini diperlukan iman bahwa Allah tetap ada, dan Dia melihat. Orang Kristen yang “melihat yang tidak terlihat”, akan menjaga hidupnya baik-baik dan tidak berani berbuat macam-macam.

Kebenaran ini sangat sederhana tetapi seringkali kita libas. Kita seringkali memiliki pengalaman iman berdasarkan “apa yang kita lihat”, inilah yang disebut dengan pengalaman iman tingkat kindergarten. Orang Kristen dituntut untuk “melihat sesuatu yang tidak terlihat” yaitu Allah. Allah itu ada walaupun tidak terlihat. Inilah pre suposisi yang penting untuk membangun hidup Kristen yang sehat.

Simson mempunyai catatan yang paling panjang dalam kitab Hakim-hakim. Kita akan melihat 3 hal tentang hidup Simson yaitu :

1.   Kehidupan kerohanian Kristen tidak menjamin tidak akan berbuat dosa lagi.

2.     Kalau kejatuhan berkaitan dengan kedagingan, apa yang perlu kita pelajari dari kalimat “kedagingan” dan “kompromi”, supaya kita tidak bersembunyi di balik pernyataan-pernyataan iman Kristen dan tanpa disadari kita tidak memiliki pengalaman dengan Allah yang hidup tetapi kita hanya mempunyai pengalaman dengan pernyataan-pernyataan iman belaka.

3.     Bagaimana proses Simson mengenal Allah di dalam hidupnya.

Kita akan memasuki penjelasan dari 3 hal tersebut diatas :

1. Awal hidup Simson dan akhir hidupnya merupakan dua hal yang sangat kontras sekali. Pada mulanya Allah menjanjikan seorang anak kepada pasangan Manoah dan istrinya yang mandul, anak tersebut akan menjadi pembebas bangsa Israel; tetapi pada akhir hidupnya, Simson bukannya menjadi pembebas tetapi menjadi seorang tawanan bangsa Filistin. Ironis sekali! Arti nama Simson adalah matahari, tetapi dia mengakhiri hidupnya dengan kegelapan, sebab kedua matanya dicungkil oleh orang Filistin. Tuhan menganugerahkan kepada dia kekuatan yang melebihi kekuatan manusia normal, tetapi di akhir hidupnya Simson tidak berdaya apapun. Di awal hidupnya dia memiliki kebebasan penuh tetapi di akhir hidupnya dia dipenjara.

Simson adalah orang yang terikat janji nazir sejak dari kandungan ibunya. Janji nazir adalah orang yang dipisahkan untuk Allah pada waktu itu dan ditandai dengan 3 hal yaitu : rambut tidak boleh kena pisau cukur sejak dari lahir, tidak boleh makan makanan yang haram, tidak boleh dekat-dekat bangkai apapun.

Pada waktu itu ada banyak nazir, bukan hanya Simson. Pada zaman Perjanjian Baru juga ada prinsip nazir tapi tidak sama wujudnya dengan zaman Simson; prinsip nazir sekarang adalah setiap orang yang dipisahkan dari dunia dan diperuntukkan bagi Allah, menjadi orang percaya; inilah yang namanya kerohanian Kristen. Orang yang hanya dipisahkan bagi Allah tetapi tidak dipisahkan dari dunia akan menjadi seperti orang Farisi.

Simson menyangkali satu persatu janji nazirnya walaupun dia tahu akan janji tersebut. Hal ini dimulai dari Hakim-hakim 14:1: Simson melihat seorang gadis di Timna. Inilah kelemahan Simson yaitu tidak tahan melihat seorang gadis cantik. Lalu Simson meminta orang tuanya untuk melamar gadis tersebut. Orang tuanya memperingatkan dia untuk mencari gadis Israel saja, jangan gadis Filistin; inilah peringatan dari Tuhan. Tetapi Simson tetap menikahi gadis itu. Janji nazir sudah disangkalinya.

Simson melawan seekor singa. Kekuatan Simson bukan terletak pada rambutnya tetapi karena dipenuhi oleh Roh Tuhan, rambut hanyalah tanda nazir. Waktu perjalanan pulang, Simson melewati bangkai singa itu dan mengambil madu dari dalamnya. Janji nazir kembali dilanggar oleh Simson dengan dekat-dekat bangkai singa.

Dari peristiwa di atas, Simson membuat teka-teki untuk bangsa Filistin. Inilah awal Simson membuat gara-gara dengan bangsa Filistin. Taruhannya adalah 30 jubah. Orang Filistin berkoalisi dengan istri Simson untuk mendapatkan jawaban atas teka-teki tersebut. Ini menjadi pola yang terulang pada zaman Delila. Simson lemah dalam hal ini. Mulai hari itu Simson bermasalah dengan orang Filistin. Cerita pada kitab Hakim-hakim ini dipenuhi dengan kisah saling balas dendam antara Simson dengan orang Filistin. Hal ini dimulai dari tidak dihargainya janji nazir oleh Simson. Simson rela melakukan semuanya itu. Status Kristen tidak menjamin orang hidup secara Kristen; orang bisa rela hati menjual status Kristennya demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Abraham Kuyper mengatakan bahwa dominasi prinsip kebenaran Kristen bukanlah bersifat soteriologi (dalam arti pembenaran oleh iman) melainkan bersifat kosmologi (menyatakan kedaulatan Allah atas seluruh kosmos). Inilah yang dalam teologi Reformed dikenal dengan istilah mandat kultural. Hidup Kristen tidak berhenti pada aspek keselamatan tetapi ada sesuatu yang harus dikerjakan yaitu mandat kultural. Kalau bicara tentang kedaulatan Allah, pertama-tama yang harus diperhatikan adalah kedaulatan Allah atas hidup kita, bagaimana menyatakan kedaulatan Allah dalam hidup. Orang yang menjual status Kristennya berarti dia tidak menghargai status tersebut, dia sudah dipisahkan bagi Allah tapi masih bermain-main dengan dosa, satu tangan menggandeng Tuhan dan satu tangan lagi menggandeng setan. Inilah aspek tersembunyi dalam iman kita, tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya.

2. Ternyata dalam kekristenan dosa-dosa tersembunyi tersebut masih terus dipelihara. Inilah keinginan daging. Galatia 5:16-17 mencatat tentang keinginan daging untuk memperingatkan orang-orang Kristen di Galatia. Keinginan daging adalah keinginan yang bersifat diri, untuk kepentingan diri, untuk pemuasan diri, dan tidak bertujuan untuk memuaskan hati Allah. Simson menandai kedagingan ini dengan balas dendam yang tidak berkeputusan antara Simson dengan orang Filistin. Kalau kita bertemu dengan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa penghukuman adalah hak Allah bukan hak kita, kita akan berkata kepada Tuhan : nanti dulu Tuhan, saya akan bertindak dulu, baru Tuhan yang campur tangan. Hal ini berarti kita tidak menghormati Tuhan lagi.

Kedagingan berelasi dekat dengan kompromi. Kompromi adalah ketaatan sebagian. Biasanya orang yang berkompromi akan berkata : tidak apa-apa, ini tidak merugikan siapapun, ini hanya antara saya dengan Allah, setelah itu saya tahu cara memulihkannya, yaitu doa minta ampun. Ini namanya mempermainkan Allah. Ada dosa sebelum kompromi yaitu dosa karena mengizinkan kompromi terjadi. Dalam kompromi orang diperhadapkan dengan pilihan taat atau tidak taat kepada Tuhan, mau memenuhi tuntutan Firman Tuhan atau tuntutan keinginan diri. Ada dosa sebelum pergumulan itu yaitu dosa karena mengizinkan pergumulan itu terjadi.

Pergumulan seringkali mempunyai arti yang bias. Orang seringkali berpikir bahwa bergumul adalah memikirkan bagaimana memecahkan suatu masalah. Itu bukan pergumulan! Pergumulan adalah mencari kehendak Tuhan atas permasalahan yang kita hadapi. Ketika orang mencari tahu kehendak Tuhan dan mulai juga mempertimbangkan kepentingan dan keinginan diri, di situlah kedagingan itu muncul, itu namanya kompromi. Jadi kedagingan menyatu dengan kompromi sehingga sulit membedakan. Seringkali kita melakukannya dengan mengatasnamakan kehidupan kerohanian.

Alkitab mencatat bahwa Simson bertindak sebagai hakim selama 20 tahun lamanya, tetapi tidak dicatat bagaimana keinginan daging Simson selama waktu itu. Saya tafsirkan bahwa selama 20 tahun itu Simson hidup baik-baik. Tapi setelah 20 tahun, Simson pergi ke Gaza dan berzinah dengan seorang perempuan di sana. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 20 tahun keinginan daging Simson tidaklah hilang melainkan disimpan baik-baik.

Setelah berzinah, Simson masih memiliki kekuatan untuk mencabut pintu gerbang kota, membawanya ke atas gunung dan membuangnya di sana. Kekuatan ini dari mana? Dari Tuhan, walaupun Simson telah berzinah. Ternyata walaupun telah berbuat dosa, Tuhan tidak pergi dari diri seseorang. Dan yang terpenting di sini adalah Tuhan masih memakai Simson. Tuhan juga hendak menunjukkan bahwa rencana Tuhan tidak akan pernah terputus hanya karena seorang Simson. Ayat ini juga hendak menjelaskan tentang hukum tabur-tuai. Ketika masuk cerita Delila, Simson menuai apa yang sudah dia tabur. Kejatuhan Simson sangat mengenaskan. Jangan terpesona dengan keberhasilan seseorang, yang paling penting adalah mencari perkenanan hati Allah dalam setiap perbuatan kita. 

Kita seringkali masih rutin berdoa, baca Alkitab, tapi kita lupa mencari perkenanan hati Allah. Pekerjaan Allah tidak akan terganggu dengan semuanya itu, tapi kehidupan kerohanian yang seperti ini merupakan suatu kegagalan.

Delila dengan mengatas namakan cinta meruntuhkan hati Simson sehingga memberitahukan rahasia letak kekuatannya. Simson dapat ditangkap oleh orang Filistin, kedua matanya dicungkil, dia dimasukkan penjara. Di dalam penjara inilah Simson masuk babak ketiga hidupnya yaitu pengenalan akan Allah.

3. Di dalam penjara, Simson menjadi budak. Ironis sekali, seorang pembebas menjadi budak. Penyesalan muncul, tapi semuanya tidak bisa ditarik kembali. Paulus mengatakan bahwa : jangan bodoh, berusahalah mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik dan sempurna. Mata Simson sudah tidak dapat melihat lagi, tapi dia dapat melihat Tuhan, melihat Allah yang memberikan anugerah, Allah yang merestorasi, Allah adalah Allah dari orang-orang yang terjatuh. Inillah Allah Daud, Allah Petrus. Ibrani 11 juga mencantumkan nama Simson sebagai orang yang diklaim kembali oleh Tuhan sebagai milikNya.

Hidup pertobatan Simson tumbuh perlahan-lahan. Simson harus bayar mahal semua kesalahannya. Dia tidak hanya menjadi budak tetapi juga badut pada waktu pesta orang Filistin. Orang Filistin mengatakan bahwa : allah Dagon sudah menyerahkan Simson untuk kami. Perkataan ini sangat menyakitkan hati Simson. Simson lalu berdoa : Tuhan, beri satu kesempatan, kembalikan kekuatanku dan aku akan tunjukkan kepada mereka siapakah Engkau. Tuhan dengarkan dan kabulkan doa Simson. Simson berbicara tentang Engkau (Tuhan), di sinilah ada perkenanan hati Allah.

Simson berkarir sebagai seorang pembebas, tetapi dia tidak pernah menyelesaikannya. Tetapi Simson sudah mengembalikan kehormatan nama Allah di akhir hidupnya. Inilah imperial time (waktu kehormatan)! Istilah ini saya ambil dari perkataan Winston Churchill dalam pidatonya : Soldiers, this is your imperial time, now go forward! Inilah waktu yang sangat berharga. Kita mungkin merasa Tuhan tidak akan memberi kita waktu itu karena sudah banyak kesalahan yang kita lakukan, tapi Simson kalau hadir di sini akan berkata : Kita selalu mempunyai imperial time, waktu yang sangat berharga, dan saya sudah pernah gunakan waktu itu untuk menebus waktu-waktu saya yang hilang. Simson menebus waktunya dan dia mendapatkan perkenanan hati Allah. Mari kita tebus waktu kita untuk mendapatkan perkenanan hati Allah. Amin  ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)