|
Ringkasan Khotbah : 27 Juli 2008
Nats: Matius 19 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Matius 19,20 masing-masing berisi 4 perikop yang disebut dengan posisi jembatan. Matius 19 berbicara tentang panggilan kerja di dalam Kerajaan Surga. Panggilan kerja adalah panggilan Allah terhadap kita di dalam dunia sehari-hari, untuk kita beraktivitas, berproduktivitas di tengah-tengah dunia tanpa menjadi duniawi. Menjadi orang Kristen yang harus beraktivitas, berproduktivitas di tengah-tengah dunia yang berdosa ini tanpa menjadi berdosa disebut juga sebagai posisi penebusan.
Pada saat manusia melakukan hal yang berdosa di tengah dunia berdosa, itulah yang disebut posisi kejatuhan; setelah manusia ditebus dari dosa, manusia menjadi warganegara Kerajaan Surga, tetapi pada saat yang sama manusia masih menjadi warganegara dunia, dalam kondisi seperti inilah manusia dituntut untuk dapat mengaplikasikan tuntutan Kerajaan Surga di tengah dunia. Kondisi inilah yang disebut dengan kondisi berketegangan dimana manusia berada di antara 2 tarikan besar yang sangat sulit, di satu pihak manusia dituntut untuk menjadi anak Tuhan, di lain pihak dunia juga menuntut manusia untuk menjadi orang duniawi. Di satu pihak kita adalah orang yang sudah di lahir barukan, di lain pihak kita masih hidup di dalam daging dan darah yang masih bersifat dosa. 2 tarikan ini menjadikan kita seringkali bingung di dalam menginterpretasi, melihat, dan bersikap di tengah-tengah dunia berdosa ini, dan kita akan cenderung menjadi kompromistis. Tuhan mengajak kita untuk menerobos kondisi ini.
Pada hari ini saya akan membahas Matius 19,20 secara menyeluruh/ garis besar, supaya kita bisa memiliki pandangan secara menyeluruh terlebih dahulu sebelum kita masuk ke dalam detailnya di kemudian hari.
Matius 19:1 : Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.
Di dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Yesus selesai dengan pengajaran-Nya, hal ini berarti ada satu rangkaian pengajaran yang telah diselesaikan. Di dalam Alkitab banyak rangkaian pengajaran yang telah diselesaikan. Matius 19,20 disebut dengan posisi jembatan karena dalam Matius 19 disebutkan bahwa Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya menuju wilayah pusat/Yerusalem, inilah ketegangan yang akan mulai terjadi. Tuhan Yesus tidak langsung menuju Yerusalem, Dia berhenti dulu di Yudea. Hal ini membuat murid-muridNya merasa tenang karena masih ada sungai Yordan yang membatasi antara wilayah Yudea dengan Yerusalem. Di sini Tuhan Yesus hendak mengajar murid-murid untuk bagaimana mereka nantinya harus bersikap, berpikir, mengerti, mengambil langkah ketika menghadapi masalah yang riil nantinya. Selama ini problematik yang dihadapi hanyalah masalah internal antar murid, kemauan murid, sebentar lagi murid harus menghadapi masalah orang Farisi yang bersuara.
Kita pun juga sama, waktu kita retreat kita merasa hidup kita begitu rohani, tenang dan nyaman, seperti hidup nuansa surga di tengah dunia, Matius 19 ibarat orang yang turun dari retreat, hidup di tengah dunia berdosa yang riil. Posisi jembatan ini bertujuan supaya murid-murid bisa melihat bagaimana kondisi hidup sebelumnya di markas mereka sendiri yaitu di Galilea dengan kondisi hidup di tengah dunia berdosa yang riil yaitu di Yerusalem. Tuhan mau ketika kita “turun gunung” kita tetap menjalankan hidup rohani kita.
Pergumulan murid-murid waktu itu sama dengan pergumulan kita saat ini, kita akan menyoroti 3 ayat sehubungan dengan hal itu, yaitu :
1. Matius 19:11 : Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.”
2. Matius 19:26 : Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
3. Matius 19:30 : Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.
Ayat-ayat di atas menunjukkan bagaimana Tuhan Yesus memberikan respon terhadap pergumulan murid-murid dan orang di sekitarnya tentang bagaimana mereka harus hidup sebagaimana yang Tuhan inginkan. Dalam Matius 19, cerita perikop pertama membicarakan tentang kehidupan keluarga, bagian kedua berbicara tentang harta, milik, pekerjaan dunia kita, bagian ketiga tentang bagaimana kita memiliki manfaat ketika kita mengikut Tuhan.
Pada bagian pertama kita melihat adanya ketegangan karena apa yang diinginkan dunia berlawanan dengan apa yang Tuhan inginkan. Orang Farisi datang bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai
diperbolehkan atau tidak seseorang untuk cerai (konteks: orang Yahudi atau orang Kristen zaman ini). Tuhan Yesus menjawab: tidak. Mereka kembali menjepit dengan bertanya : mengapa Musa memberi surat cerai? Tuhan Yesus mengatakan bahwa itu karena bebal; cerai adalah pilihan terburuk yang diambil bila tidak ada lagi jalan lain, setelah cerai tidak ada kemungkinan untuk menikah lagi, pria atau wanita yang bercerai kalau menikah lagi disebut sebagai berzinah. Waktu kalimat keras ini keluar, orang kemudian bereaksi dengan kalimat dalam Matius 19:10 yaitu: Kalau begitu tidak usah kawin!
Kalimat diatas sangat manusiawi. Tuhan kita tidak suka dengan hal yang manusiawi, yang manusiawi adalah yang berdosa, yang rusak, yang Tuhan benci, Tuhan mau kita surgawi. Tuhan menjawab dengan Matius 19:11 yaitu : hanya orang yang dikaruniai saja yang mengerti.
Hanya orang yang mendapat anugerah Tuhan yang dapat mengerti prinsip Tuhan. Gereja seringkali tidak membawa pengertian Allah tetapi Gereja berkompromi supaya apa yang diajarkan bisa dimengerti oleh siapa saja. Untuk mengerti prinsip Tuhan tidak perlu dengan usaha manusia, hanya dibutuhkan anugerah dari Tuhan sendiri. Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan bukan untuk mudah dimengerti tetapi supaya orang yang tidak dikaruniai, yang mendengar tidak mendengar, yang melihat tidak melihat dan tidak mengerti. Gereja terlalu sibuk membuat orang untuk mengerti tetapi tidak menuntut orang untuk mendapatkan karunia untuk mengerti. Gereja berusaha memanusiawikan manusia, tetapi tidak berusaha membawa manusia kembali kepada Tuhan, gereja takut kepada manusia, tetapi tidak takut kepada Allah.
Kita tidak mengikuti prinsip, ukuran dunia, tetapi Tuhan mau kita mengerti prinsip Allah. Ini kunci pertama ketika kita berhubungan dengan dunia. Kunci pertama ini sebagai standard/ acuan. Mari kita berusaha untuk mau mengerti yang Tuhan katakan. Tuhan mau hidup anak Tuhan memanifestasikan prinsip Kerajaan Surga di tengah dunia, bukan memasukkan prinsip dunia ke dalam Kerajaan Surga. Kerajaan Surga bukan sejajar dengan dunia, tetapi harus mendominasi, merupakan prinsip dasar yang absolut. Kalau prinsip pertama ini sudah rusak dalam hidup kita maka panggilan kerja yang kita garap pun akan rusak.
Ketika kita hendak menjalankan prinsip pertama ini, pertanyaan yang muncul adalah seberapa jauh kita mampu menjalankannya. Ketika seorang muda bertanya kepada Tuhan Yesus tentang perbuatan apa yang harus dilakukan supaya dapat masuk surga. Tuhan Yesus menjawab : tidak ada perbuatan baik yang dapat membuat kita masuk surga. Makin kita berbuat baik, makin jahat kita, jadi adalah suatu ketidak mungkinan untuk kita bisa masuk surga karena perbuatan baik kita. Orang muda itu adalah orang kaya, yang saleh, yang sudah menjalankan taurat pada loh batu yang kedua, tapi Tuhan mempertanyakan tentang siapa tuhan orang tersebut, kalau memang Tuhan yang sejati maka Tuhan Yesus menyuruh orang muda itu menjual seluruh hartanya kemudian ikut Tuhan. Ternyata semua kebajikan yang dia lakukan memakai perhitungan untung rugi supaya dia tetap kaya tetapi dapat masuk surga, tuhannya adalah uangnya. Anak muda tersebut ternyata memilih tetap kaya walaupun masuk neraka. Kalau begitu realitanya, bagaimana orang dapat masuk surga, apalagi orang yang kaya?
Tuhan kita bukan Tuhan yang bisa dipermainkan dengan pola hidup dunia berdosa, yang bermain dengan system materialisme, Tuhan kita tetap pada prinsip-Nya. Tuhan Yesus bahkan mengatakan bahwa lebih mudah unta masuk ke dalam lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam surga. Berarti adalah tidak mungkin orang kaya masuk surga! Silakan manusia boleh pakai pikiran duniawi. Tuhan tidak menyangkal kalau hal tersebut adalah mustahil bagi manusia. Tapi, apa yang mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Tuhan. Jadi jangan pakai pikiran, kemauan, dan kemampuan dunia, kembalilah kepada Allah, berpikirlah seperti Allah, maka engkau akan tahu penyelesaiannya. Inilah kunci kedua.
Perjuangan dan usaha duniawi pasti hancur, dan tidak mungkin. Mengapa tidak mungkin? Karena :
tidak ada perjuangan maupun usaha manusia yang dapat mencapai standard Allah. Hal ini adalah tidak mungkin!
prinsip dunia berbeda sama sekali dengan prinsip Tuhan. Adalah tidak mungkin untuk dapat mencapai surga dengan memakai prinsip dunia.
cara yang Tuhan pikirkan tidak masuk ke dalam pikiran manusia, tidak mungkin bagi manusia. Tuhan mengangkat kita keluar dari lumpur dosa dengan cara mengirim Anak-Nya yang tunggal turun ke dalam dunia, menderita, mati di atas kayu salib. Semua itu dilakukan Allah untuk menyelamatkan kita yang adalah musuh Allah, bukan untuk kepentingan Allah. Semuanya itu tidak terpikir oleh manusia, semuanya itu tidak mungkin bagi dunia. Tapi bagi Allah semua itu mungkin!
Tuhan mengajar kita untuk tidak berargumentasi dengan Dia. Tugas kita hanya kerjakan apa yang Tuhan mau, semuanya itu adalah mungkin, karena kuasa dan kedaulatan Allah sebagai pemberi tugas.
Secara logika memang tidak mungkin dapat hidup rohani di tengah dunia yang berdosa, tapi secara prinsip Allah, Allah mengatakan: MUNGKIN! Jalankan perintah Allah, maka semuanya itu adalah MUNGKIN. Kalau kita menjalankan mau kita, pikiran kita, itulah ketidakmungkinan, karena Tuhan tidak menyertai. Hidup yang diserahkan kepada Allah, yang mau mengerti pikiran ilahi, yang mau mengerti bagaimana kita menerobos untuk kembali kepada Allah, itulah yang membuat menjadi mungkin.
Hidup yang ditebus adalah hidup yang menerobos dengan memakai prinsip ilahi. Dengan kunci kedua ini menjadikan hidup kita berbeda dengan dunia ini, apa yang kita perjuangkan juga berbeda. Seluruh pikiran kita harus dicocokkan dengan pikiran ilahi yang memimpin hidup kita. Hidup kita adalah hidup ketaatan. Kalau kita suka terhadap sesuatu hal, kita tidak perlu ketaatan; taat adalah ketika kita tidak suka terhadap sesuatu hal, tapi kita tetap jalankan hal tersebut dengan sukacita. Ketaatan adalah kerelaan untuk menjalankan. Ketika taat, kita akan melihat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hidup kekristenan kalau mengandalkan pikiran kita akan penuh dengan ketidakmungkinan, tapi kalau kita taat menjalankan perintah Tuhan, semuanya akan menjadi mungkin.
Tuhan, kalau sudah saya serahkan semua, lalu saya mendapatkan apa? Apakah semuanya akan sia-sia, akan dibuang ke tong sampah? Pertanyaan ini menyangkut konsep nilai. Tuhan mengatakan : semua yang saya minta tidak akan sia-sia, akan ada nilai besar waktu saya datang kembali untuk menghakimi. Hal ini akan dapat membawa orang ke ekstrim yang lain yaitu mau melakukan perintah karena ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Tuhan tidak setuju kita menggunakan cara semau kita; orang yang berjalan di paling depan akan menjadi yang terakhir dan yang berjalan di belakang akan menjadi yang terdahulu. Hal ini tidak mungkin! Secara pikiran dunia, orang yang berjalan di depan akan menjadi yang terdepan. Secara kenyataan dunia, pikiran ini ternyata salah, misalnya waktu memasukkan barang ke bagasi, yang masuk duluan akan keluar paling akhir, karena pintu keluarnya sama dengan pintu masuknya. Jadi hal ini tidak bisa dipatok dengan satu hukum/ cara. Ikutlah jalan Tuhan! Orang yang ambisius sulit untuk mengikuti jalan Tuhan.
Matius 19 berbicara tentang panggilan kerja, yaitu bagaimana kita menjalankan prinsip Tuhan dalam pekerjaan kita. Ada 3 prinsip yang perlu dicermati yaitu :
1. Hidup yang penuh dengan tujuan hidup (purpose-full life)
Semua ciptaan memilliki tujuan/ maksud diciptakan dari penciptanya dan untuk kepentingan pencipta. Semua ciptaan harus mendapatkan maknanya dari diri pencipta. Demikian juga dengan makna hidup manusia. Manusia harus kembali kepada Tuhan untuk dapat menemukan makna hidupnya. Orang yang menetapkan makna hidupnya sendiri pasti stress. Setelah stress akan menuju 2 kemungkinan posisi yaitu : kalau orang sanguine, akan mengajak orang lain untuk berbagi stress; kalau orang melankolik, akan makan sendiri stressnya.
Mari belajar melepaskan semuanya dan kembali kepada Tuhan. Ekstrim yang lain adalah hidup mengapung mengikuti aliran air, jalani saja hidup ini tanpa perlu menetapkan tujuan hidup. Hari-hari awal mengapung memang enak, lama kelamaan menjadi jenuh karena mengapung tanpa tujuan. Melakukan segala sesuatu menjadi jenuh, semuanya tanpa makna.
Jangan sekali-kali hidup tanpa tujuan! Lepaskan hidup kita kepada Tuhan, Tuhan yang akan menetapkan tujuan hidup kita, taatlah kepadaNya, jalankan perintahNya! Hidup kita akan penuh makna, sebagaimana tertulis dalam Efesus 2:10: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
2. Hidup yang terus dikoreksi.
Tuhan ingin kita menjadi seperti yang Tuhan mau. Bagaimana kita belajar berpikir seperti yang Tuhan pikirkan, berjalan seperti yang Tuhan mau, masuk ke dalam jalur Tuhan, ini semua adalah proses koreksi. Hidup harus semakin baik, semakin maju dan semakin sesuai dengan yang Tuhan mau. Setiap kita punya kelemahan, kekurangan yang harus kita sempurnakan. Itulah tuntutan penebusan. Tuhan ingin kita dapat mengimplementasikan kebenaran Allah, kuasa Allah, kemungkinan yang Tuhan berikan sehingga kita punya jiwa yang mau berproses untuk menjadi lebih baik. Hidup kita seharusnya memiliki jiwa untuk mengkoreksi, kalau tidak, berarti kita sudah mati.
3. Hidup yang menerobos sampai mencapai posisi kualitas tinggi.
Hidup Kristen harus mencapai finalitas. Kristus bukan salah satu dari pemimpin agama, atau pemikir filsafat tapi Dia adalah satu-satunya kebenaran sejati, kebajikan sejati, bijaksana sejati. Hidup kita harus mencapai kualitas yang seperti Kristus, sehingga orang dunia boleh melihat hidup kita memang beda dengan dunia ini. Hidup harus semakin meningkat kualitasnya/ kelasnya. Jangan bangga kalau kita menjadi master di kelas/ tingkat hidup yang tetap. Hidup kita harus dapat mencapai kemungkinan di dalam ketidakmungkinan, bukan karena kita mampu tapi karena kita dimampukan, dan karena kita taat pada Tuhan. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)