Ringkasan Khotbah : 13 April 2008

Kebangkitan dan Hidup

Nats: Kis. 4:1-2

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

 

Iman Kristen adalah iman yang berdiri atas Kebangkitan Kristus. Inilah yang membedakan Kekristenan dengan agama lain yang ada di dunia. Semua agama yang lain berdiri di atas ajaran-ajaran moral yang tak lebih hanyalah berupa aturan-aturan hukum agama, yakni aturan bagaimana hidup baik dan benar supaya bisa masuk sorga. Itulah kegagalan total dari agama sekuler, agama tidak lebih hanyalah religiusitas semu belaka. Kalau Kristus tidak dibangkitkan dari kematian maka sia-sialah seluruh kepercayaan kita dan Kekristenan tidak ada  sampai detik ini. Esensi iman Kristen adalah kebangkitan Kristus.      Kristus yang bangkit inilah yang memberikan kekuatan dan keberanian pada Yohanes dan Petrus untuk bersaksi di hadapan Mahkamah Agama tentang Yesus Kristus yang disalibkan itu ada batu penjuru dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. 

Hal ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari para imam, kepala pengawal Bait Allah, dan orang Saduki. Di tengah-tengah bangsa Israel terdapat dua golongan, yakni:

1)orang Farisi yang mendukung Kebangkitan, 2) orang Saduki yang tidak percaya  adanya kebangkitan setelah kematian; agama tidak lebih hanya sebatas etika dan perbuatan saja. Pada saat itu, orang-orang Sadukilah dari keturunan Imam Sadokh yang duduk sebagai penguasa. Orang Saduki ini lebih cenderung ke Herodian dan orang Romawi; mereka sama-sama sekuler sedangkan orang Farisi lebih cenderung jadi oposisi pemerintah. Itulah sebabnya, secara politik mereka lebih suka orang Saduki yang duduk sebagai pemimpin agama dan orang Saduki ini sangat menentang kebangkitan.  

Musuh terbesar Kekristenan adalah orang-orang yang melawan kebangkitan dan hingga detik ini, orang tidak pernah berhenti melawan kebenaran tentang Yesus Kristus yang bangkit. Perhatikan dalam sistim kalender Indonesia, tidak ada hari Paskah; tentang Isa Almasih yang lahir, mati dan naik ada dalam sistim kalender Indonesia tapi tidak demikian halnya dengan Isa Almasih yang bangkit. Tidak cukup sampai disitu perlawanan yang dilakukan untuk menentang kebangkitan Kristus, muncul film yang dibuat oleh muslim Iran yang mengisahkan bahwa Yesus tidak bangkit sebab Yesus tidak pernah mati disalib tetapi Yudaslah yang disalibkan. Dunia berdosa tidak suka dengan berita kebangkitan Kristus karena terkait dengan kehidupan manusia berdosa.  

Upah dosa adalah maut. Manusia berdosa tidak suka akan fakta ini maka cara terbaik adalah menghilangkan dan menganulir fakta dosa dengan meletakkan Kekristenan di wilayah batas moral. Dosa tidak lagi menjadi inti berita agama sebab ketika orang berbicara tentang dosa berarti terkait erat dengan kematian dan hal itu sangatlah menakutkan. Hanya ada satu jalan keluar untuk keluar dari kematian, yaitu maut harus dikalahkan dengan kebangkitan dan Kristuslah yang menang atas kuasa maut. Perbuatan baik tidak dapat melepaskan kita dari perbuatan dosa. Sebagai contoh, tidak mungkin perbuatan membunuh dapat diselesaikan dengan perbuatan baik, bukan? Tindakan  kejahatan selalu menuntut keadilan, kita tidak bisa lari dari dosa. Dosa selalu menuntut kematian. Semakin kita berbuat baik untuk motivasi mendapatkan sorga, semakin kita berdosa.  

Matthew Henry menyatakan Kekristenan sampai kapanpun akan menghadapi musuh yang selalu berusaha melawan fakta tentang kebangkitan Kristus yang menjadi inti dari iman Kristen; musuh itu bukan datang dari luar Kekristenan tapi dari dalam Kekristenan itu sendiri. Dunia bisa menerima bahkan sangat setuju dengan ajaran moral dan etika yang Tuhan Yesus ajarkan tetapi tidak demikian halnya dengan kebangkitan Kristus, orang langsung marah dan menolak. Hal ini bukan hanya terjadi pada jaman ini saja tetapi hal yang sama terjadi pada jaman Petrus bahkan ia harus berhadapan dengan Mahkamah Agama. Pertanyaan sekaligus evaluasi bagi kita apakah arti kebangkitan Kristus bagi diri kita secara pribadi? Sudahkah kita mewartakan kebangkitan Kristus di tengah dunia berdosa? Ataukah justru kita ikut mereduksi berita kebenaran tentang kebangkitan-Nya? Luther menegaskan bahwa hanya iman dalam Kristuslah, manusia dapat diselamatkan, hal ini digambarkan oleh materai dengan mawar putih, hati merah dan salib Kristus hitam di tengah-tengah. Luther menentang keras kebijakan Roma Katolik hari itu yang mengajarkan keselamatan tergantung dari uang persembahan yang kita masukkan dalam kotak persembahan. Perlawanan keras yang dilakukan Luther membuat para pemimpin Roma Katolik menjadi marah dan ingin membunuh Luther. Disini kita melihat, dari jaman ke jaman Kekristenan selalu mendapat tantangan; orang akan menerima ajaran Kristen selama masih di batas etika namun ketika masuk pada inti Kekristenan maka orang akan mereduksinya. Kegagalan orang Saduki adalah mereduksi kitab Perjanjian Lama, hanya berhenti di Taurat.    

Yesus Kristus bangkit adalah satu-satunya pengharapan dan sungguh amatlah disayangkan, ketika kita mewartakan berita sukacita ini, orang malah menganggapnya sebagai ancaman dalam hidup mereka dan menolak Kristus. Banyaknya kesulitan dan tantangan tidak membuat Petrus dan Yohanes mundur tetapi Kebangkitan Kristus justru menjadi kekuatan bagi orang Kristen.

1. Kebangkitan Kristus menyelamatkan manusia dari kematian kekal

Petrus dan Yohanes tidak mau berkompromi dengan dunia. Berita Kristus yang mati dan bangkit menjadi inti berita Kekristenan. Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) sejati harus memberitakan tentang Yesus Kristus yang menjadi inti Kekristenan namun sangatlah mengenaskan orang mulai mereduksi inti berita Kristen dan justru mengganti dengan berita-berita lain. Petrus dan Yohanes tetap memberitakan tentang Kristus yang disalib dan bangkit sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan. Mereka tidak peduli dengan segala resiko yang dihadapi. Orang-orang Sanhedrin sangat heran melihat keberanian mereka sebab mereka hanyalah nelayan Galilea yang tidak terpelajar.

Hanya di dalam Yesus Kristus sajalah kita dapat diselamatkan, seluruh perbuatan baik tidak dapat menyelamatkan manusia berdosa. Semakin kita berbuat baik karena motivasi sorga akan membawa kita ke dalam neraka. Ketika saya (pengkhotbah) di Jerman berjumpa dan berdiskusi dengan seorang atheis, dia melawan Kekristenan namun ironisnya ia selalu hadir dalam setiap seminar yang diadakan oleh gereja. Satu hal yang dia tidak bisa terima adalah manusia harus taat kepada yang otoritas lain di atasnya karena baginya, manusialah yang pemegang otoritas mutlak. Adalah pendapat yang salah kalau subjektifitas dapat menentukan keabsahan. Ketika subjektifitas ditegakkan berarti menghilangkan semua kebenaran, tidak ada kebenaran atau nilai sejati karena setiap individu mempunyai kebenarannya masing-masing.

Berapa banyak orang yang semacam ini yang tidak dapat menemukan jawaban dan masih terus berusaha mencari dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Sesungguhnya, di satu sisi orang berusaha menegakkan apa yang kita pikirkan sendiri tapi di sisi lain, orang sadar itu bukan jawaban maka timbul konflik dalam diri mereka. Sungguh amatlah disayangkan kalau sepanjang hidup kita hanya bergumul untuk sesuatu yang ambigu. Biarlah kita meneladani Petrus dan Yohanes yang tahu mengambil langkah dengan tepat, yakni memberitakan kebenaran sejati – berita kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.

2. Kebangkitan Kristus memberikan kekuatan dan keberanian

Petrus dan Yohanes yang hanyalah orang biasa, seorang yang dipandang rendah karena profesinya sebagai nelayan kini mereka harus berhadapan para pejabat seperti orang Sanhedrin dan yang sangat mencengangkan dan mengherankan, mereka dapat berbicara dan mempunyai keberanian berbicara di depan mahkamah agama. Mereka mempunyai kekuatan yang dahsyat dan kekuatan itu didapatkan semata-mata karena kuasa kebangkitan Kristus yang bekerja. Sama sepertinya halnya orang yang terlepas dari pergumulan berat maka ia akan mendapatkan kekuatan dahsyat demikian pula dengan Petrus dan Yohanes, ia mendapatkan kekuatan ketika kembali pada kebenaran sejati. Lepasnya kita dari kebenaran palsu dan masuk dalam kebenaran sejati menjadikan kita punya satu keyakinan untuk berdiri, tidak takut dengan segala tantangan yang menghadang di hadapan kita.

Berbeda halnya kalau orang berdiri di atas kebenaran subyektifitas, kebenaran diri sendiri yang sifatnya relatif dimana setiap orang merasa diri benar akibatnya kekacauan dan keributan yang didapat, tidak ada penyelesaian untuk jawaban yang dicari. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Roh Kudus mengingatkan kita kembali akan kebenaran sejati, itu saatnya bagi kita untuk bertobat. Kuasa kebangkitan Kristus memberikan keberanian dan kekuatan untuk menghadapi tantangan jaman. Hal itu pula yang menjadikan Petrus dan Yohanes berani bertindak di hadapan Mahkamah Agama bahkan Sanhedrin tidak bisa berbuat apa-apa sebab kebenaran yang diberitakan Petrus adalah kebenaran obyektif. Petrus tidak mengatakan “menurut saya” sebab ia tahu di bawah kolong langit hanya Dia yang bisa menyelamatkan manusia. Para pemuka agama, orang-orang Saduki tidak dapat berkata apa-apa, karena kebenaran dari subjektifitas masuk ke kebenaran objektifitas. Pertanyaanya adalah apakah kita mau taat atau tidak. Hari ini kita hidup di jaman yang dibangun di atas relativitas yang mencoba mangombang-ambingkan hidup kita karena itu hendaklah kita kembali pada kuasa kebangkitan Kristus yang memberikan kita kekuatan untuk melangkah dan kepastian di tengah jaman ini.

3. Kebangkitan Kristus menghidupkan dari kematian kekal

Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati (Kis. 4:2). Kalimat “kebangkitan dari antara orang mati” bukan hanya menunjuk pada Tuhan Yesus yang bangkit, tetapi menunjuk pada kita yang bangkit. Hal ini menerobos sesuatu relasi yang di potong oleh liberal masa kini dan saduki waktu lalu. Berdoa adalah terobosan dari dunia yang sementara masuk ke dalam dunia kekekalan, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh manusia. Sejak manusia jatuh dalam dosa, bibit agama itu sudah ada pada manusia, manusia terus berusaha mengkaitkan diri yang sementara dengan kekekalan namun tidak berhasil. Satu-satunya cara yang bisa menghubungkan manusia dengan Allah, kesementaraan dan kekekalan hanya melalui Yesus Kristus dan hanya anugerah semata kalau kita dapat percaya Yesus Kristus. Pada abad pertengahan, manusia membuang semua spiritualitas, manusia meninggikan hal duniawi dan materi dan mereka pikir ini sebuah penyelesaian. Ternyata orang salah! Dan orang mulai mencari hal-hal yang sifatnya spiritual dan jatuh dalam gerakan new age  namun hal ini tidak menyelesaikan masalah sebab manusia hanya berputar – hidup dan mati, kematian menjadi pengunci semua aspek. Orang tidak dapat lepas dari kematian. Manusia butuh hidup, butuh dibangkitkan dari kematian dan hanya Kristus Yesus yang memungkinkan hal itu terjadi. Kebangkitan Kristus menjadikan Kristus berposisi balik menjadi mediator antara manusia dengan Allah.

Kebangkitan Kristus menjadikan kita mempunyai semangat untuk hidup di tengah jaman yang sulit ini. Dunia semakin ke belakang semakin bertambah sulit, dan sesungguhnya, manusia sudah sangat lelah menghadapi situasi jaman yang semakin sulit tak terkecuali di negara maju seperti Eropa. Manusia lebih banyak tergantung drive dari luar bukan dari dalam diri. Manusia seperti layakanya benda mati yang hanya mengikut arus, seperti yang diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong, yakni hanya ikan mati yang ikut arus, yang hidup akan melawan arus. Namun Petrus dan Yohanes punya terobosan yang membuat banyak orang terkejut,  semua itu karena kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan. Kuasa yang sama diberikan oleh Roh Kudus pada setiap anak Tuhan sejati. Hendaklah kita tidak hanyut dengan dunia tetapi kita harus melawan arus dunia karena kita telah dihidupkan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Sangatlah mengenaskan, hari ini Kekristenan sudah beku, orang sudah menjadi legalis, aturan-aturan hukum sudah mengunci hidup manusia demikian juga halnya dengan keagamaan, semua hanyalah religiusitas semu belaka. Adalah kegagalan fatal, orang hanya menangkap apa yang menjadi kalimat-kalimat hukum padahal hukum itu dibuat untuk membuat hidup manusia lebih baik jadi jiwa hukum itulah yang harusnya ditangkap.

Andai Petrus terikat pada aturan agama Yahudi yang ditata sedemikian rupa maka ia tidak akan memberitakan Kristus. Petrus disidang karena ia membicarakan esensi hidup dan ia berani mengambil semua resikoa yang ada. Sayang, hari ini orang sangat takut melawan arus karena takut dengan resiko yang harus dihadapi akibatnya orang lebih memilih ikut arus dunia dan berkompromi dengan dosa. Sebagai anak Tuhan sejati kita harus berani berkorban, menghadapi segala resiko yang ada demi kebenaran sejati. Kita harus taat kepada Tuhan lebih dari manusia. Jangan demi keselamatan diri kita berusaha cari aman tetapi Tuhan benci kita. Apalah artinya hidup aman dan nyaman di dunia kalau kita akan menderita selamanya di kekekalan kelak. Kiranya kuasa kebangkitan Kristus yang menghidupkan kita juga menghidupkan kita sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita diselamatkan. Amin ?

 

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)