|
Ringkasan Khotbah : 6 April 2008
Nats: Hak. 6:1-24 Pengkhotbah : Rev. Thomy J. Matakupan |
Kehidupan rohani itu seperti layaknya sebuah musim, didalam konteks Indonesia ada dua musim, yakni musim penghujan dan musim panas. Ada suatu musim dimana kita sungguh-sungguh menikmati Tuhan, kita begitu dekat dengan-Nya. Namun adakalanya kerohanian kita menjadi sangat kering dan gersang. Apakah kita mengalami kondisi sedemikian dalam kehidupan kerohanian kita? Hal ini menjadi suatu tanda yang menyadarkan kita akan realita bahwa ternyata kondisi kerohanian sedemikian dapat saja terjadi tengah-tengah Kekristenan.
Model kerohanian semacam ini akan kita pelajari dalam diri Gideon. Dibandingkan dengan hakim-hakim yang lain, dinamika perjalanan iman Gideon ini dicatat dengan sangat lengkap dalam Alkitab. Kisah Gideon dimulai ketika Allah memilihnya menjadi pemimpin seluruh bangsa Israel. Tuhan bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan yang gagah berani.” Inilah kisah kehidupan Gideon yang bersinar di titik awal (Psl. 6) dan mencapai puncak ketika Gideon berhasil menjadi “seorang penakluk” (Psl. 7-8). Namun setelah mencapai titik puncak, perjalanan iman Gideon sampai pada fase decline (Psl. 8), Gideon mulai berkompromi dengan dosa. Dia mengakhiri karirnya dengan gelap.
Konteks menyatakan bahwa Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan maka Tuhan menyerahkan mereka di bawah kekuasaan bangsa Midian. Hidup bangsa Israel sangat menderita dan miskin. Setiap kali orang Israel selesai menabur, datang orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur mengambil hasil panen mereka. Ditengah penderitaan itulah bangsa Israel mulai ingat Tuhan dan berseru pada-Nya. Siklus ini terus berulang; Tuhan kemudian membangkitkan seorang hakim dan mereka hidup aman. Namun ketika hakim itu mati, mereka kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Inilah siklus keberdosaan yang terus terjadi secara berulang.
Di dalam penjajahan bangsa Median, orang Israel berseru pada Tuhan dan Ia mendengar keluh kesah itu. Ia mendengar dan mengutus mengutus seorang nabi dan mengingatkan mereka akan perbuatan-Nya yang dahsyat mengeluarkan mereka dari perbudakan di Mesir. Tentang kisah ini mereka telah mengetahuinya sejak turun temurun, termasuk pada Gideon. Namun semua itu jadi berbeda ketika Malaikat TUHAN datang dan bertemu dengannya secara personal. Kalau iman kita dikaitkan dengan iman mayoritas, kita merasa aman karena dapat bersembunyi dibaliknya. Namun jika harus dikaitkan dengan personal, maka langsung terlihat betapa susahnya kita. Ketika Tuhan datang secara pribadi pada Gideon, maka ia segera mempertanyakan keberadaan Tuhan dan pemeliharaan-Nya seperti yang pernah ia dengar dari cerita nenek moyang (Hak. 6:13). Dengan kata lain ia bertanya apakah Tuhan sekarang sama dengan Tuhan yang kami pernah dengar ceritanya dari nenek moyang kami? Pergumulan iman ini tidaklah mudah. Ia dengan halus mencoba meminta penjelasan dengan mengutarakan semua fakta yang sebaliknya kepada Tuhan. Israel tidak bebas, berada di bawah Midian dan menderita.
Gideon mencoba dealing dengan Tuhan dengan mengungkapkan fakta. Ia memang berada pada posisi lemah dan berupaya meminta bukti dari Tuhan. Kalau kemudian Tuhan memberikan bukti dan sepertinya semua menjadi beres, maka sesungguhnya, semua yang terjadi itu tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita dapat melihat dan melompati aspek-aspek penting dalam proses yang sedang terjadi dengan cara menyederhanakan pergumulan iman kita. Namun pada akibatnya kita tidak memahami sisi indah yang mendetail dalam perjalanan iman itu. Melihat Tuhan di dalamnya.
Gideon tidak berusaha mencobai, mengatur atau mendikte Allah. Ia hanya ingin tahu apakah janji Tuhan pada nenek moyangnya tetap berlaku sekarang? Ia bertanya dua hal, apakah Tuhan itu baik dan apakah pemeliharaan Tuhan itu. Jika Ia baik, apakah kehendak-Nya bagiku? Jika Ia memelihara, bagaimana saya dapat berserah pada-Nya. Kenyataan yang ada membuatnya sulit menerima semua ini. Pertanyaan ini menjadi semacam pertaruhan iman Gideon, menjadi pola seluruh perjalanan iman kita secara personal. Gideon mempertanyakan pertanyaan penting yang akan mempengaruhi perjalanan imannya kelak. Seperti apakah kebaikan Allah dan pemeliharaan Allah itu? Kebaikan Allah secara singkat dapatlah dipahami sebagai Allah tidak pernah merancangkan kejahatan bagi setiap anak-anak-Nya dan Pemeliharaan Allah dapat dipahami sebagai semua yang diberikan Allah pada kita itu baik adanya. Berdasarkan definisi ini maka kita akan menganalisa realita iman Gideon dan kita melihat dua aspek:
1. Respon ketidakmampuan memahami pekerjaan dan kehendak Allah.
Saat Malaikat TUHAN datang dan memanggil Gideon secara personal, ia langsung berusaha melindungi perasaannya, bahwa ternyata Ia tidak cukup kuat atau mampu memahami pekerjaan Allah. Itulah sebab, ia mempertanyakan apakah janji Tuhan tidak berubah? Apakah janji yang diberikan sejak jaman nenek moyang itu tetap sama hingga sekarang? Pergumulan iman adalah pergumulan terhadap keberadaan dan janji Tuhan, bukan? Kita mudah menghadapi jika ini menyangkut iman Kristen secara umum, tetapi tidak jika berkait dengan iman personal. Kita tidak cukup kuat memahami Tuhan maka tidaklah heran kalau kita lantas bernegosiasi dengan Tuhan. Di satu sisi, kita tahu bahwa Allah itu baik, tetapi kita tidak mampu atau cukup kuat memahami kehendak-Nya atas kita, personally. Kita menyebutnya sebagai pergumulan iman namun lebih tepatnya, kalau kita katakan sebagai “keluhan.” Kita tidak cukup mampu menerima kenyataan kalau kehendak Tuhan itu dinyatakan atas kita secara pribadi, kita cenderung ingin lari menghindari Tuhan. Bagaimana cara saya berserah pada-Nya?
Gideon mau percaya, tetapi sulit baginya. Secara halus, ia mempertanyakan janji Tuhan. Ia mulai mengeluh dan membandingkan saat ini dengan jaman nenek moyangnya. Esensi pergumulan iman itu digesernya dengan mengutarakan realita. Kita sangat piawai melakukan hal yang sama. Tidak heran jika pengenalan akan Tuhan di dasarkan pada realita. Jika realita berubah, maka Tuhanpun dilihat sebagai yang berubah pula. Pada akibatnya sikap berserah hanya akan dilakukan jika berada dalam wilayah yang kita rasakan aman saja. Kita akan rela hati membuang dosa-dosa yang kecil dengan segera tetapi “bergumul” untuk membuang dosa-dosa yang besar. Di mobil kita meletakkan uang kecil, baik uang logam atau kertas. Kita tidak berat hati mengeluarkan uang tersebut untuk parkir, dan sebagainya. Apalagi jika uang itu kotor dan dekil. Dengan cepat dan senang hati kita keluarkan. Kita tahu bahwa kehendak Tuhan menuntut seluruh perubahan hidup, namun dengan dalih bergumul kita berusaha menghindar karena realita sulit diterima.
Pengalaman iman adalah upaya memahami tuntutan Tuhan dari diri kita, yaitu percaya bahwa Ia baik dan Ia memelihara. Di sinilah kita ternyata menjumpai ketidakcukupan kemampuan menerimanya. Tuhan tidak ingin ada hal lain yang lebih penting dari diri-Nya, bahkan terhadap perbuatannya di masa lalu pada kita.
Dalam hal bagaimanakah iman itu diuji? Iman tidak diuji dengan seberapa banyak kita melihat atau mengalami mujiizat-mujizat Tuhan diberikan, melainkan pada masihkah kita mengucap syukur atas segala perbuatan-Nya dalam hidup kita? Kerohanian Kristen sangat ditentukan oleh hati yang bersyukur terhadap apapun yang Tuhan buat. Kita memang tidak kuat atau cukup mampu menerima. Kita dapat mengucap syukur namun sesungguhnya di dalam hati yang terdalam tidak dapat menerima realita ini. Protes dan keluhan disampaikan pada Tuhan. Pertanyaannya adalah apa arti bersyukur? Bersyukur berarti menerima apapun yang Tuhan perbuat; bahwa Ia pasti tidak salah memperlakukan kita; bahwa Ia tetap sama dan tidak berubah.
2. Mempersamakan Kerohanian sebagai Pengalaman Perasaan.
Adalah keliru jika menyamakan antara pengalaman perasaan dengan pengalaman kerohanian. Yang dimaksud “Pengalaman Perasaan” di sini adalah semua perasaan dalam relasinya dengan pekerjaan Tuhan dalam hidup. Pengalaman perasaan seringkali jadi ukuran temperatur kerohanian. Jika perasaan kita stabil, maka kerohanian kita stabil. Memang, Tuhan memberikan pengalaman rohani, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya. Misalnya melalui jawaban doa yang kita terima atau pengertian Firman. Tuhan memang pernah memakai cara seperti itu untuk kondisi tingkat kerohanian tertentu. Bukankah setiap kita juga pernah mengalami pengalaman serupa dimana kita begitu bersemangat melayani, doa berjam-jam, membaca Alkitab berpasal-pasal dan masih banyak lagi.
Semua pengalaman perasaan seperti ini tidak dapat dijadikan sebagai ukuran bagi pertumbuhan rohani sebab mungkin sekali Tuhan mengambil semua pengalaman rohani itu. Akibatnya kita merasa kehilangan. Kita tidak menemukan perasaan seperti itu lagi, lalu mulai bertanya: “Dimanakah Engkau, Tuhan?” Ketika tidak mendapatkan jawaban, saat itu kita menjumpai, kehidupan rohani kita gersang dan kering lantas kita mulai membandingkan antara dulu dan sekarang. Mungkin sekali Tuhan mengangkat semua perasaan tersebut, karena ini momen bagi Tuhan untuk menyapih kita dan menjadikan kita lebih dalam pengenalan akan Kristus. Namun, orang tidak rela kalau pengalaman itu diambil darinya. Celakanya, pengalaman rohani itu menjadikan orang sombong rohani. Sombong rohani bukan karena ia mempunyai pengetahuan rohani tetapi sombong rohani yang dimaksud disini adalah orang lebih suka mengajar daripada diajar. Orang tidak suka melihat orang lain mempunyai relasi dengan orang lain lebih baik.
Dalam suatu buku dituliskan pertama kali orang Kristen bertobat maka semua akan tampak indah seperti layaknya masa-masa honeymoon tetapi lama kelamaan bulan madu itu akan hilang dan kita harus bergumul berjalan bersama dengan Tuhan. Setiap hari ada pergumulan iman dan kita merasa mendapatkan kelegaan dan sukacita ketika datang beribadah kepada Tuhan sehingga orang tidak ingin melewati hari Minggu. Tidak! Masih ada hari-hari lain yang harus kita lewati dan bergumul setiap hari bersama Tuhan dan kita semakin mengenal Dia dan kebenaran-Nya.
Gideon dalam perjalanan imannya, ia semakin mengenal Tuhan, hal ini terlihat dari reaksi Gideon ketika Ia bertemu dengan Tuhan, Gideon berkata, ”Celaka aku, aku melihat Tuhan;” ia juga memberikan persembahan buat Tuhan. Ada satu tahap loncatan dari Gideon dengan mengatakan engkau adalah Yehovah Shalom. Ini merupakan salah satu providensia Allah. Pertumbuhan iman harus melewati suatu proses pergumulan, Tuhan ingin kita mengenal Tuhan lebih dekat secara pribadi, mengenal Dia sebagai Tuhan dan Penebus yang hidup. Kita harus siap ketika Tuhan menyapih kita, Tuhan sedang ingin mengajar kita.
Pergumulan sejati selalu membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan hal itu ditandai pengenalan yang benar akan siapakah Tuhan secara pribadi. Jadi, bukan hanya sekedar pengalaman perasaan sebab pengalaman perasaan itu bisa berubah. Gideon semakin kenal dekat dengan Allah Yehovah, ia bisa memberikan definisi untuk Allah pertanyaannya sekarang adalah Allah seperti apakah yang kita kenal? Pertanyaan yang sama Tuhan Yesus juga pernah ajukan pada para murid: ”Menurut kata orang, siapakah Aku ini?” Para murid mengambil opini masyarakat lantas Tuhan Yesus kembali mengajukan pertanyaan: “Menurut kamu sendiri siapa Aku?” Para murid harus memberikan definisi secara pribadi tentang siapakah Tuhan Yesus. Mereka sudah bersama-sama dengan Tuhan Yesus sekian lamanya, mereka melihat bagaimana Tuhan Yesus mengajar, menghardik, memberi makan 5000 orang lebih, dan masih banyak mujizat lain yang mereka lihat dan sekarang mereka harus mengambil kesimpulan. Petrus langsung memberikan jawab: ”Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.” Namun definisi itu tidak menjadikan konsep berpikir Petrus menjadi benar.
Demikian pula halnya dengan hidup rohani. Hidup rohani kita tidak seperti musim yang selalu berganti dimana ada kalanya kita sangat intim namun ada suatu waktu kita merasa renggang dan gersang. Apa yang menjadi ukuran kehidupan rohani kita? Kalau kita hanya menggunakan perasaan sebagai ukuran maka itu bukanlah pergumulan sejati. Pergumulan sejati membawa pengenalan kita semakin dekat dengan Tuhan. Maukah kita bergumul melewati hari-hari kita bersama dengan Tuhan dan membawa kita semakin dekat dengan Tuhan? Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)