|
Ringkasan Khotbah : 30 Maret 2008
Nats: 1 Tes. 2:13-20 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Hari ini kita akan merenungkan satu bagian dalam surat Paulus pada jemaat di Tesalonika. Sebelumnya kita telah merenungkan surat pertama Tesalonika pasalnya yang pertama, yakni Tuhan memanggil kita sebagai tubuh Kristus untuk menjadi satu jemaat yang berkualitas dimana wujud kualitas itu nampak dalam iman, pengharapan, dan kasih. Kualitas itu dimungkinkan karena adanya (1) anugerah Tuhan yang telah memilih kita menjadi anak-Nya dan (2) kuasa Roh Kudus sehingga kita berproses secara dinamis dalam pengenalan akan Kristus dan menuju suatu kualitas dan menjadi teladan bagi jemaat lainnya di daerah Makedonia maupun Akhaya.
Pada pasalnya yang kedua, Paulus sungguh sangat bersyukur atas pelayanan yang ia kerjakan pada jemaat Tesalonika. Paulus melihat ada perubahan hidup yang terjadi atas jemaat Tesalonika, ia merasa pelayanannya tidaklah sia-sia. Segala tantangan hidup dan penderitaan yang dialami tidak sia-sia. Palus bekerja keras untuk membentuk iman mereka dan menunjukkan integritasnya sebagai pelayan. Namun dibalik usaha yang dilakukan oleh Paulus, semua itu tidak lepas dari pekerjaan Roh Kudus. Namun surat pada jemaat di Tesalonika ini khususnya dua pasal pertama tidak akan kita mengerti kalau kita tidak melihat secara konteks keseluruhan. Rahasia keteladanan mereka bisa terjadi bila kita melihat 1Tesalonika 2:13. Kita akan melihat bagaimana iman jemaat di Tesalonika karena adanya sikap mereka terhadap khotbah/perkataan Paulus yang mereka dengar. Namun kita perlu melihat versi ayat tersebut dalam bahasa Inggris karena dalam terjemahan bahasa Indonesia tidak nampak hal yang istimewa dalam ayat tersebut. Inilah terjemahan Inggris dari ayat itu:
And we also thank God continually because, when you received the word of God which you heard from us, you accepted it not as the word of men, but as it actually is the word of God, which is at work in you who believe (1Thesalonica 2:13).
Dalam ayat tersebut nampak empat hal penting dalam hubungan antara pengkhotbah, khotbah dan pendengar:
1. Antara Minister, God and Sinner
Paulus menyadari dia bukanlah orang istimewa, dia hanyalah seorang hamba yang dipakai Tuhan untuk menjadi alat di tangan-Nya. Dalam mengerjakan tugas panggilan-Nya, Paulus harus menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Namun demikian Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang berintegritas. Antara minister, God and sinner ada satu unsur ditengah-tengah, yaitu anugerah. Tuhan berkenan memberikan anugerah-Nya pada Paulus ketika dalam perjalanan ke Damsyik, Paulus ditarik untuk dipersiapkan menjadi hamba-Nya. Orang yang tidak pernah menyadari anugerah Tuhan maka dia tidak akan menjadi seperti Paulus dalam memberitakan Firman Tuhan.
Dan karena itulah kami… sebab kamu telah menerima firma Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia (1Tes. 2:13). Pernyataan ini merupakan bagian dari pembelaan Paulus karena sebelumnya, ia dituduh sebagai rasul palsu. Pernyataan ini sangat signifikan, Paulus ingin menegaskan bahwa kerasulan ditetapkan oleh Tuhan sendiri maka apa yang keluar dari mulut Paulus itu bukan perkataan manusia. Jemaat di Tesalonika adalah manusia berdosa, jadi merupakan suatu anugerah kalau mereka dapat menerima Firman. Jemaat Tesalonika sangat menyadari anugerah Tuhan itu dan mereka berespon dengan tepat akan anugerah Tuhan, yakni mereka menerima perkataan Paulus bukan sebagai perkataan manusia.
Jemaat Tesalonika telah memberikan teladan indah pada kita bagaimana seharusnya meresponi Firman Tuhan. Bagaimanakah sikap kita ketika menerima Firman Tuhan?
Beberapa orang sangat rindu untuk mendengar Firman tetapi sebagian yang lain, tidak peduli dan acuh terhadap Firman. Beberapa waktu lalu, saya (pengkhotbah) melakukan pelayanan, reading service bagi orang buta, datang seorang buta yang lain begitu rindu dibacakan kebenaran Firman. Kita yang diberikan anugerah oleh Tuhan, tidak kekurangan apapun secara fisik, apakah kita menyadari bahwa mendengar Firman merupakan momen berharga yang tidak mungkin akan kembali lagi? Ingatlah, siapapun orangnya yang memberitakan Firman, itu bukan perkataan manusia tetapi perkataan Tuhan. Paulus dan jemaat Tesalonika, keduanya mendapatkan anugerah Tuhan; sebagai pemberita Injil dan penerima Injil.
2. Antara Messenger, Sender and Receiver
Paulus bukan hanya seorang hamba Tuhan yang berintegritas tetapi juga seorang messenger. Antara messenger and receiver ada satu peperangan rohani, spiritual war. Peperangan rohani yang terus menerus terjadi. Seberapa jauhkah kita menyadari ada suatu peperangan rohani ketika Injil diberitakan? Dalam terjemahan bahasa Indonesia 1Tesalonika 2:13, kita kehilangan dua kata, yakni received dan accepted. Paulus sangat memahami kebenaran Firman adalah kebenaran sejati itulah sebabnya, Paulus terus mempersiapkan diri dan merasa gentar ketika memberitakan Firman. Paulus menyadari adalah anugerah kalau ia dipakai sebagai alat Tuhan, yakni pemberita Injil. Demi Injil, ia rela menderita aniaya. Pdt Stephen Tong menegaskan setiap kali Injil diberitakan di atas mimbar merupakan suatu peperangan rohani, baik bagi si pembawa berita, messenger maupun bagi si pendengar, receiver.
Sadarkah kita ketika kita duduk mendengarkan Firman, disana ada peperangan rohani dimana iblis masuk menggoda pikiran kita. Seorang hamba Tuhan berperang untuk menyampaikan kebenaran Firman sedang jemaat berperang untuk menerima secara utuh seluruh Firman, received and accepted; yang pada gilirannya akan merubah hidupnya. Iblis dengan licik seringkali mencoba menggoda kita, dari sisi pendengar supaya tidak menjaga kekudusan hidup, mengabaikan Firman dan melakukan berbagai dosa demikian pula halnya terhadap seorang hamba Tuhan, iblis masuk melalui pemikiran dan menggoda supaya tidak perlu melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya toh si pendengar hanyalah anak kecil dan jemaat biasa, dan masih banyak lagi godaan iblis yang lain. Sungguh sangatlah mengenaskan, hari ini orang Kristen itu sendiri justru menjadi penghalang bagi pemberitaan Injil dan mulai berkompromi dengan dunia. Sangatlah ironis, hanya karena alasan lagu, orang menolak Injil. Ini adalah peperangan rohani! Sadarkah kita akan hal ini?
3. Antara Bejana Tanah Liat, harta surgawi dan Tanah
Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2Kor. 4:7). Harta yang dimaksud adalah benih Firman Tuhan. Benih Firman itu sangatlah mahal namun Tuhan berkenan menaruhnya pada bejana tanah liat, yaitu Hamba Tuhan, diri kita yang lemah dan terbatas. Bukankah harta yang berharga seharusnya diletakkan pada sebuah tempat yang aman, kotak besi misalnya dan bukan dalam tembikar. Paulus begitu istimewa, dia menyamakan dirinya dengan kesadaran yang penuh sebagai bejana tanah liat. Harta sorgawi yang begitu mahal ditempatkan pada sebuah bejana tanah liat yang begitu rawan. Tuhan berkenan meletakkan harta surgawi itu pada hati manusia yang hina dan sangat rapuh.
Sadarlah, kita hanyalah sebuah tembikar yang tidak layak dan tidak berharga jadi sungguh merupakan suatu anugerah kalau harta sorgawi itu berdiam dalam hati kita. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkan kita menyiapkan hati kita untuk menerima benih Firman itu? Dalam perumpaan tentang penabur, disana Tuhan Yesus mengungkapkan berbagai jenis tanah dan jemaat di Tesalonika adalah seperti jenis tanah yang terbaik. Mereka siap menerima Firman Tuhan dan akhirnya mengalami pertumbuhan 100 kali lipat. Jemaat Tesalonika telah menjadi teladan bagi orang-orang yang berada di daerah sekitarnya. Kita hanyalah sebuah tembikar maka kalau kita dapat dibentuk menjadi indah, itu karena anugerah Tuhan dan Roh Kudus yang merubah hati. Di tengah-tengah kehinaan, Tuhan memberikan harta sorgawi yang mulia untuk ditempatkan dalam diri kita.
4. Antara Writer, Divine Inspiration and Believer
Paulus menuliskan banyak surat namun dalam proses kanonisasi, kita melihat ada beberapa surat yang ia tulis dan semua itu tidak lepas dari kedaulatan Tuhan. Paulus berusaha untuk menjadi penulis apa yang hanya Allah ingin Tulis. Paulus hanya ingin menjadi writer berdasarkan inspirasi ilahi. Tidak lebih dan tidak kurang! Di sisi lain, ketika dia melihat jemaat Tesalonika maka … “Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya (1Tes. 2:13).” Pastilah ketika Paulus menulis surat ini, ia terus menerus belajar dan diajar oleh Tuhan sendiri.
Paulus menuliskan apa yang menjadi kehendak Tuhan saja dan Paulus juga mendapat berkat besar ketika ia menulis, ia mengalami perubahan demikian juga halnya dengan jemaat di Tesalonika. Hal ini nampak pada kalimat “…tidak putus-putusnya mengucap syukur….” Dia terus menerus mengucap syukur pada Tuhan, yakni karena Paulus melihat ada perubahan hidup pada diri jemaat di Tesalonika sebagai orang percaya. Apakah kita sudah menjadi seorang percaya ketika kita mendengar Firman Tuhan, bukan hanya sekedar pendengar dan pengkritik sebuah khotbah?
Seringkali sebagai seorang hamba Tuhan atau guru tidak akan pernah tahu akan jadi apa anak didik kita kelak. Namun sungguh menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi kita jika salah satu dari anak didik kita mempunyai iman yang bertumbuh dan dipakai menjadi hamba Tuhan. Ketika saya (pengkhotbah) bersama rekan saya yang dahulu sama-sama aktif dalam pelayanan kampus bertemu dengan mantan guru kami dan ia mengatakan bahwa ia sungguh tidak pernah menyangka kalau kami bisa menjadi seorang hamba Tuhan.
Demikian pula halnya dengan Paulus, ia merasa terharu ketika melihat perubahan hidup dalam diri jemaat di Tesalonika. “Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan sukacita kami” (1Tes. 2:19-20). Namun disisi lain, Paulus juga merasakan kesedihan ketika ia menjumpai orang-orang yang masih mengeraskan hati terhadap Firman bahkan menolak Firman sampai akhir hidupnya. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita mengevaluasi diri, ketika kita mendengar Firman, maka sebagai orang percaya, apakah kita mau tunduk dan mau taat dibentuk oleh Tuhan?
Ingat, apalah artinya pengetahuan yang banyak tentang Firman Tuhan kalau kita tidak diubahkan? Bukankah itu berarti kita sama halnya seperti orang-orang Farisi? Sebagai orang percaya, dimanakah posisi kita? Apakah kita terus belajar untuk terus dibentuk menjadi serupa dengan Dia?
Biarlah Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita hanyalah seorang berdosa, sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dipanggil menjadi orang-orang yang percaya dan menerima harta sorgawi yang bernilai. Marilah kita meneladani jemaat Tesaonika yang begitu menghargai Firman Tuhan dan mau dibentuk oleh Dia. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)