Ringkasan Khotbah : 03 Februari 2008

Perumpamaan Benih yang Ditabur

Nats: Mrk 4:26-29

Pengkhotbah : Ev. Baju Widjotomo

 

Sepintas kalau kita membaca dari Alkitab bahasa Indonesia dalam bagian perumpamaan dalam Injil Markus 4:26-29 maka kita akan beranggapan bahwa penabur ini orang yang malas sebab ia tidur pada malam hari dan bangun ketika hari sudah siang. Tetapi lebih tepat terjemahaan dalam NIV  Mark 4:27 mengatakan:

Night and day, whether he sleeps or gets up, the seed sprouts and grows, though he does not know how. (from New International Version)

Perumpamaan tentang benih yang tumbuh ini sangat unik sebab hanya ditulis dalam Injil Markus. Perumpamaan merupakan salah satu cara dari pengajaran Tuhan Yesus maka janganlah kita menafsirkan perumpamaan secara sembarangan. Dalam perumpamaan, ada bagian-bagian tertentu yang Tuhan hendak bukakan yang menjadi focus pengajaranNya. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menafsirkan Firman khususnya perumpamaan, diantaranya: 1) dalam Perumpamaan hanya mengandung satu tujuan utama atau focus utama yang hendak Tuhan ajarkan melalui perumpamaan itu, 2) biarkanlah Alkitab menafsirkan dirinya sendiri, 3) perhatikan konteks secara keseluruhan.    

Tuhan Yesus menegaskan perumpamaan diberikan bukan supaya orang mengerti sebab sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun (Mrk. 4:12). Terkadang, Tuhan Yesus tidak menjelaskan arti dari perumpamaan yang Ia ajarkan dan membiarkan para pendengarnya berada dalam kebingungan namun kepada para murid, Ia menjelaskannya secara tersendiri (Mrk. 4:10-20).  

Istilah “benih” ini seringkali kita temui dalam Alkitab. Tuhan Yesus pernah mengungkapkan suatu perumpamaan tentang orang yang menabur benih baik tetapi musuh datang pada malam hari dan menabur benih ilalang. Benih yang baik dan buruk dibiarkan bertumbuh bersama sampai tiba waktunya, barulah dipisahkan sebab dari buahnyalah akan kelihatan bedanya. Dalam Perjanjian Lama, kitab Yesaya 61:11 dituliskan: Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa. Istilah benih juga dipakai oleh Paulus dalam 2Kor. 9:10:  Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu. Perenungan kita hari ini adalah perumpamaan tentang benih yang ditabur (Mrk. 4:26-29) dan benih yang dimaksud adalah  Firman Tuhan. 

Konteks perumpamaan ini berbicara tentang hal Kerajaan Sorga. Yohanes Pembaptis jauh sebelumnya juga menyerukan tentang hal Kerajaan Allah dan tentang hal itu tergenapkan dengan kedatangan Tuhan Yesus dimana Dia adalah Raja atas Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus menegaskan hal Kerajaan Allah itu seumpama seorang penabur yang menabur benih; benih itu terus tumbuh, bertunas, dan berbulir. Pada perumpamaan lain Tuhan Yesus menegaskan hal Kerajaan Sorga itu seperti biji sesawi yang kecil dan kemudian bertumbuh menjadi sebuah pohon besar. Namun ketika misi Kerajaan Sorga itu dikerjakan banyak tantangan yang harus dihadapi, apakah mungkin missi kerajaan Allah dapat digenapkan??  Maka Tuhan Yesus memberikan pengajaran ini bahwa hal Kerajaan Sorga itu bersifat spiritual bukan bersifat duniawi seperti yang para murid dan kebanyakan orang pikirkan bahkan hingga detik ini.  

Kerajaan Sorga seperti seorang penabur yang menaburkan benih, setelah selesai menabur, tidur,  bangun keesokannya harinya menabur lagi namun perhatikan yang menjadi fokus pada perumpamaan  dalam Mrk. 4:26-29 ini adalah benih yang bertumbuh.  

Dalam bagian ini kita melihat 2 bagian besar, yaitu: 1) Peranan Penabur yang hanya sebagai menabur benih, dan 2) Peranan Allah yang menumbuhkan benih yang ditaburkan.

 

I. Beberapa aspek yang perlu kita pahami berkaitan dengan Peranan dan tugas penabur,  yaitu:

1. Penabur mengerjakan tugas yang menjadi bagiannya yaitu: Menaburkan benih yang disediakan oleh Tuhan.

Penabur harus menabur benih di ladang yang telah disiapkan sebelumnya kalau ia ingin mendapatkan hasil panen dan sukacita di hari penuaian. Namun ingat, tugas kita hanyalah menabur benih Firman dan benih itu asalnya dari Tuhan maka jangan seorang pun bermegah dan menganggap hasil tuaian itu sebagai hasil kerja keras kita. Tidak! Seorang penabur hanya mengerjakan apa yang menjadi bagiannya saja, yakni menabur. Celakanya, hari ini banyak pendeta yang merasa diri penting dan berjasa karena gerejanya bertumbuh secara kuantitas. Pertumbuhan benih itu dilakukan oleh Allah bukan kita dan tugas kita hanya menabur saja. Mari kita kerjakan bagian kita, jangan ambil bagian apa yang seharusnya dikerjakan oleh Allah.  

2. Bekerja dengan sekuat daya sampai batas kemampuan

Seorang penabur juga memiliki keterbatasan kemampuan. Tuhan menghargai kita setiap usaha dan kerja yang kita lakukan. Musa pernah merasakan sampai di titik batas kelelahan, dia tidak kuat menahan beban ketika ia memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Berulang kali bangsa Israel ini mengeluh dan mendesak Musa. Allah tahu sampai dimana batas kemampuan dan kekuatan kita maka Dia akan datang menolong. Tuhan Yesus memberikan teladan indah pada kita, Dia bekerja dengan sangat keras namun Kristus juga adalah manusia yang juga merasa lelah; Dia tertidur bahkan badai dan ombak yang besar tidak dapat membangunkan-Nya. Teladan Kristus ini harusnya memacu kita untuk lebih bersemangat dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan sekuat tenaga sampai titik batas kemampuan kita. Sudahkah kita mengerjakan sampai titik batas kemampuan kita? Tuhan kita adalah Tuan yang baik, Dia tidak pernah  membiarkan kita sendiri. Dia memberikan Roh Kudus untuk kita dengan demikian kita dimampukan untuk  mengerjakan semua tugas kita sampai akhir.  

3. Bekerja dengan ketekunan, kesabaran dan ketabahan

Ada waktu menabur maka akan ada waktu untuk menuai. Dibutuhkan suatu ketekunan, kesabaran dan ketabahan dari seorang penabur untuk melihat hasil tuaian di masa depan. Ketekunan dan kesabaran mempunyai arti yang sama dengan bahasa ibrani, yakni memikul beban namun beban disini dibedakan 2 hal: 1) beban yang berat. Seorang yang beratnya 50 kg memikul beras 50 kg beban yang sama berat, 2) beban yang ringan, kertas merupakan beban yang ringan namun kalau kita bawa selama 50 tahun maka beban yang kelihatan ringan akan menjadi sangat berat. Hendaklah kita mengevaluasi diri, Tuhan telah memberikan pada setiap kita beban yang pas, pertanyaannya adalah seberapa jauhkan kita akan tetap bersetia mengerjakannya?   

4. Bekerja dengan  pengharapan yang pasti

Hari penuaian itu pasti akan tiba. Celakalah orang yang tidak sadar akan tibanya hari penuaian, ia akan pergi meninggalkan ladang pelayanan hanya karena masalah sepele, misalnya tidak ada listrik atau jemaat yang dilayani hanya ibu-ibu dan anak-anak. Orang seperti ini tidak mungkin dipakai oleh Tuhan, ia tidak melihat panen di depan. Marilah kita bekerja di ladang-Nya Tuhan dengan sungguh-sungguh sebab hari penuaian itu akan tiba.

 

II. Peranan Allah yang mempertumbuhkan benih.

Mempertumbuhkan itu merupakan bagian yang paling sulit dan paling berat dan hanya Allah yang dapat mempertumbuhkannya. Bertumbuh disini berakar ke dalam, bertunas dan berbuah. Pekerjaan yang diberikan pada kita sangatlah ringan dan sungguh merupakan suatu anugerah kalau dapat melayani di ladang Tuhan. Itu merupakan hak istimewa. Bagaimana kita bisa bertumbuh? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, seharusnya kita bertanya terlebih dahulu sudahkah kita menabur? Jangan harap ada pertumbuhan kalau tidak ada benih yang ditabur. Tuhan terus bekerja tidak pernah berhenti. Jemaat di Korintus ketika mengalami perpecahan, dimana masing-masing merasa diri paling unggul, ada yang menyebut dari golongan Paulus, golongan Apolos, golonggan Petrus bahkan yang merasa lebih rohani, berani menyebut sebagai golongan Yesus Kristus maka Paulus menegaskan satu hal : Yang penting bukan yang menanam atau yang menyiram tetapi yang penting adalah Allah yang memberi pertumbuhan (1 Kor. 3:6-8). Kita hanyalah alat di tangan Tuhan; kita hanyalah hamba. Tuhan sendirilah yang akan memelihara dan mempertumbuhkan benih itu.  

Dalam bagian ini ada 5 karakteristik pertumbuhan yang dikerjakan Allah yang perlu kita perhatikan:

1. Pertumbuhan dijamin  kepastian keberlangsungan

Proses pertumbuhan pasti berjalan, tidak ada kuasa apapun dapat menghambat pekerjaan Allah. Allah adalah Allah yang berdaulat maka pertumbuhan itu akan terus menerus sampai kekekalan. Inilah sifat kerajan Allah. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada pekerjaan di tengah  dunia ini seperti yang dijanjikan Allah. Di tengah dunia ini, apakah yang menjadi kebanggaan kita? Kepandaian? Kekayaan? Kekuasaan? Semua itu hanya bersifat sementara dan hilang dalam sekejap mata.  Marilah kita mengerjakan pekerjaan Tuhan yang bersifat kekal adanya. Tuhan memberikan kepastian bahwa hari panen itu pasti akan tiba.  

2. Pertumbuhan bersifat bertahap

Pertumbuhan itu sifatnya bertahap, tidak instant; berakar, bertumbuh makin lama makin besar, mengeluarkan tangkai, berbuah dan siap dituai. Demikian juga halnya dengan kerohanian kita. Paulus membutuhkan waktu selama 13 tahun untuk membangun pengertian akan kebenaran Firman sebelum dia melayani Tuhan. Hendaklah kita memacu diri untuk mau bertumbuh secara bertahap dengan belajar Firman dengan sungguh. Celakanya, hari ini banyak orang yang ingin instant, belajar Firman belum tuntas sudah berani berkhotbah akibatnya semua ajarannya sesat, teologi kemakmuran yang ditonjolkan. Kerajaan Allah dibangun bertahap. Mari kita belajar dari setiap kesulitan menjadi batu loncatan untuk menuju ke depan yang lebih baik. 

3. Pertumbuhan akan mencapai sampai tahap kematangan

Ketika Tuhan mengerjakan pertumbuhan maka hal itu akan diselesaikan sampai akhir yakni sampai pada proses kematangan.Tuhan Yssus pada waktu menjalankan pekerjaan di dunia, Dia mengerjakannya sampai tuntas, yakni mati di salib dan semua itu sudah genap. Kita harus mencapai satu kematangan dan kita menghasilkan buah-buah di dalam pelayanan. Seorang yang sudah renta baru menyadari kalau ia telah menyia-nyiakan masa mudanya namun terlambat, waktu tidak dapat diulang kembali. Seorang muda yang bertalenta, menerjemahkan khotbah tetapi dia lari ketika Tuhan mau pakai dia menjadi pengkhotbah dan terlambat menyadari ketika sudah renta. Sebelum terlambat, hendaklah kita kerjakan tugas kita sampai tuntas seperti yang Tuhan inginkan, yakni sampai pada proses kematangan.  

4. Pertumbuhan akan menghasilkan buah berlipat ganda (Prinsip multiplikasi)

Dari satu benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah yang berlipat ganda.. Pertumbuhan secara kualitas dan kuantitas pasti terjadi di dalam perkembangan misi kerajaan Allah. Sudahkah kita mempersiapkan anak-anak kita menjadi anak Tuhan dan berbuah? Tuhan menegaskan orang berdosa akan terus berbuah dosa tapi orang yang diselamatkan akan menuai buah kekekalan artinya meskipun dia sudah mati, dia akan terus berbuah. Sebagai contoh, Calvin telah tiada tetapi orang diberkati melalui semua tulisannya dan  menghasilkan buah yang baik. Dosa akan menghasilkan buah pula tetapi buah yang busuk. Benih kebenaran yang asalnya dari Tuhan adalah benih yang baik dan pasti akan menghasilkan buah kebenaran berlipat ganda. 

5. Pertumbuhan akan mencapai tahap akhir yaitu masa panen/masa penuaian.

Masa panen merupakan akhir dari seluruh kerja keras yang dilakukan, ada sukacita yang penuh melimpah pada waktu itu. Seluruh jerih lelah, air mata dan keringat yang pernah dicurahkan, semuanya terlupakan saat melihat panen tiba. Inilah keindahan yang luar biasa di dalam pekerjaan Tuhan. Hal Kerajaan Alalh seperti seorang penabur, malam ganti siang, siang ganti malam, penabur menabur dan merasa letih dan tidur, tetapi benih yang ditabur terus bertumbuh. Dia tidak tahu bagaimana itu bertumbuh, tetapi pasti akan terjadi masa penuaian itu. Marilah kita terus mengerjakan pekerjaan Tuhan sebab orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai; orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mzm. 126:5-6).  

Untuk menutup seluruh perenungan kita hari ini, ada suatu kesaksian seorang bapak tua yang setiap hari  dengan setia sambil mengayuh sepedanya mengunjungi jemaat dan hal itu dilakukan selama tiga tahun dengan setia. Seorang bertanya,” Bapak tidak lelah setiap hari mengayuh sepeda hanya untuk mengunjungi jemaat?” Sungguh di luar dugaan, si Bapak menjawab: ”Sungguh saya sangat bersyukur kalau masih bisa melayani Tuhan.” Biarlah kita mengevaluasi diri kita, sudahkan kita bersyukur kalau kita masih dipakai Tuhan menjadi alat di tangan-Nya? Sudahkah kita melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan kita berada di dalam-Nya dengan seluruh daya kekuatan kita? Amin ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)