|
Ringkasan Khotbah : 9 Desember 2007
Nats: Mat. 16:27-28 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Hari ini kita masuk pada bagian klimaks ”Kemesiasan Kristus” yang menjadi tema utama dari Injil Matius 16. Secara keseluruhan Injil Matius membukakan tentang hal Kerajaan Sorga dan titik puncaknya, Kristus Sang Mesias, Raja di atas segala raja itu hadir di tengah dunia. Namun sangatlah disayangkan, konsep Mesias yang dimengerti oleh manusia bertentangan dengan konsep Mesias yang Kristus bukakan maka tidaklah heran kalau orang kemudian memanipulasi ayat-ayat Firman Tuhan demi kenikmatan diri. Bayangkan, orang berharap mendapatkan kenikmatan ketika mereka mengikut Mesias namun berita yang keluar pertama kali dari mulut Mesias justru tentang kesengsaraan-Nya, tentu saja hal ini tidak mudah diterima oleh Petrus maupun dunia pada umumnya.
Dunia modern yang egois dan humanis hanya menginginkan kenikmatan, tak terkecuali orang Kristen. Filsafat utilitarianisme yang dicetuskan oleh John Stuart Mill, Jeremy Bentham dan kawan-kawan telah mempengaruhi pemikiran manusia sedemikian rupa. Utilitarianisme mendualismekan antara pleasure and pain; hidup adalah kenikmatan dan penderitaan adalah kejahatan. Tuhan Yesus menegaskan setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku; dan pada bagian lain, Kristus juga menegaskan serigala punya liang, burung punya sarang tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala. Mengikut Kristus berarti harus melalui jalan via dolorosa dan berjalan dalam penderitaan. Dunia sulit menerima konsep ini, dunia mengajar orang untuk menjadi ambisius dan mengejar kenikmatan duniawi. Alkitab mengajarkan sebaliknya, kita harus menyangkal diri, yakni berkata ”tidak” pada apa yang menjadi keinginan kita. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia? Sebagai seorang Kristen sejati, kita harus taat pada Firman Tuhan, tidak menyeleweng keluar dari jalan-Nya. Memang bukanlah hal yang mudah untuk taat Firman Tuhan namun percayalah, dengan kekuatan dari Tuhan, Dia akan memampukan kita. Pertanyaannya maukah kita dipimpin oleh Dia?
Adalah mustahil kalau orang mengatakan taat Firman tetapi di sisi lain, orang justru melawan Firman. Konsep pemikiran manusia telah dicengkeram oleh berbagai filsafat dunia maka tidaklah heran kalau orang mempunyai pola pikir yang sangat humanis dan materialis. Secara moral, dunia semakin hari semakin merosot, dunia tidak mempunyai semangat juang untuk hidup. Sungguh amatlah memprihatinkan, Indonesia tidak menanamkan moralitas yang baik pada rakyatnya tetapi para pejabat justru memberikan teladan buruk bagi rakyatnya dengan memperlihatkan mentalitas pengemis. Hal ini nampak di tengah hidup bermasyarakat, mulai dari pejabat hingga anak-anak tidak ada semangat kerja keras; orang ingin mendapat nikmat tapi tidak mau bekerja keras maka cara yang mudah adalah mengemis. Orang harusnya menuntut diri untuk bekerja dengan sebaik mungkin dan menaikkan kualitas tidak hanya ribut masalah upah namun hari ini yang terjadi malah sebaliknya, orang menuntut upah besar tetapi kualitas kerja sangat buruk. Inilah wajah dunia berdosa yang rusak moral. Semua ini tidak lepas dari pendidikan yang diajarkan oleh dunia. Dunia ini tidak butuh orang pintar tapi dunia butuh orang bijaksana, orang yang dapat mempertimbangkan semua aspek dan mengambil keputusan dengan tepat, sesuai dengan kehendak Tuhan.
Karenanya, Mesias datang ke dunia, Dia datang mengangkat kita dari lumpur dosa. Mesias datang untuk merombak konsep pemikiran kita yang salah untuk dikembalikan pada kebenaran sejati. Tuhan ingin membukakan pada setiap kita tentang nilai hidup yang sejati, hidup bukan mengejar materi belaka tetapi ada hal yang lebih berharga yang bersifat kekal. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita bisa menyadari akan dosa dan merubah konsep pemikiran kita yang salah, semua itu bukan karena kita tapi Tuhanlah yang berkenan memanggil kita, Dia begitu mengasihi kita yang berdosa.
Pada bagian klimaks ini Tuhan Yesus membukakan seluruh visi Mesias yang menjadi titik final sekaligus alasan mengapa hidup harus berpusat pada kristus? Mengapa harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus? Mengapa harus rela melepas nyawa untuk Kristus? Mengapa harus mengejar kemuliaan sorgawi lebih dari kemuliaan dunia?
Merupakan kesalahan fatal dari penafsir yang menggabungkan Mat. 16:27 dan Mat. 16:28 sebagai satu kesatuan. Ayat 27 berbicara tentang akhir jaman, eskatologi sedang ayat 28 merupakan titik awal yang berbicara tentang Tuhan Yesus sebagai Raja.
Matius 16:27
Sebab anak manusia akan datang dalam kemulian Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikatnya dan pada waktu itu dia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Mat. 16:27). Hanya Allah, pencipta alam semesta yang tahu titik final, hanya Allah satu-satunya yang bisa memberikan pernyataan secara sah dan tepat tentang keadaan akhir dunia ini. Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dari tidak ada menjadi ada, ex nihilo namun ironis, hari ini beberapa teolog menentang hal ini. Adalah pendapat yang salah yang menyatakan bahwa segala sesuatu telah ada sebelumnya dan Allah mencipta yang lain. Tidak!
Alkitab secara jelas membukakan bahwa Allah mencipta alam semesta ini dari tidak ada menjadi ada (Kej.1). Allah adalah Alfa dan Omega, Dia adalah awal dan akhir. Namun Firman Tuhan itu coba dianulir dan direndahkan. Dunia menurunkan nilai kekekalan ke dalam kesementaraan. Tuhanlah yang menata seluruh alam semesta ini mulai dari titik alfa hingga titik omega dan di titik paling akhir adalah kemuliaan, glorious. Sesungguhnya, orang suka titik final namun orang takut ketika harus berhadapan dengan titik final maka tidaklah heran, orang berusaha keras untuk memperpanjang waktu hidup di dunia. Dunia berusaha menghilangkan titik omega dengan berbagai teori, seperti teori unlimited yang menyatakan sejarah dunia merupakan perputaran unlimited. Tidak! Alkitab menegaskan dunia ini terbatas.
Garis pun pasti ada titik awal dan titik akhir, tapi dunia menganulirnya dengan memberikan tanda tidak terbatas; garis itu ditarik terus mencoba sampai tidak terbatas. Dunia tidak mau titik omega maka garis itupun diputar sedemikian rupa dan orang menyebutnya reinkarnasi. Berputar terus sampai tak terbatas, unlimited. Dunia mencoba berbagai cara menghilangkan titik omega point. Matius 16:27 merupakan pernyataan yang tajam sekaligus menggetarkan – Kristus Anak Manusia itu datang dengan kemuliaan Bapa-Nya untuk menghakimi umat manusia. Tiga jabatan sekaligus ada dalam diri Kristus, yakni sebagai raja, sebagai imam, dan sebagai nabi. Kristus adalah Raja, Dialah pemegang otoritas tertinggi melakukan semua tindakan, Dia imam yang melakukan penebusan bagi setiap manusia berdosa dan mereka yang sudah menerima penebusan mendapat keselamatan, Dia adalah nabi yang membawa berita kebenaran Allah di tengah dunia.
Ketiga hal ini merupakan tugas Mesianik yang telah Kristus kerjakan dan Dia punya hak penuh dan sah untuk menghakimi seluruh umat manusia. Hal ini menjadikan kita memiliki kekuatan hidup di tengah dunia yang rusak ini karena kita memandang pada Kristus, hakim yang agung maka seluruh perjalanan hidup kita menjadi perjalanan yang berarti. Menyadari adanya titik omega menentukan setiap langkah hidup kita sehingga hidup itu tidak dibuang dengan sia-sia sebab kita tahu sekarang nilai hidup kita, yakni mengejar hal-hal yang bernilai kekekalan. Karena itu, sadarlah dan mulai hari ini janganlah sia-siakan hidupmu. Raja Salomo, seorang yang dikarunia bijaksana, seorang yang sukses menyatakan semuanya adalah kesia-siaan. Sebelum terlambat, bertobatlah dan kembali pada Kristus; hidup taat pada pimpinan-Nya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus maka disana kita akan merasakan hidup itu tidak sia-sia. Sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Luk. 4:12). Kristus Sang Mesias itu menjadi kekuatan bagi kita yang menjadikan hidup kita tidak sia-sia. Kristus akan datang dengan kemuliaan Bapa untuk menghakimi seluruh umat manusia dan tidak ada satu pun yang bisa lolos. Inilah titik final.
Matius 16:28
Ayat ini menjadi jaminan: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya. Artinya orang akan sampai pada suatu kesadaran dimana orang melihat bahwa Kristus adalah Mesias sejati. Pada pasal selanjutnya, yakni Matius 17, Tuhan Yesus mengajak tiga murid naik keatas gunung, disana mereka melihat Tuhan Yesus yang penuh dengan kemuliaan itu berbincang-bincang dengan Elia dan Musa. Kedua tokoh ini sangat dihormati oleh orang Israel, di sini Tuhan Yesus mau membukakan siapa diri-Nya yang sejati, Dia adalah Mesias sejati. Orang banyak menghinakan Dia karena Dia tidak memiliki penampilan layaknya seorang raja tetapi disini kita melihat Kristus Yesus memiliki kemuliaan sorgawi yang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan dunia. Orang hanya melihat fenomena, orang hanya ingin mendapat kenikmatan diri maka tidaklah heran kalau mereka tidak dapat melihat esensi sejati. Manusia terlalu sibuk dengan kehinaan diri sendiri sehingga tidak dapat melihat keagungan-Nya. Hal yang serupa terjadi hingga hari ini, ketika seseorang datang dan memberikan pertolongan atas semua kesulitan yang kita hadapi maka apa yang kita lihat, perbuatannya yang mulia ataukah sebaliknya kita malah berlaku seperti layaknya seorang pengemis yang meminta supaya diberikan lebih, kita malah datang dan menyodorkan segala kebutuhan kita? Manusia tidak dapat melihat hal yang mulia, manusia hanya ingin meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dari seseorang yang mulia. Inilah manusia berdosa.
Kristus datang mengubahkan konsep kita yang salah untuk dibawa pada kemuliaan sejati dan mengerjakan sesuatu mulia. Kristus membukakan inagurasi pada tiga murid saja sebab waktu-Nya belum tiba. Sebagian besar penafsir menyatakan apa yang Yesus bukakan dalam Mat. 16:28, realisasi aslinya pada saat Tuhan Yesus bangkit dan naik ke surga. Ketika kuasa kematian dihancurkan, Kristus sudah menjadi raja, duduk di tahta kerajaan-Nya. Inilah kemenangan sejati dalam iman Kristen. Sepanjang sejarah manusia berusaha mengalahkan kematian, manusia ingin mendapatkan hidup kekal tetapi tidak bisa. Hanya Kristus satu-satunya yang sudah mengalahkan kuasa kematian, kuasa terbesar yang menghancurkan.
Tuhan Yesus akan datang dengan kemuliaan Bapa, diiringi dengan malaikat, dan menghakimi manusia – itu menjadi titik akhir dan buktinya, nanti akan ada diantara para murid yang tidak mati sebelum melihat Tuhan Yesus menjadi Raja. Kapan? Sesudah kebangkitan-Nya. Dan terbukti, sebagian besar para murid belum mati, mereka melihat Yesus bangkit, artinya Dia adalah Mesias sejati dan apa yang menjadi ketakutan Petrus karena konsep Mesiasnya yang salah telah terpatahkan. Kristus telah membuktikan bahwa Dia ada Mesias sejati.
Seandainya Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita (1 Kor. 15) sehingga kita mempunyai jaminan. Kemesiasan Kristus menjadi dasar hidup kita masuk ke dalam hidup yang penuh dengan kemuliaan, glorious life. Hidup yang berkemuliaan meliputi beberapa aspek:
1. Kualitas tertinggi. Kualitas yang dimaksud disini bukanlah kualitas produksi tapi kualitas rohani. Dunia justru terbalik sesuatu yang sifatnya fisik dan fenomena itulah yang digarap terlebih dahulu daripada rohani kita. Bukanlah hal yang mudah untuk mengerti kualitas tertinggi, perlu perjuangan untuk merombak konsep kita yang lama. Janganlah demi berkompromi dengan dunia kemudian kita menurunkan kualitas kita menjadi rendah.
2. Bersifat kekal. Semua hal yang mulia sifatnya kekal tidak digeser oleh waktu sebaliknya hal yang rendah sifatnya sementara, mudah terkikis oleh waktu. Sebagai contoh, lagu duniawi sekarang ngetop namun tidak bersifat kekal berbeda dengan lagu rohani yang keluar dari pergumulan seorang anak Tuhan tidak akan pernah pudar oleh jaman. Model jam tangan Rolex dari dulu sampai sekarang tidak berubah, nilainya kekal, itu menunjukkan kualitas tertinggi.
3. Kesempurnaan. Kesempurnaan menjadi titik final dari hidup yang berkemuliaan. Dunia tidak pernah mendidik kita untuk mengejar kemuliaan sorgawi yang menjadi standar tertinggi nilai hidup kita. Sesungguhnya, orang memahami akan kesempurnaan, orang tahu membedakan mana yang berkualitas dan tidak. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka manusia seharusnya mengejar dan hidup sesuai dengan citra Allah, segala sesuatu harus ditarik pada titik kesempurnaan.
Alangkah indah hidup yang berada dalam pimpinan Tuhan; Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, Dia akan selalu beserta dalam setiap perjuangan dalam kita mengejar kemuliaan sorgawi tertinggi. Pertanyaannya adalah maukah kita hidup taat pada-Nya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia? Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)