Ringkasan Khotbah : 2 Desember 2007

Messiahship of Christ: The Response of the Creed

Nats: Mat. 16:21-24

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Sebelumnya kita telah memahami signifikansi credo “Kristus adalah Anak Allah yang Hidup” yang menjadi dasar dari hidup iman kita. Tuhan Yesus juga membukakan apa yang menjadi isi dari credo itu, yakni konsep Mesias sejati. Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup itu harus pergi Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua,  imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Konsep Mesias ini sangat kontras dengan konsep dunia, yakni Mesias adalah seorang raja besar yang kekuasaannya sangat besar, membuat banyak mujizat yang sifatnya hedonis. Konsep sorgawi dan duniawi berbeda total bahkan sampai hari ini pun banyak orang yang tidak memahami konsep Mesias sejati maka tidaklah heran kalau orang menunjukkan reaksi seperti yang Petrus lakukan. Hal ini membuktikan satu hal orang tidak mengerti secara teologis.

Konsep agama dunia bersifat egois; orang beragama hanya demi mendapat berkat, hidup nyaman, kaya, sehat, dan masih banyak lagi keinginan daging yang sifatnya dosa. Agama itu tidak lebih menjadi pelampiasan dari keberdosaan. Seorang teolog berpendapat agama bukan membuat manusia datang kepada Allah, tetapi agama adalah pelarian dari Allah, religion is not what man come to God, but escaping from God; orang membuat “allah” seperti keinginan mereka dan menyembahnya.

Mesias harus menderita sengsara, mati dan bangkit pada hari ketiga sangat sulit diterima oleh manusia berdosa. Bagaimana mungkin Allah membiarkan Kristus, Anak-Nya yang tunggal itu menderita sampai mati demi manusia berdosa? Bukankah seorang ayah akan membela dan menolong anaknya ketika berada dalam kesulitan? Konsep yang sangat duniawi inilah yang menyebabkan orang tidak dapat mengerti konsep Mesias sejati. Jalan salib inilah jalan yang terbaik yang merupakan implementasi bijaksana Allah yang maha dahsyat. Murka Allah yang dahsyat dipuaskan, keadilan Allah ditegakkan, dan cinta kasih Allah digenapkan; semuanya hanya dapat diselesaikan dengan kematian Kristus di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga.

Pertanyaannya adalah bagaimana respon kita melihat karya keselamatan yang dikerjakan Allah dengan begitu dahsyat? Bagaimana sikap kita ketika melihat Kristus yang harus menderita sengsara dan aniaya dan mati untuk kita? Apa yang menjadi respon kita ketika kita mengatakan: “Kau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup?” Pengakuan iman bukan sekedar muncul di mulut kita. Tapi pengakuan iman adalah satu sikap respon karena kita kenal Kristus adalah Mesias anak Alalh yang hidup. Ada empat aspek yang seharusnya menjadi respon setiap kita yang mengaku bahwa Kristus adalah Mesias, yakni:

1. Berserah total

Tuhan Yesus menegaskan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Tuhan Yesus ingin kita berserah diri secara total pada pimpinan-Nya, total surrender. Adalah sifat manusia berdosa yang selalu melawan Tuhan, memaksakan kehendak diri, tidak mau hidup dipimpin oleh Allah, manusia merasa diri lebih pandai dan mau mengatur Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan sangat marah dan menghardik Petrus dengan keras karena respon Petrus yang salah. Pertanyaannya adalah siapakah manusia sehingga mau mengatur Allah sang pemilik alam semesta dengan mengatakan bahwa cara Mesias menyelamatkan manusia bukan melalui kayu salib. Sadarlah, manusia hanyalah ciptaan yang terbatas, manusia tidak lebih bijaksana dari Allah – Allahlah sumber dari semua bijaksana. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan dosa adalah Kristus harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua,  imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Jalan salib merupakan implementasi bijaksana Allah. Di atas salib, murka Allah nyata, kesucian Allah ditegakkan, keadilan Allah dituntaskan, dan cinta kasih Allah digenapkan. Salib merupakan tempat dimana seluruh variabel yang saling berlawanan ini dapat terselesaikan.

Ketika keadilan Allah benar-benar ditegakkan maka semua orang harus mati sebab upah dosa adalah maut dan di muka bumi ini semua manusia berdosa. Dan kalau hanya cinta kasih Allah saja yang dinyatakan dapatlah dibayangkan dunia akan menjadi sangat kacau, chaos – semua orang akan melakukan apa yang menjadi keinginan daging dan hawa nafsu mereka. Cinta kasih tanpa keadilan menjadikan dunia makin kacau demikian juga halnya cinta kasih tanpa kesucian Allah; keadilan tanpa cinta kasih akan membuat dunia menjadi kejam. Semua aspek yang meliputi kasih Allah, keadilan Allah, kesucian Allah, murka Allah, pemeliharaan Allah hanya dapat dituntaskan dan dituntaskan di atas salib oleh Sang Mesias. Jadi, masih adakah orang yang berani mengatakan bahwa dirinya lebih bijaksana dan lebih pandai dari Allah yang adalah diri-Nya bijaksana?

Paulus sebelum bertobat adalah seorang yang merasa diri pandai dan tahu banyak hal namun pengenalannya akan Kristus Yesus menyadarkan dia bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Paulus menyadari betapa dalam kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah sehingga siapakah manusia sehingga dapat mengetahui pikiran Tuhan dan menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga ia harus menggantikannya? (Rm. 11:33-36). Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat mengerti akan Kemesiasan Kristus maka sebagai respon dari pengakuan iman adalah berserah total.

Sadarlah kita hanyalah manusia lemah yang berdosa dan terbatas karena itu janganlah kita memegahkan diri dan merasa diri hebat sehingga kita tidak memerlukan Tuhan memimpin hidup kita. Tidak! Hidup di dunia ini semakin hari semakin berat, tantangan dan penderitaan tidak akan pernah habis maka di tengah-tengah kesulitan ini hanya berserah total kepada pimpinan Tuhan sajalah akan membuat hidup kita indah dan nyaman. Pertanyaannya adalah maukah kita berserah penuh, total surrender dan taat dipimpin oleh Dia? Betapa indah hidup yang dipimpin dan dituntun oleh Kristus Yesus Anak Allah yang hidup; kita tidak perlu kuatir sebab Dia adalah Allah tahu apa yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya.  

2. Merubah arah hidup

Total surrender bukan berarti pasif, hanya terima nasib. Taat mutlak bukan berarti tidak mempunyai semangat juang. Adalah pendapat yang salah bahwa orang Reformed tidak mempunyai daya juang. Tidak! Perhatikan, semangat juang, fighting spirit bukan ditentukan dari apa yang menjadi ambisi, target atau tujuan hidup barulah orang mempunyai semangat hidup. Salah! Paulus adalah seorang yang taat mutlak; seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan. Bahkan dia tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun, asal aku dapat menggenapkan apa yang Tuan perintahkan kepadaku. Pertanyaannya apa yang menjadi penyebab demi untuk Tuhan, Paulus tidak mempedulikan nyawanya sendiri? Alkitab mencatat, setelah Paulus bertobat, pengenalannya yang benar akan Allah yang sejati tidak menjadikan dia patah semangat atau tidak mempunyai motivasi hidup. Tidak! Sebaliknya, ia berjuang mati-matian demi Injil diberitakan bahkan penderitaan, sengsara dan aniaya tidak menjadikan dia undur. Disini kita melihat ketaatan mutlak itu justru menjadikan orang mempunyai semangat juang tetapi bedanya, semangat juang itu datangnya dari Tuhan. Total surrender berarti kepasifan yang aktif. Seorang yang mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup maka seluruh arah hidup yang tadinya demi memenuhi egois diri, ambisi diri kini hidup diarahkan pada Kristus.  

Alkitab mencatat ketika Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya hanya satu kalimat pendek yang diucapkan, “Ikutlah Aku.” Kalimat follow Me berarti orang harus pasif pada dirinya dan aktif terhadap perintah-Nya. Orang yang masih tetap aktif dengan keinginan diri tidak akan pernah bisa mengikut. Ketika seseorang mengajak kita untuk mengikuti dia akan tetapi kita masih mengajukan berbagai syarat maka selamanya ia tidak akan pernah ikut bersama dia. Ikutlah Aku berarti kita harus menanggalkan segala hal yang menjadi keinginan kita; di satu sisi kita pasif dengan segala keinginan kita, namun di sisi lain, aktif dengan keinginan saya untuk menanggapi panggilan Tuhan itu dan Ia telah siap mengarahkan seluruh hidup kita. Sejarah membuktikan, Tuhan memimpin kita selangkah demi selangkah asal kita taat dan menyerahkan seluruh hidup hanya pada-Nya. Betapa indah, hidup kita ketika dipimpin Tuhan. Ironisnya, dunia tidak mengajarkan kita untuk taat sebalikany, orang diajar untuk jadi pemberontak. Dunia modern meneriakan setiap manusia mempunyai hak bahkan seorang anak pun punya hak. Orang tua tidak boleh dipukul sebab ada undang-undang yang menjaga hak anak. Pertanyaan balik ketika si anak nakal, siapa yang harus dihukum? Inilah kecelakaan dunia yang hanya menuntut hak tapi tidak menjalankan kewajiban. Sejak kecil telah dirasuki oleh konsep duniawi yang rusak seperti yang diajarkan dalam pendidikan montesori yang menekankan bahwa guru dan orang tua hanyalah fasilitator belaka maka jangan kaget kalau besar nanti, Tuhan pun dianggap sebagai fasilitator yang harus menuruti segala keinginannya. Fasilitator berarti pemberi fasilitas untuk kita dan kita yang menjadi tuan, jadi sebagai fasilitator, Tuhan harus memberikan semua keinginan kita. Perhatikan, Tuhan bukanlah fasilitator; Dia adalah Tuhan yang mengarahkan seluruh hidup kita. Jangan membalik ordo. Theologi Reformed dengan jelas menegaskan bahwa Tuhanlah yang berada di posisi atas sedang manusia harus tunduk di bawah-Nya. Sadarlah, Yesus adalah Mesias itu adalah Tuan atas segala tuan, maka kita harus berespon taat mutlak dan membiarkan diri diarahkan oleh-Nya.  

3. Merubah nilai hidup  

Setelah kita berserah total dan menyerahkan hidup dalam pimpinan Tuhan maka kita juga harus merombak konsep berpikir kita dari duniawi menuju sorgawi. Hal ini tidaklah mudah, sebab pemikiran duniawi kita lihat dari konsep sorgawi maka muncullah dua realm yang sifatnya paradoks. Matius 16:25 sangat sulit untuk dimengerti kalau orang memakai konsep duniawi: Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Secara duniawi, sulit diterima logika, orang yang menjaga nyawa akan kehilangan nyawa dan orang yang melepas nyawa malah akan mendapatkannya. Ini menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka yang tidak memahami akan konsep kebenaran sejati. Disinilah signifikansi konsep paradoks.  

Manusia satu-satunya makhluk yang dapat menggabungkan dua dunia yang berbeda, yakni kekekalan dan kesementaraan secara simultan tanpa terjadi konflik. Sesuatu yang sifatnya sementara apabila direalisasikan maka hasil yang keluar sifatnya linear. Sebaliknya, ketika kesementaraan itu ditarik ke kekekalan maka paradoks, semua yang tadinya bergerak dalam ruang dan waktu kini menjadi diam; semua hancur, kini sifatnya kekal. dunia kesementaraan dan dunia kekekalan itu berlawanan total tapi berhubungan secara lansung. Manusia terdiri dari tubuh yang bisa hancur setiap saat dan juga roh yang sifatnya kekal, tidak dapat hancur. 

Tuhan Yesus mengajak kita melihat dua hubungan yang paradoks; ketika melepas maka kita akan mendapat sebaliknya ketika kita mempertahankan nyawa maka kita akan kehilangan. Tuhan membukakan pada kita tentang sistem nilai yang lebih berharga dibanding dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara. Apa gunanya orang seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 11:26). Mengaku Yesus adalah Mesias menyadarkan kita akan nilai sejati yang sifatnya kekal, yakni nilai hidup yang sejati hanya ada di dalam Kristus.  

4. Hidup Berkemuliaan

Glorious life, hidup mulia hanya bisa terjadi kalau kita mempunyai konsep berpikir sorgawi, selalu berpikir untuk kekekalan. Matius 16:27-28 adalah titik puncak Kemesiasan Yesus dan menjadi titik penting kita sebagai pengikut Kristus. Misi Kristus datang dan berinkarnasi adalah demi mengangkat kita dari lumpur dosa, membebaskan kita dari jebakan kebinasaan dunia dan mengeluarkan kita dari kehinaan menuju pada kemuliaan. Dunia ini semakin hari tidak menjadi lebih baik, dunia semakin hari makin rusak moral. Di satu sisi, orang ingin mencoba keluar dari kerusakan ini tetapi malah terjebak jatuh pada kerusakan yang lain. Sebagai contoh, orang meneriakkan anti HIV dan AIDS dengan memakai poster yang justru mempromosikan sex bebas. Sangatlah menyedihkan, ini wajah dunia berdosa; hal yang buruk itu justru lebih mudah mempengaruhi hal yang baik. Celakanya, gereja yang seharusnya menegur dosa, memberitakan kebenaran sejati di tengah jaman yang bobrok ini malah berkompromi dengan menggunakan konsep dunia dan akhirnya menjadi serupa dengan dunia. Hendaklah kita sebagai pengikut Kristus dipakai menjadi saksi-Nya, mulailah dari diri dengan selalu berpikir kepada kekekalan, apapun yang kita lakukan, lakukanlah itu untuk Allah. Kiranya Firman Tuhan menyadarkan untuk kita sehingga kita mempunyai respon yang benar sebagai seorang pengikut Kristus yang sejati dan memancarkan citra Kristen. Amin ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)