|
Ringkasan Khotbah : 18 November 2007
Nats: Kel. 20:18-21 Pengkhotbah : Rev. Thomy J. Matakupan |
Pengalaman iman adalah pengalaman perjumpaan dengan Allah di dalam Firman-Nya. Pada waktu membaca Alkitab, kita bukan sekedar membaca tulisan saja, melainkan Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah penyataan Allah yang tertulis yang mewakili keberadaan Allah. Pertanyaannya perasaan seperti apa yang muncul & menyertai pengalaman itu? Alkitab mencatat suatu keadaan yang sangat mengerikan pada saat Tuhan memberikan 10 hukum Taurat-Nya kepada orang Israel melalui Musa. Mereka melihat guruh mengguntur, kilat sabung menyabung, sangkakala berbunyi & gunung berasap. Mereka tahu bahwa ada Allah di sana. Pada waktu memikirkan pengalaman iman perjumpaan dengan Allah, perasaan seperti apa yang muncul di dalamnya? Sebelum 10 hukum Taurat diberikan, Allah memanggil Musa & memerintahkan agar bangsa Israel, harus mempersiapkan diri, menyucikan diri, tidak berbuat dosa & pada hari yang ketiga, Ia akan datang. Dapatlah dibayangkan perasaan bangsa ini dalam masa penantian hari ketiga, hari mereka berjumpa dengan Allah. Perasaan mereka diliputi oleh ketegangan & ketakutan kalau-kalau ada hal yang luput mereka persiapkan sehingga Allah tidak berkenan & menghukum mereka. Perasaan seperti apa dalam pengalaman iman perjumpaan dengan Allah secara pribadi? Selain itu, ada beberapa peringatan khusus yang ditambahkan, yakni pada hari ketiga itu, Allah melarang orang datang mendekati, menyentuh bahkan meraba kaki gunung Sinai. Tuhan menetapkan jarak bagi orang Israel. Mereka harus datang dengan penuh hormat pada-Nya. Suasana saat itu sangatlah menegangkan. Peraturan ini diberikan olah Allah sendiri supaya bangsa Israel melihat & memperhatikannya dengan baik-baik, jangan sampai Tuhan datang & melanda semuanya. Dua hari penantian dengan perasaan yang tidak menentu. Pagi-pagi pada hari ketiga, guruh menggemuruh & awan pekat menutupi seluruh gunung, petir menyambar-nyambar. Seluruh bangsa Israel berdiri di hadapan Allah & menanti kehadiran-Nya. Inilah puncak seluruh penantian mereka. Hari itu seluruh bangsa menjadi takut & gemetar. Amatlah disayangkan kalau pengalaman kerohanian kita tidak tahu lagi bagaimanakah memahami perasaan takut akan Tuhan itu? Kita tidak tahu lagi apa artinya menanti kehadiran Allah dalam kegentaran serta melihat Allah yang dahsyat itu.
Pagi hari itu, Allah memberikan Firman kepada umat-Nya. Musa berdiri di tengah-tengah di antara umat & Allah. Perjumpaan dengan Allah tidak selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan & dinanti-nantikan; bangsa Israel sangat takut & pasti ingin pengalaman ini cepat berlalu. Mereka sangat takut sebab mereka berhadapan dengan Allah yang merupakan otoritas tertinggi & berkuasa atas hidup mereka; mereka tidak tahu apakah yang terjadi atas nasib mereka ketika perjumpaan itu terjadi. Allah adalah Allah yang kudus, Dia menuntut setiap orang yang percaya menghormati setiap aturan-aturan yang Ia tetapkan. Perasaan semacam ini harus ada dalam hidup orang percaya supaya mereka tahu dengan siapa mereka se&g berhadapan. Jikalau hidup kita tidak lagi memperhatikan ketetapan Allah maka pengalaman iman kita akan kehilangan satu sisi agung, yaitu kita tidak tahu bagaimana harus menghormati & menyembah Dia; tidak tahu bagaimana perasaan gemetar & kagum sekaligus menjadi satu di hadapan Allah. Jikalau kita tidak pernah merasakannya lagi, betapa kita telah mengalami keterpisahan persekutuan dengan Allah. Musa pun tidak luput dari ketetapan Allah ini pada saat ia berjumpa dengan Allah; ada semacam keterpisahan atau jarak yang terjadi antara umat-Nya dengan Allah. Jikalau sebagai orang Kristen kita meluputkan aturan-aturan yang ada maka kita kehilangan sense of Thou, rasa hormat dalam ketaklukan sebab di satu sisi, perjumpaan dengan Allah menjadi satu pengalaman yang tidak menyenangkan tetapi sekaligus menjadi pengalaman yang menyenangkan yaitu jika kita mengikuti segala ketetapan-Nya maka kita dapat berdiri di hadapan-Nya.
Perhatikan, bukan Israel yang datang kepada Tuhan tetapi Tuhan datang menjumpai mereka dalam kekudusan-Nya. Seluruh alam semesta pun menyaksikan kemuliaan & kebesaran-Nya. Bangsa ini berdiri di kaki gunung Sinai & menyaksikan kedahsyatan-Nya. Ia datang & orang menjadi takut; Ia tidak selalu datang dalam terang tetapi Ia juga datang di dalam kegelapan and menjadikan kita takut. Pada waktu Habakuk mendengarkan perkataan Allah, ia juga mengalami hal yang sama, yakni ketakutan berjumpa dengan Allah (Hab. 3:16). Ia sangat gemetar, karena pengalaman iman berkaitan dengan problema hati. Siapakah Dia sehingga kita tidak boleh mempermainkan Dia? Kalau kita tidak merasakan pengalaman iman seperti itu berarti kita tidak tahu kepada siapa kita sedang berelasi. Dalam satu minggu yang lalu, pada waktu kita berdoa? Apakah ada kegentaran saat berelasi dengan Dia? Apakah ada sikap hati-hati ketika menyampaikan setiap kata dalam doa kita? Apakah ada sikap hormat kepada Dia? Bukankah dalam banyak aspek, kita biarkan pikiran bercabang; di satu sisi kita berbicara dengan Allah tetapi pada sisi yang lain, kita biarkan hal-hal lain mengambil bagian pikiran kita. Pada saat kita berdoa, apakah kita berdoa dengan iman ataukah hanya sekedar berdoa? Pada saat membaca Alkitab, apakah ada perhatian & kesadaran penuh bahwa Allah se&g berbicara pada kita melalui Firman-Nya? Apakah kita berharap ada perubahan yang terjadi dalam hidup kita? Apakah ada suatu komitmen ketaatan ketika memahami Firman-Nya? Kita bahkan seringkali tidak tidak tahu & tidak peduli serta cenderung bermain-main dengan iman kita.
Berapa banyak pengalaman mengasihani diri sendiri (self pity) dalam pengalaman iman kita? Sebenarnya kita tahu bahwa Allah telah memberi pengertian & pertolongan ketiwa melewati pergumulan yg ada. Namun kita lebih memilih mengasihani diri & mau dari dalamnya. Berapa banyak orang yg mengaku dosa dengan air mata bercucuran tetapi tidak pernah membawa perubahan dalam kehidupan karena tidak pernah sense terhadap kehadiran Allah. Ketika Allah hadir & menyatakan diri-Nya, orang dapat melihat & merasakan kedahsyatan & kemuliaan Allah. Kita pasti punya pengalaman kegagalan tetapi berapa banyak yg belajar & keluar dari kegagalan itu. Namun berapa banyak & menikmatinya & mempersalahkan semua yg lain.
Kesadaran akan kebesaran & kemuliaan Allah membuat kita tunduk & hormat pada-Nya. Berapa tempat di keraton Yogyakarta, pintu sengaja dibuat lebih rendah dari biasanya sehingga orang yg masuk „dipaksa“ tunduk. Kalau kita tidak mau tunduk, maka Allah akan memaksa untuk tunduk pada-Nya. Mengapa dalam doa, sekalipun ada airmata tetapi tidak pernah ada perubahan? Sebab hati yg berdoa bukanlah hati yg mau tunduk pada Allah; hati yg hancur di hadapan Dia & diliputi dengan ketakutan karena berhadapan dengan Allah. Datang pada Tuhan dalam pengakuan namun dengan sikap angkuh. Berusaha membela diri seakan itu bukan kesalahan kita saja. Ada pihak lain yg terlibat & memberikan peluang. Ini namanya tidak rela mengaku dosa. Allah kita adalah api yg menghanguskan. Datanglah dengan sikap hormat pada-Nya.
Musa: Tipologi Kristus – Mediator & Interpretator. Dalam konteks inilah, Musa tampil. Ia menjadi mediator sekaligus interpretator antara Allah & umat-Nya. Apa yg Musa lakukan ini digenapkan oleh Kristus yg adalah Pengantara antara orang berdosa dengan Allah. Paulus menyatakan Allah itu esa & esa pula Ia yg menjadi pengantara antara Allah & manusia, yaitu manusia Yesus Kristus (1Tim 2:5). Kristus mengatakan, Aku adalah Jalan & Kebenaran & Hidup, tidak ada seorang pun yg datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku (Yoh. 14:6), hal ini menggambarkan kemutlakan & keberadaan diri-Nya sebagai Mediator. Mengapa Musa dikatakan sebagai tipologi Kristus? Ada beberapa aspek:
Peran Musa sangat signifikan bagi orang Israel. Ketika bangsa ini keluar dari Mesir menuju Kanaan, mereka mulai menggerutu & mempertanyakan kepemimpinan Musa. Musa tidak tahu berapa jaraknya dan berapa lama akan ditempuh. Ia hanya tahu satu hal yakni Allah memerintahkan untuk pergi keluar dari Mesir. Allah akan memimpin mereka dengan tiang awan & tiang api. Tidaklah heran jika perjalanan tersebut menjadikan orang menggerutu. Ironisnya, mereka lebih suka ada di Mesir, menjadi budak daripada hidup dipimpin oleh Allah. Mereka protes & meminta agar kembali ke Mesir. Musa berketetapan hati untuk berjalan terus. Bangsa ini mulai marah & mau melempari Musa dengan batu. Namun ketika Allah datang menjumpai bangsa Israel, mereka harus memalingkan wajah & mencari Musa, meminta Musa menjadi mediator di antara mereka dengan Allah. Musa berjalan menembus awan pekat menjumpai Allah & ia keluar dari dalam awan tersebut untuk menyatakan apa yg menjadi kehendak Allah. Inilah Musa sebagai interpretator.
Demikian halnya dengan Kristus sebagai mediator & interpretor. Kristus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yg pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal yg berada di pangkuan Bapa itulah yg menyatakannya; segala sesuatu yg Kukatakan bukan dari diri-Ku sendiri tetapi dari Dia yg mengutus Aku; Aku & Bapa adalah satu. Jadi, apa yg Kristus nyatakan merupakan ekspresi sedalam-dalamnya dari hati Bapa. Kristus menjadi interpretator. Tidak sembarang orang dapat datang pada Allah; harus ada mediator & interpretator. Itulah sebabnya, pergumulan iman bagaimana mengenal Allah harus melalui mediator. Kita tidak bisa berekspresi sedemikian rupa lalu dengan sebuah konsep kesempurnaan kita mendekati Allah. Tidak! Disini kita melihat peranan Musa sangatlah signifikan, Musa menjadi tipologi Kristus: (1). Dia adalah satu-satunya orang yg Allah mau dengar & berbicara kepada satu orang. (2). Ia adalah seorang yg berani berdiri di hadapan Allah meski dapatlah dipastikan bahwa Musa juga diliputi rasa ketakutan. Musa takut kalau-kalau hari itu, ia mendapati dirinya sebagai seorang yg cemar & Tuhan tidak berkenan atasnya maka akibatnya adalah kematian. (3). Ia mempunyai kelembutan hati untuk seluruh bangsa Israel & mewakili mereka berjumpa dengan Allah. (4). Ia berani menjadi seorang yg mengkorbankan diri untuk seluruh bangsa Israel (Kel. 20:31-32). Paulus pun pernah mengutip pernyataan Musa tentang hal yg sama.
Sebagai seorang mediator. Musa hanyalah gambaran. Ia tidak sempurna, tetapi Kristus menggenapinya secara sempurna. Allah Bapa menegaskan bahwa Kristus adalah satu-satunya pribadi yg kepada-Nya Allah berkenan. Alkitab mencatat 2 kali kalimat ini muncul, peristiwa Tuhan Yesus dibaptis & pada peristiwa pertemuan Yesus dengan Elia & Musa. Kristus adalah Mediator yg berdiri di hadapan Allah & memiliki hati untuk semua orang berdosa. Alkitab berulang kali mencatat Kristus begitu mengasihi orang berdosa, Dia melihat mereka seperti seorang anak yg kehilangan induknya, Dia menangisi Yerusalem. Bahkan di atas kayu salib, ada doa untuk pengampunan mereka; Dia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban pengganti. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya pada kita oleh karena Kristus sudah mati ganti kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Kristus adalah menggenapinya dengan sempurna.
Musa juga adalah seorang interpretator. Dia membawa bahasa dari Sang Kekal & dikatakan kepada seluruh bangsa Israel & bukan hanya itu, ia masuk ke dalam kabut yg kelam & membawa bahasa dari seluruh umat kepada Allah yg kekal. Hidup rohani adalah ekspresi kebutuhan akan mediator, perantara antara manusia dengan Allah. Bagaimana dengan pergumulan iman akan kebutuhan Mediator & Interpretator dalam kehidupan rohani kita saat ini? Ataukah kita membutuhkan Kristus saat merasa diri sebagai orang berdosa yg membutuhkan seorang perantara? Memang benar, manusia berdosa membutuhkan seorang mediator saat itu. Namun pertanyaan lebih lanjut setelah kita percaya & diterima oleh Allah apakah kebutuhan akan mediator itu masih tetap kita rasakan? Orang Kristen di dalam statusnya sebagai saints, orang-orang suci tetap membutuhkan Kristus sebagai mediator & interpretator; bukan saja dari sinners menuju ke saints tetapi dari saints menuju ke glorification. Sangatlah disayangkan, jika orang Kristen tidak lagi membutuhkan kedua hal ini karena merasa diri sudah diterima oleh Allah sehingga meluputkan bahkan merasa tidak perlu lagi berdoa dalam nama Tuhan Yesus. Kita tidak tahu bahwa seruan kepada Allah harus disampaikan melalui Yesus Kristus. Allah Bapa hanya mendengar satu pribadi, yaitu Kristus. Kristus mengajarkan mintalah dalam nama-Ku & engkau akan mendapatkan-Nya. Kenapa harus Kristus? Bukankah orang Kristen adalah imamat yg rajani? (1 Pet 2). Itu benar, namun ingat, seorang imam pun juga mempunyai aturan ketika datang & hendak berjumpa dengan Allah. Seorang imam pun membutuhkan perantara. Di bagian lain, ada orang Kristen yg mempunyai kerinduan berjumpa dengan Allah & Allah berbicara secara langsung padanya. Benarkah kita ingin mendengar Allah berbicara langsung? Kalau memang demikian, maka kita akan mati. Itu sebab kita patut bersyukur karena ada Kristus sebagai Mediator dalam hidup percaya kita. Kebutuhan akan Kristus sebagai Mediator harus terus menerus menjadi kebutuhan dalam hidup kita. Kristuslah juga satu-satunya Interpretator tepat isi hati Allah & memberitahukan kepada kita apa yg harus kita lakukan bagi Allah Bapa & mendapatkan perkenanan-Nya. Allah Bapa hanya mendengar setiap kalimat demi kalimat yg disampaikan melalui perantaraan Yesus Kristus. Inilah signifikansi peranan Musa sebagai seorang perantara sekaligus menunjukkan tipologi yg Kristus kerjakan. Kristus membawa kita pada pengalaman iman perjumpaan dengan Allah tanpa harus merasa takut sebab Ia memberitahukan seluruh pergumulan iman kita kepada Allah Bapa & Ia membawa seluruh pengertian kehendak Bapa untuk disampaikan pada kita. Dialah yg memberikan & menyempurnakan iman kita. Marilah kita memandang pada Kristus, Imam Besar kita itu. Kristuslah satu-satunya jalan sehingga kita dapat mengenal Allah Bapa, oknum pertama Tritunggal karena tidak ada satu orang pun yg pernah melihat Dia.
Musa berdiri di antara bangsa yg sangat ketakutan & Allah yg penuh dengan murka & menjadi interpretator, menyampaikan isi hati Allah kepada bangsa Israel. Sungguh disayangkan jika rasa takut & gentar akan Allah telah hilang; orang melihat perjumpaan dengan Allah menjadi perjumpaan yg sudah seharusnya, take it for granted sehingga kita tidak perlu menata diri ketika berjumpa dengan Dia.
Sebagai mediator, Musa mengatakan bahwa kehadiran Allah bukan untuk menghancurkan tetapi Allah mau supaya mereka tidak berbuat dosa lagi. Musa menyampaikan bahwa ini adalah instruksi kepada bangsa Israel. Kalau seandainya Allah mau menghancurkan maka Dia tidak perlu datang & memberikan peringatan kepada mereka terlebih dahulu. Tetapi untuk satu bangsa ini, Allah menyatakan kasih-Nya; Allah masih berkenan & memberikan peringatan padanya. Firman Tuhan itu baik karena Firman mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan & mendidik orang dalam kebenaran. Jadi kalau Tuhan memberikan peringatan pada kita berarti Dia masih mengasihi kita; Dia mau menegur & menata hidup kita. Inilah cinta Tuhan. Tidak ada satu orang anak pun yg tidak pernah merasakan hajaran dari orangtuanya; Alkitab mengatakan semua yg dikasihi akan dihajar jika salah (Ibr 12). Tuhan masih mau berbicara pada & menyatakan kesalahan kita. Karena itu, kita tahu bagaimana cara mendapatkan pengampunan; Ia menyatakan dimanakah kelemahan kita sehingga kita tahu bagaimana mendapatkan kekuatan; Tuhan mau menyatakan dosa kita – baik disadari maupun tidak disadari supaya kita tahu bahwa hanya melalui Kristus sebagai Mediatorlah kita memperoleh pengampunan.
Pada saat kita mendengarkan khotbah, apakah kita menikmatinya karena menyenangkan? Kalau kita mendengarkan khotbah tanpa ada perasaan bahwa Tuhan sedang bekerja maka itu, selain merupakan kesalahan dari pengkhotbah karena ia tidak mewakili diri dari Allah tetapi sekaligus menunjukkan kondisi kerohanian kita. Suka mendengarkan khotbah tapi tidak suka jika Allah membongkar dosanya. Ketika Firman Tuhan disampaikan maka di sana ada janji, dorongan, berkat & teguran. Tidak ada orang yg menyukai dosanya diungkapkan. Jika demikian, maka ia adalah manusia paling celaka. Apakah kita dapat merasakan kehadiran Tuhan itu dalam diri kita? Tuhan mengasihi kita sehingga Ia mau menegur kita.
Pengalaman kita berbeda dengan bangsa Israel pada waktu itu tetapi prinsipnya tetap sama, yakni kehadiran Tuhan membongkar segala dosa kita. Hari ini kita tidak berhadapan dengan suasana yg menakutkan seperti yg dialami bangsa Israel tapi apakah rasa takut akan Tuhan itu ada setiap Tuhan hadir dalam hidupmu? Tuhan hadir & Dia membongkar seluruh dosa yg ada. Alkitab menggambarkan kita sedang menuju ke Zion, kita sedang berada dalam kota Allah, Yerusalem sorgawi menuju pada terang-Nya yg ajaib, kita hidup di tanah perjanjian yg penuh dengan pengampunan & janji-janji Allah; di dalam rumah yg penuh dengan cinta kasih & kebebasan. Inilah perbedaan kita dengan orang Israel. Dimanapun kita berada kita harusnya takut & gentar ketika Tuhan hadir menyatakan diri-Nya pada kita. Kita takut kalau Allah mendapati diri kita cemar & Dia tidak berkenan karenanya. Puji Tuhan, kita mempunyai Yesus Kristus yg menjadi mediator bagi kita yg membuat kita harus berseru & memohon belas kasihan-Nya supaya Ia berkenan memalingkan wajah-Nya pada kita. Berdoalah & memohonlah pada-Nya, Mediator & Interpretator antara kita dengan Allah. Maukah kita berjanji pada Tuhan untuk mau mengenal Yesus Kristus lebih dalam lagi sebagai Mediator & Interpretator kita? Seberapa limpahnya hidup rohani kita sangat ditentukan dengan seberapa limpahnya pengenalan kita pada Kristus? Ini tanda kehidupan kerohanian Kristen. Hanya kepada Kristus, kita meletakkan seluruh pengharapan kita pada-Nya. Kiranya hanya kepada Sang Pengantara Agung itulah kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)