Ringkasan Khotbah : 04 November 2007

Messiahship of Christ: The Content

Nats: Mat. 16:5-12

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Injil Matius 16:5-12 ini sangat berkaitan erat dengan ayat sebelumnya. Disini kita melihat bagaimana setiap orang mempunyai konsep berpikir tersendiri. Demikian pula halnya dengan orang-orang Yahudi mempunyai suatu ajaran/doktrin namun ajaran itu diselewengkan sedemikian rupa, yakni menurut apa yang mereka anggap benar. Ajaran yang benar harus kembali pada kebenaran sejati yang absolut bukan menurut kebenaran menurut manusia. maka tidaklah heran kalau mereka bersikeras untuk meminta tanda padahal Tuhan Yesus telah membuat banyak tanda yang membuktikan akan Kemesiasan-Nya seperti orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan masih banyak tanda lain. Hanya Mesias saja yang dapat melakukan mujizat tersebut namun mereka tidak pernah mengerti tanda. Mereka ingin tanda itu haruslah seperti yang mereka minta yang sesuai dengan konsep mereka maka tidaklah heran kalau selamanya mereka tidak akan pernah mengerti tanda. Tuhan Yesus tahu akan hal ini maka Ia pun tidak meladeni dengan lama; Tuhan Yesus hanya memberikan tanda Yunus lalu meninggalkan mereka dan pergi.  

Para murid sama sekali tidak memperlihatkan setitik kepedulian akan apa terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi dan Saduki. Para murid mempunyai doktrin tersendiri, yakni bagi mereka yang penting hidup sejahtera tidak peduli siapa orang yang kepadanya mereka ikut. Lihat respon mereka yang kebingungan ketika mereka lupa membawa roti. Tuhan Yesus meminta para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus dengan jelas mengungkapkan yang dimaksud ragi disini adalah ajaran/doktrin orang Farisi dan Saduki namun para murid malah berpikir ragi tersebut berhubungan dengan roti yang lupa mereka bawa. Jelaslah disini, doktrin yang telah tertanam sebelumnya dalam pikiran kita itulah yang menjadi penyebab dari pemahaman yang salah; apa yang dikatakan oleh seseorang itu ditangkap kemudian keluar interpretasi atau cara pikir yang tidak pas akibatnya mereka salah melihat hidup dan salah mengerti kebenaran sejati. Tuhan Yesus melihat dampak yang sangat serius daripada ajaran atau doktrin namun banyak orang yang menolak untuk kembali pada doktrin yang benar. Beberapa aspek penyebabnya, yaitu:

1. Iblis perusak doktrin yang benar, Iblis adalah bapa orang berdosa maka ia berusaha sedemikian rupa menjatuhkan manusia dalam dosa. Manusia berdosa akan mempunyai konsep berpikir seperti iblis. Seorang ayah yang mempunyai pemikiran materialis maka cara ia mendidik anaknya pun akan materialis dan tentu saja pemikiran ini akan terbawa sampai si anak bertumbuh dewasa kecuali ia bertemu Tuhan secara pribadi dan Tuhan mengubahkan. Seringkali kita menjumpai kasus dimana seorang ayah hanya tersenyum bahkan tidak peduli ketika anaknya memecahkan sebuah gelas murah yang didapat secara gratis namun ia menjadi sangat marah ketika anaknya memecahkan sebuah gelas yang harganya jutaan. Seorang anak kecil tidak pernah memahami harga karena bagi dia, perbuatan yang ia lakukan sama, yakni memecahkan sebuah gelas. Dari kalimat kemarahan si ayah, doktrin materialis telah tertanam pikiran si anak. Maka tidaklah heran, hari ini banyak orang bertanya untung rugi ketika mengikut Kristus. Hati-hati dan waspadalah dengan akal licik si iblis yang sengaja menanam konsep materialis humanis pada manusia sejak dari kecil.

2. Dua contoh sejarah pergeseran doktrin: a) Agama Yudaisme, semua bentuk keagamaan palsu selalu melawan kebenaran sejati, dia memposisikan diri sebagai kebenaran lalu menanamkan “kebenaran“ tapi kebenaran tersebut malah melawan kebenaran. Orang Farisi menganggap dia sedang mengajarkan kebenaran dan menanamkan kebenaran tetapi ketika kebenaran sejati itu datang, mereka telah siap melawan dan menghancurkan kebenaran sejati. Agama Yahudi, agama yang dimana orang-orangnya dikenal sangat religius dan beribadah tetapi ketika mereka bertemu dengan Sang Allah, Sang Kebenaran, Sang Kesalehan datang di hadapan mereka namun mereka justru hendak menghancurkan Tuhan Yesus. Kalau kita tidak berhati-hati maka kita akan masuk dalam kondisi yang sama seperti orang Yahudi. Seberapa jauhkah peringatan Tuhan Yesus untuk kita senantiasa “waspada“ itu terngiang dan menjadikan kita lebih berhati-hati dan dengan rendah hati membongkar semua keabsolutan palsu diri dan kembali pada kebenaran sejati? b) Gereja Roma Katolik, dalam perjalanan sejarah, ajaran gereja semakin menyeleweng  dari kebenaran Firman, bukan kebenaran sejati yang ditegakkan tetapi tradisi, otorisasi Paus, semangat humanisme itulah yang ditegakkan. Diperparah dengan konsep natural theology yang dicetuskan Thomas Aquinas dimana pikiran Aristotle dikawinkan dengan Kekristenan. Gereja juga membangun kemiliteran, tentara dan senjata perang untuk menaklukkan kekaisaran dunia. Ironis, gereja bukannya membangun kerohanian tetapi malah berperang. Kesombongan itu semakin memuncak yang ditandai dengan ambisi membangun Kathedral Vatikan Church yang sangat megah yang menghabiskan biaya sangat besar. Untuk membiayainya, Yohan Tetzel mencetuskan suatu konsep uang yang berdenting dalam kotak persembahan akan membuat satu nyawa melompat dari api penyucian ke sorga maka surat indulgensia atau surat pengampunan dosa mulai diperjualbelikan. Ajaran humanisme materialisme telah meracuni gereja Roma Katolik. Gereja yang tidak kembali pada Firman, gereja hanya mementingkan materialis dan humanis maka gereja semakin hari akan semakin merosot dan terpecah. Disini kita melihat bagaimana ragi itu sangat mempengaruhi gereja Tuhan dimana orang-orang di dalamnya akan dididik menjadi orang yang sangat egois, hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri.

Tuhan Yesus sangat memahami bahayanya ragi atau ajaran ini, itulah sebabnya Ia memperingatkan supaya kita berhati-hati dan waspada maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

1. Kembali pada Firman. Melihat pergeseran doktrin yang semakin parah, Martin Luther pun berteriak keras, ia menempelkan 95 dalil di depan gereja Withenberg maka hari itu gereja mulai disadarkan untuk kembali pada kebenaran Firman. Tidak berhenti sampai disitu Calvin, Luther, Beza, Zwingli, John Locks juga berjuang mati-matian mengajak orang untuk kembali pada iman sejati. Perdebatan yang terjadi antara Tuhan Yesus dan orang Farisi – Saduki janganlah dilihat sebagai dua pandangan yang masing-masing boleh mempunyai pendapat sendiri. Tuhan Yesus menegaskan ajaran berkait erat dengan kebenaran maka ajaran harus kembali pada absolut position. Namun sebaliknya dunia posmodern mengajarkan bahwa setiap orang boleh mempunyai konsep dan ajaran sendiri dan semua itu dianggap benar. Celakanya, cara berpikir dunia ini diterapkan di dalam gereja. Bagi Tuhan Yesus, ajaran orang Farisi dan Saduki bukanlah sebuah option atau pilihan tetapi ajaran mereka itu layaknya sebuah ragi yang bekerja dari dalam dan mempengaruhi seluruh adonan dan akhirnya rusak. Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini. Dalam konteks orang Yahudi, berbicara tentang ragi bukanlah hal yang positif tetapi ragi mempunyai pengaruh yang sangat negatif. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras menegaskan pada para murid-Nya untuk berwaspada. Tuhan Yesus melihat doktrin atau ajaran itu bukanlah hal yang sederhana. Bagi dunia, doktrin atau ajaran itu merupakan hal yang sepele bahkan seandainya ajaran itu tidak ada maka hal itu tidak akan mempengaruhi kehidupan. Inilah ajaran posmodern. Tuhan Yesus sangat peduli pada setiap kita, Ia melihat betapa ragi ini sangat berbahaya kalau kita tidak mau kembali pada kebenaran sejati. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus dengan keras memperingatkan kepada setiap kita untuk waspada, berhati-hati terhadap ragi orang Farisi.

2. Peka akan iman dan kebenaran. Hati-hati dengan akal licik iblis yang terus berusaha menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Kalau secara frontal tidak berhasil – kebenaran absolut Kristus langsung melawan kebenaran absolut Yudaisme apalagi di abad ke-21 ini, orang tidak suka dengan sesuatu yang sifatnya frontal maka iblis merombak caranya dengan memecah-mecah kemutlakan menjadi kemutlakan yang sifatnya kecil-kecil sehingga orang tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Cara pluralisme inilah yang diterapkan hari ini, orang ditawarkan dengan berbagai opini, multiple opinion; semua opini itu mempunyai kebenarannya masing-masing dan orang harus menghargai kebenaran tersebut. Dunia sangat suka dengan pandangan ini karena sepertinya membela hak asasi manusia tetapi lebih tepat kalau dikatakan sebagai membela egois diri. Bayangkan, kalau setiap orang mempunyai opini dan setiap orang menyatakan opininya sebagai kebenaran tanpa kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, dunia menjadi rusak total. Inilah kepalsuan kebenaran, pseudo truth sepertinya benar tapi sesungguhnya melawan kebenaran sejati. Pluralisme menjadi suatu opini yang sangat berbahaya di abad ke-20. Kita harus kembali pada kebenaran sejati.

Memang, banyak opini di dunia namun bukan berarti kita harus menyetujui semua opini. Tidak! Kebenaran dan ketidakbenaran itu sifatnya tunggal bukan plural. Pertanyaannya apakah kita mau mengejar kebenaran sejati atau tidak? Setiap orang harus bertanggung jawab. Hari ini banyak orang anti doktrin karena itulah, Tuhan Yesus sangat keras memperingatkan pada kita untuk berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Memang, mereka tidak pernah menyebut doktrin tapi justru dibalik tingkah laku, jelas terlihat pengaruh doktrin. Konsep mesianik yang salah itu telah meracun pikiran para murid bahkan sampai menjelang akhir Tuhan Yesus akan naik ke kayu salib, mereka tetap tidak mengerti. Selama mereka bersama Tuhan Yesus, mereka masih merasa nyaman dan terjamin hidupnya maka mereka tidak mengerti doktrin barulah setelah Tuhan Yesus pergi naik ke sorga dan mereka dianiaya saat itulah Roh Kudus bekerja dan mereka baru memahami pengaruh doktrin. Saat itu mereka sangat keras menentang ajaran yang salah.

Sebagai anak Tuhan sejati, janganlah biarkan diri kita dirusak oleh iblis. Janganlah iblis sebagai bapa kita (Yoh. 8). Perhatikan, di ayat 30, banyak orang Yahudi percaya pada Tuhan Yesus akan tetapi ketika Tuhan menuntut untuk kembali pada kebenaran, mereka melawan. Tuhan Yesus membukakan pada mereka realita sesungguhnya kenapa mereka menolak kebenaran, yakni karena iblislah yang menjadi bapa mereka. Orang yang sudah masuk dalam jebakan iblis akan sukar bagi mereka untuk keluar dari jebakan iblis. Hati-hati, iblis akan menawarkan apapun untuk mendapatkan satu jiwa karena iblis sangat tahu, betapa mahal dan berharganya satu jiwa. Iblis akan menawarkan segala bentuk kenikmatan duniawi sampai kita jatuh dalam jebakannya dan tercengkeram olehnya saat itulah ganti kita yang dibinasakan. Iblis sengaja membuat kita jauh dari Tuhan Sang Kebenaran sejati.

3. Sikap dan komitmen kembali pada Allah. Para murid seharusnya bergumul dan mencoba untuk memahami dengan bertanya pada Tuhan Yesus kenapa mereka harus waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Para murid justru berpikir tentang roti, mereka peduli kenikmatan diri dan ketakutan kalau mereka tidak dapat makan. Hal yang sama terjadi hari ini di dunia modern, orang tidak peduli akan pentingnya ajaran atau doktrin asal mereka kaya, nyaman, sehat maka lupakan semua doktrin atau ajaran. Tuhan Yesus sangat peduli dan kuatir akan kondisi ini dan terbukti, pikiran orang Farisi dan Saduki yang duniawi telah merasuk pikiran mereka; mereka tidak peduli akan ajaran atau doktrin. Ketika orang dituntut untuk kembali pada Kristus, mempunyai pemikiran yang sama seperti halnya Kristus maka nampak jelas kalau pikiran kita sangatlah duniawi dan berlawanan dengan Kristus. Di satu sisi, sepertinya para murid begitu dekat dengan Tuhan Yesus namun di sisi lain, cara berpikir mereka sangatlah bertentangan. Doktrin yang  tidak benar terimplikasi keluar, hal ini nampak dari reaksi Petrus yang mencoba menghalangi dan menarik lengan Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat. 16:21). Tuhan Yesus kembali menghardik dengan keras untuk mengkoreksi pemikiran mereka yang salah. Sungguh sangatlah memprihatinkan, hari ini kebenaran telah diselewengkan sedemikian rupa menjadi doktrin yang sifatnya humanis materialis dan telah merasuk di dalam Kekristenan. Inilah cara kerja ragi yang merasuk dan mempengaruhi kehidupan namun ragi itu sendiri hilang dan tak berbentuk lagi.

Dunia semakin ke belakang semakin sulit, tantangan dan penderitaan semakin berat maka hati-hatilah, pada saat itu, iblis datang menawarkan jalan keluar yang kelihatan ”legal” dan nikmat. Karena itu, waspadalah dengan segala ajaran yang salah yang ada di sekitar kita dan Tuhan membentuk kita barulah kita dimengertikan akan kebenaran. Jelaslah, kembali pada kebenaran bukanlah hal yang sepele dan mudah; kita harus dihancurkan terlebih dahulu dan dibentuk kembali oleh Tuhan. Hendaklah kita kembali pada ajaran yang sehat, the sound doctrine dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam ajaran sesat yang plural. Sangatlah memprihatinkan, hari ini kembali lagi gereja telah menyeleweng dari kebenaran sejati. Ajaran yang materialis humanis telah meracuni dan mempengaruhi kehidupan manusia. Doktrin yang salah akan berakibat sangat fatal, bukan saja meracuni diri kita tetapi akan meracuni orang lain juga.

Biarlah peringatan Tuhan Yesus supaya kita terus waspada dan berhati-hati terhadap ajaran orang Farisi terus terngiang dalam hidup kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri, bagaimanakah sikap kita terhadap doktrin yang benar?  Sudahkah kita disadarkan betapa bernilainya hidup kita, hidup tidak bisa ditukar oleh apapun yang sifatnya materi. Apa artinya kita mendapatkan seluruh dunia ini kalau kita kehilangan nyawa. Apakah kita mau menuntut diri untuk kembali pada Kebenaran sejati? Maukah kita berkomitmen untuk kembali dan setia pada Kebenaran Firman? Amin ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)