|
Ringkasan Khotbah : 21 Oktober 2007
Nats: Mat. 16:5-12 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Sepertinya orang Farisi dan orang Saduki ini sangat religius tetapi di balik semua yang kelihatan rohani tersebut terdapat motivasi buruk tak terkecuali dengan para murid. Setelah terjadi perdebatan dan diskusi yang sangat sengit dengan orang Farisi dan Saduki, mereka hanya berpikir tentang materi, yakni roti. Kemungkinan besar kita sama seperti mereka, kita tidak pernah peduli hal yang esensial, orang hanya peduli hal yang duniawi yang menyangkut diri mereka. Tuhan Yesus meminta para murid untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus bukan sekedar ingin berdebat dengan orang Farisi dan Saduki atau ingin menunjukkan kehebatannya dalam berdebat dan Ia yang akan keluar sebagai pemenang. Tidak! Tuhan Yesus sangat peduli akan hal ini, Ia terenyuh melihat ketidakpedulian mereka akan hal yang lebih esensial, hal ini menunjukkan para murid berada di posisi dan mempunyai cara pikir yang sama seperti orang Farisi dan Saduki.
Tuhan Yesus mempunyai kepekaan yang sangat luar biasa, Ia melihat bahayanya akan ajaran orang Farisi dan Saduki sehingga Ia memperingatkan para murid untuk waspada akan ragi orang Farisi dan Saduki. Kepekaan yang disertai dengan kebenaran akan membawa seseorang kepada dunia dan seluruh lingkungan akan membawanya melihat jauh lebih tajam yang disertai dengan cinta kasih sejati. Inilah kasih Ilahi yakni kepekaan ketika melihat orang berdosa sedang berjalan di tengah dunia berdosa menuju pada kebinasaan. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang tidak peka akan jiwa-jiwa yang tersesat. Orang hanya peduli pada hal-hal yang sifatnya materi, orang lebih peduli pada apa yang menjadi kebutuhan jasmani belaka. Namun ingat, hal ini bukan berarti kita tidak boleh berbagi pada mereka yang kekurangan. Tidak! Dalam hal ini betapa celaka kalau kita hanya peduli pada apa yang menjadi kebutuhan tetapi kita tidak pernah peduli akan pertumbuhan iman. Tuhan Yesus membukakan pada kita bahwa kepekaan itu janganlah dilihat dari sudut pandang manusia tetapi kita harus melihatnya dari sudut pandang yang tepat, yakni iman, believe.
Ironis, ketika Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan saduki, para murid tidak memahami apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Hal ini nampak dari jawaban mereka; jawaban yang mereka berikan atas peringatan Tuhan Yesus tidak berkait sama sekali. Para murid justru meributkan tentang roti, mereka tidak membawa roti. Disini jelas, tidak ada hubungan antara pernyataan Tuhan Yesus tentang ragi orang Farisi dan Saduki dengan tidak membawa roti namun apapun itu meski tidak berkait, manusia berdosa akan mengkait-kaitkannya dan membuatnya jadi saling terkait bahkan hal yang positif akan menjadi negatif. Inilah manusia berdosa. Jelas disini, iman percaya itulah yang menjadi dasar, faith seeking understanding. Orang yang beriman salah akan mempengaruhi seluruh pemikiran kita dan tindakan kita bahkan semua hal dapat diatur sedemikian rupa sepertinya sangat logis namun semua yang kelihatan logis itu sesungguhnya tidaklah logis.
Kristus telah memberikan teladan indah pada kita akan kepedulian:
1. Kepedulian Spiritual
Kristus peduli akan hal-hal yang esensi, khususnya yang bersifat kekal dan rohani. Sebaliknya, dunia hanya berpikir pragmatis dan sifatnya materi belaka; dunia tidak peduli dengan sesuatu yang sifatnya kekal; orang tidak peduli apakah Tuhan ada atau tidak karena bagi mereka yang penting sekarang, yang penting perut dikenyangkan. Merupakan kesalahan fatal, orang gagal menangkap hal yang sifatnya esensial. Orang yang mempunyai keagungan hidup, tidak akan meributkan apakah ia lapar atau tidak sebab ia tahu ada sesuatu yang lebih bernilai dari sekedar makan dan kenyang. Bahkan orang yang sangat egois pun demi memuaskan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah merasa lapar, sebagai contoh orang sudah tergila-gila menonton film maka ia tidak peduli apapun bahkan tidak merasakan lapar. Betapa hinanya manusia kalau hanya berpikir tentang aspek-aspek yang sifatnya pragmatis belaka.
Tuhan Yesus berulang kali memperingatkan pada kita; jangan takut dengan hal-hal yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak bisa membunuh jiwa tetapi takutlah pada Dia yang dapat membunuh tubuh sekaligus jiwa. Biarlah kita mengevaluasi diri apa yang membuat kita takut dan kuatir? Apakah hal-hal sifatnya keduniawian ataukah hal yang sifatnya spiritual dan esensi? Hendaklah kita mengubah konsep berpikir kita yang salah, ingat, segala hal yang duniawi sifatnya sekunder dan hal yang esensi merupakan hal yang terpenting dan utama, first thing first. Dunia tahu apa yang menjadi prioritas utama, tetapi dunia gagal mengembalikan pada Allah sejati sebagai the true first thing first. Kepedulian pada hal yang rohani dan kekal akan menjadikan kita menjadi seseorang seperti apa yang Tuhan inginkan. Ketika orang tidak peduli akan hal-hal yang sifatnya kekal maka di titik pertama, hidupnya akan celaka dan membawa pada kebinasaan. Spiritualitas merupakan hal yang utama dan terpenting, karena itu hendaklah kita peduli pada apa yang menjadi kepedulian kita.
2. Kepedulian Kebenaran
Tuhan Yesus memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Yang dimaksud ragi disini adalah sesuatu yang kelihatan sangat rohani tetapi negatif. Tuhan Yesus mengajak kita pada sesuatu yang lebih tajam, yang sifatnya mengerucut dan peduli pada hal yang sifatnya esensi namun dunia lebih suka hal yang pragmatis, hanya mau gampang, orang tidak suka kalau harus belajar untuk sesuatu yang sifatnya kebenaran dan orang tidak suka pada hal-hal yang sifatnya mutlak. Pengaruh filsafat posmodern dan relativisme kuat mencengkeram manusia sedemikian rupa. Hari ini banyak berbagai macam ajaran ditawarkan di tengah dunia, pertanyaanya kita mau mengikut ajaran yang mana? Kalau kita tidak mengerti hal yang esensi maka kita akan mudah sekali diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran dunia dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sikap kita menghadapi berbagai ajaran itu? Apakah kita mau menuntut diri untuk belajar dan berusaha mendapatkan kebenaran sejati? Ataukah kita bersifat pragmatis, menganggap ajaran itu benar kalau menurut kita benar.
Tuhan Yesus mengajak kita untuk peduli akan kebenaran. Tuhan Yesus sedang membukakan pada para murid apa motivasi orang Farisi dan Saduki di balik pertanyaan tersebut dan bagaimana mereka harusnya berespon seperti Tuhan Yesus berespon. Namun respon yang ditunjukkan oleh para murid justru sebaliknya, mereka hanya peduli masalah perut. Inilah dunia berdosa, apa yang seharusnya kita pelajari dan teliti dengan baik justru kita lewatkan namun untuk sesuatu yang tidak esensi kita justru pikirkan maka tidaklah heran kalau hidup kita menjadi kacau. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati, kita mengevaluasi diri sudahkan kita memiliki kepedulian seperti Kristus? Apakah kita berpikir seperti yang Kristus pikir? Banyak orang yang mengaku Kristen bahkan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi Kristen tapi mereka tidak mempunyai kepedulian akan kebenaran sejati.
3. Kepedulian Altruistik
Ketika para murid sedang memikirkan tentang diri mereka karena tidak membawa roti maka pada saat itu, Kristus sedang memikirkan keadaan mereka. Kristus bukan peduli dengan diri-Nya sendiri. Tidak! Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk waspada terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Inilah kepedulian sejati. Dunia mengajarkan sebaliknya, pedulilah terhadap dirimu sendiri lebih daripada engkau peduli pada dunia sebab orang lain tidak akan peduli pada dirimu; concern with yourself, nobody will concern you. Dunia begitu egois, tidak akan pernah peduli pada orang lain. Memang kita tidak mempunyai hak untuk dipedulikan oleh orang lain atau meminta orang lain untuk mempedulikan kita namun bukan berarti hal ini menjadikan kita egois dengan kita tidak mau peduli orang lain. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, Dia tidak mengharap atau meminta supaya dunia peduli pada-Nya. Tidak! Tuhan Yesus tahu persis seperti apakah jiwa manusia berdosa, apa yang menjadi motivasi manusia dibalik kepedulian mereka namun Tuhan Yesus tetap peduli pada kita meski kita tidak peduli pada-Nya. Kristus datang ke tengah dunia untuk peduli. Inilah jiwa yang harus dimiliki seorang Kristen sejati. Sama seperti Anak Manusia bukan datang untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Tuhan memanggil kita untuk peduli. Apakah kita mempunyai hati seperti Kristus, yang peduli akan jiwa-jiwa yang sesat? Maukah kita peduli bahkan berkorban untuk mereka yang berada dalam kesesatan?
Adalah tugas setiap Kristen sejati untuk peduli pada jiwa-jiwa yang tersesat, memberitakan berita kebenaran pada mereka yang berada dalam kegelapan dengan demikian mereka kembali pada Allah sejati. Memang bukan kehebatan kita kalau orang dapat kembali pada Tuhan namun janganlah hal ini kemudian menjadikan kita tidak pergi menginjili dan tidak peduli akan jiwa yang sesat. Tuhan mau pakai kita sebagai alat-Nya, Dia mau supaya kita yang peduli pada dunia berdosa. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang mengajarkan supaya manusia menggerogoti anugerah Tuhan bukannya ingin menjadi saluran berkat bagi orang lain. Orang pikir anugerah Tuhan itu sebagai suatu hak dimana orang berhak menuntut Tuhan; orang tidak melihat anugerah Tuhan sebagai kepedulian dan cinta kasih. Pertanyaan apa hak kita sehingga kita menuntut Tuhan untuk memberikan anugerah kepada kita? Anugerah berarti seharusnya kita tidak berhak mendapatkan dari Tuhan tetapi Dia rela beranugerah pada kita. Bagaimana respon kita terhadap anugerah Tuhan? Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus yang peduli akan orang lain, tidak menjadi egois tetapi kita menjadi saluran berkat bagi dunia. Hendaklah kita mau menuntut diri untuk belajar akan kebenaran sejati, membangun karakter dan serupa dengan Kristus. Banyak orang yang hidup terombang-ambing; wrong believe bring wrong thinking and wrong thinking bring wrong action. Sudahkan kita menangis dan peduli pada mereka yang tersesat? Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)