Ringkasan Khotbah : 16 September 2007

Eksposisi Yohanes 5:1-18

Nats: Yoh. 5:1-18

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Perenungan kita hari ini diambil dari  Injil Yohanes 5:1-18

Yohanes 5:1-4

Yohanes tidak memberikan perincian secara mendetail tentang hari raya apakah yang dimaksud. Namun satu hal kita tahu mengapa Tuhan Yesus berada di Yerusalem, yakni karena hari itu sedang berlangsung hari raya Yahudi. Alkitab mencatat di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda dan di sana terdapat sejumlah besar orang sakit yang mengharapkan suatu kesembuhan yang terjadi secara ajaib. Menurut teks asli, ayat 3b dan 4 tidak ada. Kedua ayat tersebut merupakan catatan tambahan yang menjelaskan mengapa banyak orang sakit berada di dekat Pintu Gerbang Domba, dekat sebuah kolam. Orang banyak itu menantikan kesembuhan secara ajaib – orang yang pertama masuk ke dalam kolam ketika malaikat Tuhan turun  menggoncangkan air kolam maka ia menjadi sembuh. Orang-orang yang berada di sana pastilah orang-orang yang sudah tidak mempunyai pengharapan dari para tabib.

Yohanes 5:5-9

Ada sejumlah besar orang yang sakit di situ, namun hanya satu orang yang mendapat perhatian dari Tuhan Yesus, yakni orang yang lumpuh selama 38 tahun. Ironisnya, ayat ini sengaja dilewatkan mereka yang memang sengaja ingin memanipulasi Firman, yakni mereka yang mengaku mendapatkan karunia menyembuhkan – mereka mengaku bahwa kuasa kesembuhan itu dari Roh Kudus. Tidak! Iblis pun bisa mempunyai kuasa menyembuhkan. Perhatikan, di dekat Pintu Gerbang Domba, banyak orang sakit tetapi tidak semua orang sakit disembuhkan bahkan Rasul Paulus meminta duri yang ada dalam dirinya dicabut namun Tuhan tidak melakukan hal itu. Seorang anak Tuhan yang tidak disembuhkan dari sakit bukan berarti Tuhan tidak sayang padanya. Tidak! Janganlah memakai alasan mujizat kesembuhan untuk memberitakan Injil. Injil yang sejati bukanlah mujizat kesembuhan fisik tetapi kesembuhan rohani dimana orang sadar akan dosa dan bertobat. Percayalah dibalik segala tantangan dan penderitaan, ada rencana Tuhan yang indah yang Tuhan sudah persiapkan bagi setiap anak-anak-Nya.

Alkitab mencatat, orang itu sakit selama 38 tahun, ia tidak pernah berhenti berharap akan kesembuhannya karena itulah, ia terus berada di dekat kolam. Ada suatu keyakinan dalam dirinya bahwa ia akan sembuh. Namun, ironisnya ketika Tuhan Yesus datang dan menawarkan kesembuhan,  ia memberikan sebuah jawaban yang tanpa pengharapan (ay.7). Di satu pihak, ia sangat berharap untuk sembuh namun dipihak lain, ia merasa kesembuhan itu sebagai hal yang mustahil sebab sulit baginya untuk mencapai kolam tersebut. Sebuah pengharapan yang tanpa pengharapan. Demikian pula halnya hari ini, tidaklah mudah bagi kita menjalani kehidupan dengan segala tantangan yang ada di dalamnya. Orang yang tidak mempunyai sandaran hidup yang kokoh akan berputus asa dan sampai pada satu titik dimana orang tidak kuat menahan hal tersebut dan bunuh diri.

Orang lumpuh ini telah salah meletakkan pengharapannya; ia berharap air kolam itulah yang akan menyembuhkannya. Ia tidak tahu bahwa Yesuslah sumber dari segala pengharapan. Ia tidak pernah mengenal Tuhan Yesus, itulah sebabnya ketika Yesus datang menawarkan kesembuhan, ia  maka tidaklah heran ketika Tuhan Yesus datang dan menawarkan suatu kesembuhan, ia tidak menanggapinya dengan serius. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang mengaku Kristen namun mereka tidak mengenal siapakah Tuhan Yesus adalah finalitas sejati? Akibatnya ketika tantangan dan kesulitan datang, iman mereka menjadi goyah dan meninggalkan imannya. Orang menjadi marah karena Tuhan tidak mengabulkan doa. Sesungguhnya, Tuhan itu menjawab doa-doa kita bahkan doa yang tidak terjawab itu sudah merupakan jawaban doa. Percayalah, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anak-Nya. Kita hanyalah manusia terbatas, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, Tuhanlah yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang menurut kita baik maka itu akan menjadi yang terbaik. Tidak! Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap anak-anak-Nya.  

Yohanes 5:14-16

Perhatikan, orang itu sembuh bukan karena ia beriman dan meminta kepada Tuhan. Tidak! Orang itu sembuh semata-mata karena inisiatif Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang menghendaki ia sembuh maka ia pun sembuh. Kesembuhan orang lumpuh ini bukanlah menjadi point penting dari apa yang ingin disampaikan oleh Yohanes. Respon dari orang lumpuh yang telah disembuhkan oleh Kristus inilah menjadi perhatian bagi Yohanes. Anugerah mendahului respon; anugerah mendahului pertobatan karena anugerah Tuhanlah maka ia disembuhkan. Namun setelah ia disembuhkan, ia tidak memakai kesempatan untuk mengenal Yesus dan berterima kasih pada Yesus; ia tidak membiarkan dirinya diubahkan oleh Kristus. Ketika orang Yahudi menegur dia karena ia mengangkat tilam pada hari Sabat maka ia mengarahkan semua tuduhan kepada Yesus. Ia mengatakan semua hal yang telah dilakukan Yesus atas dirinya pada pemimpin agama Yahudi dan hal ini menjadi pemicu konflik dan kebencian pada Tuhan Yesus. Kebencian dan permusuhan pun akhirnya memuncak pada diri Yesus karena Ia melakukan pada hari Sabat.

Orang ini memiliki respon yang berbeda dengan orang buta yang pernah disembuhkan oleh Tuhan Yesus pada hari Sabat. Orang buta ini tidak meletakkan semua tuduhan pada Tuhan Yesus meski pemimpin agama Yahudi mendesak dia. Sebaliknya, orang lumpuh ini tidak bersyukur atau berterima kasih pada Tuhan Yesus tetapi perhatikan apa yang dilakukannya, ia berbalik melimpahkan segala kesalahan pada Tuhan Yesus. Ia tidak berusaha berelasi dengan Tuhan Yesus yang sudah menyembuhkannya. Seandainya ia mau berusaha mengenal Tuhan Yesus dari motivasi yang murni dan membiarkan dirinya untuk mengenal Tuhan Yesus maka ia akan mengalami suatu perubahan yang indah, jiwanya akan diselamatkan dan ia menjadi manusia baru. Betapa bodohnya, orang ini, ia telah melewatkan momen yang berharga; 38 tahun sakit itu tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan dengan Tuhan Yesus, Himself; Dia adalah sumber dari segala sumber berkat. Dia memberikan berkat sejati, yakni hidup yang diubahkan. Seperti halnya, seorang dokter atau tabib yang baik, kita pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga, kita akan berusaha mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang dirinya. Hari itu, orang lumpuh itu mendapatkan anugerah yang paling berharga, bukan hanya sekedar info tetapi Sang Penyembuh itu sendiri yang datang tapi lihat apa yang dilakukan oleh orang lumpuh itu, ia tidak meresponi anugerah Tuhan dengan benar. Ia hanya berfokus pada kesembuhannya sendiri, egosentris.

Setiap anugerah Tuhan akan menjadi kutuk bagi kita kalau kita tidak meresponi dengan benar. Hati-hati, janganlah kita terlena dengan segala kenyamanan dan berkat yang kita terima sebab  iblis sangat licik, iblis sengaja memakai cara yang licik untuk menghancurkan kita. Waspadalah dengan segala akal licik si iblis, janganlah segala berkat Tuhan itu menjadi laknat bagi kita. Ironis dengan kepandaian yang Tuhan berikan dipakai untuk melawan Tuhan. Inilah kekejian dosa. Orang memakai anugerah Tuhan untuk melawan Tuhan. Apalah gunanya kesembuhan fisik kalau kita kehilangan keselamatan jiwa kita. Orang Yahudi tidak dapat melihat Yesus adalah Mesias, mereka hanya melihat Yesus sebagai pelanggar sabat. Hendaklah kita sadar, segala berkat yang kita terima itu asalnya dari Tuhan dan biarlah kesadaran itu menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan. Ingat, berkat Tuhan bukan hanya materi saja. Tidak! Saat kita berada dalam kesulitan dan tantangan pun di sana ada berkat Tuhan, Dia memimpin langkah hidup kita dan menjadikan hidup kita berkemenangan.

Hati-hati dengan berbagai ajaran sesat yang mencoba menganulir Tuhan Yesus adalah Mesias. Iblis mencoba mengaburkan semua pengertian dan menjadikan vitalitas hidup orang Kristen hilang dan Kekristenan hancur akibatnya orang pun jatuh dalam agama natural yang mengajarkan bahwa semua agama sama. Tidak! Tetapi hendaklah kita berakar kuat dalam Kristus dengan demikian kita tidak mudah digoncangkan oleh rupa-rupa ajaran palsu. Kristus merupakan finalitas sejati. Biarlah kita mengevaluasi diri, kalau kita telah menerima segala berkat Tuhan yang berlimpah menjadikan kita semakin mengenal Dia? Kegagalan fatal yang banyak dilakukan oleh banyak orang dan gereja hari ini adalah mereka gagal mengenal Yesus dengan benar dan menganggap Tuhan Yesus sama dengan tokoh agama yang lain. Tidak! Tuhan Yesus adalah satu-satunya finalitas, Dia adalah kebenaran sejati. Janganlah hidup kita jauh dari Tuhan dan dilaknat Tuhan. Tidak ada catatan lebih lanjut tentang orang lumpuh yang telah disembuhkan ini, ia tidak pernah bertobat. Tuhan Yesus menegaskan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

Injil Yohanes memiliki penekanan berbeda dengan Injil sinoptik yang lain. Yohanes menyatakan bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan maka ia akan diselamatkan dan orang yang tidak percaya maka ia sudah terhukum – kuasa kematian sudah ada dalam dirinya. Secara rohani, ia tidak mempunyai pengharapan.

Yohanes 5:9a-13

Orang Yahudi sangat marah karena Tuhan Yesus menyembuhkan pada hari Sabat dan meminta orang lumpuh itu mengangkat tilam dimana aturan Sabat tidak memperbolehkan hal itu. Perhatikan, Tuhan Yesus menyembuhkan orang itu bukan karena belas kasihan atau iman, jadi mujizat itu dilakukan bukan untuk kepentingan orang lumpuh itu tetapi ada rencana Allah di balik mujizat tersebut. Orang Yahudi sangat marah sebab ada 7 hari tetapi kenapa Tuhan Yesus melakukannya pada hari Sabat sehingga timbul konflik antara Tuhan Yesus dan orang Yahudi. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Tuhan Yesus kembali, Ia menyembuhkan pada hari Sabat dan setelah Tuhan Yesus mengatakan: ”sembuh” barulah kemudian Ia menyuruh mengangkat tilam. Perhatikan, mengangkat tilam ini bukanlah suatu keharusan atau syarat yang membuat orang lumpuh tersebut menjadi sembuh. Tidak! Sebab di bagian yang lain, Tuhan Yesus menyembuhkan anak perwira yang sedang sakit di tempat lain dan pada saat yang sama Tuhan Yesus mengatakan: ”sembuh” anak itupun menjadi sembuh. Kuasa Yesus adalah kuasa Ilahi. Mengangkat tilam merupakan peristiwa yang sangat kontroversial, sepertinya Tuhan Yesus ingin supaya orang lain mengetahui kesembuhannya dan menjadi perhatian orang banyak. Namun, Tuhan Yesus menyatakan supaya ia tidak mengatakan pada orang lain karena waktu-Nya belum tiba, Tuhan Yesus masih memerlukan waktu untuk membentuk para murid dan juga supaya orang tidak mempunyai pandangan yang salah tentang Mesias.

Yohanes 5:17-18

Tujuan pertama yang Tuhan Yesus ingin lakukan adalah menyatakan siapa diri-Nya. Tuhan Yesus yang berinisiatif, Ia ingin supaya orang mengenal Mesias sejati. Tuhan Yesus ingin supaya orang berpikir kristosentris karena Dia adalah Allah yang berinkarnasi karena hanya di dalam Dialah kita mendapat pertolongan. Pengenalan yang benar menjadikan orang tidak mudah digoyahkan bahkan rela berkorban nyawa demi Kristus Yesus. Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus semata-mata supaya orang mengenal siapa diri-Nya.

Ketika Yohanes Pembaptis dalam penjara, ia pun memerlukan suatu konfirmasi bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang kepada-Nya, ia berseru-seru di padang gurun dan menjadi pembuka jalan bagi-Nya. Tuhan Yesus pun memberikan konfirmasi bahwa Dia adalah Mesias dan tandanya adalah:  orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang bisu disembuhkan, orang kusta ditahirkan, orang mati dibangkitkan dan orang miskin diberitakan kabar baik (Yes. 35:5,6; Mat. 11:5). Hanya Mesias yang dapat melakukan mujizat tersebut. Ironis, orang Yahudi tidak dapat melihat bahwa Kristus adalah Mesias Ilahi, Anak Domba Allah, Anak Tunggal Bapa.. Mereka hanya melihat hal-hal yang buruk dan melawan Tuhan Yesus.

Pada ayat 17, ada 3 hal penting yang harus kita perhatikan, yakni: 1) Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Ku. Perhatikan, Tuhan Yesus tidak menyebut sebagai Bapa kita atau Bapa kami.  Sebutan eklusif ini untuk menyatakan posisi dan relasinya yang unik sebagai Anak Tunggal Bapa, dan kita sebagai anak-anak-Nya diberikan anugerah dimana kita boleh memanggil Bapa; 2) setelah enam hari penciptaan, ada satu hari dimana Allah beristirahat. Dari sini muncul konsep yang salah dari orang Yahudi, Allah beristirahat berarti Allah tidak aktif. Salah! Kalau Allah inaktif maka dunia akan runtuh sebab Dialah yang menopang dunia ini. Allah terus bekerja sampai sekarang karena manusia sangat bergantung pada Allah dan membutuhkan Allah untuk terus berkarya, 3) Yesus mengklaim bahwa Dia bekerja melakukan pekerjaan Bapa. Allah bekerja dalam Dia dan Dia mengerjakan pekerjaan Bapa. Yesus dan Bapa adalah satu. Orang Yahudi sangat marah karena Tuhan Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya sendiri dan menyamakan diri-Nya sebagai Allah.

Sampai hari inipun, masih banyak orang yang sulit menerima bahwa Yesus adalah Allah. Tuhan Yesus yang telah berinisiatif menyatakan siapa diri-Nya, Dia meresikokan diri-Nya untuk dimusuhi. Tuhan Yesus ingin kita bersikap sama sebagaimana kita bersikap pada Bapa. Sejauh manakah kita mengenal Tuhan Yesus dengan benar sehingga kita tidak mudah digoyahkan oleh berbagai ajaran sesat? Alangkah bodohnya kalau orang yang meninggalkan iman Kristen dan berpindah pada kolam yang bocor.

Dalam Yesus Kristuslah satu-satunya jawaban dimana kita mendapatkan keselamatan kekal. Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)