Ringkasan Khotbah : 2 September 2007

Value of Life Ministry

Nats: 1Tes. 2:1-12; Kis. 16:19-22

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Jemaat Tesalonika bukanlah jemaat besar tetapi mereka telah menjadi teladan bagi seluruh orang percaya di wilayah Makedonia dan Akaya; Injil pun bergema dan tersebar ke seluruh dunia. Tidak hanya doktrin yang kuat yang menjadi berkat bagi banyak orang tetapi hidup mereka yang berkaitan dengan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan juga menjadi kesaksian indah. Mereka tidak membanggakan diri karena mereka kaya atau kuat. Tidak! Tetapi mereka membanggakan kehidupan rohani yang mereka miliki karena mereka adalah bangsa pilihan Allah dan juga karena Roh Kudus dalam pekerjaan Injil-Nya meneguhkan apa yang telah mereka dapatkan. Kesaksian hidup yang ditunjukkan orang-orang di Tesalonika ini juga didengar oleh Paulus. Sepertinya jemaat di Tesalonika ini sangatlah mengagumkan namun sesungguhnya semua kehebatan ini tidaklah berarti kalau tanpa pekerjaan Roh Kudus, mereka tidak akan memiliki kualitas hidup (1Tes. 1:6-7) dan menjadi saksi di tengah dunia. 

Surat 1Tesalonika 1:2-10 menggunakan struktur kiastik dimana isinya terletak di bagian tengah atau lebih jelasnya seperti roti sandwich. Paulus ingin membukakan pada jemaat di Tesalonika bahwa bagian tengah (1Tes. 1:6) itu merupakan bagian yang paling penting; yang menunjukkan suatu proses dinamika bagaimana jemaat Tesalonika memiliki kualitas hidup dan menjadi kesaksian bagi seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya. Seringkali kita hanya melihat fenomena suatu jemaat namun kita enggan melihat bagaimana panjangnya perjalanan suatu proses.

Sepintas kalau kita membaca 1Tes. 2:1 sepertinya ayat ini tidak berhubungan dengan ayat sebelumnya. Sebenarnya ada satu kata yang hilang (yang tidak diterjemahkan dalam Alkitab terbitan LAI), yakni “gar“ (bhs. Yunani) atau “for/because“ (bhs. Inggris) yang menghubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya. Paulus menyatakan bahwa kehadiran Paulus, Silwanus dan Timotius di Tesalonika ini tidaklah sia-sia. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Paulus mengatakan bahwa kehadirannya dan rekan-rekannya tidak sia-sia padahal kehadiran mereka sempat membuat keributan di Tesalonika? Perkataan Paulus ini bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri tetapi hal ini dimaksudkan Paulus untuk mendorong jemaat Tesalonika dan hal itu sekaligus menjadi penilaian dari Paulus terhadap jemaat Tesalonika. Penilaian Paulus ini bukanlah penilaian yang sembarangan tetapi Paulus telah mempertimbangkannya dan mempunyai tujuan di balik semua itu. Paulus ingin memberikan suatu penilaian atau score yang dinyatakan dalam iman dengan meilhat hasil dan kualitas jemaat Tesalonika.

Dalam surat Paulus yang pertama pasal kedua pada jemaat Tesalonika ini akan kita temukan 5 aspek mengapa Paulus menyatakan bahwa kehadirannya tidaklah sia-sia:

1. Challenge of Life (1Tes. 2:1-2)

Paulus begitu banyak menghadapi pergumulan-pergumulan yang berat (Kis. 16, 17:1-9) demikian juga halnya dengan jemaat Tesalonika. Mereka dihina, dianiaya dan dipenjara di Filipi namun di tengah penderitaan dan kesulitan tersebut mereka tetap memberitakan Injil Allah dalam perjuangan yang berat. Namun dengan pertolongan Tuhan, mereka memiliki keberanian. Kita mungkin tidak akan merasakan tantangan berat dalam melayani Tuhan selama pelayanan yang kita kerjakan tersebut tidak menemui kesulitan dan selalu berhasil tetapi berbeda halnya, ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan. Sampai hari inipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi ketika Injil Tuhan diberitakan khususnya di daerah komunis seperti Cina, Korea Utara, dan masih banyak lagi. Paulus ketika melayani dan mengalami tantangan di Filipi meskipun kepala penjara Filipi akhirnya bertobat tetapi tidaklah mudah bagi Paulus untuk kembali memberitakan Injil di Filipi. Berarti ada suatu perjuangan berat yang tidak mudah tetapi justru karena ada challenge of life yang harus dilalui maka bersandarkan  kekuatan Tuhan semua tantangan dapat dilalui oleh Paulus dan menghasilkan buah.

Demikian halnya dengan gerakan Reformed Injili yang dipelopori oleh Pdt. Stephen Tong, banyak tantangan dan tekanan yang harus dihadapi namun semua tantangan itu janganlah dilihat sebagai suatu kesulitan yang menghambat melainkan sebagai suatu tantangan. Paulus melihat kedatangannya di Tesalonika tidaklah sia-sia karena ia menyadari bahwa pelayanan di Tesalonika harus terus diperjuangkan. Janganlah melihat atau menilai kehidupan kita hanya dengan melihat realita tetapi hendaklah kita memandang kehidupan kita di tengah kehidupan kita sebagai suatu refleksi suatu sejarah dalam kehidupan pelayanan. Orang seringkali memisahkan antara kehidupan di gereja dalam pelayanan gerejawi dengan kehidupan di tengah dunia nyata. Banyak orang yang berpandangan bahwa gereja tidak lebih merupakan tempat penghiburan setelah orang merasa lelah dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi di tengah dunia. Orang mencoba memisahkan antara kehidupan iman dengan kehidupan dunia nyata. Namun Paulus tidaklah demikian, ia mengaitkan kedua hal tersebut; tantangan hidup yang harus dihadapi dan kehidupan pelayanan di gereja bukanlah dua hal yang terpisah. Tantangan itu justru menjadi kekuatan bagi orang-orang Tesalonika ketika mereka mau bersaksi dan mereka belajar dari teladan yang diberikan oleh Rasul Paulus. Paulus ingin agar jemaat Tesalonika menjadi penurut-penurut Paulus di dalam konteks bahwa mereka tidak dikalahkan oleh tantangan hidup.

2. Content of Life (1Tes. 2:3-4)

Paulus sebelumnya adalah seorang penganiaya jemaat Tuhan namun mata hatinya menjadi terbuka ketika Tuhan datang dan menegurnya. Saulus pun akhirnya dimenangkan bagi Tuhan. Pertemuan yang luar biasa antara Saulus dengan Tuhan ini tidaklah berarti kalau Tuhan tidak mempercayakan jabatan penting, yakni sebagai Rasul bagi orang-orang kafir. Paulus diselamatkan, dipilih oleh Tuhan dan Tuhan mempercayakan suatu Injil yang bernilai padanya. Seperti seorang prajurit yang dipilih dari beribu-ribu yang ada, ia dipercaya membawa surat yang berharga pastilah kita akan menjaganya sebaik mungkin bahkan dia rela berkorban nyawa demi tugas penting yang telah dipercayakan padanya. Ketika Paulus datang ke Tesalonika, ia menegaskan bahwa „nasihat kami tidak datang dari kesesatan seperti yang dikatakan oleh orang-orang.“ Banyak orang yang mengajarkan hal-hal yang menyesatkan dengan motivasi dan tujuan pribadi. Paulus dan Silas ditangkap dan dihadapkan pada pemerintahan setempat ketika berada di Filipi. Apa yang orang-orang itu lakukan terhadap Paulus seolah-olah benar karena adanya ancaman terhadap tradisi Romawi namun mereka memiliki tujuan yang lain (Kis. 16:19). Paulus menyadari bahwa sebagai seorang Rasul bagi orang-orang Kafir ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan yang harus dibawa seumur hidup dan Injil yang dipercayakan Tuhan tersebut bukan datang dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya (1Tes. 2:3-4). Ketika kita memiliki kesadaran seperti Paulus  maka kita akan melihat kehidupan kita dengan lebih baik. Pernahkah kita berpikir bahwa kita hanya hidup sementara di dunia dan segala sesuatu yang ada pada kita sekarang hanyalah titipan belaka? Dan pernahkah kita berpikir bahwa Allah menitipkan Injil pada kita yang harus kita bawa untuk menjadi bahan kesaksian hidup kita bagi Tuhan? Biarlah sebagai anak Tuhan yang minoritas di tengah bangsa ini, kita dipakai menjadi saksi-Nya seperti halnya Paulus yang memberikan dampak besar bagi orang-orang di Tesalonika. Biarlah kita mengevaluasi diri seberapa dalamkah content of life yang kita miliki dan sudahkah kita menjadi saksi bagi-Nya?

3. Integrity of Life (1Tes. 2:5-6)

Paulus memiliki integritas hidup yang sangat indah, meskipun ia seorang Yahudi asli dan warga negara Rum tetapi ia tidak menyombongkan diri atau bermulut manis, tidak mempunyai maksud loba yang tersembunyi (1Tes. 2:5). Paulus tidak melakukan hal-hal untuk menyukakan hati manusia. Tidak! Ia hanya melakukan hal yang menyenangkan hati Tuhan saja. Ada suatu kelurusan dan ketegasan hati, apa yang ada di dalam hati itulah yang keluar dari mulutnya. Hidup Paulus telah menjadi teladan bagi jemaat Tesalonika (2Tim. 4:6). Paulus menyadari akan adanya suatu content of life yang dipercaya oleh Tuhan padanya sehingga ia menjaga integritas hidupnya di hadapan Tuhan. Kalau kita membaca kisah Paulus di Kisah Rasul pasalnya yang ke-9, maka kejadian  itu menjadi turning point kehidupan Saulus menjadi Paulus yang berintegritas Paulus ingin supaya orang-orang di Tesalonika tidak terpesona dengan puji-pujian yang datang dari manusia tetapi Paulus ingin supaya mereka mengarahkan hidup mereka hanya pada Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan semata. Integritas inilah yang ingin dididik Paulus di tengah-tengah jemaat di Tesalonika.

4. Compassion of Life (1Tes. 2:7-8)

Di tengah-tengah segala tantangan dan kesulitan yang dihadapi Paulus maka kasih Allah yang telah ia terima itulah yang membakar hatinya sehingga ia rela mengasihi orang-orang di Tesalonika. Hal ini nampak dari surat Paulus pada jemaat Tesalonika dimana ia mengilustrasikan dirinya seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Seorang ibu telah menderita terlebih dahulu sebelum ia tahu akan menjadi seperti apakah anak yang dilahirkannya tersebut. Ia harus menjaga dan merawat anak yang dikandungnya selama 9 bulan bahkan ada seorang ibu yang rela meninggalkan seluruh pekerjaannya demi kepentingan si jabang bayi, ia tidak akan makan atau minum dengan sembrono. Inilah suatu pengorbanan dan kemuliaan dari seorang ibu. Bahkan kita juga mendengar ada suatu ungkapan yang meninggikan seorang ibu, yakni: “sorga di bawah telapak kaki ibu.“ 

Mother Theresa telah memberikan teladan hidup yang indah bagi kita. Seorang yang mendapat berkat dari pelayanan Mother Theresa ini mengungkapkan bahwa „sesungguhnya, dengan segala kenikmatan hidup yang didapatkan di Eropa, ia dapat menikmati semuanya itu tetapi ia rela meninggalkan semuanya dan melayani orang-orang kusta, orang-orang yang dikutuk di Calcutta. Ketika orang lain tidak mempedulikan dan memandang rendah, ia datang dan memeluk kami“. Kasih yang tulus yang ditunjukkan Pdt. Amin Tjung semasa hidupnya telah menjadi kesaksian yang indah bagi banyak orang.

Paulus harus mengalami segala penderitaan, dihina, dan ancaman aniaya tetapi ia harus tetap mau pada jemaat Tesalonika. Hal inilah yang Paulus inginkan pada jemaat Tesalonika supaya mereka menjadi orang-orang yang memberitakan Firman Tuhan (1Tes. 1:9). Paulus memiliki compassion of life karena ia tahu, siapa yang sedang ia layani, yakni Kristus Tuhan. Paulus bukan saja rela membagi Injil Allah tetapi ia juga rela membagi hidupnya pada mereka. Hari ini banyak orang yang pandai mengajarkan sesuatu tetapi tidak mau membagi hidupnya dengan orang yang dilayani.

5. Model of Life (1Tes. 2:9-11)

Perhatikan di ayat 10, Paulus menyatakan bahwa ia adalah seorang yang saleh, adil dan tak bercacat namun di bagian yang lain, Paulus menyatakan bahwa diantara orang berdosa, akulah orang yang paling berdosa. Yang menjadi pertanyaan adalah sepertinya Paulus tidak konsisten dan bertolak belakang. Sepintas kalau kita membaca kalimat Paulus dalam ayat 10 ini sepertinya kalimat ini menunjukkan kesombongan. Ketika kita membaca tafsiran maka perkataan Paulus ini merupakan penegasan sekaligus dorongan bagi jemaat di Tesalonika. Paulus ingin ia menjadi model atau teladan bagi jemaat Tesalonika akan betapa salehnya, adil dan tidak bercacat, ia juga bekerja keras, siang dan malam bahkan menghadapi tantangan agar orang-orang di Tesalonika meneladani dirinya dan mereka juga menjadi model bagi orang lain. Seperti halnya seorang model kecantikan maka ia akan menjaga penampilannya sedemikian rupa tetapi semua itu tidak lebih hanya penampilan luar belaka. Berbeda halnya dengan Paulus, ia telah menjadi model di seumur hidupnya melalui teladan hidup yang ia nyatakan kepada setiap kita (2Tim. 4:6).

Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita menjadi model atau teladan bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kalimat yang sama seperti yang diungkapkan Paulus bahwa kedatanganku tidak sia-sia berani kita ungkapkan? Semua itu tergantung dari nilai hidup, bagaimana kita memenangkan challenge of life, bagaimana kita mengisi content of life, menjaga integrity of life, menunjukkan compassion of life dan akhirnya kita bisa menjadi model of life bagi orang-orang di sekitar kita. Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)