Ringkasan Khotbah : 26 Agustus 2007

Eksposisi Markus 14:3-9

Nats: Mrk. 14:3-9

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Perenungan kita hari ini diambil dari Injil Markus 14:3-9. Nas ini dibagi menjadi tiga bagian: (1) seorang perempuan datang kepada Yesus, mengurapi-Nya dengan minyak narwastu yang sangat mahal harganya (ay. 3), (2) respon orang-orang yang berada di sekitar tempat itu (ay. 4-5), (3) respon dan penilaian dari Tuhan Yesus (ay. 6-9).  

Markus 14:3

Kisah Tuhan Yesus diurapi oleh seorang perempuan dicatat oleh keempat Injil. Lukas 7:36-50 mencatat pengurapan Yesus ini terjadi di Galilea, di rumah seorang Farisi yang ber­nama Simon, dan ini terjadi di awal pelayanan Yesus. Sedangkan ketiga Injil lain: Matius, Markus dan Yohanes mencatat peristiwa pengurapan yang terjadi di Betania, wilayah Yu­dea, pada masa akhir pelayanan Yesus, dan terjadi di rumah Simon, seorang yang telah disembuhkan dari sakit kusta. Simon adalah nama yang sangat umum di kalangan orang Yahudi, dan ini merupakan dua orang yang berbeda.

Lukas mencatat yang mengurapi Yesus adalah perempuan berdosa. Sedangkan Markus menyebutkan yang mengurapi Yesus adalah seorang perempuan tanpa indikasi bahwa perempuan tersebut bersifat imoral, namun Yohanes memberi tahu kita bahwa perem­puan itu bernama Maria, saudara Marta dan Lazarus.

Markus mencatat perempuan itu datang dengan membawa minyak narwastu murni yang mahal harganya dan orang-orang berkomentar tentang minyak yang mahal itu, sedang­kan Lukas mencatat, orang berkomentar tentang si perempuan yang dianggap najis, dan tidak ada singgungan tentang minyak wangi itu. Jadi kemungkinan besar ini adalah dua macam minyak yang berbeda. Para ahli tidak memastikan arti sebenarnya dari kata Yunani pistikēs ini, yang diterjemahkan “murni“ (Ing., pistic) ini, tetapi jelas menunjukkan bahwa ini bukan minyak biasa, tetapi sesuatu yang sangat berkualitas. Disebutkan harga minyak itu 300 dinar, yaitu upah setahun buruh harian.

Markus menyebutkan perempuan itu mencurahkan seluruh minyak narwastu tersebut di kepala Tuhan Yesus. Sedangkan Yohanes mencatat perempuan itu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Tetapi Yesus mengatakan, „Tubuh-Ku telah dimi­nyakinya.“ Berarti seluruh minyak narwastu itu dipakai untuk mengurapi seluruh tubuh Yesus dari kepala hingga kaki.

Jadi masing-masing Injil memberikan laporan yang saling melengkapi, tetapi dengan pe­nekanan yang berbeda. Injil Markus memfokuskan pada pengurapan kepala Yesus oleh perempuan itu yang melambangkan pengakuannya atas kemesiasan. Injil Yohanes memfokuskan pada meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya yang menunjukkan sikap rendah hati dan pengakuan akan kemuliaan Yesus.

Tindakan yang dilakukan perempuan ini sangat luar biasa. ia mempersembahkan seluruh minyak narwastu murni yang mahal itu kepada Yesus dalam suatu sikap yang sangat tidak lazim. Hal ini menyatakan cinta kasih dan penghormatannya kepada Tuhan Yesus yang sangat besar. Perempuan ini berani menyatakan iman dan kasihnya dengan pengorbanan materi dan perasaan.

Markus 14:4-5

Markus menyebutkan “beberapa orang“ menjadi gusar karena menganggap perbuatan perem­puan ini sebagai pemborosan. Berdasarkan konteks, kemungkinan besar itu ada­lah mu­rid-murid. Matius 26:8-9 menyebut yang gusar itu adalah murid-murid Yesus. Namun Yohanes 12:4-5, tidak menyebutkan ketidaksukaan murid-murid, tetapi menuding lang­sung pada Yudas. Karena itu, kita menyimpulkan bahwa kegusaran pertama kali timbul dari Yudas, baru kemudian menjalar kepada murid-murid lain. Yudas, merasa gusar, karena hilang sudah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan jika minyak narwastu itu dijual dan dibagikan kepada orang miskin. Lalu oleh pengaruh Yudas, murid-murid lain pun turut terpengaruh dan berpikir negatif tentang tindakan perempuan itu. Mereka gusar mungkin dengan alasan yang berbeda dengan Yudas, mereka benar-benar berpikir bahwa sebaiknya minyak narwastu murni itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang mis­kin, suatu perbuatan yang biasa dilakukan pada hari Paskah. Tetapi Yesus mempunyai penda­pat yang lain, dan justru memuji perbuatan perempuan itu. Pujian Tuhan Yesus atas perbuatan perempuan ini bukan sekadar pujian biasa tetapi dikatakan perbuatannya itu akan terus diingat.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa para murid tidak dapat melihat apa yang perempuan ini lihat dalam diri Yesus? Dalam kasus ini, para murid perlu belajar sesuatu yang penting. Mereka gagal melihat nilai Kristus dan peristiwa besar yang akan terjadi pada-Nya. Pikiran mereka telah dikaburkan oleh ambisi mereka untuk menjadi siapa yang terbesar. Kepentingan pribadi telah menghalangi mereka memahami isi hati Tuhan dan untuk turut merasakan apa yang Ia rasakan. Asumsi yang salah dan pengharapan yang salah akan Mesias menghalangi orang untuk mengenal Yesus Kristus secara benar. Secara mata manusia, perbuatan perempuan yang mengurapi Kristus ini merupakan suatu pemborosan tetapi dilihat dari perspektif sejarah keselamatan, perbuatannya ini sangat bermakna.

Markus 14:6-9

Tuhan Yesus membela perempuan ini dari kegusaran murid-murid, dan mengatakan bahwa peremupuan itu telah melakukan perbuatan yang baik/indah (Yun., kalos ergon) kepada-Nya. Dia sangat menghargai Yesus dan menghormati Dia dengan pengorbanannya, antusiasnya dan kasihnya yang begitu indah. Sebaliknya, para murid tidak mengerti kalau sebentar lagi Tuhan Yesus akan mengalami penderitaan yang sangat berat, Dia harus menanggung cawan murka Allah. Tuhan Yesus yang tidak takut pada kematian sebab Dia telah membangkitkan orang mati, Dia tidak takut pada setan sebab Dia yang mengusir setan tapi sekarang, Dia sangat gentar ketika harus naik salib.

Perempuan ini memberikan yang terbaik untuk Tuhan Yesus, dia memberi dengan pengorbanan materi maupun perasaan. Para murid yang lain tidak mengerti pekerjaan Tuhan, momen di mana waktu Tuhan Yesus sudah dekat, pribadi Yesus dan salib Yesus – para murid itu justru sibuk memperebutkan kedudukan, Yudas akan menjual Yesus, Petrus menyangkal, dan para murid yang lain akan meninggalkan dia.

Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus perbuatan perempuan itu dapatlah dikatakan sebagai pemborosan dan dalam kondisi normal, Tuhan Yesus pun tidak menginginkan pengurapan secara demikian. Yang menjadi pertanyaan kenapa para murid gagal melihat suatu momentum yang berharga? Kedua belas murid Yesus ini dapat dikatakan sebagai murid terdekat Tuhan Yesus, mereka telah melewatkan suatu momen di mana mereka dapat melakukan perbuatan yang mulia yang akan terus diingat sepanjang masa. Perhatikan, bukan nama perempuan itu yang diingat tetapi perbuatannya. Karena itulah, Markus merasa tidak perlu menuliskan nama perempuan itu. Semua ini karena mereka gagal mengenal Yesus dengan baik; gagal memahami jalan yang harus dilalui, setidaknya dengan hati mereka.

Ini kegagalan para murid pada saat itu: (1) mereka tidak melihat nilai dalam diri Yesus berdasarkan pengenalan yang mendalam terhadap-Nya. Salah satu krisis terbesar yang dihadapi gereja masa kini adalah krisis pengenal­an akan Yesus Kristus. Banyak orang yang tidak mengenal Yesus meskipun mengaku mereka adalah orang Kristen. Pribadi Kristus sungguh merupakan suatu misteri, kita harus terus belajar dengan pengertian yang benar. Hati-hati dengan segala macam ajaran sesat yang mencoba menyelewengkan kebenaran sejati. Seorang yang cinta Tuhan dan beriman sejati pastilah tidak akan tinggal diam ketika mengetahui kebenaran sejati ditindas, ia akan berdiri tegak dan menahan kejahatan dan merubah dunia seperti yang dilakukan oleh para tokoh iman dalam Alkitab. Tuhan Yesus adalah Allah yang agung, Guru yang agung, Dia adalah segala-galanya, Dia sangat berharga di dunia ini, tidak cukup kata untuk mengungkapkan kebesaran-Nya. Namun sungguh ironis, orang justru menjual Kristus dan memanipulasi Dia. Bertobatlah dan kembali dalam kebenaran sejati. Biarlah hati kita selalu rindu akan Yesus untuk mau lebih mengenal Dia lagi; (2)  krisis dalam hati yang mengasihi. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan obyek kasih sebagai curahan kasih. Maka tidaklah heran kalau hari ini banyak orang yang mempunyai idola sebagai obyek kasih untuk dia bersembah sujud. Ketika kita mengasihi seseorang, pastilah kita akan memberikan yang terbaik untuk orang yang kita kasihi, bukan? Kita akan berkorban untuk orang yang kita kasihi dan betapa bahagia dan sukacita kalau orang yang kita kasihi tersebut mau menerima dan menghargai pemberian yang penuh dengan pengorbanan tersebut. Seperti halnya seorang ibu yang mengasihi anaknya maka ia akan melakukan yang terbaik untuk anaknya bahkan ia rela berkorban untuk anak tersebut. Demikian juga halnya dengan perempuan itu, ia sangat bersukacita karena Tuhan Yesus mau menerima segala pengorbanan yang ia kerjakan itu.

Janganlah kita gagal seperti yang dilakukan oleh para murid tetapi hendaklah kita meneladani Perempuan ini. Apa yang memungkinkan perempuan ini dapat melakukan hal yang benar ini. Yohanes memberi tahu kita bahwa perempuan ini adalah Maria, saudara Marta. Pernah dalam hidupnya, Maria telah memilih yang terbaik yaitu memberi tempat utama bagi firman Yesus dalam hatinya, dan bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus dengan benar. Kemungkinan besar, Maria tidak tahu perbuatannya itu memiliki signifikansi seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, yakni mempersiapkan penguburan-Nya. Namun dalam hal ini, Maria memiliki kasih dan doktrin yang benar, ia memiliki hati yang penuh kasih pada Allah dan pengenalan yang benar akan Yesus sehingga mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang indah ini untuk Yesus.

Seperti ini dikatakan oleh Blaise Pascal, hati memiliki rasio yang tidak dimengerti oleh rasio. Maria, melalui rasionya mengenal Yesus, bahwa Yesus berbeda, Dia sangat mulia, Dia adalah Mesias. Dan walaupun Maria tidak mengerti semua hal tentang Yesus, dan yang akan terjadi pada Yesus, tetapi kebenaran yang sudah diserapnya tentang Yesus selama ini, menjadi petunjuk dalam hatinya, ketika hatinya digerakkan untuk melakukan sesuatu yang istimewa untuk Sang Mesias. Pada momen seperti itu, Maria mampu melihat suatu kesempatan berharga, kairos dan ia menangkap momen itu.

Hati yang telah dididik oleh Firman kebenaran maka segala tindakan yang dilakukan adalah tindakan kebenaran dan semua yang dipikirkan hanyalah tentang kebenaran. Doktrin yang benar itu menjadi dasar atau dapat juga dikatakan sebagai pagar pengaman dengan demikian kita tidak menjadi sesat.

Pengenalan dan cinta kasih sangatlah signifikan karena menentukan kualitas hidup kita. Pujian Tuhan Yesus kepada Maria ini lebih tinggi dari pujian-Nya kepada janda miskin atau perwira Romawi sebab perbuatannya ini dikatakan akan diingat terus. Perhatikan, kisah pengurapan oleh perempuan ini secara sengaja dikontraskan dengan kisah Yudas bersekongkol untuk menjual Tuhan Yesus.

Manusia hidup dalam kesementaraan, tetapi telah diberikan sifat kekekalan, karena itu walaupun kita hidup dalam kesempatan, tetapi apapun yang kita lakukan itu mempunyai nilai yang kekal. Hidup ini hanya sementara. Dalam hidup kita ada kairos-kairos, janganlah kita lewatkan momen-momen berharga tersebut. Banyak tantangan yang harus kita hadapi di tengah-tengah kehidupan ini, tetapi janganlah tantangan berat ini menjadikan kita undur dan jatuh. Tidak! Janganlah kita menjadi rendah diri dan hanya bisa menyalahkan diri dan tidak mau bekerja untuk Tuhan. Tantangan seberat apapun kalau Tuhan yang pimpin, kita pasti dapat melewatinya dan melalui berbagai tantangan, Tuhan mendidik kita untuk kemudian dipakai menjadi berkat bagi dunia. Inilah saat yang tepat bagi kita menyatakan iman kita. Kita bisa begitu menghargai pengalaman rohani yang dialami oleh orang-orang hebat di dunia namun kenapa kita tidak dapat mengukir dalam sejarah  hidup yang akan kita lalui? Kita seringkali menghina diri kita sendiri padahal Tuhan sangat menghargai kita.

Biarlah kita mengenal Yesus dengan pengertian yang benar, kita melihat dunia ini, kita melihat sinar wajah-Nya yang mulia dan kita dikuatkan menghadapi segala tantangan di tengah dunia ini. Biarlah kita mengisi setiap momen dalam hidup kita dengan segala hal yang bernilai kekal dan kita akan merasakan sukacita sejati sebab Tuhan berkenan atas perbuatan kita. Tiada hal yang lebih indah di dunia ini ketika kita mendapat perkenanan hati Tuhan dan Tuhan memuji kita. Amin.  ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)