Ringkasan Khotbah : 29 Juli 2007

Perjamuan Kudus

Nats: Mrk. 14: 17-31

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Perjamuan kudus merupakan salah satu bagian yang diajarkan dalam doktrin gereja. Doktrin gereja ini sangat riil dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Tuhan yang hidup bergereja karena doktrin gereja ini berkenaan langsung dengan pemerintahan gereja, sakramen maupun sarana-sarana anugerah yang lain. Namun banyak orang yang memandang reme doktrin gereja karena orang merasa doktrin ini telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat yang bergereja. Maka tidaklah heran kalau orang Kristen sulit untuk bertumbuh dalam iman. Sadarkah kita, betapa dalam kebenaran Tuhan itu sehingga tidak cukup bagi kita hanya memahami sebagian kebenaran lalu kita menganggap kita sudah mengerti seluruh kebenaran. Tidak! Firman Tuhan menegaskan bahwa kamu akan mengerti kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Sangatlah mengenaskan, dengan alasan lebih mementingkan kuasa Tuhan, orang mengabaikan kebenaran. Perhatikan, sesungguhnya, kuasa Allah itu telah nyata dalam kehidupan setiap orang percaya, yakni kita dapat menyadari bahwa kita orang berdosa, bertobat dan diselamatkan; kita dapat merasakan kasih Allah. Inilah kuasa Allah yang sejati. Ironisnya, orang tidak pernah menyadari hal ini dan sampai hari ini masih terus mencari kuasa Tuhan – hidupnya menjadi terombang ambing.

Perjamuan kudus merupakan anugerah Tuhan pada kita lalu yang menjadi pertanyaan adalah pernahkan kita memahami apa arti perjamuan kudus? Mengapa kita harus menerima perjamuan kudus? Salah satu perdebatan yang terbesar khususnya pada jaman reformasi adalah tentang perjamuan kudus di antara para tokoh reformasi. Secara garis besar, ada beberapa doktrin yang berkenaan dengan perjamuan kudus, yakni:

1) transubstansiasi, dicetuskan oleh gereja Roma – ada perubahan atau transformasi, yakni roti bertransformasi menjadi tubuh Kristus secara harafiah demikian pula halnya dengan anggur bertransformasi menjadi darah Kristus. Kristus hadir secara fisik. Penekanan terletak pada: ”Inilah tubuh-Ku.”

2) consubtansiasi yang dicetuskan oleh Luther; roti dan anggur tetaplah roti dan anggur tetapi hadirat Kristus itu nyata, melingkupi roti dan anggur. Jadi ketika kita menikmati roti, kita juga menikmati tubuh Kristus demikian pula ketika kita menikmati anggur, kita menikmati anggur dan darah Kristus.

3) Zwingli melihat perjamuan kudus itu sebagai suatu tanda. Perjamuan kudus itu untuk mengenang kematian Kristus dan kasih Kristus melalui tubuh-Nya dipecah-pecahkan dan darah-Nya tercurah. Penekanannya terletak pada: ”...sebagai peringatan akan Aku.”

4) Calvin menyatakan roti itu tetaplah roti dan anggur itu tetaplah anggur tetapi perjamuan kudus itu bukan semata-mata hanya mengenang Kristus. Tidak! Perjamuan kudus merupakan sarana anugerah dimana Kristus hadir secara rohani di dalam karya Roh Kudus sehingga dengan pengertian kebenaran dan iman maka Roh Kudus bekerja sedemikian rupa membawa kita lebih dekat pada Kristus dan masuk dalam hadirat Kristus bahkan lebih dekat ketika kita mendengar kebenaran Firman Tuhan.

Sepintas, orang sulit membedakan manakah yang benar dan bagaimana mengkompromikan kedua-duanya. Calvin melihat bahwa roti dan anggur secara harafiah adalah roti dan anggur namun janganlah kita mensakralkan roti dan anggur itu sendiri. Bukan roti maupun anggur itu yang memberikan mujizat. Tidak! Tuhan Yesus mengatakan, ”Inilah tubuh-Ku...” maka secara rohani, Ia hadir dalam karya Roh Kudus sehingga ketika kita menerima roti dan anggir dengan iman dan pengertian yang benar maka Roh Kudus akan bekerja sedemikan rupa membuat kita memahami kebenaran dan kebenarn itu tertanam dalam hidup kita. Theologi Reformed melihat sakramen itu sebagai sarana anugerah. Mengapa sakramen itu menjadi sarana anugerah? Apakah kebenaran Firman Tuhan saja itu tidak cukup bagi kita? Bukankah yang diajarkan dalam sakramen juga telah diajarkan dalam Firman Tuhan? Perjamuan kudus harus didampingi oleh firman tetapi firman dapat diberitakan setiap saat tanpa harus didampingi oleh perjamuan kudus. Lalu kenapa kita harus mengadakan sakramen perjamuan kudus? Untuk apa kita mengadakan perjamuan kudus? Calvin memberikan jawaban yang sangat berhikmat, yakni pada hakekatnya, Tuhan tidak mau memakai benda-benda yang bersifat fisik untuk menyatakan keberadaan diri-Nya – Tuhan tidak ingin manusia jatuh dalam penyembahan berhala seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel pada Perjanjian Lama. Allah adalah Roh, Dia ingin manusia datang dalam roh dan kebenaran. Kalau begitu, kenapa Tuhan memerintahkan pada kita untuk melakukan sakramen perjamuan kudus dimana di dalamnya sangat menekankan aspek fisik, yakni roti dan anggur? Jawabannya adalah karena kelemahan manusia sehingga firman saja tidak cukup bagi manusia.

Apakah perbedaan antara kebenaran yang disampaikan melalui firman dengan kebenaran melalui perjamuan kudus? Ketika kita menerima kebenaran firman, diantara lima panca indera kita, indera manakah yang bekerja? Pastilah indera pendengaran kita yang lebih dominan, bukan? Namun perhatikan, pada saat perjamuan kudus itu dijalankan maka bukan hanya indera pendengaran kita yang bekerja tetapi semua indera yang lain turut bekerja. Dengan mata, kita melihat roti yang melambangkan tubuh Kristus, anggur yang melambangkan darah Kristus yang tercurah. Dengan telinga, kita mendengar firman yang menyertai perjamuan kudus. Dengan mulut, kita mengecap tubuh yang terpecah dan darah yang tercurah dan tangan kita memegang roti dan anggur yang menjadi lambang dari darah yang tercurah. Dengan hidung, kita menghirup aroma dari roti dan anggur. Inilah keunikan dari sakramen perjamuan kudus dimana semua panca indera kita terlibat di dalamnya untuk menyatakan akan kebenaran Allah yang dinyatakan kepada setiap kita. Tuhan melihat bahwa manusia itu terlalu lemah sehingga tidak cukup kalau kita hanya mendengar dan melihat kebenaran saja tetapi Tuhan mau menyatakan kebenaran-Nya melalui seluruh panca indera kita.

Sama seperti halnya kita mendengarkan firman dimana Roh Kudus bekerja menanamkan kebenaran itu dalam hati demikian pula halnya dalam perjamuan kudus, Roh Kudus juga menyatakan kebenaran-Nya secara berlimpah. Orang yang hanya melihat perjamuan kudus sebagai rutinitas berarti ia telah melewatkan anugerah karena ia menghambat pekerjaan Roh Kudus. Perhatikan, perjamuan kudus itu bukan sekedar rutinitas belaka. Tidak! Luis Berkhoff dalam bukunya Sytematic Theology menegaskan bahwa Roh Kudus itu juga turut bekerja dalam perjamuan kudus, yakni menanamkan kebenaran dalam hati kita. Sungguh besar anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita, Dia tahu kelemahan kita, Dia tahu kalau firman itu saja tidaklah cukup bagi kita sehingga Dia berikan sakramen perjamuan kudus yang melibatkan seluruh panca indera kita. Memang, roti dan anggur itu tidak berubah tetapi ketika memahami kebenaran secara benar dan ketika kita menerimanya dengan iman maka disana Roh Kudus bekerja sama seperti Ia memakai firman untuk menyatakan kebenaran.

Injil Markus mengungkapkan beberapa aspek yang berkaitan dengan perjamuan kudus. Markus memakai salah satu metode yang disebut sebagai metode sandwich, yakni inti dari kebenaran terletak di bagian tengah dimana bagian atas dan bagian bawah mengajarkan hal yang kurang lebih sama. Markus meletakkan hal tentang perjamuan kudus ini pada bagian tengah dimana pada bagian atas diawali dan diakhiri dengan kisah pengkhianatan, penyangkalan dari para murid. Sepintas, kita melihat Markus tidak tepat meletakkan hal tentang perjamuan kudus, hal yang mulia di tempat yang tidak layak. Seumpama benda mahal yang indah tetapi berada di toilet. Namun justru melalui kisah ini, Markus ingin membukakan pada setiap kita bahwa perjamuan kudus itu diberikan pada orang-orang yang tidak layak seperti kita. Kebenaran inilah yang dibukakan oleh Markus dan harusnya hal ini menyadarkan kita betapa besar anugerah Tuhan yang dilimpahkan pada orang berdosa seperti kita. Hendaklah kita mengevaluasi diri, bagaimana sikap kita ketika kita menerima dan berbagian dalam perjamuan kudus? 

Markus kembali menekankan kontras antara perjamuan kudus dengan orang yang menerima perjamuan kudus. Perhatikan, ada satu kata yang diulang oleh Markus, yakni kata “semua“ (Mrk. 14:23, 27, 29, 31, 50). Setelah semua murid itu menerima perjamuan kudus, semua telah diperingati oleh Tuhan Yesus bahkan Petrus dengan lantang berani menyatakan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Tuhan Yesus meski semua menyangkal namun ironis, mereka semua mengkhianati, semua menyangkal, semua lari dan pergi meninggalkan Dia. Dalam injil Markus juga dituliskan tentang seorang anak muda yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang ketika orang hendak menangkapnya (Mrk. 14:51-52). Kisah ini tidak ditulis di Injil yang lain dan kemungkinan besar anak muda pengecut yang dikisahkan dalam kisah ini adalah Markus itu sendiri. Markus ingin supaya kita melihat bagian yang menjadi kontrasnya – ia adalah seorang pengecut, ia seharusnya tidak layak itu menerima perjamuan kudus namun kepada orang tidak layak ini, Tuhan masih berkenan memberikan anugerah-Nya.

Mungkin kita berpikir bahwa kita sudah tahu bahwa kita adalah orang berdosa, bukankah  setiap khotbah selalu mengingatkan kita akan dosa? Dan celakanya, kita terlalu sering mendengar kata “dosa“ akibatnya “dosa“ tidak lebih hanya kata-kata klise. Di satu pihak, kita mengaku kita adalah orang berdosa namun di lain pihak, kita tidak berlaku layaknya seperti orang berdosa. Kita mungkin merasa marah dan jengkel ketika melihat orang berdosa yang hidupnya nyaman; kita ingin supaya Allah langsung menghukum mereka. Dapatlah dibayangkan, bagaimana hidup manusia berdosa kalau Allah langsung menghukum setiap perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. Semua manusia termasuk kita akan langsung binasa. Namun Allah yang kasih itu memberikan anugerah pengampunan dan kita pun adalah salah seorang berdosa yang menerima anugerah itu. Celakanya, kita merasa diri bukan orang berdosa karena kita tidak melakukan perbuatan dosa yang “besar.“ Kebenaran firman itu seringkali kita dengar tetapi pada saat yang sama, kebenaran itu hanya kita dengar tanpa kita pernah menghidupinya dan Tuhan tahu, kelemahan kita tersebut, tidak cukup hanya kita mendengar saja sehingga Dia memberikan sakramen perjamuan kudus.

Ketika perjamuan kudus itu dilakukan, kita memegang roti, kita memegang bukti keberdosaan kita, kita melihat dan juga mengecap betapa kita adalah orang yang berdosa. Pada waktu kita menerima perjamuan kudus dengan pengertian yang benar dan dengan iman maka disana barulah kita memahami bahwa perjamuan kudus bukan sekedar kenang-kenangan. Roh Kudus memakai perjamuan kudus dimana seluruh panca indera kita turut bekerja untuk menolong kita semakin mengerti siapakah kita? Pada saat kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa, kita semakin disadarkan betapa indah dan mulianya kasih yang Tuhan berikan pada setiap kita orang yang berdosa.

Hanya iman Kristen satu-satunya yang menyatakan bahwa kita diselamatkan hanya oleh anugerah. Hal ini membuktikan bahwa manusia itu bedosa sehingga mustahil manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Puji Tuhan, Tuhan Yesus memberikan jaminan kepastian keselamatan sehingga kita yang tadinya tidak berpengharapan, kini kita beroleh pengharapan di dalam Dia – Firman itu tidak pernah berubah‚ Dia adalah kebenaran sejati. Karya Kristus di kayu salib itulah yang telah menyelamatkan kita sehingga dua hal yang sepertinya tidak terjembatani kini sudah terjembatani dan manusia pun diselamatkan.

Perjamuan kudus merupakan suatu anugerah yang besar diberikan pada setiap kita orang berdosa yang tidak layak menerimanya. Perjamuan Kudus menjadi tempat yang mulia karena Kristus hadir di sana melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. “Inilah tubuh-Ku...makanlah, inilah darah-Ku...minumlah“ – Hendaklah kita mengevaluasi diri kita bagaimana sikap kita ketika kita mengambil bagian dalam perjamuan kudus? ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)