|
Ringkasan Khotbah : 22 Juli 2007
Nats: 1 Tim. 1:12-17 Pengkhotbah : Ev. Sanny Erlando |
Ucapan syukur pastilah tidak asing khususnya dalam Kekristenan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apa yang kita syukuri? Ucapan syukur yang diucapkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius bukanlah sekedar salam atau ucapan syukur biasa mengingat Paulus adalah seorang yang jujur dan tulus hati dalam mengerjakan segala sesuatu bagi Tuhan dan dapatlah dikatakan juga ketika ia menganiaya jemaat Tuhan, ia pun melakukannya dengan tulus hati di hadapan “allah.“ Paulus yang seorang mantan penghujat ini orang yang tidak suka basa basi, ia tidak suka segala hal yang sifatnya klise atau superfisial yang hanya sedap didengar belaka. Tidak! Ucapan syukur Paulus untuk Timotius ini dapatlah dikatakan sebagai sebuah introduksi.
Surat Timotius pada pasalnya yang pertama ayat 12 tertulis: “Aku bersyukur kepada Dia...“ terjemahan yang tepat seharusnya kharin (bahasa Yunani) yang berarti anugerah Tuhan – anugerah disini memakai bentuk singular. Secara gramatika, pengertian anugerah ini menjadi satu-satunya anugerah yang diterima. Namun pengertian anugerah yang dimaksud oleh Paulus disini bukanlah pengertian secara gramatika tetapi pengertian anugerah disini adalah anugerah yang utuh dan sempurna – anugerah yang tidak perlu ditambah lagi. Ketika Paulus meminta pada Tuhan untuk mencabut duri yang ada pada dirinya maka Tuhan mengatakan hal itu tidak perlu sebab anugerah Tuhan sudah cukup; Paulus harus hidup dalamnya dengan duri yang menancap dalam dirinya.
Apa yang dialami oleh Pdt. Amin Tjung seharusnya menjadi teladan bagi kita, ditengah segala kesakitan yang ia alami karena kanker tetapi sedikitpun ia tidak pernah mengeluh. Sakit kanker itu tidak pernah mengendorkan semangat pelayanannya; seluruh hidupnya sepenuhnya dipersembahkan bagi Tuhan. Tuhanlah yang memampukan, Dia telah memberikan kekuatan kepada setiap anak-anak-Nya sehingga orang dapat bertahan dalam penderitaan dan tetap bersemangat dalam pelayanan dan mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ada tiga karakteristik orang mengucap syukur, yakni: 1) Orang yang bersyukur dan ia tahu apa yang ia syukuri. Paulus termasuk dalam golongan yang pertama, Paulus tahu apa yang ia syukuri; 2) Orang yang bersyukur tapi ia tidak tahu apa yang ia syukuri. Ketidaktahuan disini bukanlah secara kognitif tetapi sambil mengucap syukur, orang tidak tahu untuk apa ucapan syukur tersebut dan hal ini lazim dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen; 3) Orang yang bersyukur tetapi sesungguhnya, ia tidak boleh bersyukur untuk apa yang ia syukuri tersebut. Sebagai contoh, seorang usahawan mengaku dirinya Kristen tetapi memakai cara-cara duniawi untuk bisnis dan ia mengucap syukur untuk hal ini.
Paulus tahu, anugerah Tuhan yang utuh dan sempurna itu sudah cukup baginya. Ucapan syukur Paulus (1 Tim. 1:12) memiliki:
1. Ucapan syukur sejati
Ucapan syukur itu keluar dari hati yang tulus (sincere) dan jujur di hadapan Tuhan. Paulus mengucap syukur karena ia dianggap setia. Memang, sepertinya hal itu sangat sederhana namun pernahkah kita mengucap syukur sekali untuk sesuatu hal yang kita anggap sederhana? Orang seringkali tidak peduli dan menganggap remeh hal yang sederhana karena orang berpikir bahwa dirinya telah diselamatkan maka ada atau tidak ucapan syukur itu tidak akan berpengaruh dalam hidupnya, jadi, ada atau tidak ucapan syukur itu tidak menjadi masalah. Paulus menyatakan ia mengucap syukur karena Tuhan talah menganggapku setia. Ucapan Paulus ini bukanlah sekedar ucapan syukur biasa tetapi merupakan suatu pengakuan bahwa dirinya bukanlah orang yang setia. Paulus menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang setia tetapi Allah melihat dan menganggapnya setia dan Ia berkenan atas dirinya sehingga Allah mempercayakan pelayanan ini padanya. Anugerah ini tidak berhenti sampai disini saja. Sebagai contoh, ketika orang memberikan segelas air maka fungsi dan wujud dari segelas air itu tetaplah sama, yakni segelas air. Segelas air itu tidak berubah sedikitpun; segelas air hanya berpindah tangan.
Paulus menyadari bahwa anugerah yang ia terima bukanlah anugerah yang mati tetapi anugerah yang hidup dan bersifat dinamis. Sadarkah kita kalau segala sesuatu yang ada pada kita itu merupakan anugerah dari Tuhan? Ironisnya, orang berpikir bahwa semua yang ada padanya itu sebagai hak milik pribadi. Tidak! Semua talenta dan semua materi yang ada pada kita itu merupakan anugerah-Nya. Jadi, janganlah seorang pun membanggakan diri.
2. Anugerah Tuhan utuh dan bersifat dinamis
Dapatlah dikatakan bahwa Paulus adalah seorang yang paling hebat diantara para rasul yang lain. Namun Paulus tidak membanggakan diri dan ia tidak pernah membanggakan dirinya ketika ia memberikan kesaksian tentang dirinya maka kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah anugerah, kharin. Jarang sekali kita mendengar atau melihat kesaksian seperti ini dimana orang sadar bahwa semua adalah anugerah. Hari ini kita banyak menjumpai kesaksian yang sebaliknya, sepertinya ia mengucap syukur padahal di balik perkataannya tersimpan suatu kesombongan, ia mau mengatakan bahwa kalau ia mendapatkan anugerah itu karena dirinya lebih baik dibandingkan orang lain. Sesungguhnya, kalau Paulus mau meninggikan diri, ia layak dan itu sah sebab ia mempunyai kapasitas untuk itu. Namun Paulus berbeda, ia justru melihat dirinya sebagai orang yang tidak layak dan tidak setia akan tetapi Tuhan telah memberikan anugerah itu dan menganggapnya sebagai orang yang setia karena itu, Tuhan memberikan suatu kepercayaan untuk melanjutkan pelayanan bagi Tuhan. Paulus sangat menyadari anugerah ini sehingga ia melakukan semua pekerjaan Tuhan itu dengan segenap hati. Bagaimana dengan diri kita? Setiap kita dipercaya untuk melayani Tuhan dimanapun kita berada, sudahkah kita melayani Tuhan dengan suatu kesadaran bahwa anugerah Tuhan itu terlalu besar untuk kita sia-siakan. Ataukah sebaliknya kita justru mencoba segala hal untuk melakukan pembenaran diri dengan mengatakan bahwa pelayanan toh tidak harus di gereja? Dengan kata lain, sesungguhnya kita mau lepas dari tanggung jawab.
Paulus diberikan anugerah, ia dipercaya untuk melayani Tuhan maka respon pertamanya adalah bersyukur dan ia tidak sia-siakan anugerah Tuhan yang besar itu. Seringkali di dalam pelayanan kita merasa diri sebagai orang “lumayan“ karena diantara sekian banyak orang kitalah yang dipilih melayani dalam gereja. Ingatlah, saat pemikiran itu muncul berarti kita telah menganggap apa yang ada pada kita itu sebagai milik kita. Kita telah merebut kepemilikan Tuhan atas diri kita; kita tidak mengakui bahwa diri kita ini adalah milik Tuhan. Perhatikan, semua kemampuan dan kapasitas yang ada pada diri kita itu asalnya dari Tuhan – Tuhanlah yang memberikan anugerah-Nya pada kita. Karena itu, janganlah seorang pun memegahkan atau menyombongkan diri.
Sempat terlintas dalam pemikiran saya (pengkhotbah) bahwa Tuhan memakai orang-orang yang jahat untuk dipakai menjadi alat yang luar biasa di tangan-Nya. Saulus adalah seorang penganiaya jemaat Tuhan sebelum ia dipakai Tuhan menjadi alat-Nya. Demikian juga halnya dengan Pdt. Stephen Tong, sebelumnya ia adalah seorang yang melawan Tuhan dengan segala pemikiran filsafat duniawi yang mencengkeram pikirannya namun ketika Tuhan tangkap dia, kini ia menjadi seorang yang dipakai Tuhan dengan sangat luar biasa. Namun bukan berarti kita harus menjadi seorang yang jahat atau pelawan Tuhan supaya kita dipakai Tuhan. Tidak! Kita tidak mengerti cara Tuhan dan terkadang, kita melihat Tuhan itu sepertinya mempunyai sense of humor – Tuhan sengaja membiarkan orang-orang jahat itu berlaku semena-mena sebelum Tuhan tangkap dia untuk dijadikan alat di tangan-Nya.
Dalam hal ini kita melihat, ketika Tuhan menganggap Paulus setia maka Paulus mengerjakan pelayanan yang Tuhan percayakan tersebut dengan semangat dan berapi-api namun perhatikan, hal itu tidak berhenti sampai disitu tetapi Tuhan memberikan kekuatan padanya. Anugerah yang disyukuri oleh Paulus ini merupakan anugerah yang utuh, genap dan sempurna. Kematian Kristus merupakan anugerah terbesar dan kematian-Nya itu untuk melunasi semua dosa manusia dan harganya telah lunas terbayar. Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri, Ia memberikan kekuatan untuk menggenapkan sampai waktu Tuhan memanggil kita kembali. Puji Tuhan, kita memiliki Allah yang sempurna dan utuh, setiap anugerah yang diberikan itupun tidak setengah-tengah, Dia memimpin sampai pada akhir jaman.
3. Tuhan adalah sumber kekuatan
Anugerah Tuhan adalah anugerah yang dinamis, Ia menganggap Paulus setia dan mempercayakan pelayanan kepadanya. Anugerah Tuhan telah teruji yaitu Tuhan memberikan kekuatan untuk menunaikan akan segala tugas yang dipercayakan padanya. Namun tidak hanya sampai disitu, Paulus juga mengajak kita untuk melihat siapa dirinya. Paulus tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang hebat, malah sebaliknya, dia menyatakan bahwa dia adalah seorang penghujat, seorang penganiaya dan seorang ganas. Paulus hendak mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang pelawan Tuhan. Semua yang ia anggap baik dahulu itu dikerjakan di luar iman. Paulus adalah adalah seorang yang saleh tetapi dengan terbuka, ia mengakui bahwa semua yang ia dilakukan itu di luar iman dan pengetahuan. Lalu apa yang dimaksud dengan ganas? Mengapa Paulus menganggap dirinya ganas? Bukankah Paulus baik terhadap dirinya? Bukankah Paulus membawa dirinya berkenan kepada Allah? Bukankah Paulus seorang yang beribadah? Bagaimana mungkin ia mengatakan dirinya sebagai seorang yang ganas?
Alkitab membukakan, ketika kita melakukan sesuatu pada siapapun, pada Allah atau pada sesama, maka kita sedang melakukan pada diri sendiri. Sebagai contoh, ketika kita tidak suka pada seseorang A, misalnya maka kita sengaja ingin menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan yang secara langsung atau tidak langsung akan tetapi ketika ada saudara seiman yang menegur perbuatan kita, maka langsung kita memberikan berbagai alasan untuk pembenaran diri. Kita tidak menyadari kalau sesungguhnya, pembenaran yang ia kemukakan itu justru menjadi melawan Allah. Bukankah Tuhan Yesus pernah mengatakan apa yang engkau lakukan terhadap seorang yang paling hina maka sebenarnya engkau telah melakukan untuk-Ku. Dalam pengertian yang sama maka ketika kita melakukan hal yang tidak baik pada sesama kita, kita juga melakukannya kepada Allah, sesama kita, dan diri kita sendiri.
Yang dimaksud ganas disini adalah ia telah menyia-nyiakan hidup, waktu, tenaga dan seluruh talenta yang Tuhan karuniakan untuk melakukan kejahatan. Paulus sangat menyadari bahwa dia adalah seorang penghujat, seorang penganiaya dan seorang ganas maka ia adalah orang yang paling berdosa diantara semua orang berdosa. Ada dua macam respon berkaitan dengan karakter ganas yang Paulus ungkapkan, yakni: 1) Paulus kembali mengingat masa lalunya yang seolah-olah tidak dapat dilepaskan dari dirinya; 2) Paulus dipandang sebagai orang yang berbasa-basi sebab semua orang tahu kalau Paulus adalah seorang yang saleh dan bahkan berjerih lelah dan rela menderita dalam melayani Tuhan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ia mengaku diri sebagai orang berdosa? Sepertinya, semua itu basa-basi belaka. Tidak! Paulus justru sadar siapa dirinya, ia adalah orang yang paling berdosa hingga saat ini, hal ini nampak dalam penulisan kalimat yang menggunakan present tense.
Sadarlah kita adalah seorang berdosa. Mungkin kita bisa menyangkali diri bahwa kita bukanlah orang berdosa karena kita tidak pernah melakukan perbuatan sejahat seperti yang dilakukan oleh Paulus. Perhatikan, Tuhan tidak melihat secara fenomena; bukan karena penilaian manusia yang menjadikan kita baik atau jahat. Tidak! Paulus menyadari ia adalah orang berdosa namun Tuhan melimpahkan anugerah-Nya dengan menganggapnya sebagai orang yang setia dan mempercayakan pelayanan dan memberikan kekuatan untuk menunaikan pelayanan itu sampai akhir. Inilah respon orang berdosa terhadap anugerah Tuhan. Bagaimana sikap kita terhadap pelayanan ketika kita diberikan anugerah untuk melayani Dia? Bagaimana respon kita? Sikap pelayanan mencerminkan sikap hati kita, apakah kita orang yang mensyukuri anugerah Tuhan?
Pada bagian akhir, Paulus menutup semua kesaksian dengan doksologi; segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Doksologi ini sekaligus menjadi kesimpulan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mulia dan agung. Kesadaran akan dirinya yang bobrok menuju pada konklusi – Allah adalah Allah yang mulia di dalam diri-Nya. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah hidup kita diisi dengan doksologi ataukah kita justru mengisi hidup dengan ber“sembunyi“ dari hadapan Allah seperti yang dilakukan Adam dan Hawa? Hal ini menjadi ajakan dari Rasul Paulus supaya setiap kita mengevaluasi hidup kita. Menyadari, mengakui dan mengembalikan segenap hidup kita sebagai suatu yang utuh dan sempurna bagi kemuliaan Tuhan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)