|
Ringkasan Khotbah : 01 Juli 2007
Nats: Yoh. 13:1-15 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Diskusi yang terjadi antara Nikodemus dan Tuhan Yesus sangatlah unik dan inti klimaks dari diskusi ini adalah tentang bagaimana seorang mendapatkan hidup yang kekal dengan cara dilahirkan kembali. Istilah “lahir kembali“ hari ini tentulah tidak asing lagi bagi orang Kristen dan dengan cepat orang akan berkata bahwa ia memahami istilah tersebut tentu saja dengan mengabaikan apakah definisi yang mereka mengerti itu benar atau salah. Namun hari itu, istilah “lahir kembali“ membuat Nikodemus, seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi pusing tujuh keliling. Inilah poin yang sangat penting bagaimana kita melihat reaksi seseorang dan kesulitan yang timbul ketika mendapatkan berita kebenaran dari Kristus Sang Kebenaran itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita mentuntaskan dan keluar dari segala permasalahan yang ada?
1. Niat dan Tekad yang sungguh
Nikodemus adalah seorang Farisi, partai yang paling keras dan paling fanatik di Israel. Orang-orang Farisi ini menguasai dua bidang paling penting, yakni: 1) bidang agama, sebagai pemimpin agama karena mereka sangat menguasai ahli Taurat, 2) bidang hukum – mereka memiliki posisi penting di pengadilan Sanhendrin, mahkamah agama Yahudi dan keputusan mereka lebih kuat dibanding pengadilan negara. Di tengah kelompok Farisi itu sendiri terpecah antara kelompok yang pro dan kontra terhadap Tuhan Yesus. Seandainya, orang Farisi tahu bahwa Yesus lahir di Betlehem dari keturunan Daud maka seluruh argumentasi terhenti dan tidak ada sejarah penyaliban Tuhan Yesus, sejarah akan berubah karena mereka takut kalau-kalau yang mereka sangka nabi itu benar adalah Mesias. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, tak jarang orang Kristen mempunyai pikiran menyeleweng karena kita langsung mengambil kesimpulan dari sebagian kecil data tanpa melihat secara keseluruhan. Diantara kelompok yang pro adalah Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Dia datang pada malam hari untuk berdiskusi dengan Tuhan Yesus. Banyak penafsir menafsirkan kalau kedatangan Nikodemus pada malam hari karena takut berkenaan dengan keamanan dan problema yang ada dalam dirinya namun alasan itu tidaklah beralasan dan sangat lemah sebab pada kesempatan lain, ia membela Tuhan Yesus secara terbuka. Nikodemus menjadi suatu teladan yang baik bagi kita, ia tidak sembrono dan ceroboh, ia tidak membenarkan pemikiran yang muncul dari dalam dirinya sendiri, ia juga tidak langsung percaya dan menerima begitu saja setiap konsep karena apa kata orang. Tidak! Ia menyelidiki dan belajar dengan baik-baik dengan datang pada Tuhan Yesus.
Kalau untuk urusan dunia kita masih bisa salah dalam pengambilan keputusan meskipun kita sudah berhati-hati karena orang menyangka kalau keputusannya benar. Tidak! Hati-hati, jangan bertindak sembrono dalam mengambil keputusan karena berpikir sama-sama orang Kristen maka ia tidak akan mencelakakan. Pertanyaannya darimana kita tahu kalau dia Kristen? Apa karena ia ke gereja dan aktif melayani maka ia disebut Kristen? Hari ini banyak orang yang tertipu karena orang tidak mempelajari dan menyelidiki dengan benar dan tuntas. Jangan salahkan orang lain kalau kita kena tipu tetapi salahkanlah juga diri kita sendiri kenapa kita bisa kena tipu?
Sebelumnya, Nikodemus pasti telah tahu banyak hal tentang Tuhan Yesus dan segala perbuatan-Nya yang dahsyat namun ia tidak puas sampai disitu. Nikodemus mempunyai pemikiran yang terbuka, ia mempertimbangkan segala kemungkinan lain tentang Tuhan Yesus. Beberapa alasan yang membuat Nikodemus datang pada malam hari, yaitu: 1) Nikodemus sangat memahami akan segala kesibukan Tuhan Yesus dan ia tidak mau menganggu untuk sesuatu yang sifatnya personal dan sebagai seorang pemimpin agama pastilah ia tak kalah sibuknya seperti Tuhan Yesus namun di tengah segala keletihannya, ia datang kepada Tuhan Yesus untuk belajar, berdiskusi dan membuka pemikirannya dan mencari waktu yang tepat, yaitu pada malam hari, 2) Nikodemus adalah seorang yang sungguh-sungguh ingin tahu bagaimana menggarap dan belajar tentang kehidupan. Nikodemus Nikodemus secara usia lebih tua, kurang lebih 50 tahunan dibandingkan dengan Tuhan Yesus yang masih berusia 30 tahunan lebih. Bagi orang Yahudi, usia 30 adalah usia dimana orang baru dianggap dewasa dan mengambil keputusan sendiri. Namun Nikodemus, seorang guru besar begitu hormat pada Tuhan Yesus, ia menyebut Yesus dengan sebutan Rabbi. Seorang Rabbi menduduki posisi yang sangat tinggi karena ia mengajar Taurat. Sama seperti budaya Asia pada umumnya, usia sangatlah menentukan dan sudah menjadi suatu keharusan, orang yang lebih muda menghormati mereka yang berusia lebih tua. Namun dalam bagian ini, kita melihat cara Nikodemus sangat menghormati Tuhan Yesus; ia menempatkan diri sebagai seorang murid di hadapan Tuhan Yesus. Sepanjang hari, Nikodemus mengajar orang lain namun pada hari itu, ia datang kepada Yesus untuk minta diajar.
Bayangkan, seorang guru besar yang senior datang kepada Tuhan Yesus yang muda dan ia menempatkan diri sebagai murid dengan memanggil Kristus dengan sebutan Rabbi maka itu menjadi hal yang luar biasa. Semangat Nikodemus untuk terus belajar seharusnya menjadi teladan bagi kita. Celakanya, hari ini banyak orang yang sudah merasa diri pandai sehingga ia merasa tidak perlu untuk belajar lagi. Banyak alasan yang dikemukakan orang tidak mau belajar, antara lain: usia yang sudah tua, jabatan atau gelar yang tinggi sehingga ia sudah cukup merasa pandai. Sadarkah kita masih banyak hal di dunia yang belum kita tahu dan perlu kita pelajari. Nikodemus sangat menyadari akan hal ini, dia bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan Yesus meskipun di lingkungan orang Yahudi, ia dikenal sebagai guru besar, seorang pemimpin agama Yahudi. Nikodemus tidak bergeming, ia mempunyai hati yang ingin belajar karena itu, ia datang pada malam hari untuk belajar pada Tuhan Yesus, waktu yang terbaik untuk belajar banyak; 3) ketakutan Nikodemus ini dalam artian supaya apa yang ia lakukan tidak membuat heboh kelompok Yahudi. Nikodemus tidak ingin kelompok Sanhendrin yang sudah terbagi dengan sendirinya secara diam-diam itu semakin membuat runyam masalah meskipun tujuan kedatangannya bersifat personal. Tindakan seorang pemimpin itu sangat berkait erat dengan seluruh korps yang ada di bawahnya, sebagai contoh tidak mungkin seorang pendeta yang pergi ke pelacuran berkata bahwa tindakannya tidak berhubungan dengan jemaat karena sifatnya personal. Demikian halnya yang dilakukan oleh Nikodemus, ia tidak ingin kelompok Farisi semakin runyam dan kacau.
Diskusi ini pastilah membawa perubahan dalam diri Nikodemus, membawa pengertian yang menerobos dari semua konsep pemikiran yang ada sebelumnya. Hati yang selalu ingin belajar seperti Nikodemus inilah yang harusnya dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri seberapa jauhkah kita mempunyai hati yang mau belajar? Kalau untuk hal-hal duniawi saja kita tidak mau ditipu maka untuk hal yang sifatnya kekal yang menyangkut keselamatan hidup kita harusnya kita lebih berhati-hati dan tidak ceroboh. Ingat, hidup itu hanya satu kali saja. Tuhan Yesus menegaskan apa artinya kita mendapatkan seluruh isi dunia kalau kita kehilangan nyawa kita? Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa hidup itu bukanlah permainan tetapi harus ada niat dan tekad untuk belajar yang ditunjukkan dengan aksi. Hari ini banyak orang yang katanya ingin belajar tetapi tidak menunjukkan adanya niat atau tekad apalagi bereaksi. Orang yang sungguh ingin belajar maka ia akan mengusahakan dan mencari segala cara mendapatkan dan memahami kebenaran. Kekristenan mengajak kita untuk belajar baik-baik dengan demikian kita tidak mudah ditipu.
2. Penerobosan Pikiran
Dengan semangat menggebu-gebu, Nikodemus datang pada Yesus Sang Rabbi. Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.“ Tentu saja, perkataan Tuhan Yesus ini sulit dimengerti secara logika oleh Nikodemus, sebab bagaimana mungkin seorang dapat dilahirkan kembali? Nikodemus, mengharapkan mendapat pelajaran, namun ia langsung menemui kesulitan di titik pertama tapi perhatikan, Tuhan Yesus tidak menurunkan standar kebenaran sebaliknya konsep pemikiran Nikodemuslah yang harus seturut dengan kebenaran Ilahi. Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa seorang yang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah. Nikodemus kembali dibuat bingung oleh pernyataan Tuhan Yesus. Hari itu, istilah lahir baru ini sangatlah asing di telinga bahkan tidak dimengerti, bagi Nikodemus hal itu sulit diterima oleh logika dan celakanya, semakin panjang berdiskusi malah membuatnya semakin pusing padahal ia seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Sekarang, Nikodemus baru menyadari bahwa ia bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan Yesus. Yang menjadi pertanyaan dimanakah letak permasalahannya sehingga ia tidak mengerti?
Perhatikan, Kristus berbicara tentang segala aspek yang sifatnya spiritual tapi manusia tidak menaruhnya di tataran yang sama tapi sebaliknya, manusia justru berpikir duniawi. Nikodemus, sekalipun ia seorang rohaniawan yang setiap hari mengajar hal yang rohani tapi pemikirannya sangat bersifat kedagingan. Lahir baru yang dimaksud oleh Tuhan Yesus itu bersifat roh tapi Nikodemus berpikir sebaliknya, ia memikirkan lahir kembali secara lahiriah. Setiap orang pasti mempunyai konsep pemikiran dan pembentukan konsep itu dipengaruhi oleh banyak faktor dan lingkungan; mind set itulah yang membuat kita sulit mengerti hal-hal yang sifatnya rohani. Perhatikan, ketika kita membaca Alkitab dan mencoba untuk memahaminya, kita pasti akan menemui banyak kesulitan dan ingat, kesalahan bukan pada Alkitabnya tetapi pikiran kita yang harus diubahkan. Pikiran kita harus ditundukkan di bawah Kristus dan mengikuti apa yang menjadi pemikiran Kristus. Tanggalkan semua pemikiran kita dan mulai buka pikiran kita dan melihat kebenaran sejati. Nikodemus untuk sementara waktu, pikirannya terkunci oleh segala hal yang sifatnya duniawi, Tuhan Yesus mengajak Nikodemus untuk menanggalkan semua pemikirannya dan berpikir seperti yang Ia pikir, yakni berpikir secara rohani. Lahir baru adalah tentang bagaimana seorang kembali pada apa yang menjadi hakekat kita, yakni dilahirkan kembali dengan air dan roh dimana air dan roh ini merupakan lambang dari baptisan. Lahir kembali merupakan suatu anugerah yang memungkinkan kita kembali mempunyai relasi yang terbuka dengan Allah.
Perhatikan, dalam diskusi tersebut platform atau tempat berpikir Kristus itu berada di posisi atas sedangkan platform Nikodemus berada di bawah. Nikodemuslah yang seharusnya merombak total platform-nya dan mengikut pada Kristus. Inilah pengajaran yang sejati. Celakanya, hari ini pendidikan telah mengalami degradasi. Merupakan suatu kebodohan yang fatal kalau seorang guru harus menurunkan standar pengajaran karena ia menemui kesulitan mengajar seorang anak yang duduk di kelas 3. Salah! Seorang guru yang baik seharusnya membantu si anak untuk keluar dari kesulitan bukan menurunkan standar pengajaran. Orang yang tidak mau belajar dan langsung putus asa ketika menemui kesulitan maka selamanya ia tidak akan pernah naik kelas. Adalah wajar kalau kita menemui kesulitan pertama kali kita memahami kebenaran Firman Tuhan namun janganlah kesulitan itu menjadikan kita mundur dan tidak mau belajar atau kita menurunkan standar Firman sesuai dengan pemikiran kita. Tidak! Pemikiran kitalah yang harus ditundukkan di bawah kebenaran sejati. Tanggalkan segala pemikiran kita yang lama dan cobalah, menerobos untuk melihat maka kita akan melihat kedalaman Firman Tuhan yang dahsyat. Hal ini menjadi prinsip penting dalam kita memahami kebenaran sejati. Kebenaran adalah kebenaran dan kebenaran itu tidak ditundukkan oleh siapapun atau apapun juga meskipun ia mempunyai kedudukan tinggi di masyarakat. Diskusi antara Tuhan Yesus dan Nikodemus ini membuktikan satu hal bahwa sehebat apapun dan setinggi apapun jabatan Nikodemus, ia tetap bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan Yesus.
Kesulitan yang sama juga pernah dialami oleh para murid, ketika Tuhan Yesus menyatakan ”Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6). Para murid tidak mengerti dengan pernyataan Tuhan Yesus tentang Ia yang akan pergi ke rumah Bapa dan menyediakan tempat tempat bagi mereka, dan tentang jalan menuju ke rumah Bapa, yakni melalui Yesus yang adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Cara berpikir para murid tidak sama dengan Tuhan Yesus. Para murid berpikir “jalan” itu benar-benar jalan secara harafiah; mereka berpikir secara duniawi maka tidaklah heran kalau mereka sulit memahami pernyataan Tuhan Yesus. Untuk mengerti kebenaran maka kita harus membongkar seluruh mind set kita dan melihat kebenaran sejati barulah kita dapat memahami apa kehendak Allah.
Firman Tuhan membukakan pada kita bahwa untuk mengerti kehendak Allah, yaitu tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (renew your mind), sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm 12:2). Biarlah apapun yang kita kerjakan atau lakukan, pikirkanlah yang baik, berkenan kepada Allah dan sempurna maka itu pasti kehendak Allah dimana ketiganya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Allah kita adalah Allah yang mulia maka sebagai anak-Nya, juga harus hidup mulia. Hati-hati jangan tertipu dengan ajaran positive thinking dunia – you think it and you get it seperti yang diajarkan oleh Norman Vincent Pale, Anthony Robbins, dan lain-lain. Alkitab menegaskan supaya kita selalu memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci dan semua yang manis dan semua yang sedap didengar (Fil. 4:8). Perhatikan, iblis tidak akan bisa melakukan keenam aspek ini apalagi faktor kesucian, ini menjadi faktor pembeda utama Kekristenan dengan non Kristen. Westminter menyatakan tujuan akhir manusia adalah memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Hidup bersama Tuhan itu sangatlah manis luar biasa. Menampilkan kehidupan Kristen itu sangatlah manis dan hal inilah yang seharusnya menjadi pemikiran kita tiap-tiap harinya. Sedap didengar ini bukan sekedar pemuasan telinga tetapi maksud dari sedap didengar ini adalah memberikan pengajaran yang baik dan orang mengakui hal itu sebagai good report. Inilah positive thinking yang diajarkan oleh Alkitab. Betapa indah hidup kita kalau keenam aspek ini selalu kita pikirkan dan kita lakukan – menundukkan segala pemikiran kita di bawah platform Kristus dan berpikir seperti Kristus berpikir.
3. Mengutamakan Kristus
Tuhan Yesus menyatakan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Hanya Anak Manusia sajalah yang dapat mengerti hidup kekal sebab Dia datang dari sana dan Dia kembali ke sana. Jadi, kunci pertama untuk mendapatkan hidup kekal adalah letakkan Kristus di tempat tertinggi – Kristus sebagai penguasa kehidupan kita. Kristus berdaulat penuh atas hidup kita dan ketika kita berserah total pada-Nya, membiarkan seluruh hidup kita dipimpin oleh-Nya maka itu berarti kita telah mendapatkan hidup kekal. Hidup kekal bukanlah seperti yang dipikirkan manusia. Jangan melihat sorga dari sudut pandang dunia. Sorga itu bukan benda atau areal tetapi sorga itu sifatnya spiritual, tidak terbatas ruang dan waktu. Kembalinya kita bersama dengan Kristus, itulah hidup kekal sejati. Utamakan Kristus dalam hidup kita dan berserahlah total pada-Nya, taat sepenuhnya dipimpin oleh Dia. Jangan tergoda dengan segala kenikmatan yang ditawarkan oleh di tengah dunia ini begitu banyak ”allah-allah palsu” yang menawarkan segala macam bentuk kenikmatan hidup tapi berakhir dengan kebinasaan. Betapa indah hidup kita kalau kita kembali kepada Dia sumber hidup yang sejati, nilai hidup yang sejati, pengharapan sejati. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)