|
Ringkasan Khotbah : 03 Juni 2007
Nats: 1Tes. 1:2-10 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Kalau kita membaca ucapan salam Paulus pada jemaat di Tesalonika dalam suratnya yang pertama maka sepintas sama seperti salam Paulus pada jemaat yang lain. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami (1 Tes. 1:2), dari kalimat ini sepertinya Paulus ingin menjalin hubungan melalui kehidupan doa Paulus dimana ia senantiasa mengingat kehidupan orang-orang di Tesalonika dan kalimat ini seolah-olah menjadi suatu perekat hubungan yang terpisah lama. Apa yang diungkapkan oleh Paulus pada jemaat Tesalonika ini bukanlah sekedar pujian biasa tetapi merupakan proklamasi sekaligus dorongan dengan demikian mereka dapat melihat panggilan untuk menjaga kualitas kehidupan rohani.
Kota Tesalonika merupakan kota metropolis di Makedonia dengan penduduk sekitar 300.000 jiwa. Perlu diketahui, jemaat Tesalonika ini hanya sebentar dibina oleh Paulus (lihat Kis. 17:5-9). Pertanyaan yang muncul adalah bukankah Tuhan sendiri yang memerintahkan supaya Paulus mengabarkan Injil di daerah situ lalu kenapa banyak orang yang menentang ketika ia mengabarkan Injil di Tesalonika dan Paulus juga harus meninggalkan dengan cepat seperti sebuah pekerjaan yang belum selesai? Lalu, muncul pertanyaan lain yaitu apakah surat Paulus ini dimaksudkan hanya untuk membesarkan hati jemaat Tesalonika saja?
Kalau kita perhatikan ayat demi ayat yang ditulis oleh Paulus pada jemaat Tesalonika ini maka kita menjumpai jemaat Tesalonika ini adalah jemaat yang istimewa, hal ini nampak dalam tulisan Paulus yang menyatakan bahwa ia, Silwanus dan Timotius selalu mengucap syukur kepada Allah (1 Tes. 1:2). Seperti kita ketahui, setiap jemaat pastilah memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda. Jadi, jelaslah tulisan Paulus pasti memiliki satu tujuan, bukan hanya membesarkan hati jemaat itu sendiri atau menebus rasa bersalahnya karena terlalu cepat ia meninggalkan kota Tesalonika ini. Ada 4 pemikiran penting mendasar yang diungkapkan oleh Paulus berkaitan dengan kualitas jemaat di Tesalonika:
1. Wujud Kualitas
Paulus melihat adanya wujud kualitas yang nyata dari jemaat Tesalonika (1Tes. 1:2-3). Wujud kualitas ini nampak dari pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan dalam diri mereka (1Tes. 1:3). Yang menjadi pertanyaan adalah apa keistimewaan mereka dibanding dengan jemaat lain? Bukankah kita juga mendapati hal yang sama pada jemaat di Kolose (Kol. 1:4). Iman, kasih dan pengharapan merupakan suatu kesatuan dari yang Paulus katakan kepada setiap jemaat dimana ketiganya merupakan tonggak dari satu gereja. Bukankah setiap gereja memiliki iman, kasih, dan pengharapan? Lalu apa kaitannya dengan wujud dari kualitas jemaat Tesalonika? Jemaat Tesalonika merupakan jemaat campuran antara orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir yang bertobat maka Paulus merasa perlu untuk menekankan tentang konsep iman, kasih dan pengharapan kepada mereka akan tetapi bukankah hal ini sudah umum dimana semua jemaat perlu untuk memahaminya? Ada satu hal yang membedakan jemaat Tesalonika dengan jemaat lain, yakni iman senantiasa dikaitkan dengan pekerjaan, kasih dipadankan dengan usaha dan pengharapan dihadapkan dengan ketekunan. Tentang hal ini tidak kita dapati dalam surat Paulus yang lain. Hal inilah yang menjadi kekhususan di Tesalonika. Iman yang dimiliki oleh jemaat Tesalonika bukanlah iman yang biasa tetapi iman yang aktif, iman yang hidup dan menghasilkan buah. Hari ini banyak orang yang mengaku beriman tetapi ketika orang mendapat tantangan dan penderitaan, imannya mulai goyah. Bagaimana dengan iman yang kita miliki?
Wujud lain dari kualitas jemaat Tesalonika adalah adanya kasih yang mememiliki unsur usaha. Mengapa harus ada usaha di sana? Kalau kita berbicara tentang kasih maka kita mungkin mengingat akan ungkapan Paulus pada jemaat di Korintus – konsep kasih itu menjadi rumusan teragung hingga sekarang (1Kor. 13). Paulus menegaskan semua tidak berarti kalau orang tidak memiliki kasih. Paulus juga menegaskan diantara iman, kasih, dan pengharapan yang terbesar adalah kasih (1Kor. 13:13). Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa harus ada usaha kasih? Apakah tidak cukup hanya kasih belaka? Disinilah letak kekhususan dari jemaat Tesalonika. Di tengah-tengah segala pergumulan yang mereka hadapi sebagai jemaat yang merupakan campuran antara orang Yahudi dan orang kafir maka kasih itu begitu nyata dirasakan dan diusahakan di tengah-tengah mereka. Percampuran ini membuat jemaat Tesalonika ini dihina oleh orang-orang Yahudi lain itulah sebabnya Paulus memuji usaha kasih mereka. Ketika Paulus menjelaskan tentang konsep kasih maka konsep ini buka sekedar “konsep dingin“ demikian juga ketika Paulus menjelaskan tentang konsep iman, itu bukan sekedar konsep yang sekedar teori yang dituliskan dalam buku-buku teologi – kasih dan iman ini mewarnai kehidupan jemaat di Tesalonika.
Demikian pula dengan pengharapan, di tengah-tengah penganiayaan dan penderitaan yang mereka hadapi dan situasi dimana mereka dikucilkan oleh sebagian orang Yahudi lain di saat itu, dan banyaknya ajaran-ajaran palsu yang berkembang, mereka tetap menantikan pengharapan akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Di tengah-tengah segala pergumulan itulah maka pengharapan mereka berada dalam jalur jalan ketekunan. Hari ini, mungkin kita tidak terlalu merasakan bagaimana menantikan dan apa artinya kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali tetapi bagi orang-orang yang mengalami penderitaan dan kesulitan, pengharapan itu begitu nyata.
Sebuah ilustrasi menceritakan tentang kasih dan pengharapan, seorang pria yang sedang jatuh cinta ingin memberikan yang terbaik untuk wanita yang dicintainya. Ia hanya mempunyai satu keahlian khusus, yakni memasak nasi goreng pete, ia menyiapkan dan memilih bahan yang paling baik dan memasak dengan segenap hati namun si gadis yang tidak suka pete ini tahu bagaimana usaha sang kekasih, ia pun memakannya. Akhirnya, mereka pun menikah dan sang suami kembali memasak masakan yang sama untuk sang istri. Tentu saja, si istri menjadi marah karena ia berharap si suami berubah dan mengenal dirinya dengan baik dan si suami juga tidak mau kalah mengatakan bahwa ia mengira istrinya suka makanan itu.
Kasih dan pengharapan merupakan sesuatu yang indah untuk dibicarakan; kita mungkin dengan mudah dapat berkata,“Aku mencintai-Mu, Tuhan“ namun apakah yang kita cintai seperti yang Tuhan cintai? Apakah kita senantiasa bertekun ketika kita menghadapi tantangan? Hendaklah kita mengevaluasi diri, pengharapan iman seperti apakah yang kita miliki? Janganlah biarkan imanmu tercecer dan mudah digoyahkan oleh berbagai-bagai tantangan dunia.
Berbicara mengenai pengharapan itu sangatlah mudah dan indah bagi sebagian orang yang tidak mempunyai pergumulan dalam hidupnya namun tidak demikian halnya dengan jemaat Tesalonika. Jemaat Tesalonika adalah jemaat yang memiliki pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan di dalam Yesus Kristus. Inilah yang menjadi kualitas dari jemaat Tesalonika yang memberikan ucapan syukur yang luar biasa. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Paulus memuji kualitas jemaat Tesalonika ini, Paulus melihat mereka memiliki dasar yang kuat dan yang tidak mudah diselewengkan (1Tes. 1:4-5).
2. Dasar/sumber Kualitas
Wujud kualitas iman, harap dan kasih bukan sekedar disemangati oleh semangat humanisme filosofis dan ajaran-ajaran moral tetapi ada dua dasar penting yang tidak dapat digantikan oleh dasar yang lain, yaitu:
a) karena Ia telah memilih kamu (ay.4), bagi kita “pilihan“ tentulah bukan hal yang istimewa tetapi bagi orang-orang Yahudi apalagi orang di luar Yahudi yang dianggap kafir maka pilihan Allah itu menjadi sangat istimewa. Sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Tuhan berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku...(Kis. 1:8); kita tidak dapat merasakan apa arti ucapan Tuhan Yesus tersebut, apa makna atau nilai di balik ucapan namun bagi mereka yang pernah mengkhianati Tuhan Yesus dan yang pernah meninggalkan Tuhan Yesus maka sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan Yesus berkenan memakai mereka menjadi saksi-Nya. Inilah dasar kualitas jemaat Tesalonika, walaupun mereka dihina, dicaci namun mereka tetap kokoh dan tidak mudah digoyahkan. Di tengah-tengah kebimbangan karena mereka orang kafir maka kata “pilihan“ itu dirasakan sangat istimewa;
b) karena Injil bukan disampaikan dengan kata-kata tetapi dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh (ay. 5). Ketika kita menunjukkan kualitas dalam kehidupan rohani kita apa yang menjadi dasar dari semuanya itu? Apakah kita menyadari bahwa Firman Tuhan itu menguatkan kita? Jemaat Tesalonika memiliki sumber dan dasar yang begitu kokoh itulah sebabnya Paulus menyatakan engkau senantiasa bertekun dalam pengharapanmu. Kalau kita berbicara tentang jemaat kualitas, apa yang kita banggakan?
Hari ini, banyak orang yang membanggakan diri karena mereka memiliki banyak cabang, gedung yang megah atau jemaat yang banyak. Apakah ada jemaat yang bangga karena iman, kasih dan pengharapan yang nyata yang dapat dilihat oleh banyak orang? Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa semua kualitas yang mereka miliki harus terus dipertahankan dan semua itu bukan terjadi dalam waktu yang singkat.
3. Proses Dinamis suatu Kualitas
Paulus ingin mengingatkan mereka bahwa apa yang dialami dan dimiliki itu bukan datang secara singkat. Paulus menyatakan bahwa kalau jemaat Tesalonika telah menjadi penurut atau imitator – jemaat Tesalonika mau tunduk pada rasul Paulus dan semua pengajarannya bahkan mereka mentaati semua Firman Tuhan berarti mereka telah masuk dalam proses dan dinamika iman dan karena sudah ada kesepadanan antara apa yang diajarkan dengan apa yang telah diterima. Di tengah-tengah segala kesulitan, mereka tetap mementingkan Firman Tuhan, mereka senantiasa menjaga kualitas Firman dengan sukacita. Sungguh amatlah disayangkan, hari ini banyak gereja yang terpecah belah
Perhatikan, setiap orang di Tesalonika ini memiliki kualitas rohani, hal ini nampak dalam pernyataan Paulus (1Tes. 1:2) dan mereka juga membentuk komunitas yang berkualitas walaupun mereka hidup dan berada di tengah kota metropolis. Hidup mereka telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya (1Tes. 1:7b), hal ini jelas membuktikan bagaimana usaha mereka untuk bisa tetap hidup berkualitas sehingga orang mendengar dan mereka menjadi saksi Tuhan.
Kalau kita memperhatikan rute perjalanan Paulus dalam peta maka kita menemukan wilayah Makedonia merupakan wilayah yang besar maka sungguh menakjubkan kalau Tesalonika dapat menjadi teladan hidup bagi orang-orang percaya di kota-kota besar yang ada di sekitarnya. Namun perhatikan, hal ini bukan terjadi hanya dalam waktu singkat. Tidak! Tapi dibutuhkan suatu proses.
4. Buah-buah Kualitas
Salah satu ciri gereja yang sehat adalah gereja yang melakukan penginjilan. Alangkah indahnya kalau kita dipakai oleh Tuhan menjadi alat-Nya. Siapakah jemaat Tesalonika? Mereka bukan orang-orang pandai yang mempunyai latar belakang theologi yang hebat. Tidak! Melalui kehidupan mereka, Injil tersebar hingga ke berbagai tempat. Kalau kita bercermin dari Firman Tuhan, apa yang dapat kita katakan pada Tuhan? Tuhan tidak menuntut kesempurnaan demikian pula halnya dengan jemaat Tesalonika tetapi satu hal yang membedakan adalah mereka mau taat dan dibentuk sehingga mereka memiliki suatu kualitas dan Injil terus berkumandang. Mereka juga meninggalkan segala berhala, allah yang semu dan kembali pada Allah yang sejati sambil mereka menantikan dan melayani Tuhan dengan hidup (ay.9). Betapa anugerah Tuhan berlimpah pada jemaat Tesalonika yang sebagian terdiri dari orang-orang kafir dan memberikan mereka tempat terhormat bahkan melebihi kaum Israel. Namun hal ini tidak berhenti sampai disitu, adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menjadi saksi Tuhan.
Kalau kita perhatikan, jemaat Tesalonika ini saling memperhatikan, saling meneguhkan dan saling mendorong sehingga mereka bisa membentuk suatu komunitas. Ini merupakan suatu panggilan bagi sekuruh jemaat bukan sebagian jemaat. Itulah sebabnya, Paulus kembali menuliskan suratnya yang kedua kali pada jemaat Tesalonika, yakni supaya mereka senantiasa saling meneguhkan antara satu dengan yang lain supaya iman mereka tidak menjadi pudar.
Biarlah kita sebagai satu jemaat saling mendukung, saling menguatkan ketika kita menghadapi tantangan demi tantangan khususnya di tengah jaman yang rusak ini sehingga kualitas jemaat dapat dicapai dan pada akhirnya kita menjadi saksi Tuhan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)