|
Ringkasan Khotbah : 27 Mei 2007
Nats: Mrk. 10:35-45 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Pendahuluan
Hari ini, banyak orang mengaku kenal Yesus Kristus namun ’kenal’ yang seperti apa? Yesus Kristus atau Isa Almasih sangat dikenal oleh dunia namun pertanyaanya sudahkah orang mengenal dengan benar? Orang hanya mengenal Yesus Kristus sebatas pembuat mujizat, seorang yang penuh kasih, seorang tokoh agama yang bermoral baik. Pengenalan yang tidak memadai ini disebabkan karena mereka tidak memahami firman secara utuh. Mengenal Yesus Kristus dan kebenaran-Nya sangatlah signifikan dalam hidup manusia – menjadi berkat atau kutuk, mendatangkan keselamatan atau penghakiman. Ketika Tuhan Yesus Kristus berada di Kaisarea Filipi, Ia bertanya pada para murid: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?“ Para murid pun laporan pandangan umum yang sedang beredar saat itu tetapi bukan itu yang Tuhan Yesus inginkan; Tuhan Yesus ingin supaya para murid mempunyai pengenalan yang benar akan Dia, yakni kenal secara esensi dan relasional bukan sekedar pengetahuan belaka (Mat. 16:13). Alangkah bodohnya, orang yang tidak mau mengenal Kristus, mereka telah melewatkan berkat keselamatan (Yoh. 17:3).
Ada banyak kesulitan dalam mengenal sesuatu atau seseorang, antara lain: 1) kesalahan epistemologis, adanya praduga atau stereotype tertentu yang menghalangi mengenal seseorang dengan tepat. Hal yang sering terjadi adalah orang sering mengeneralisasi dan menganggap semua orang yang secara fisik atau superfisial mirip maka mereka juga sama secara esensi, 2) waktu pengenalan yang singkat, 3) egosentris – orang hanya melihat dari sisi untung rugi. Demikian pula halnya untuk mengenal Yesus Kristus, jangan melihat secara fenomena. Secara esensi, Dia berbeda dengan manusia yang ada di dunia – Dia adalah Allah yang berinkarnasi. Amatlah disayangkan, orang Yahudi tidak dapat melihat perbedaan yang esensi ini akibatnya kekecewaanlah yang mereka dapatkan. Mereka hanya melihat fenomena, yakni Yesus hanyalah anak tukang kayu yang ibu dan seluruh saudara-saudaranya mereka kenal dengan baik. Memang, terkadang Tuhan Yesus tidak membukakan siapa diri-Nya dan membiarkan orang tetap berada dalam kesalahan mereka. Sebelumnya para murid dan Saulus juga pernah salah dalam pengenalan mereka akan Yesus Kristus sampai Tuhan membukakan pada mereka barulah mereka mempunyai pengenalan yang benar akan Kristus. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan Yesus berkenan membukakan tentang siapa diri-Nya pada kita.
Dunia telah mendistorsi dan menyelewengkan Alkitab sedemikian rupa akibatnya, orang tidak mengenal siapakah Yesus Kristus yang sejati. Orang hanya mau kenal Yesus seperti yang mereka ingini; orang sosialis pastilah hanya mengenal Yesus sebatas orang yang baik yang suka menolong demikian pula halnya dengan orang yang ingin mujizat dan materi pastilah hanya mengenal Yesus sebatas pembuat mujizat belaka.
Hari ini kita akan merenungkan siapakah Yesus Kristus? Dalam Alkitab, ada banyak sebutan untuk Tuhan Yesus akan tetapi Tuhan Yesus lebih suka menyebut diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia. Apa makna yang terkandung didalam sebutan “Anak Manusia“? Orang seringkali memakai konsep pemikirannya sendiri untuk mengerti makna dari pengertian Anak Manusia seperti yang dilakukan oleh Karen Amstrong yang salah mengerti tentang pernyataan Tuhan Yesus tentang diri-Nya sebagai Anak Manusia. Jangan menafsir ayat firman dengan sembarangan tetapi kita harus perhatikan konteks secara keseluruhan. Alkitab membedakan menjadi tiga untuk pemakaian istilah Anak Manusia: 1) Anak manusia dipakai sebagai sebutan umum pada semua orang sebagai keturunan Adam dan Hawa (Kel. 12:12; 1Raj. 8:39); 2) anak manusia dipakai sebagai sebutan diri untuk satu pribadi tertentu (Yeh. 2:1, 3; Dan. 8:17); 3) anak manusia menunjuk pada satu pribadi eskatologis yang bersifat Ilahi (Dan. 7:13). Sebutan diri Yesus sebagai Anak Manusia termasuk dalam golongan yang ketiga, yaitu Yesus adalah penggenapan atau perwujudan Mesias Ilahi yang dinubuatkan yang akan datang pada jaman akhir dan menggenapkan seluruh keselamatan karya Allah bagi umat manusia.
Ada suatu kebenaran yang dibukakan melalui istilah Anak Manusia, yakni:
I. Paradoks Penyingkapan Pribadi Yesus Kristus
Tuhan Yesus memakai ungkapan Anak Manusia untuk menyatakan bahwa Dia adalah Mesias Ilahi yang dinubuatkan. Anak Manusia ini berbeda dengan manusia lain di dunia; Dia mempunyai kuasa Ilahi. Dalam Mat. 9:6, Dia menegaskan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa, tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah akibatnya orang-orang yang hadir menganggap Yesus menghujat Allah, karena mengaku diri sebagai Allah, tetapi Yesus menunjukkan kuasa mujizat. Anak Manusia adalah sosok Ilahi. Mereka beranggapan Tuhan Yesus sedang mengambil alih otoritas Ilahi. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi isi hati mereka sehingga perlu mengkoreksi pemikiran mereka yang salah. Tuhan Yesus adalah Allah karena itu, Dia berhak menerima segala hormat dan sembah sujud dari seluruh makhluk alam semesta dan malaikat, Dia mengampuni dosa, Dia menyelamatkan manusia berdosa, Dia membangkitkan orang mati, dan Dia juga ingin supaya orang mengasihi-Nya seumur hidup bahkan berkorban nyawa untuk Dia. Manusia manakah yang berhak mengatakan demikian kalau bukan Allah? Pengertian Anak Manusia disini bukanlah manusia biasa tetapi Dia adalah Allah yang berdaulat yang datang ke tengah dunia (Dan. 7:13); Dia adalah Sang Ilahi yang berkuasa mengampuni dosa.
Dalam Matius 26:57-68, ketika Tuhan Yesus Kristus diadili oleh Mahkamah Agama, Ia selalu berdiam diri tapi ketika Imam Besar mengajukan pertanyaan krusial menyangkut identitas dan status diri-Nya, Tuhan Yesus tidak berdiam diri saja. Ia menegaskan bahwa benarlah Dia Anak Allah, Mesias seperti yang dikatakan oleh Imam Besar itu – Anak Manusia datang duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit. Jangan menafsirkan ’Anak manusia’ lepas dari apa yang Tuhan maksudkan. Arti lain yang secara bersamaan terkandung dalam konsep Anak Manusia ialah penekanan tentang kemanusiaan Yesus. Dalam Matius 8:20, Anak Manusia itu lebih mengenaskan dan rendah dari binatang karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 10:45). Anak Manusia merupakan suatu penyingkapan diri yang bersifat misteri, atau bersifat paradoks, di satu sisi, Dia mau menyatakan bahwa Dia adalah Mesias yang dinubuatkan, Dia adalah sosok eskatologis. Sosok Ilahi itu adalah Allah sendiri, betapa dahsyat penyataan ini, tetapi sekaligus menyingkapkan suatu aspek lain, Dia adalah manusia seperti kita.
Istilah Anak Manusia dipakai untuk mengungkapkan: 1) pribadi-Nya yang bersifat misteri dan paradoks, 2) menghindari assosiasi politis yang telah bersiap menyambut Mesias sang pembebas dan yang akan memberikan kejayaan dan kelimpahan secara materi, 3) Tuhan Yesus juga tidak menggunakan istilah ’Anak Allah’ supaya orang tidak kacau dengan konsep romawi yang berkembang yang menganggap Tuhan Yesus sama seperti anak dewa yang menikah dengan manusia.
Adalah anugerah kalau kita dapat memahami istilah ’Anak Manusia.’ Tuhan Yesus adalah sosok Ilahi yang datang, berkat-Nya tercurah mulai dari kelahiran-Nya sampai pentakosta dan Dia akan datang kembali untuk kedua kalinya. Anak Manusia telah menggenapkan nubuat dalam Perjanjian Lama, Dia telah menyediakan keselamatan yang sempurna bagi manusia. Dia tidak datang dalam kemegahan-Nya tetapi Dia mengambil rupa seorang hamba, Dia datang dalam kerendahan dan kesederhanaan karena kasih-Nya yang begitu besar pada kita, Dia memberikan hidup-Nya untuk menggenapkan tuntutan yang melalui-Nya kita diselamatkan. Hari ini, banyak orang yang menghinakan dan meremehkan Dia, orang tidak sadar penolakannya justru berakibat pada kebinasaan. Mengapa Dia datang dalam kerendahan dan kesederhanaan? Inilah misteri yang harus kita mengerti sebagai orang Kristen. Janganlah tertipu dengan gambaran Tuhan Yesus yang gemerlapan. Tidak! Tuhan Yesus punya kuasa tetapi Dia menyembunyikan kuasa-Nya, Dia punya kemuliaan tetapi tertutup dengan kehinaan.
Dengan mata iman, Yohanes Pembaptis melihat kuasa yang dahsyat dan hikmat yang ajaib dalam diri Yesus Anak Domba Allah.. Yesus Sang Anak Manusia bukanlah Allah yang mulia yang berada jauh dari jangkauan kita. Tidak! Tetapi Dia adalah Allah yang begitu dekat dengan kita, kasih-Nya nyata dalam hidup kita – salib yang hina itu adalah lambang mulia. He is the Lord of Glory. Hendaklah kasih Tuhan yang begitu besar ini menjadikan kita semakin memuliakan Dia. Bagi orang Yahudi, salib adalah kebodohan dan bagi orang Yunani, salib adalah batu sandungan namun bagi anak Tuhan sejati, Anak Manusia yang tersalib itu adalah Tuhan atas segala tuhan, Raja atas segala raja. Dalam palungan yang hina, jalan salib yang penuh derita dan nestapa disana terpancar kemuliaan-Nya.
II. Paradoks Karya Salib
Dunia menganggap salib adalah bencana dan kutuk. Salah! Bagi orang yang percaya, salib adalah kemenangan, penggenapan dari seluruh rancangan karya keselamatan Allah. Salib menjadi benang merah sejak PL dimana keturunan perempuan akan menghancurkan ular dengan tumitnya (Kej. 3:15) dan korban-korban sembelihan dalam sistim hukum Musa dan hamba Allah yang menderita dalam Kitab Yesaya merupakan gambaran dari Juruselamat hingga sampai PB semakin jelas dibukakan bahwa Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus itulah yang berkuasa membuka meterai kitab kehidupan. Dalam salib itulah hikmat Allah dan kuasa Allah dinyatakan seperti yang diungkapkan oleh rasul Paulus (1Kor. 1:18, 23, 24). Hanya melalui salib sajalah, manusia berdosa yang harusnya dibinasakan ini dapat diselamatkan. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan upah dosa adalah maut maka satu-satunya cara adalah Tuhan Yesus menggantikan hukuman kita. Tuntutan hukuman Allah telah dituntaskan oleh Yesus dengan kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya telah melepaskan kita dari kuasa iblis yang mencengkeram – kuasa dosa telah dilenyapkan dari manusia. Yesus adalah sumber hidup, Dia menelan kuasa kematian sehingga orang yang percaya, tidak perlu takut pada kematian sebab kematian telah dikalahkan dan kita pun telah diperdamaikan kembali dengan Allah dan menjadi anak-Nya. Itulah sebabnya, rasul Paulus menyatakan aku tidak mau yang lain kecuali salib Yesus; aku menyampahkan semua yang lain dan hanya ingin mengenal Yesus dan kuasa kematian dan kuasa kebangkitan-Nya.
Allah yang tersalib merupakan sesuatu yang paradoks. Bagi dunia, hal ini sangat sulit dimengerti oleh logika. Karya keselamatan yang Allah rancangkan bagi manusia sejak kekekalan itu memang sulit dipahami oleh akal karena itu, hanya anugerah kalau dapat memahami kasih-Nya yang begitu besar dan ajaib. Kita yang telah merasakan kasih Allah yang nyata dalam hidup kita biarlah kita ditundukkan di bawah kaki-Nya. Sadarlah, siapakah kita ini, kita tidak lebih hanyalah manusia berdosa yang harusnya dibinasakan namun Ia mau berkorban demi kita. Melalui salib, kita melihat makna penderitaan – Allah memakai penderitaan untuk maksud yang mulia untuk kemuliaan Tuhan semata; salib diganti dengan mahkota mulia. Hal ini menjadi perspektif bagi mereka yang percaya sehingga orang mendapat kemenangan ketika berjalan bersama Kristus.
III. Paradoks Kemuliaan dan Pelayanan
Konteks perikop yang kita baca ini, para murid saling meributkan siapa yang menjadi terbesar di antara mereka padahal sebelumnya, Tuhan Yesus membukakan kepada mereka tentang penderitaan yang harus Yesus alami di Yerusalem. Para murid seharusnya bersimpati, tetapi ironisnya mereka justru berebut kedudukan. Bukankah hal ini yang sering juga terjadi dalam hidup kita? Kita adalah manusia yang hina yang ingin mendapatkan kemuliaan namun di sisi lain, ada pribadi yang mulia tapi rela merendahkan diri. Hal inilah yang terjadi, manusia yang hina ingin mendapatkan kedudukan dan kehormatan namun Tuhan Yesus menegur mereka dengan keras, Kerajaan Sorga bukanlah sesuatu yang bersifat duniawi seperti yang mereka pikirkan. Tidak! Tuhan Yesus membukakan barangsiapa mau menjadi warga Kerajaan Sorga maka ia harus rela menderita bahkan berkorban nyawa untuk Tuhan dan barangsiapa ingin menjadi yang terbesar maka ia harus menjadi hamba dan melayani. Ingat, Kerajaan Allah berbeda dengan kerajaan dunia.
Kristus telah memberikan teladan sejati, Dia adalah Allah yang berinkarnasi tetapi Dia merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan membasuh kaki para murid. Dia adalah Allah dan Dia patut menerima segala hormat, sembah dan pelayanan dari manusia bahkan malaikat namun hal itu tidak Ia lakukan, Ia datang untuk melayani. Ingat, orang yang ingin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan duniawi justru akan direndahkan. Hendaklah kita hanya mencari perkenanan hati Tuhan saja dan melayani Tuhan saja.
Firman Tuhan telah membukakan pada kita siapakah Anak Manusia yang datang dalam kerendahan namun yang terselubung kemuliaan. Kemuliaan itu nampak dalam salib, mahkota duri, darah yang tercurah dan bilur-bilur-Nya. Di surga nanti, semua kehinaan itu tidak ada lagi tapi semua itu akan diganti dengan kemuliaan dan Dia akan disembah oleh seluruh manusia. Biarlah hidup Kristus menjadi teladan hidup bagi kita dan biarlah salib mengubahkan hidup kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)