Ringkasan Khotbah : 29 April 2007

Mencari & Menyelamatkan yang Hilang

Nats: Luk 19:1-10; Luk 5:32

Pengkhotbah : Rev. Michael Densmoor

 

Pendahuluan

Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah pada kita – Dia adalah Raja pencipta dan pemilik alam semesta mau datang ke dalam dunia dan mengambil rupa seorang hamba, Ia dihina dan direndahkan demi menyelamatkan manusia berdosa. Tentang pemungut cukai dicatat sebanyak tiga kali dalam injil Lukas. Ketika Tuhan Yesus memanggil Lewi menjadi murid-Nya disana muncul satu tema besar, yakni Tuhan Yesus datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat (Luk. 5:32). Allah berinisiatif untuk mencari jiwa-jiwa yang terhilang di tengah dunia ini. Tanpa Injil, orang-orang akan binasa, tidak berpengharapan dan tidak ada masa depan. Kalau Allah telah mengasihi kita begitu rupa, Dia telah menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal pertanyaannya bagaimana dengan kita ketika melihat jiwa-jiwa yang tersesat di sekitar kita? Tuhan Yesus memberikan Amanat Agung itu kepada setiap anak Tuhan untuk mengabarkan Kabar Baik pada mereka yang tersesat.

I. Kepada siapakah Tuhan Yesus datang?

Dalam ayat ini muncul tiga golongan orang, yaitu: 1) orang berdosa (Luk. 19:7), 2) orang yang menganggap diri benar (Luk. 5:32) , 3) orang yang hilang (Luk. 19:10). Hari ini kita akan merenungkan dengan siapakah orang-orang yang termasuk dalam golongan ini?

1. Orang Berdosa. Pada jaman Alkitab, orang Farisi memandang orang-orang seperti Zakheus, orang yang mempunyai etika hidup buruk maka ia digolongkan sebagai orang berdosa. Dapatlah disimpulkan, apa yang menurut pandangan atau asumsi masyarakat itu buruk atau tidak benar maka ia digolongkan sebagai orang berdosa. Pada jaman Tuhan Yesus, orang-orang seperti pemungut cukai, pelacur, perampok dipandang sebagai orang berdosa demikian pula halnya dengan mereka yang bergaul dengan orang berdosa itu akan dipandang sebagai orang berdosa pula. Itulah sebabnya, ketika Tuhan Yesus bergaul dengan mereka, orang langsung bersungut-sungut dan hal ini bukan baru terjadi. Hal yang sama terjadi ketika seorang pelacur mengurapi kaki Yesus dengan minyak maka orang Farisi pun langsung bersungut-sungut. Tuhan Yesus tidak peduli dengan pandangan orang lain yang buruk tentang diri-Nya. Tuhan Yesus melihat jiwa orang berdosa seperti mereka inilah yang perlu diselamatkan.

Selain itu, orang yang mempunyai pekerjaan yang dipandang rendah oleh masyarakat maka ia dianggap sebagai orang berdosa (Luk. 18:9-14). Hari ini pastilah orang yang bekerja di perpajakan dan bea cukai akan protes ketika ia disamakan dengan seorang pelacur atau pezinah. Namun kita perlu perhatikan konteks, pada jaman Alkitab, bangsa Israel berada dibawah penaklukkan bangsa Romawi dan kerajaan Romawi membutuhkan sumber dana untuk membangun kotanya dan itu didapat dari bangsa Israel dan pemerintah Romawi mempekerjakan orang setempat dalam hal ini orang Israel. Orang Israel menganggap bangsa Romawi sebagai bangsa kafir sebab mereka menyembah berhala sedangkan orang Israel, hanya menyembah pada Allah Yahweh sehingga orang yang bekerja untuk orang kafir itu merupakan suatu aib. Bangsa Israel yang bekerja untuk bangsa Romawi dianggap telah berkhianat terhadap bangsanya. Itulah sebabnya, ketika Tuhan Yesus, seorang Guru Agung hendak menumpang ke rumah Zakheus, orang langsung bersungut-sungut sebab tidak ada seorangpun yang mau bergaul dengan seorang berdosa.  Namun, Tuhan Yesus sengaja datang ke kota Yerikho untuk menemui Zakheus. Sesungguhnya, Tuhan Yesus bisa memakai cara lain untuk menemui Zakheus dengan diam-diam tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia datang untuk mencari orang berdosa.

2. Orang ”Benar”. Allkitab menegaskan bahwa manusia telah rusak total, total depravity, hal ini berarti tidak ada seorangpun yang benar di dunia ini. Namun kita menjumpai ada orang yang menganggap dirinya benar hal ini disebabkan karena orang membandingkannya dengan perampok, pelacur atau para penjahat yang lain. Orang Farisi merasa diri benar dan suci karena mereka merasa diri sebagai orang beragama, orang yang paling dekat dengan Allah. Ironisnya, orang Farisi yang katanya dekat dengan Allah justru mereka menjadi penentang-penentang Kristus Tuhan. Khotbah di bukit dimaksudkan oleh Tuhan Yesus untuk menelanjangi konsep pemikiran mereka yang salah namun sangatlah disayangkan, pikiran mereka telah dibutakan sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran sejati. Pada salah satu hukum Taurat yang berbunyi: “Kuduskanlah hari Sabat“ didefinisikan tidak boleh bekerja kemudian orang bertanya lebih lanjut apa definisi bekerja? Muncullah definisi baru tentang bekerja, yaitu bekerja berarti tidak boleh memikul beban akibatnya terbentuklah hukum baru.

Kalau kita perhatikan, orang Farisi bukanlah orang yang jahat, mereka mempunyai semangat untuk hidup suci, mereka menjaga hidup sedemikian rupa supaya tidak melanggar hukum Tuhan dengan membentuk sistem tersendiri akibatnya mereka jatuh pada ritual-ritual agama. Apa yang mereka kerjakan itu tidak lebih hanyalah ritual belaka sebab sesungguhnya, hati mereka membenci Allah – mereka munafik. Celakanya, Tuhan Yesus telah membukakan hal ini tetapi mereka tidak sadar, mereka masih menganggap diri sebagai orang benar. Bukankah hal yang sama juga terjadi pada jaman ini? Banyak orang yang merasa diri benar karena ia aktif melayani Tuhan tetapi tidak demikian dengan hatinya. Tuhan Yesus datang untuk orang-orang seperti ini – orang yang menganggap dirinya benar.

3. Orang Hilang. Dalam injil Luk. 15 dicatat tentang tiga perumpamaan tentang sesuatu yang hilang, yakni: domba yang hilang, uang yang hilang dan anak yang hilang. Hilang disini menggambarkan suatu benda yang tidak berada di tempat yang seharusnya, disoriented. Manusia diciptakan dalam peta dan teladan Allah dengan tujuan untuk hidup bagi Allah namun manusia memberontak dan melawan Allah sehingga terjadi keterpisahan antara Allah dan manusia; manusia menjadi hilang. Hilang juga mempunyai arti sebuah proses yang menuju pada kebinasaan. Sebagai contoh, sebuah ban mobil lama kelamaan akan menjadi tipis akibat bergeseran dengan aspal secara terus menerus demikian juga dengan daging segar lama kelamaan akan menjadi busuk kalau tidak segera dimasak. Begitu pula dengan manusia, manusia yang berada di luar Kristus menuju pada proses kebinasaan kekal. Sadarkah kita kalau di sekitar kita begitu banyak orang yang hilang, mereka menuju suatu status final, yakni kebinasaan kekal? Bagaimana dengan kita? Sudahkah hati kita digerakkan untuk memberitakan Kabar Baik melihat jiwa yang terhilang?

Puji Tuhan, Tuhan Yesus tidak melihat status atau kedudukan kita, tetapi Dia Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita yang berdosa, kita yang menganggap diri paling benar dan kita yang terhilang.

II. Siapakah Anak Manusia?

Cara Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya pada manusia sangatlah unik – Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Manusia. Kenapa Tuhan Yesus tidak memperkenalkan diri sebagai Anak Allah atau Anak Daud? Kenapa Tuhan Yesus memakai gambaran Anak manusia yang begitu rendah? Dalam Perjanjian Lama dibukakan tentang siapakah Anak Manusia, yaitu seorang Raja yang berkuasa dan mulia dimana semua bangsa, suku dan bahasa sujud menyembah pada-Nya (Dan. 7:13-14) namun disisi lain, Anak Manusia itu tidak lebih hanyalah manusia yang kecil dan rapuh dibandingkan dengan ciptaan Tuhan (Mzm. 8:4-5). Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia dengan tujuan Dia ingin membukakan pada manusia bahwa Mesias yang akan datang kedua kalinya untuk menghakimi dunia, Mesias yang datang untuk menegakkan hukum Allah, Mesias yang datang untuk mendirikan Kerajaan Sorga di dunia adalah Anak yang lahir di palungan. Tuhan Yesus yang adalah Raja datang ke dunia mengambil rupa seorang hamba; Dia meletakkan jubah kebesaran-Nya – Tuhan datang dengan segala kehinaan dan kerendahan sehingga siapapun bisa datang pada-Nya.

Bayangkan, kalau Tuhan Yesus datang sebagai Raja maka tidak setiap orang bisa masuk dan bertemu dengan-Nya, bukan? Namun Sang Mesias itu datang sebagai tukang kayu sehingga semua orang dapat datang dan berbicara dengan-Nya. Ironisnya, orang Yahudi tidak mengenal Dia. Mereka mempunyai pandangan yang salah tentang Mesias, mereka berpendapat bahwa Mesias itu haruslah seorang yang berkuasa yang membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Orang yang membutuhkan pertolongan tidak mungkin datang ke Raja karena itu, Dia datang menjelma jadi manusia supaya setiap kita bisa datang pada-Nya. Tuhan Yesus datang sebagai Anak manusia untuk menjangkau dan menyelamatkan setiap manusia.

III.  Bagaimana cara Tuhan Yesus menyelamatkan manusia?

Tuhan Yesus masuk ke kota Yerikho dan disana ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai – seorang yang paling dibenci oleh orang Yahudi namun Tuhan Yesus justru datang padanya. Tuhan Yesus datang pada orang yang dianggap paling berdosa besar oleh masyarakat. Hal ini menjadi Kabar Baik bagi setiap kita, yakni sebesar apapun dosa kita dan sejelek apapun kita, Tuhan Yesus mau melibatkan diri dalam hidup orang yang berdosa. Tuhan Yesus rela nama-Nya tercoreng demi menyelamatkan orang berdosa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau meneladani sikap Kristus itu? Bayangkan, apa pandangan dan pendapat orang ketika mereka menjumpai pendeta, penginjil, majelis atau salah satu anggota gereja masuk ke tempat pelacuran padahal tujuan mereka adalah untuk menginjili. Pastilah, orang akan berpandangan buruk terhadap dirinya, bukan? Namun tidak demikian dengan Tuhan Yesus, Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain akan diri-Nya karena Tuhan Yesus melihat ada hal lain yang lebih penting dari sekedar nama baik, yakni keselamatan satu jiwa manusia.

Dalam sebuah lukisan the Chess Match dilukiskan seorang anak muda sedang bermain catur melawan si iblis. Disana digambarkan si anak muda ini terpojok, wajahnya sangat sedih dan penuh dengan kekuatiran. Pemilik lukisan ini kemudian mengundang Paul Morphy, seorang juara catur tahun 1857 asal Amerika Serikat dan Morphy pun meminta si anak muda ini untuk meletakkan biji catur seperti pada lukisan dan hanya dengan memindahkan satu biji catur saja maka terbukalah jalan keluar, ia terlepas dari posisi skak mat. Hal yang sama dilakukan oleh Kristus untuk orang berdosa. Segala usaha yang dilakukan manusia tidak mungkin bisa memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah terputus; manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri maka satu-satunya cara hanya melalui anak-Nya, Yesus Kristus. Itulah kabar baik bagi orang berdosa.

Bagaimana cara Tuhan Yesus melayani orang “benar“ atau lebih tepatnya, orang yang menganggap dirinya benar. Adalah pandangan yang salah bahwa Allah akan menghukum mereka yang tidak memberikan perpuluhan. Jangan pikir Tuhan membutuhkan uang kita. Tidak! Tuhan adalah pemilik seluruh alam semesta, Dia adalah Raja di atas segala raja. Tuhan tidak menginginkan harta kita tetapi satu hal yang Tuhan inginkan dari kita adalah hati yang taat pada kehendak Tuhan. Orang Farisi menganggap dirinya sebagai orang benar dan telah berjasa pada Tuhan dengan perbuatan yang mereka lakukan. Tuhan menegaskan bahwa yang menjadi kesukaan Tuhan adalah kasih setia bukan korban sembelihan (Hos. 6). Allah telah mengikat diri dengan manusia dengan satu perjanjian yang tidak dapat putus – kasih setia Allah telah mengikat manusia sampai pada kekekalan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudahkah kasih setia Allah berada dalam hatimu?

Bagaimanakah Tuhan Yesus mencari orang yang terhilang? Dalam perumpamaan domba yang hilang, si gembala meninggalkan 99 ekor dombanya yang lain demi mencari satu domba yang hilang demikian pula halnya dalam perumpamaan tentang dirham yang hilang dan perumpamaan anak yang hilang. Tiga perumpamaan ini menggambarkan isi hati Allah; Dia berinisiatif mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Lihatlah, di sekitar kita begitu banyak orang yang terhilang. Adalah tugas setiap anak Tuhan mengabarkan Kabar Baik pada mereka yang terhilang. Tuhan datang pada setiap orang berbeban berat dan tiada berpengharapan. Manusia sangat berharga di mata Tuhan karena itu, Dia datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang terhilang. Tangan Allah tidak terlalu pendek untuk menjangkau mereka-mereka yang terhilang.

Sudahkah hatimu digerakkan oleh kasih-Nya melihat jiwa-jiwa yang terhilang? Sudahkah kita mempunyai semangat seperti Kristus yang rela merendahkan diri untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang? Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)