Ringkasan Khotbah : 8 April 2007

Kebangkitan & Hidup

Nats: Yoh. 11:25

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

  

Paskah merupakan momen yang sangat penting yang menjadi landasan iman Kristen. Memang tidak dapat dipungkiri, tanpa Natal, hari ini tidak ada Kekristenan; kalau Kristus tidak naik ke Sorga maka tidak ada pentakosta dan tanpa pentakosta, tidak ada gereja, Petrus tidak berkhotbah dan tidak ada 3000 orang bertobat. Setiap momen itu memang sangat penting namun diantara semua momen itu, kebangkitan Kristus merupakan momen yang menjadikan Kekristenan berbeda dari semua agama lain yang ada di dunia. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Aku datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Natal menjadi bermakna karena Yesus bangkit. Kalau Kristus hanya mengajar lalu mati lalu apa bedanya Kristus dengan para rabi lain? Kristus bangkit dari kematian itu yang membedakan Dia dengan semua tokoh agama di tengah alam semesta. Dunia tidak suka akan berita kebangkitan Kristus, perlahan namun pasti berita ini mulai dihilangkan dimulai dengan dihilangkannya dalam kalender kita. Selain juga dimunculkan berita-berita palsu untuk menganulir berita kebangkitan Kristus. 

Bagaimana kita membuktikan bahwa Kristus adalah Kebangkitan dan Hidup? Perhatikan, tentang Kebangkitan Kristus ini telah menjadi momen dalam sejarah dan telah disaksikan oleh banyak orang maka hal itu tidak perlu dibuktikan lagi. Siapa yang dapat membuktikan seorang pembunuh telah membunuh orang lain? Kita dapat menemukan bukti-bukti pembunuhan, seperti pisau, bekas darah, dan lain-lain tetapi tidak ada orang yang melihat ia membunuh. Itulah sebabnya, dilakukan rekayasa ulang karena yang harus membuktikan adalah si pelaku itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apakah karena tidak dibuktikan maka pembunuhan itu tidak terjadi? Tidak! Demikian pula halnya dengan kebangkitan, kebangkitan merupakan suatu fakta meski tidak dibuktikan namun Alkitab mencatat tentang hal ini telah disaksikan oleh banyak orang. 

Andaikata, Kristus tidak bangkit maka sia-sialah kepercayaan kita dan kalau semua itu hanya sebuah ilusi belaka maka sungguh sia-sia pengorbanan para martir yang rela mati demi untuk memberitakan Kristus yang bangkit. Seorang yang beriman sejati harusnya mempunyai sikap seperti Thomas yang tersungkur dan bertobat ketika Tuhan Yesus datang padanya dan menunjukkan tangannya yang berlubang. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Itulah iman sejati. What Christianity is? Kekristenan bukan sekedar ajaran yang mengajarkan perbuatan baik. Kekristenan bukan sekedar etika atau daily life. Tidak! Kekristenan mengajarkan hal yang esensi, mengapa kita berbuat baik? Apa itu berbuat baik? Sebab jikalau benar demikian kita tidak beda dengan orang atheis. Ingat, perbuatan baik itu tidak akan pernah menjadi perbuatan baik sejati kalau dikendalikan dengan semangat egoistik. 

I. Kuasa Kebangkitan

“Akulah Kebangkitan dan Hidup“ (Yoh. 11:25) menjadi satu titik putar yang sangat penting. Injil Yohanes berbeda dengan injil Matius, Markus atau Lukas yang melihat sejarah Kristus berdasar kronologi waktu. Injil Yohanes melihatnya dari sudut pandang Allah; pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kristus bukan sekedar kandang yang hina dan semua orang menutup pintu bagi Dia. Tidak! Sebaliknya Allah melihat, Dia datang pada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Seandainya, manusia tahu kalau yang datang itu adalah Allah pemilik alam semesta maka dapatlah dipastikan semua pemilik penginapan itu akan menyambut Dia dan memberikan tempat yang terbaik untuk-Nya; tidak ada satupun manusia akan menolak-Nya. Namun, Dia yang datang itu tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada....(Yes. 53). Dunia hanya melihat secara fenomena. Tuhan Yesus telah membuktikan bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup secara spektakuler dan sejak peristiwa itu, para pemimpin agama bersepakat untuk membunuh Yesus. Yohanes membukakan pada kita tentang iman yang sejati, bagaimana mengerti iman yang sejati dan mempercayakan diri pada iman yang sejati?  

Kebangkitan Kristus merupakan historical moment yang terlalu besar impact yang ditimbulkan dan sulit dihilangkan. Mengapa orang begitu ingin menganulir bahkan menghilangkan berita kebangkitan Kristus? Tuhan Yesus menegaskan: “Akulah kebangkitan dan hidup barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Tuhan Yesus mendemonstrasikan hal ini dengan membangkitkan Lazarus yang mati selama 3 hari; ini menjadi titik putar yang menentukan semua level iman dalam tataran dunia sejarah keagamaan. Peristiwa inilah yang membuat para pemimpin agama hendak membunuh Yesus. Di tengah dunia ini, orang paling takut pada kuasa yang dapat menghancurkan. Lihat saja, dewa Syiwa pada agama Hindu mempunyai lebih banyak pengikut dibanding dewa Brahma, dewa pencipta. Orang tidak takut pada kuasa yang menghidupkan karena kebaikannya tidak mungkin menghancurkan manusia akibatnya, orang berani melawan. Tanpa sadar, pandangan ini membuat kita menjadi jahat. Jika engkau percaya kepada-Ku, yaitu Kristus Sang Kebangkitan dan Hidup maka engkau akan hidup walaupun engkau sudah mati. Kalimat ini seharusnya menyadarkan kita kalau kita berada dalam kuasa penghancur maka hal itu tidak menjadikan kita hidup. Sadarkah kita kalau sesungguhnya kita telah dipakai oleh iblis menjadi alat penghancur untuk menghancurkan orang lain yang ada di sekeliling kita dan kita sendiri pun akan menjadi hancur? Berbeda halnya, kalau kita menjadi pengikut Dia, sang kebangkitan dan hidup, kita akan tetap hidup walaupun kita sudah mati. Di dunia, semua kuasa hanyalah kuasa penghancur; orang hanya dapat membuat sesuatu yang hidup menjadi mati. Hanya Tuhan Yesus satu-satunya yang dapat menghidupkan yang mati. Kebangkitan adalah kuasa yang tidak dimiliki oleh siapapun di dunia. “Akulah Kebangkitan dan Hidup“ kalimat ini membuat setan harus berhadapan dengan realita sejati – dirinya tidak lebih hanyalah kuasa penghancur.  

Iman Kristen adalah satu-satunya iman yang membangkitkan. Kebangkitan merupakan suatu kuasa kehidupan yang tidak bisa dicapai oleh siapapun yang ada di tengah dunia ini. Barangsiapa yang percaya kepada Kristus maka ia akan hidup walaupun ia sudah mati artinya kuasa kematian itu tidak dapat mengikat dan tidak berkuasa lagi. Hari ini, kita melihat banyak orang jahat berkuasa di dunia, memang, sampai batas tertentu, kuasa penghancur itu berkuasa atas kita tapi ingatlah, mereka tidak dapat mematikan kita sebab kuasa Tuhan akan membangkitkan kita. Tuhan telah menang dan berkuasa atas maut. Karena itu, hendaklah kita takut pada kuasa Kebangkitan, gentarlah pada kuasa yang dapat menghidupkan maka hidup kita menjadi bermakna dan kita dipakai menjadi saksi-Nya. Ingatlah, hidup yang sejati bukan di dunia tetapi di kekekalan karena itu, sebagai anak Tuhan, apapun yang kau kerjakan, kerjakanlah itu untuk kemuliaan Tuhan saja. 

Sangatlah disayangkan, hari ini orang Kristen justru lebih takut pada dunia daripada Tuhan; mereka lebih takut kehilangan pekerjaan bahkan kita menjumpai ada orang yang mengingkari iman Kristennya demi sebuah kenikmatan dunia. Dapatlah disimpulkan kalau sesungguhnya, orang lebih takut hidup menderita; orang lebih takut pada kematian lalu orang lebih memilih tunduk pada dosa dan melawan Allah. Jangan bermain-main dengan kekuatan kuasa kebangkitan Allah sebab kita sendiri yang akan hancur. Perhatikan, Tuhan tidak merasa terganggu ketika kita melawan Dia; Kristus tidak akan mati karena kita melawan Dia. Tidak! Kemenangan Yudas dan iblis hanyalah sesaat dan kemudian hancur selamanya. Sebaliknya, kuasa kebangkitan menunjukkan kekalahan sesaat dan kemudian menang untuk selamanya. Matinya kematian oleh kematian Kristus yang membawa kita pada kehidupan dan kebangkitan, the dead of death by the death of Christ.  

Kristus sebelumnya telah memberitahukan kepada para murid bahwa Ia akan ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari para tua-tua, imam-imam Yahudi, mati dan bangkit pada hari ke-3 dan pernyataan ini benar dibuktikan oleh Kristus. Inilah kuasa kebangkitan sejati. Alkitab mencatat empat kali Tuhan Yesus memberitahukan tentang penderitaan salib dan kebangkitan dan semua itu telah dibuktikan dan tidak salah. Kuasa kebangkitan yang Tuhan Yesus nyatakan atas Lazarus pastilah membuat kehebohan di seluruh Israel sampai orang Yahudi memutuskan untuk membunuh Tuhan Yesus dan Lazarus. Orang Yahudi menjadi sangat takut kehilangan pamor dan benar hal itu terjadi sampai detik ini dimana agama Yahudi menjadi sangat minoritas total di tengah dunia sebaliknya Kekristenan menguasai dan menjadi mayoritas di tengah dunia. Kuasa kebangkitan Kristus Yesus adalah kuasa yang menghidupkan dan ini menjadi inti iman Kekristenan. Hal ini seharusnya menyadarkan kita akan kuasa kebangkitan sejati yang tanpa-Nya manusia menjadi binasa. Biarlah seluruh inner life kita dihidupkan dalam Kristus.  

II. Hidup Sejati

Kristus menegaskan “Akulah Kebangkitan dan Hidup“ maka hal ini membukakan pada kita bahwa di dalam Dia ada hidup sejati. Konsep creation, fall, redemption and consumation (CFRC) – dua titik paling belakang sangat menentukan. Karena kuasa kebangkitan Kristus itu telah menghidupkan kita maka kita akan tetap hidup walaupun kita sudah mati. Berbeda dengan mereka yang tidak berada dalam Kristus, sesungguhnya mereka mati walaupun secara fisik, mereka hidup. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah setelah kita hidup dan dibangkitkan lalu bagaimana kita hidup? Sejarah membuktikan banyak orang yang dibangkitkan oleh Allah dari kematian tetapi hidupnya gagal. Jangan terjebak dengan ajaran deisme yang salah yang menyatakan bahwa hidup di dalam Kristus yang terpenting adalah diselamatkan; orang yang berpandangan demikian ini percaya kalau Kristus mati menebus dosa, Kristus bangkit dan memberikan kita hidup kekal tapi hanya sebatas itu dan setelah itu hidup kita seterusnya adalah milik kita sendiri; Tuhan tidak ada lagi apalagi berperan dalam hidup kita. Perhatikan, itu bukan hidup sejati. Hidup sejati adalah kembalinya seluruh perjalanan hidup kita pada Kristus. Titik kesempurnaan itu belum tercapai. Kalau kita telah mencapai titik consumation ini maka di situ nilai paskah mencapai titik yang paling maksimum akan tetapi kesempurnaan ini baru tercapai nanti ketika kita bertemu Tuhan dalam kekekalan. Hari ini kita dituntut untuk menggarap iman keselamatan kita, yakni memberitakan kebenaran sejati pada dunia. Agustinus menyatakan proses ini disebut sebagai posse non pecare, yakni suatu proses sesudah kebangkitan, setelah dilahirkan kembali ada suatu proses dimana kita masih bisa berdosa karena kita berada dalam daging yang masih berdosa. Memang, setiap orang yang telah dihidupkan oleh Kristus bukan berarti kualitas hidupnya terjamin langsung sempurna. Tidak! Kita masih harus terus berproses menuju pada kesempurnaan. 

1) kuasa kebangkitan menjadikan segala sesuatu yang bersifat non potensial menjadi potensial; orang yang mati maka ia tidak berproses dan tidak dapat berbuat apa-apa, potensial dirinya nol dan kini, ia dihidupkan maka sekarang ia menjadi berpotensi dan berkapasitas. Namun perhatikan, punya kemampuan dan mengaktivasi kemampuan sampai ke titik maksimum merupakan dua hal yang berbeda. Kalau kita mempunyai kemampuan, bisakah kita mendayagunakan kemampuan secara maksimum? Banyak orang mempunyai potensi besar tetapi tidak dapat menggunakan kemampuannya. Banyak orang Kristen sudah lahir baru, dia sudah dihidupkan tetapi hidupnya lumpuh karena ia tidak kembali pada Kristus; ia hanya melihat Kristus di titik pertama tetapi tidak mendayagunakan hidup sampai di titik maksimum. Paskah harusnya membawa kita kepada kuasa hidup. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita, kalau selama ini kita mengaku percaya Kristus, sudahkah Kristus memimpin dan menguasai hidup kita ataukah iblis yang justru menguasai hidup kita? Sangatlah disayangkan, hari ini banyak gereja yang melumpuhkan diri karena dia tidak punya Kristus yang hidup maka tidaklah heran kalau segala sesuatu dipertimbangkan secara sekuler, memakai pendekatan dunia, kuasa dunia dan segala ketakutan dunia. Gereja tidak pernah mengalami kuasa kebangkitan Kristus yang sejati. Sadarlah, betapa indah hidup yang berada di bawah pimpinan Tuhan, kita akan dibuat kagum oleh-Nya; kuasa hidup yang sejati itu membuat kita hidup. Kristus adalah pengharapan yang sejati; hanya kepada Dia yang layak yang kepada-Nya kita menyandarkan seluruh hidup kita.    

2) kuasa kebangkitan tidak menjadikan takut pada hal negatif sebaliknya kuasa itu menjadikan kita mempunyai semangat positif. Apapun yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan. Hati-hati jangan terjebak dengan ajaran positive thinking yang mencoba menganulir dan meniadakan realita negatif. Tidak! Kita sadar ada realita negatif tapi kita mempunyai kuasa kebangkitan, kekuatan kemenangan yang memampukan kita mengatasi realita negatif. Kita mengakui dan sadar adanya realita kematian namun satu hal yang membedakan kuasa kebangkitan itu menjadi kita hidup walaupun kita sudah mati. Pengharapan kepada obyek iman yang sejati disertai dengan semangat yang positif ini bukanlah ilusi atau bayangan palsu. Tidak! Kristus Yesus telah membuktikannya; Dia menang atas kuasa maut.

III. Kebangkitan yang Menghidupkan

Kebangkitan dan hidup adalah kekuatan akhir yang mengalahkan kematian. Adalah wajar kalau orang merasa takut kalau semua yang bersifat penghancuran itu nantinya akan menang. Pergumulan ini bukan baru hari ini kita alami. Jauh sebelumnya, pemazmur mengalami pergumulan yang sama sampai kemudian ia dibukakan satu hal bahwa Tuhanlah yang akan menjadi pemenang (Mzm. 73). Kebenaran sejati pasti menang. Pertanyaannya sampai seberapa jauhkah kita sadar bahwa di dalam Kristus pengharapan kita tidak akan sia-sia? Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa kuasa kematian telah dikalahkan: ”Hai, maut dimanakah sengatmu?” Maut itu telah dimatikan oleh  kuasa kebangkitan; kini, kuasa kebangkitan menjadi kekuatan penghancur. Kalau Tuhan telah berkenan memberikan anugerah sehingga kita dapat beriman pada Kristus maka hendaklah hal itu mewarnai hidup kita? Hari ini mungkin kita berada dalam pergumulan yang berat, kita berada dalam kekalutan dan tekanan tapi percayalah dan jangan takut sebab kita mempunyai pengharapan dalam Tuhan, Dia hidup selama-lamanya.  

Sungguh merupakan suatu sukacita kalau hidup kita  dipakai Tuhan, kita mati martir untuk Tuhan sebaliknya betapa sia-sia dan tidak berharganya hidup kita kalau kita mati di dalam dosa. Ingat, Tuhan satu-satunya yang berotoritas, tidak ada satu manusiapun di dunia yang berhak melarang kita datang dan beribadah pada-Nya. Ingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Dia tidak dapat dipermainkan karena itu hendaklah, kita bertobat sebelum kita dihancurkan dalam kebinasaan. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan Kristus yang adalah kebangkitan dan hidup. Jangan takut dan gentar kalau kita hidup di dalam kebenaran dan taat pada-Nya. Biarlah semangat paskah ini menjadikan kita semakin bergiat memberitakan Injil di tengah dunia berdosa dan gelap ini. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)