|
Ringkasan Khotbah : 18 Maret 2007
Nats: Bil. 16:1-4, 28-31, 41-50 Pengkhotbah : Rev. Thomy J. Matakupan |
Hari ini kita akan memikirkan satu tipologi dari Kristus, yaitu Harun, Imam Besar di dalam Perjanjian Lama untuk mempersiapkan hati menjelang Jumat Agung & Paskah, mengingat kembali semua yang Kristus pernah perbuat. Harun adalah Imam Besar yang dihormati oleh bangsa Israel; Imam Besar yang kepadanya dipercaya masuk ke tempat ruang Maha Suci dan mempersembahkan korban bagi Tuhan. Banyak bagian Alkitab yang membicarakan tipologi Kristus. Tipologi Kristus dalam Perjanjian Lama ini mau menjelaskan bahwa berita Injil merupakan berita kekal, berita ini tidak akan pernah tergantikan, berita yang menyentuh hati setiap manusia sepanjang waktu. Berita Injil ini telah muncul sejak Perjanjian Lama, jauh sebelum Kristus hadir dan menggenapinya. Berita Injil, bahwa Kristus yang mati disalibkan, dikuburkan dan bangkit bagi penebusan dosa adalah berita kekal yang tidak akan pupus oleh jaman. Bagi orang percaya, berita itu seharusnya terus menerus memberikan kehangatan di dalam hidup rohaninya dan tidak pernah menjadi berita yang membosankan. Namun, apakah menjadi jaminan? Kepada jemaat di Korintus, Paulus merasa perlu mengingatkan jemaat di sana akan berita Injil yang pernah mereka dengar, yang pernah mereka terima dan mereka pernah ada di dalamnya. Dari sini, kita melihat kemungkinan besar berita itu telah terlupakan oleh orang percaya sehingga perlu diingatkan kembali. Itu sebab hari ini kita akan mengingat kembali berita itu.
Teks kita menyatakan bahwa Korah, Datan dan Abiram orang Israel itu, suatu kali menggalang massa sebanyak 250 orang – yang juga adalah pemimpin bangsa Israel - mempertanyakan otoritas Musa dan Harun. Sesungguhnya, yang dipertanyakan adalah otoritas Harun karena dalam salah satu jawaban yang diberikan Musa atas keberatan-keberatan mereka,“Bukankah engkau berasal dari suku Lewi yang telah mendapatkan hak istimewa untuk melayani Tuhan dalam kemah pertemuan lalu mengapakah engkau masih menuntut jabatan imam lagi?“ (ay.9,10) Mereka mencoba menggoyang posisi Harun. Setelah mendengar keberatan itu, Musa langsung sujud ke tanah dan meminta mereka membawa ukupan yang berisi perbaraan dan wangi-wangian ke hadapan Tuhan. Dari situlah akan diketahui siapa yang Tuhan pilih. Perkara ini tidaklah sederhana. Mereka merasa setelah keluar dari perbudakan di Mesir, belum ada tanda-tanda kalau akan sampai di tanah Kanaan. Mereka mulai memberontak dengan mengatasnamakan Tuhan, dan diri mereka sebagai bangsa yang kudus, umat pilihan Tuhan; mereka menuduh Musa dan Harun berani meninggikan diri atas jemaat Tuhan. Kehidupan keagamaan yang dibubuhi dengan sikap curiga, mempertanyakan pimpinan Tuhan adalah kehidupan beragama yang jahat. Kerohanian seperti ini di hadapan Tuhan dilihat sebagai dosa yang membawa pada kematian. Tuhan tidak menyayangkan apa yang menjadi milik kepunyaan-Nya. Dia bertekad menghancurkan mereka semua.
Menjawab masalah ini, Musa bertemu dengan Korah dan mengajak dia bersama-sama membawa bokor yang diisi dengan perbaraan dan ditaruh di hadapan Tuhan untuk melihat siapa yang menjadi umat pilihan Tuhan. Ia memperingatkan dengan keras pada Korah yang menuntut jabatan imam padahal ia adalah seorang Lewi yang mempunyai hak istimewa melayani Tuhan. Kepada Datan dan Abiram, ia meminta mereka datang padanya. Namun mereka secara terang-terangan menolaknya. Musa menjadi sangat marah dan kemarahan ini sekaligus menjadi kemarahan Allah. Itulah sebabnya, Allah memerintahkan supaya Musa dan Harun memisahkan diri dari bangsa Israel supaya Ia dapat menghancurkan mereka. Mengetahui hal ini, Musa sujud menyembah dan memohon belas pengasihan-Nya supaya tidak menimpakan hukuman ke atas seluruh bangsa hanya karena segelintir orang yang berdosa. Apa yang Allah lakukan? Ia membinasakan Datan, Abiram dan semua keluarga mereka tanpa terkecuali. Mereka terkubur hidup-hidup. Lalu, api dari Allah memakan habis mereka. Allah sangat murka pada mereka. Ia menghukum mereka. Apa yang diperbuat Allah sungguh membuat kita tercengang. Tuhan bahkan tidak menyayangkan umat-Nya sendiri karena mereka telah melanggar kekudusan dan bijaksana Tuhan.
Ironisnya, setelah melihat perbuatan Allah ini, justru tidak menjadikan mereka bertobat. Keesokan harinya mereka kembali mendatangi Musa dan menuduhnya lebih lagi, bahwa Musa telah membunuh umat Tuhan. Tuduhan ini sebenarnya merupakah tuduhan langsung pada Allah. Bukankah Allah yang membinasakan mereka semua? Mereka menuntut penjelasan. Alkitab mencatat mereka kemudian berpaling dan melihat kemah pertemuan, meminta penjelasan dari sana. Maka kelihatanlah awan menutupi kemah itu dan tampaklah kemuliaan Tuhan di sana. Allah hadir di kemah-Nya dan diluar dugaan, Murka Tuhan kembali muncul. Bukan jawaban yang memuaskan hati yang mereka dapatkan, melainkan murka Allah yang mengerikan sedang menanti. Allah bahkan kemudian memerintahkan agar Musa dan Harun harus menyingkir supaya Ia dapat menghancurkan seluruh bangsa Israel. Dalam kondisi yang mengerikan ini, Musa meminta Harun mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan sebagai seorang Imam Besar. Harun segera membawa bokor yang berisi perbaraan, menuangkan wangi-wangian. Ia berdiri di tengah-tengah antara kemah pertemuan & umat. Ia mempersembahkan korban pendamaian di hadapan Allah. Asap pun membubung tinggi, menembus masuk dalam kekekalan & hadir di depan tahta Allah. Hal ini menyukakan hati Allah & Ia langsung mengurungkan niat-Nya membinasakan seluruh bangsa Israel. Dari titik tolak inilah, kita melihat Harun sebagai tipologi Kristus. Harun berlari & berdiri ke depan kemah pertemuan & membelakangi umat-Nya. Korban pendamaian yang dipersembahkannya adalah permohonan agar Allah mau mengampuni dosa bangsa ini. Harun menjadi gambaran apa yang kemudian dikerjakan Kristus. Kristus berdiri di antara sorga & bumi & membawa korban pendamaian bagi Allah; permohonan pengampunan dosa. Umat Israel itu seperti domba yang tidak bergembala, mereka tersesat & mencari jalan sendiri. Itu juga menjadi gambaran orang berdosa. Tersesat & mencari jalan sendiri. Selalu melawan Allah & selalu berpikir negatif tentang Allah. Ini adalah dosa yang mematikan, mortal sin. Allah tidak akan memaafkan dosa semacam, bahkan pada diri umat-Nya. Dosa ini tertuju langsung tertuju pada Allah. Allah mengerjakan karya keselamatan, yaitu pembebasan dari perbudakan, namun hal itu justru dipertanyakan oleh bangsa Israel. Apakah yang Harun kerjakan sehingga ia menjadi tipologi dari Kristus?
1. Harun adalah seorang yang penuh dengan cinta kasih. Hal ini dilihat melalui tindakannya yang langsung berlari menuju ke depan kemah pertemuan & memohonkan belas pengasihan Tuhan untuk bangsa Israel. Apa yang dilakukannya ini bukanlah sekedar tindakan patriotik belaka, atau tindakan yang menunjukkan karakternya sebagai seorang pemimpin. Tidak! Hal ini menunjukkan kasihnya kepada umat Israel, umat yang tiap kali ia wakili di hadapan Tuhan, mempersembahkan korban bakaran bagi mereka. Harun memohon belas kasihan & pengampunan Tuhan oleh karena ia mengasihi mereka. Bukankah ini menjadi gambaran apa yang Kristus perbuat? Hari itu, orang-orang Israel hanya punya satu tujuan. Mereka menginginkan darah Musa & Harun. Mereka menginginkan kedua orang in dihukum. Mereka berani mengatasnamakan Tuhan untuk memuaskan tujuan itu. Kejahatan ini sungguh sangatlah besar bahkan melebihi kejahatan-kejahatan yang lain. Hal yang sama juga dialami Kristus ketika berada di hadapan Pilatus. Dengan sinis, Pilatus bertanya, ”Engkaukah Raja orang Yahudi?” Pertanyaan lain yang disampaikannya,”Apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?” Pilatus merasa mempunyai hak atas diri Kristus. Pilatus tidak sadar kalau kuasa yang ada padanya sekarang merupakan pemberian dari Allah. Ia tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas diri Kristus. Ia juga bertanya, “Kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya.“ Mereka menuduh Yesus telah melakukan sesuatu yang jahat. Apakah itu benar? Memang benar; Kristus memang telah melakukan sesuatu yang “jahat“, yaitu membongkar keberdosaan, kemunafikan, kejahatan mereka. Orang berdosa tidak suka hal ini & menganggapnya sebagai sebuah kejahatan. Tuduhan palsu yang jahat ditujukan kepada Kristus. Di balik semua itu ada hati Kristus yang mengasihi mereka. Kasih yang tidak tergoncangkan & tidak pernah berubah. Inilah cinta Tuhan.
Harun memaparkan hal ini jauh sebelumnya. Ia berlari & menempatkan dirinya di antara Allah & umat karena ia mengasihi mereka. Apa persamaan Harun & Kristus? 1). Keduanya merasa takut & gentar menghadapi pada kematian. 2). Keduanya pernah berdiri di detik-detik kematian, 3). Keduanya membawa korban persembahan; Kristus membawa diri-Nya sendiri di hadapan mezbah Allah sebagai korban pendamaian. Sementara itu, perbedaan Harun & Kristus, yaitu Harun tidak mati sedangkan Kristus harus mati. Inilah pengorbanan yang jauh lebih besar dari semua korban dalam Perjanjian Lama. Pekerjaan Harun adalah bayang-bayang yang akan dikerjakan oleh Kristus kelak. Kematian Kristus menunjukkan cinta-Nya kepada orang berdosa. Kristus menanggung kutuk dosa, tidak demikian dengan Harun.
Harun berhak mendapat kasih dari seluruh umat Israel karena pertaruhan hidupnya untuk mereka. Orang yang telah mendapatkan penebusan tetapi mempermainkan penebusan itu adalah orang yang tidak menghargai pengorbanan Kristus. Hal itu hanya membuktikan bahwa ia tidak mencintai Tuhan yang telah mati baginya. Alkitab mengatakan, „Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.“ (1Kor 16:22).
Kitab Ibrani menyatakan bahwa Kristus rindu mengenakan tubuh manusia agar dapat mengalami semua pengalaman manusia, supaya dapat mati menggantikan posisi mereka. Kristus sangat menantikan saat penebusan itu & Ia sangat bersukacita karena hari yang ditunggu itu telah tiba; Allah begitu mengasihi manusia berdosa sehingga Ia tidak menyayangkan Anak-Nya, Ia membiarkan Anak-Nya diperlakukan dengan kejam dan bengis. Ia membiarkan Anak-Nya menerima murka-Nya. Kematian Kristus adalah kematian yang ditujukan kepada Allah Bapa. Inilah yang pertama & terutama. Apakah tujuan Kristus mati untuk orang berdosa? Tidak! Kristus mati untuk memuaskan hati Bapa. Kita seperti orang-orang yang duduk di tepi meja makan & mengharapkan ada remah-remah roti jatuh. Sementara tuan itu duduk bersama dengan anaknya menikmati jamuan dengan lengkap. Itulah posisi orang berdosa sampai suatu kali tuan ini mengundang kita dan mengajak untuk duduk semeja dengannya, menikmati hidangan yang disediakan. Inilah anugerah. “Amazing Grace how sweat that sound that saved a wretch like me.”
2. Harun bertindak sebagai pendamai & meredakan murka Allah. Hanya satu cara menghentikan murka Allah, yaitu korban pendamaian. Harun sangat memahaminya. Ia tidak pergi dengan tangan kosong. ia membawa bokor perbaraan & kemenyan di tangannya. Asap pendamaian itulah memuaskan Allah. Jika Harun tidak membawa korban ini, maka dalam sekejap saja orang Israel akan dihancurkan Allah dari muka bumi. Hal yang sama juga dikerjakan oleh Kristus, namun Ia tidak membawa bokor. Ia membawa diri-Nya sendiri sebagai korban pendamaian ke hadapan Allah Bapa. Spurgeon menyatakan bahwa Kristus membawa ketaatan aktif, yaitu ketaatan dalam menggenapkan seluruh tuntutan Taurat di dalam hidup-Nya sehingga Kristus tidak yang dicampur dengan darah-Nya sendiri. Itulah korban pendamaian Anak Allah bagi Allah. Korban ini meredakan murka Allah. Allah Bapa dipuaskan oleh korban anak-Nya. Korah & yang lainpun membawa bokor sebagai korban pendamaian di hadapan Allah namun mereka langsung dihancurkan oleh Allah karena memenuhi tuntutan Allah. Mereka bukanlah orang Allah tetapkan. Hanya Harun. Demikian pula, hanya Kristus yang memenuhi Kriteria Allah. Selain itu, Harun adalah orang yang siap dalam pekerjaan-Nya. Di dalam Perjanjian Lama, seorang imam yang datang kepada Allah harus datang lengkap dengan semua atribut keimaman. Ketika Harun berdiri dengan bokor, maka itu menunjukkan kesiapan dia. Demikian juga halnya dengan Kristus, Ia siap untuk pekerjaan penebusan. Percayakanlah jiwamu pada-Nya & engkau akan menemukan bahwa tindakan itu tepat a&ya. Keselamatan seseorang tergantung dari kesiapan Kristus. Kristus meredakan murka Allah.
3. Harun melakukan tugas perantara. Dia menempatkan diri di posisi jalur tulah Allah. Ia siap dengan segala resiko yang ada. Ia siap kalau Tuhan menghancurkan ia terlebih dahulu. Disinilah pertaruhan kehidupan & kematian. Pada waktu Pilatus memutuskan untuk mencuci tangan & menyerahkan Kristus untuk disesah & disalibkan. Di sesah berarti dihancurkan. Harun menempatkan dirinya di posisi tulah Allah & siap dihancurkan, tetapi dia tidak pernah berjumpa dengan tulah tersebut sebab dia hanyalah bayang-bayang keselamatan saja & bukanlah hakekat keselamatan itu sendiri. Hakekat keselamatan ada dalam diri Kristus. Kristus harus dihancurkan untuk memenuhi tuntutan hukum Allah. Tanpa Kristus berdiri di antara kita & Allah maka pintu neraka langsung terbuka & menanti kita. Siapakah yang menjadi perlindungan jiwamu? Siapakah yang menjadi perisai ketika engkau berdiri di hadapan Allah? Harun mencoba menggambarkannya & Kristus telah menggenapkannya dengan tuntas.
4. Harun bertindak sebagai juruselamat Persembahan Harun menyelamatkan bangsa ini. Israel tidak pernah berpikir & mengharapkan apa yang dikerjakan Harun; mereka hanya tahu satu hal, membunuh Musa & Harun. Tidak pernah terpikir bahwa yang dilakukan oleh Harun berdampak bagi kehidupan mereka, mereka mendapatkan kehidupan. Inilah anugerah. Harun menjadi juruselamat mereka. Lirik sebuah Hymn mengatakan, “There’s a room at the cross for you.” Ada nama setiap umat pilihan di pikiran & hati Kristus pada saat Ia di salib. Hanya Harun seorang diri yang ada di sana; bahkan Musapun tidak diijinkan berdiri di samping Harun untuk membantunya. Demikian pula halnya dengan Kristus, seorang diri berada di sana dengan doa-Nya, air mata-Nya. Keselamatan bukan karena air mata & doa kita. Musa & seluruh bangsa Israel yang menggantungkan nasib kekekalan mereka pada Harun. Harun pasti merasa takut & gentar sebab murka Allah yang menyala-nyala siap menerjang seluruh umat. Allah berkenan kepada-Nya. Dia menjadi juruselamat bagi umat Israel. Puji Tuhan, Semua ini digenapkan oleh Kristus. Dia adalah Juruselamat sejati yang berdiri menjadi perantara kita & Allah; Dia menerima kutuk, murka Allah & kehancuran oleh karena dosa-dosa yang ditanggungkan atas-Nya.
5. Harun pernah berdiri antara kematian & kehidupan. Ketika ia berdiri di antara orang-orang mati & orang-orang hidup maka saat itulah tulah berhenti. Alkitab hanya menunjukkan dua sisi, orang percaya atau tidak percaya; orang percaya akan menikmati segala kebaikan Allah & orang tidak percaya akan menikmati semua penghukuman dari Allah. Pilatus bertanya, ”Siapakah yang aku bebaskan, Yesus yang disebut Kristus ataukah Yesus Barabbas?” Hanya ada 2 pilihan. Disanalah nasib kekekalan kita ditentukan. Mungkin Pilatus berharap orang Israel juga akan membebaskan Yesus Kristus. Ternyata Pilatus salah. Mereka justru memilih Yesus Kristus harus mati disalibkan. Lalu, kenapa harus mati dengan cara disalib? Bukankah ada banyak bentuk hukuman lain? Orang-orang Israel berdasarkan pengaruh dari imam-imam kepala, mau menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Anak Allah. Karena itu, Ia harus mendapatkan kematian yang terkutuk. Hukuman Salib mau menghapus semua pernyataan Yesus Kristus bahwa Dia adalah Anak Allah. Hari itu, Yesus berdiri di antara dua pilihan, mati atau hidup. Pada hari terakhir nanti akan dipisahkan manakah kambing & domba, manakah gandum & ilalang. Termasuk dalam golongan yang manakah kita? Ilalang atau gandumkah? Kambing atau dombakah? Ketika sangkakala berbunyi hanya ada dua kemungkinan, orang yang bersukacita, bertemu muka dengan muka dengan Tuhan atau orang yang merasa ketakutan karena murka Allah itu tiba. Dimanakah posisi kita?
6. Harun mentuntaskan pekerjaan-Nya. Ketika Harun kembali pada Musa, tulah itu sudah berhenti. Mencoba menggambarkan murka Allah yang menyala-nyala & siap menghukum saat itu sangatlah sulit. Mungkin sekali seperti langit yang gelap menyelimuti, angin bertiup keras, gumpalan awan mendung yang makin lama makin besar. Guruh & petir menyambar-nyambar & siap menerjang akan tetapi tiba-tiba mereda. Perlahan semua itu menghilang. Itulah gambaran tulah yang siap menghancurkan namun tiba-tiba berhenti. Hanya Kristus yang dapat meredakan semua murka Allah. Ia tuntas menyelesaikannya. Jika Harun harus mempersembahankan korban berulang kali. Kristus masuk ke tempat suci Allah membawa persembahan diri-Nya sendiri hanya satu kali saja untuk selamanya. Kristus adalah korban yang sempurna. Kita menaruh jiwa ke dalam tangan Kristus karena tahu Dia adalah Juruselamat yang sempurna. Saat Jumat Agung & Paskah tahun ini, berita Salib sekali lagi membawa kita kepada Kristus. Kita memang tidak pernah hadir di Golgota, namun berita salib yang kita dengar membuktikan kitalah yang melakukan penyaliban tersebut. “Where you there when they crucified my Lord? Where you there when they nailed Him on the Cross?? Mari kita memohon pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita & mencintai Dia seumur hidup kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)