Ringkasan Khotbah : 11 Maret 2007

Cinta akan Uang, Kekhawatiran & Kebaikan Allah

Nats: Luk. 12:22-31

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

   

Sebelumnya kita telah memahami peran uang dalam kehidupan manusia: uang be­gitu kuat mengikat diri manusia tak terkecuali orang Kristen. Orang yang cinta akan uang ternyata tidak sesederhana yang kita pikir, yakni hanya mereka yang meng­halal­kan segala cara untuk mendapatkan uang. Tidak! Karena itu, Kristus memberikan peringatan keras untuk kita senantiasa berjaga-jaga terhadap segala ketamakan (Luk. 12:15), dan jangan sampai kita bergantung pada harta kita. Selama kita masih bergantung kepada harta sulit sekali kita bisa tidak mencintai uang, karena sulit sekali bagi kita untuk tidak mencintai sesuatu yang kita pandang begitu penting bagi masa depan kita dan orang-orang yang kita kasihi. Jadi, selama kita masih bergantung pada uang, maka selama itu pula kita akan condong, atau bahkan sudah, mencinta uang.

Karena itu di dalam Luk. 12:22-31 Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana supaya kita bisa hidup tanpa tergantung pada harta, dan caranya adalah dengan tidak lagi kuatir. Disini kita melihat kaitan yang erat antara cinta uang, ketergantungan akan uang, dan kekuatir­an. Selama seseorang bergantung pada uang maka ia akan cinta uang; selama seseorang kuatir maka ia akan bergantung pada uang. Mengapa? Karena uang menjanjikan suatu pegangan yang kuat bagi kekhawatiran kita.  Sesungguhnya, punya banyak uang kerapkali lebih menentramkan dibandingkan punya banyak sahabat (bdk. Ams. 19:4). Bahkan yang mengenaskan, punya banyak harta bisa jadi lebih aman dibandingkan memiliki banyak saudara, karena bukannya tidak ada orang yang mengorbankan saudaranya demi uang. Jadi, apakah yang akan menjadi godaan yang kuat untuk diraih oleh orang yang khawatir? Uang!

Karena itu, Luk. 12:15 dan 12:22 amat terkait erat. Keduanya menggunakan tenses Yunani yang sama, yaitu present active imperative: perintah yang harus terus menerus dilakukan. Seperti kita harus senantiasa berjaga-jaga supaya tidak menjadi tamak, demikian pula kita harus senantiasa berjaga-jaga supaya tidak menjadi kuatir. Ketamakan dan kekuatiran sangat berkait erat. Banyak orang mudah menjadi tamak karena banyak orang mudah menjadi khawatir. Sehingga kalau kita mau tidak bersandar kepada uang, maka kita harus belajar untuk tidak khawatir. Mengapa Tuhan mengatakan kita jangan khawatir?

(1) Tuhan Yesus menegaskan bahwa kekuatiran itu tidak ada gunanya, useless (Luk. 12:25). Perhatikan, ada perbedaan antara tidak kuatir dan tidak waspada. Tidak kuatir bukan berarti kita tidak boleh berjaga-jaga atau kita tidak boleh berencana. Tidak! Tuhan mem­berikan pada setiap kita suatu alert system yang memampukan kita untuk waspada. Waspada berbeda dari kekhawatiran. Pada saat waspada kita akan semakin berfokus tetapi pada saat khawatir kita akan kehilangan fokus. Seorang prajurit yang waspada akan memfokuskan segenap pikiran pada titik-titik yang dianggap berbahaya, tetapi prajurit yang khawatir akan kehilangan arah. Kekhawatiran tidak akan mendatangkan kebaikan apa-apa. Jadi, kekhawatiran membuat orang kehilangan fokus dan akhirnya salah dalam mengambil keputusan. Tapi masalahnya, seringkali kita khawatir bukan karena kita mau atau gemar khawatir, tetapi karena kita tidak bisa tidak khawatir, dan seringkali kita khawatir karena memang ada banyak hal di dunia ini yang mengkhawatirkan. Betulkah kehidupan itu mengkhawatirkan? Betul! Tuhan Yesus tidak berkata jangan khawatir karena kehidupan tidak mengkhawatirkan, tetapi Ia mau kita tidak khawatir sekalipun dunia ini memang mengkhawatirkan. Bagaimana bisa?

(2) Bisa! Jika kita mengamini bahwa Allah itu baik! Disini kita melihat mata rantai terakhir. Seorang yang bergantung kepada uang tidak mungkin tidak cinta uang; seorang yang khawatir tidak mungkin tidak bergantung kepada uang; seorang yang tidak mengamini kebaikan Tuhan tidak mungkin tidak khawatir! Hanya seorang yang bersandar kepada Allah, yang percaya bahwa Allah baik dan akan senantiasa memelihara dia, yang bisa untuk tidak khawatir. Karena itu di bagian ini Yesus berbicara panjang lebar tentang kebaikan Allah. Ia memakai dua contoh konkret untuk menunjukkan bahwa kebaikan Allah bukan semata-mata teori atau hal yang abstrak, tetapi sesuatu yang sangat nyata, meskipun kita seringkali gagal melihatnya.

a. Dalam perumpamaan tentang burung gagak, Yesus menunjukkan bagaimana Allah memberi makan burung gagak, yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak memiliki gudang atau lum­bung. Seringkali kita gagal melihat kebaikan Tuhan karena kita melihat alam ini berjalan dengan sendirinya. Kita terjebak dengan konsep naturalisme yang mengajarkan bahwa seluruh siklus kehidupan ini berjalan dengan sendirinya, sehingga waktu kita melihat burung gagak tetap bisa makan meskipun tidak pernah menuai, menabur, atau menyimpan, kita sama sekali tidak melihatnya sebagai bagian dari pemeliharaan Allah. Naturalisme gagal melihat bahwa di balik hukum alam atau circle of life, ada tangan Tuhan yang terus menopang dan memelihara. Tuhan Yesus memakai burung gagak untuk mengungkapkan kebaikan Allah pada manusia. Dalam Perjanjian Lama, burung gagak termasuk golongan binatang haram; dengan kata lain, Tuhan Yesus mau mengungkapkan kalau burung yang najis dan haram ini saja Tuhan masih pelihara apalagi kita, anak-anak-Nya. Karena itu betapa bodohnya kalau kita yang adalah anak Tuhan masih meragukan kebaikan Allah.

b. Dalam perumpamaan tentang bunga bakung, Yesus menunjukkan bagaimana Allah sedemikian mendandani alam semesta, bahkan bagian-bagian yang paling tidak penting atau yang begitu fana seperti bunga atau rumput. Satu kali, Raja Croesus yang terkenal garang dan sombong mengundang Solon, seorang yang terkenal sangat berhikmat. Setelah memamerkan semua kemegahan istana kepada Solon, Raja ini pun bertanya, “Adakah yang lebih indah dari semua ke­indahan istana ini?“ Solon menjawab "ada, ayam, burung, merak, semua itu memancarkan keindahan yang alami, yang sepuluh ribu kali lebih indah.“ Solon bukan seorang Kristen tetapi ia bisa sedemikian melihat bagaimana Allah mendandani alam semesta ini. Bagaimana mungkin sebagai orang Kristen kita masih bisa meragukan bahwa Allah itu baik dan bahwa pemeliharaan-Nya sungguh-sungguh berlimpah. Mengapa kita kerap memandang Allah memelihara kita secara ala kadarnya?

Banyak orang mau memakai fakta kelimpahan pemeliharaan Allah untuk membuat orang lain tamak dan menuntut hal ini atau hal itu kepada Tuhan. Tetapi sebaliknya, sebagian orang begitu takut mengamini bahwa pemeliharaan Allah begitu berlimpah-limpah sehingga ia menjadi kurang bisa bersandar kepada Tuhan. Hal pertama jelas salah karena Tuhan Yesus mengisahkan kebaikan Allah justru supaya kita tidak menjadi cinta uang, sehingga orang yang memakai fakta kebaikan Allah untuk mengklaim Allah supaya memenuhi ketamakannya, sesungguhnya sedang memutarbalikkan firman Tuhan. Tetapi salah juga kalau kita karena takut pada ekstrim seperti ini, kemudian jatuh ke ekstrim lain, yaitu takut percaya pada keberlimpahan berkat Allah.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah memelihara (bahkan burung gagak yang najis) dan bahwa pemeliharaan-Nya begitu berlimpah (bunga bakung). Jadi, meskipun seandainya ada alasan untuk cinta uang (karena uang memang berharga), meskipun ada alasan untuk bergantung pada uang (karena di dunia sulit mencari pegangan yang lebih kuat dari uang), dan meskipun ada alasan untuk khawatir (karena dunia ini memang mengkhawatirkan), tetapi tidak ada alasan untuk meragukan kebaikan Tuhan. Dan jika tidak ada alasan untuk meragukan kebaikan Tuhan, maka itu berarti tidak ada alasan untuk khawatir, bergantung kepada uang, atau cinta kepada uang.

Dunia ini sangatlah rentan dan rapuh maka wajarlah kalau bangsa-bangsa lain yang tidak percaya kepada Allah menjadi kuatir (Luk. 12:29-30). Berbeda halnya dengan kita, yang percaya pada Allah, kita adalah anak Allah dan kita memiliki Bapa di sorga yang tahu semua kebutuhan kita maka tidak seharusnya kita menjadi kuatir. Kita percaya Allah ada dimana-mana, bahkan di neraka tetapi keberadaan Allah di sorga dan di neraka memiliki sifat yang berbeda. Allah di sorga untuk memberkati tetapi Allah di neraka untuk menghukum. Demikian juga keberadaan Allah di tengah-tengah orang Kristen berbeda dengan keberadaan Allah di tengah-tengah orang yang tidak percaya. Allah berada di tengah-tengah orang Kristen sebagai Bapa yang tahu setiap hal yang kita perlukan; kita mendapatkan tempat yang khusus di hadapan Allah; kita seperti biji mata-Nya.

Biarlah Firman Tuhan ini boleh mengubahkan hidup kita. Kita tidak lagi merasa kuatir yang berlebihan karena kita memiliki Allah yang penuh kasih, yang akan memelihara hidup setiap orang yang percaya. Biarlah Kita semakin dibukakan bahwa memiliki uang itu tidaklah berarti apa-apa dibanding memiliki Allah sumber segala hikmat yang sanggup memelihara hidup kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)