|
Ringkasan Khotbah : 11 Februari 2007
Nats: Luk. 12:33-37 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Tema injil Matius 12 adalah the Lordship of Christ – Kristus adalah Tuhan atas seluruh aspek kehidupan manusia, Tuhan atas seluruh alam semesta; manusia, alam semesta dan setan pun harus tunduk di bawah kedaulatan-Nya. Namun iblis tidak dapat menerima kekalahannya, ia selalu mencari cara untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Iblis dengan siasatnya yang licik memakai orang-orang yang yang mempunyai pengaruh besar di masyarakat seperti orang-orang Farisi untuk melawan Kristus. Lihat, sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi ketika mereka melihat Tuhan Yesus mengalahkan kuasa setan, kejadian itu tidak menjadikan mereka bertobat dan mengakui Yesus sebagai Mesias malahan mereka mengatai Tuhan Yesus melakukan semua mujizat itu dengan kuasa Beelzebul, kuasa penghulu setan. Alkitab membukakan kepada kita bahwa mujizat buta – melihat, tuli – mendengar, bisu – berbicara, dan masih banyak lagi mujizat lain yang dilakukan oleh Tuhan Yesus tidak mungkin dikerjakan oleh kuasa setan; hanya kuasa Allah sang pemilik alam semestalah yang dapat melakukan semua itu. Karena itu, waspadalah terhadap segala akal licik si iblis, jangan sampai kita terjebak dalamnya. Hati-hati dengan perkataan manis yang keluar dari mulut seseorang, kita harus lihat apa motivasi dibalik perkataan itu.
Tuhan Yesus menegaskan perkataan itu seperti buah; kalau pohonnya buruk maka buah yang dihasilkan pasti buruk dan sebaliknya. Jadi, bukan buahnya yang harus kita perhatikan tetapi justru pohonnyalah (Mat. 12:33-37). Orang seringkali tidak memahami akan hal ini akibatnya mereka terjeblos dalam pikiran-pikiran yang salah yang menyimpang seratus delapan puluh derajat dari maksud Tuhan. Berkaitan dengan perkataan maka empat aspek yang perlu kita perhatikan, yaitu:
1. Sumber yang baik menghasilkan perkataan yang baik
Adalah benar dari buahnya suatu pohon itu dikenal namun merupakan suatu kesalahan fatal kalau orang langsung berkesimpulan: kalau buahnya buruk berarti buruk pula pohonnya. Celakanya, orang tidak menyadari kalau ia telah berbuat kesalahan fatal dan langsung memperbaiki cara berpikirnya. Tidak! Orang justru berpikir untuk mengubah buahnya supaya pohonnya menjadi bagus. Hal inilah yang hari ini dilakukan oleh dunia, orang berusaha sedemikian rupa merubah penampilan luarnya dengan berkata-kata manis dan bertingkah laku sopan supaya orang lain yang melihat mempunyai kesan baik terhadap dirinya. Prinsip ini dikenal dengan prinsip behaviorisme yang hari ini diajarkan oleh dunia. Perhatikan, Alkitab menegaskan dari pohon barulah keluar buahnya bukan sebaliknya. Adalah mustahil dengan merubah buahnya maka pohonnya akan berubah. Jadi, perubahan itu haruslah dari berasal dari dalam barulah menuju ke luar. Perubahan harus dimulai dari esensi, hakekat, dogma, teologi, doktrin barulah keluar perilaku yang baik. Francis Schaeffer sangat menyadari bahwa i do what i think and i think what i believe. Namun dunia lebih suka merubah perilaku daripada inner being. Kekristenan melihat baik buruknya buah itu tergantung dari pohonnya. Anak Tuhan sejati bukan berubah di fenomena; hanya Allah yang mampu mengubahkan hati manusia. Biarlah kita mengevaluasi dan menguji diri kita, sudahkah hati kita diubahkan?
Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Tuhan menegaskan kita adalah ciptaan baru, recreate; kita bukan direparasi dan bukan pekerjaan manusia; bukan karena kepandaian atau kehebatan kita kalau kita dapat diubahkan. Semua itu semata-mata karena anugerah. Seseorang kalau dapat bertemu dengan Firman, encountering with the word maka itu bukan suatu kebetulan sebab diantara berjuta-juta manusia di dunia siapakah kita sehingga Tuhan berkenan melawat kita. Bolehkah pertemuan ini menjadi suatu momen yang merubah seluruh hidup kita? Dan biarlah kita meresponi anugerah panggilan Tuhan dengan tepat, yaitu men-Tuhankan Kristus dalam hati kita. Kalau kita tidak peka, memang sepintas antara orang percaya dan orang yang tidak percaya ini tidak akan kelihatan bedanya. Keduanya bisa sama-sama bisa melakukan perbuatan baik dan mengasihi sesama tetapi satu hal yang membedakan secara esensial, yaitu orang percaya men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidupnya; membiarkan Kristus memimpin seluruh langkah hidupnya. Hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalamku. Hal inilah yang menjadikan kita berbeda dengan pohon-pohon yang lain karena kita ini adalah ciptaan baru dan mustahil bagi setan untuk menduplikasikan akan hal ini – setan tidak akan bisa men-Tuhankan Kristus. Perubahan yang terjadi pada anak Tuhan sejati ini muncul secara esensi dan muncul ke luar. Sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Apakah setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita itu merupakan kehendak Tuhan? Hati-hati, jangan mudah terkecoh dengan orang-orang yang kelihatan “rohani“ secara penampilan luar sebab orang-orang seperti ini ketika kesulitan datang, ia akan meninggalkan Tuhan. Biarlah dalam setiap pertemuan kita dengan Firman, hal itu merombak seluruh hidup kita, menyadarkan kita bahwa kita hanyalah budak.
2. Perkataan yang baik itu keluar dari motivasi yang murni
Di abad pertama, seorang bapak gereja, Chrysostom melihat pohon disini sebagai motivasi. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau kita langsung menangkap suatu topik pembicaraan seperti yang dikatakan oleh seseorang; ketika ia berbicara A maka kita juga ikut menangkapnya sebagai A. Pertanyaannya apa yang menjadi motivasi dibalik kalimat tersebut? Tuhan Yesus dengan keras menegur orang Farisi sebagai keturunan ular beludak (Mat. 12:34). Kalimat ini merupakan kalimat khas Tuhan Yesus yang ditujukan untuk orang Farisi. Selain itu Tuhan Yesus juga mengatai mereka seperti kuburan dilabur putih, kelihatan bagus di luar tetapi busuk di dalamnya. Gambaran ini merupakan gambaran yang paling riil untuk menunjukkan siapa orang Farisi. Hal ini sangat penting karena motivasi sangat menentukan; orang seringkali terjebak dengan “buah,“ orang seringkali terjebak dengan kalimat manis seolah-olah itu kalimat yang asli padahal itu bukan kalimat asli.
Perhatikan, ketika kita mendengar suatu pernyataan keluar dari seseorang maka jangan langsung interpretasi dengan menggunakan kacamata atau paradigma kita tetapi kita harus melihat motivasi di balik pernyataan itu. Hati-hati dengan ajaran postmodernisme yang mengajarkan bahwa setiap orang berhak mengintepretasi menurut kacamata yang dipakainya. Ajaran yang salah. Alkitab menegaskan segala sesuatu harus kita kembalikan pada sumbernya. Kalau orang tidak peka maka orang menilai kalimat yang dilontarkan oleh orang Farisi ini sangat baik dan indah seolah-olah ia menolong orang Yahudi supaya jangan disesatkan oleh Tuhan Yesus; dengan kalimat indah dengan menyuruh orang lain untuk berhati-hati terhadap Yesus yang menyembuhkan dengan kuasa Beelzebul. Perhatikan, dibalik kalimat itu ada motivasi jahat, inilah yang disebut dengan kemunafikkan dan Tuhan Yesus tahu akan hal itu, Ia menegur mereka dengan keras dengan mengatai mereka sebagai keturunan ular beludak.
Gambaran ular beludak ini sangat tepat untuk orang Farisi; kalau kita tahu, bentuk ular jenis ini berdiameter kecil, tidak panjang, sangat cantik kulitnya mengkilap namun bisanya sangat mematikan. Gambaran yang tepat sebab apa yang terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang ada di hati. Kita harus sangat berhati-hati menghadapi orang seperti demikian, orang seperti sangat menakutkan. Tuhan ingin anak-anak-Nya supaya tidak munafik. Biarlah kita mengevaluasi dan menyelidiki hati kita, sudahkah kita memiliki motivasi murni? Setiap anak Tuhan harus memiliki hati yang bersih dan murni dan hal itu tidak mungkin kita lakukan sendiri. Tidak! Hanya mereka yang men-Tuhankan Kristus dalam hatinyalah yang dapat memilikinya. Pertanyaannya sekarang relakah hati kita yang kotor dibersihkan oleh-Nya? Tidak semua orang mau dibersihkan hatinya sebab sakitlah yang dirasakan. Namun percayalah, setelah proses pembersihan itu, kita pasti akan merasakan sukacita dan nyaman; kita mempunyai hati dan motivasi yang bersih.
3. Perkataan yang berkuasa keluar dari hati yang takut akan Tuhan
Banyak orang menafsirkan Mat. 12:33-37, Tuhan Yesus hendak berbicara tentang perkataan. Lalu apa signifikansi dari sebuah perkataan? Postmodernisme menyatakan words is meaningless sebaliknya, new age movement menyatakan words is powerfull. Alkitab menegaskan setiap kata-kata yang sia-sia harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Di tengah dunia, orang mungkin menganggap kata-kata itu tidak ada artinya namun tidak demikian halnya di hadapan Tuhan. Karena itu perhatikanlah dengan baik-baik setiap perkataan yang hendak kita katakan. Jangan ucapkan perkataan yang sia-sia tetapi hendaklah perkataan yang keluar itu keluar dari hati yang tulus dan murni. He is the Words, Kristus adalah Firman. Anak Tuhan harus berbeda dengan dunia; orang Kristen haruslah mengeluarkan kata-kata yang penuh kuasa dalam artian kata-kata itu haruslah menjadi berkat bagi orang lain dan hanya Tuhan saja yang dapat memampukannya.
Untuk memahami sebuah perkataan maka Kekristenan melihat dari konsep CFRC, yaitu: Creation, Fall, Redemption, Consummation. Dari keempat hal ini, dunia hanya tahu satu saja, yaitu fall; orang berdosa memikirkan segala sesuatu dari sudut pandang dirinya yang telah jatuh dalam dosa maka hasilnya tentu saja, kehancuran. Orang yang jatuh dalam dosa tidak pernah memahami apa itu creation, redemption dan consummation; ia hanya tahu satu, yaitu hidup dalam dosa karena itulah realita yang ia hidupi sekarang. Dalam kondisi fall itu, orang mencoba mencari penyelesaian tanpa ia memahami creation, redemption maupun comsummation akibatnya ia menyelesaikan masalah dengan fall dan hasil akhirnya pasti fall. Dan iblis sangat pandai memakai situasi yang telah hancur itu seolah-olah sebagai suatu kebaikan. Hati-hati dengan akal licik si iblis. Iblis bisa memberikan kekayaan, kesehatan, maupun kekuasaan namun ada satu sifat Ilahi yang tidak bisa ditiru oleh iblis, yaitu kesucian. Orang tidak bisa berkata pada diri sendiri, self talk “suci“ maka ia menjadi suci. Tidak! Bukan kata-katanya yang berkuasa tapi perbendaharaan kata-kata itulah yang menentukan sehingga suatu kata-kata itu mempunyai kuasa; dari manakah kata-kata itu berasal.
Ayat 37 menegaskan dosa bukan dihukum di tataran dasar – dosa asal. Dosa itu dihukum setelah dosa itu matang dalam kehidupan. Para teolog Reformed percaya bahwa seorang bayi yang lahir dalam keluarga Kristen dan meninggal di usia dini maka ia akan diselamatkan karena orang dihukum bukan karena dosa asal. Memang, dosa asal itu merupakan potensi dasar orang untuk berbuat dosa namun kalau dosa itu belum matang maka dosa asal tidak menjadi dosa. Ingat, upah dosa adalah maut. Karena itu, berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan. Perkataan seseorang itu barulah berkuasa ketika perkataan itu keluar dari hati yang suci dan hati yang takut akan Tuhan. Tuhan kembali mengajak kita melihat bahwa proses itu dimulai dari dalam diri kita. Inilah bedanya Kekristenan dan dunia. Iman Kristen memulai dari dalam hati barulah dari sana terpancar suatu keindahan dan setiap kalimat yang keluar itu akan berkuasa sebab semua perkataan itu keluar dari motivasi yang tulus.
4. Perkataan yang baik itu tegas dan menyatakan kebenaran
Berhati-hatilah dengan setiap perkataan dan menanggapi perkataan seseorang. Iblis sangat licik memakai suatu situasi dimana situasi dibuat sedemikian rupa seolah-olah perkataannya itu merupakan suatu kebenaran sehingga orang bersimpati padanya; ia memakai orang yang berpengaruh di masyarakat – dalam hal ini orang Farisi. Di sisi lain, Tuhan Yesus dengan perkataannya yang keras dan tegas menegur orang Farisi namun perkataan yang keluar itu merupakan kebenaran dan keluar dari motivasi murni. Ketika Tuhan Yesus dalam keadaan lapar, Allah tidak langsung menolong tetapi iblis yang datang menawarkan jalan keluar yang mudah dan cepat. Kalau kita dihadapkan pada situasi itu, dimanakah posisi kita? Kita lebih bersimpati pada orang Farisi ataukah Tuhan Yesus yang memporakporandakan Bait Allah? Dimanakah posisi kita? Bagaimana kita memahami kata-kata?
Kita harus pekan membedakan antara kata-kata culas dengan kata-kata tegas. Anak Tuhan sejati seharusnya senang dengan kata-kata yang tegas meskipun terasa menyakitkan tetapi kata-kata yang keluar adalah kebenaran dan ingat, kebenaran sejati tidak dapat berkompromi dengan dosa dan kemunafikan. Sebaliknya anak setan lebih suka kata-kata manis yang culas. Orang tidak sadar kalau kenikmatan yang ditawarkan iblis itu racun yang akan menghancurkan hidupnya. Biarlah kita mau diubahkan seluruh paradigma kita dan mencontoh teladan Kristus yang tegas membukakan kebenaran pada setiap manusia.
Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang Kristen yang mengikut cara dunia dan berpikir cara dunia itulah sebagai jalan keluar terbaik; menganggap perkataan orang Farisi lebih sopan dari perkataan Tuhan Yesus tetapi orang lupa kebenaran sejati haruslah diberitakan dan untuk ini dituntut suatu ketegasan. Orang Kristen sejati dituntut untuk tegas sekaligus mempunyai hati lembut. Karena itu, hendaklah kita memohon bijaksana dari Tuhan sehingga kita dapat bersikap tegas sekaligus lembut. Bagaimanakah sikap kita kita berelasi dengan sesama? Bagaimana kita menyikapi orang yang tegas dan orang yang curang? Kalimat-kalimat yang keluar dari orang yang tegas memang terasa sangat menyakitkan tetapi semua perkataan itu menyatakan kebenaran dan keluar dari hati yang jujur, motivasi yang benar dan semua perkataan yang keluar itu demi kebaikan kita – supaya manusia bertobat. Kalimat yang keras dan tegas yang menyatakan kebenaran sangat dibutuhkan dunia berdosa sekarang ini supaya mereka sadar dan bertobat.
Biarlah kita menguji dan mengevaluasi diri kita, sudahkah hati kita disucikan dan mempunyai motivasi murni? Dengan demikian setiap perkataan yang keluar itu benar-benar keluar itu mempunyai kuasa dan menjadi berkat bagi orang lain dan membuat orang sadar akan kebenaran sejati. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)