Ringkasan Khotbah : 4 Februari 2007

Memiliki Uang atau Cinta Uang

Nats: Luk. 12:13-21

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

     

Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ini pastilah tidak asing lagi bagi kita. Namun janganlah hal itu menghalangi kita untuk memahami dan semakin mengenal kebenaran Firman. Sebagian orang sangat sensitif untuk membicarakan perumpamaan ini sebab berkaitan dengan uang. Ada sebagian gereja yang setiap minggu terus menerus berbicara tentang uang namun sebagian yang lain sangat enggan membicarakannya dan kalaupun terpaksa maka mereka mengundang orang lain untuk membicarakannya. Lalu bagaimana sikap Kristus berkenaan dengan uang? Di satu pihak, Kristus tidak selalu terus menerus berbicara mengenai uang setiap kali Dia mengajar atau melakukan mujizat na­mun di lain pihak, Tuhan Yesus juga tidak kurang-kurang dalam mengajarkan dan mem­berikan nasihat yang berkaitan dengan uang. Dalam hal ini, peran gereja sangat signifikan dalam hal mengajar jemaat dalam hal uang sehingga jemaat tahu bagaimana harus bersikap dengan benar. Sebagian besar orang berpendapat bahwa pembelajaran tentang uang itu barulah diperlukan untuk mendapat uang namun tentang hal yang berkenaan dengan pengelolaan uang tidak perlu dipelajari sebab akan muncul dengan sendirinya.

Hari ini ada berbagai pendapat berkenaan dengan uang, yaitu: 1) uang itu netral, akar permasalahan ada dalam diri manusia yang tidak tahu bagaimana memakai uang (punya uang bukan masalah, cinta uang itu masalah), 2) uang itu dalam dirinya sendiri sudah mempunyai potensi menghancurkan sehingga kalau kita tidak waspada dan berjaga-jaga maka uang itu akan membuat kita mengabdi padanya (tanpa kewaspadaan punya uang identik dengan cinta uang). Pernahkah kita mengevaluasi diri apakah kita termasuk dalam kategori orang yang cinta uang? Biasanya, orang akan langsung membandingkan dirinya dengan para penjahat yang mendapatkan uang secara tidak halal. Orang beranggapan bahwa orang-orang yang menghalalkan segala cara demi uang itulah yang masuk dalam golongan orang yang cinta uang. Orang merasa diri sudah “baik“ karena ia tidak melakukan seperti yang dilakukan para penjahat tersebut. Perlu diperhatikan bahwa orang kaya dalam perumpamaan ini tidak dicatat melakukan semua kejahatan itu.

Di Alkitab, kita jarang menjumpai Tuhan Yesus menyandingkan Allah dengan apapun tetapi berkaitan dengan uang, Kristus sepertinya menyandingkan Allah dengan mamon. Dia menegaskan bahwa orang tidak bisa menyembah pada Allah sekaligus Mamon karena Kristus melihat sangat besar kemungkinan orang jatuh dalam hal penyembahan. Orang bisa menyembah Tuhan sekaligus pada mamon dan celakanya, demi mendapatkan uang, orang memanipulasi Tuhan. Richard Foster, seorang quaker, dalam buku The Challenge of Discipline Life, melihat ada tiga tantangan besar yang meng­hambat pertumbuhan rohani, yakni: 1) sexualitas, 2) kekuasaan, 3) uang. Uang seringkali menjadi motivasi utama.

Tanpa sadar, orang seringkali salah menempatkan uang, uang ditaruh pada posisi sakral dan kita memiliki ketakutan yang tidak wajar dalam hal ini. Sebagai contoh, kita tidak akan menaruh curiga jika seseorang bertanya mengenai keluarga, rumah dan pekerjaan tetapi kita akan langsung merasa takut dan waspada jika orang menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan uang, misalnya: berapa gajimu? berapa uang yang ada di tabunganmu? Secara reflek, kita langsung memagari diri dan sebisa mungkin menghindar dari topik ini. Pertanyaannya adalah benarkah uang itu netral? Kalau benar, kita menganggap uang itu netral sama seperti benda lain lalu kenapa orang langsung bereaksi negatif ketika topik pembicaraan mengenai uang? Kalau begitu  masihkah kita berpikir bahwa uang itu benda netral? Kalau benar netral, kenapa kita memperlakukannya secara khusus?

Edmund Husserl, seorang tokoh fenomenologi, suatu kali mendefinisikan tentang kamar tidur. Kamar tidur didefinisikan sebagai ruangan khusus yang sifatnya sangat pribadi dima­na tidak sembarang orang boleh masuk. Demikian juga dalam hati kita, kita seringkali memberikan suatu ruangan khusus untuk uang dimana tidak boleh ada seorangpun yang boleh tahu bahkan suami atau istri pun tidak tahu. Jadi, benarkah uang itu netral? Dan cinta akan uang itulah yang berbahaya? Lalu bagaimana ciri-ciri orang yang cinta uang? Firman Tuhan membukakan pada kita bahwa ternyata orang yang cinta uang tidaklah sesederhana gambaran kita, yakni orang yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Tidak!

Dalam perumpamaan yang dipaparkan dalam Alkitab ini, kita mendapati orang kaya ini bukanlah termasuk dalam golongan orang jahat, ia tidak pernah menindas atau mengeruk harta milik orang lain untuk memperoleh uang bahkan kalau kita perhatikan, orang kaya ini termasuk dalam seorang pekerja keras. Namun Tuhan Yesus tidak melihat secara fenomena, dengan tajam Tuhan Yesus menunjukkan seperti apakah orang yang cinta uang, yakni:

1. Orang yang tamak, tidak pernah merasa cukup 

Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,... (Luk. 12:15) dalam bahasa Yunani menggunakan tenses yang sangat tajam, yakni suatu peringatan keras dimana kita harus terus berjaga-jaga dan terus waspada supaya tidak menjadi tamak sebab hari ini mungkin kita tidak tamak namun bagaimana dengan besok, lusa, dan hari-hari selanjutnya. Orang yang tamak adalah orang yang tidak pernah puas, tidak pernah merasa cukup dengan apa yang ia miliki sekarang, ia selalu terus dan terus mencari. Ada suatu pepatah mengatakan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang tetapi dunia tidak akan pernah cukup untuk memenuhi ketamakan satu orang. Satu hal yang menjadi sukacita bagi orang tamak adalah ketika ia melihat jumlah uangnya bertambah. Gambaran orang tamak ini cocok dengan tokoh kartun Paman Gober. Fokus hidupnya yang utama hanya satu, yaitu bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sungguh sangat mengenaskan, bukan?

Firman Tuhan membukakan pada kita apalah artinya semua harta yang kita miliki kalau kita kehilangan nyawa? Untuk apa dan siapakah semua harta yang kita kumpulkan dengan bersusah payah tersebut? Mungkin kita berpikir bahwa semua harta yang kita kumpulkan sekarang itu untuk anak kita kelak. Benarkah anak kita membutuhkannya? Pernahkah kita bertanya pada anak kita benarkah ia lebih menginginkan harta daripada kasih sayang orang tuanya? Benarkah seorang anak itu akan merasa bahagia dengan harta berlimpah tapi hidup tanpa kasih sayang orang tuanya? Kapan kita membahagiakan orang tua kita, pada saat ia masih hidup ataukah saat ia sudah meninggal? Tentu saja, pada saat ia masih hidup, bukan? Pertanyaan yang sama harusnya dikenakan juga pada diri kita, benarkah anak kita senang jika kita baru bisa membahagiakan mereka setelah mereka meninggal dengan cara meninggalkan warisan yang banyak, sementara di saat mereka masih hidup kita terlalu sibuk mengumpulkan semua warisan itu? Sesungguhnya, anak-anak lebih memilih orang tuanya ada bersama-sama dengan mereka daripada harta berlimpah. Lalu untuk apa dan siapa semua harta yang kita kumpulkan tersebut? Tentang hal ini, Pdt. Dr. Stephen Tong telah memberikan teladan indah pada kita. Dengan uang yang ada padanya, beliau selalu berpikir untuk memberi dan memberi, beliau juga berpikir betapa sia-sianya uang banyak yang ia punya kalau ia sudah mati karena itu, sedapat mungkin uang itu dipakai untuk pekerjaan Tuhan. Orang seringkali ter­lam­bat menyadari betapa ketamakan itu merupakan suatu kebodohan dan kesia-siaan belaka. Pertanyaan Tuhan Yesus sekaligus menjadi perenungan kita adalah kalau kita mati untuk apa semua harta yang kita miliki tersebut? Karena itu, hendaklah kita terus berjaga-jaga dan berwaspada supaya kita tidak menjadi tamak.

2. Orang yang menempatkan uang di posisi utama

Orang yang hidupnya berpaut pada uang; uang adalah penentu hidup matinya (Luk. 12:15b).  Ingat, uang yang sekarang ada pada kita itu asalnya dari Tuhan. Kalau bukan Tuhan yang mem­be­ri pekerjaan pada kita maka mustahil kita mendapatkan uang, kita tidak bisa menyeko­lah­kan anak, kita tidak bisa membeli makanan atau mainan. Namun sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak menyadari hal ini sebab orang tidak dapat melihat secara riil bahwa semua yang ada pada kita itu asalnya dari Tuhan. Orang lebih mudah memahami pernyataan berikut: “carilah uang dan jadilah kaya maka semua hal bisa kamu dapatkan“ daripada Firman Tuhan yang mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu“ (Mat. 6:33). Lalu apa bedanya kita dengan anak kecil yang tidak bisa melihat hal yang abstrak? Sungguh teramatlah menyedihkan pemeliharaan Tuhan itu dirasakan sebagai sesuatu yang abstrak. Biarlah sejak dini kita mengajar pada anak bahwa semua berkat yang kita terima itu asalnya dari Tuhan yang disalurkan melalui orang tua sebab bagi seorang anak, tentang hal Tuhan memberi itu sangatlah abstrak.

Biarlah kita mengevaluasi diri, di posisi mana kita menempatkan uang dalam hidup kita? Hati-hati dengan akal licik si iblis yang memang sengaja mengajarkan akan materialisme dimana uang itu adalah segala-galanya; uang bisa ditukar dengan kesehatan, uang bisa ditukar dengan kekuasaan, dan masih banyak lagi. Firman Tuhan menegaskan meskipun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung daripada kekayaannya itu. Biarlah kita bertum­buh dalam iman, tidak hanya melihat fenomena tetapi kita belajar melihat lebih dalam, yakni Tuhan memakai uang untuk memelihara hidup kita. Jadi, bukan uang yang memeliharakan hidup kita sebab tanpa uang pun Tuhan masih dapat memelihara kita. Tidaklah mudah bagi kita untuk tidak mencintai sesuatu hal dalam hal ini uang yang sudah kita anggap sebagai penentu hidup karena itu, kita memohon Tuhan membukakan dan mengubahkan paradigma kita sehingga kita dapat melihat bahwa uang itu tidak lebih hanyalah alat di tangan Tuhan. Ada hal lain yang lebih penting dari uang, yakni Tuhan Allah itu sendiri. Ingat, uang hanyalah alat. Jadi, uang seharusnya dipakai untuk menyembah Tuhan bukan sebaliknya kita memanipulasi Tuhan untuk mendapatkan uang.   

3. Orang yang sulit untuk memberi

Orang cinta uang tidak terpikir untuk memberikan apa yang ia miliki pada orang lain meski ia hidup berkelimpahan. Perhatikan, dalam setiap pengajaran-Nya ketika Tuhan Yesus mem­be­rikan peringatan keras sekaligus memberikan nasihat positif. Saat memperingat­kan kita untuk berjaga-jaga dan waspada akan uang, Ia juga memberikan nasihat positif, yaitu lebih baik memberi daripada menerima. Menurut Richard Foster, salah satu cara terbaik supaya kita tidak diperbudak oleh uang adalah dengan memberi. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita mempunyai hati yang selalu rindu untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui uang yang ada pada kita? Apakah kita selalu berpikir untuk memberi dan memberi bagi pekerjaan Tuhan? Salah seorang teman dari Richard Foster yang berprofesi sebagai dokter, suatu kali mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada seorang kaya di kota itu tentang rencananya terhadap semua uang yang ia miliki. Jawabannya sungguh me­ngejutkan, ternyata ia tidak mempunyai rencana apapun atas semua hartanya; sepanjang hidupnya selalu mengkhawatirkan hartanya dan ia akan merasa seperti tertusuk ketika ia memberi. Sangat mengenaskan, bukan? Hal yang sama seringkali kita jumpai sehari-hari, orang lebih rela makanan yang berlimpah itu membusuk dan dibuang daripada diberikan pada orang lain. Orang semacam ini adalah orang yang miskin di hadapan Tuhan. Ia mem­punyai kapasitas sedemikian rupa memikirkan bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya tetapi ia tidak mempunyai daya untuk memberi.

Biarlah ketika kita berdoa kepada Tuhan, kita tidak hanya memohon berkat-berkat-Nya saja tetapi hendaklah kita memohon hikmat supaya kita tahu bagaimana dan pada siapa kita harus memberi sehingga pemberian kita tidak salah. Jangan pikir bahwa memberi itu lebih mudah daripada mendapatkan uang. Tidak! Untuk memberi pun diperlukan karunia Tuhan, bagaimana kita memberi dengan tepat dan pada waktu yang tepat dan untuk hal itu diperlukan suatu pemikiran dan pergumulan dan doa di hadapan Tuhan. Jadi, karunia Tuhan itu bukan diperlukan untuk mendapatkan tetapi juga dalam hal memberi.    Luangkan waktu untuk menggumuli akan hal ini dan tenaga dengan mencari informasi yang akurat sebelum kita memberi sehingga uang yang kita berikan itu benar dan tepat. Ingat, semua itu harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Betapa bahagia dan sukacita hidup kita kalau kita dapat melakukan Firman Tuhan: lebih baik memberi daripada menerima sebab di saat memberi itulah kita mendapatkan sukacita sejati.

Ingat, uang itu hanya alat untuk dipakai oleh manusia, uang tidak untuk disembah, kita bukan melayani uang; uang untuk Tuhan maka biarlah uang kita menjadi berkat bagi orang lain. Betapa indah hidup kita kalau kita berserah sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan.

Dapatlah disimpulkan bahwa uang itu tidak senetral bayangan kita selama ini. Karena itu senantiasalah berjaga-jaga dan waspada supaya jangan kita menjadi orang yang tamak dan senantiasa memohon pada Tuhan supaya Ia memberikan anugerah-Nya sehingga kita dapat melihat lebih dalam, kita dibukakan bahwa uang itu asalnya dari Tuhan dan uang bukan untuk disembah tetapi uang hanyalah alat dan Tuhan mau kita memakainya untuk menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan dipermuliakan. Sesungguhnya, orang seperti ini adalah orang yang kaya di hadapan Tuhan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)