Ringkasan Khotbah : 31 Desember 2006

Filipi 3: 10-12

Nats: Fil. 3:10-12

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Sebagian besar Perjanjian Baru ditulis oleh Paulus dimana di dalamnya banyak doktrin penting yang menjadi dasar dari iman Kekristenan. Tuhan membentuk Paulus sedemikian rupa dengan berbagai-bagai tantangan dan kesulitan yang harus ia hadapi sebelum akhirnya Tuhan memakai Paulus dengan luar biasa. Sebelum kita merenungkan lebih lanjut, ada baiknya kalau kita memahami latar belakang kehidupan Paulus yang sebelumnya dipanggil Saulus (artinya besar). Saulus memang layak bermegah diri dan itu bukanlah suatu kesombongan. Secara natur, Saulus seorang Ibrani asli, disunat hari ke-8, dari suku Benyamin dan ia sangat pandai, terbukti diusianya yang masih muda, ia sudah menjadi ahli Taurat, ia duduk dibawah guru besar Gamaliel, ini berarti ia masuk dalam golongan Farisi yang jaman itu sangat dihormati. Saulus juga mempunyai semangat juang yang tinggi atau lebih tepat dikatakan sebagai ambisi pribadi, yakni membinasakan setiap orang yang menjadi pengikut Jalan Tuhan. Saulus merasa dengan tindakannya tersebut ia telah melakukan berbuat saleh. Salah! 

Di hadapan Tuhan sang pemilik alam semesta ini kita bukanlah siapa-siapa. Tuhan membuktikan hal ini di hadapan Saulus, ia ditundukkan dibawah kedaulatan-Nya. Adalah tugas kita sebagai anak Tuhan untuk menyadarkan orang akan kebodohannya dan mengembalikan dia pada jalan Tuhan. Sebab sesungguhnya, dia bukan sedang menghancurkan orang lain tetapi diri sendirilah yang ia hancurkan untuk sementara, ia merasa sukses padahal kebinasaanlah yang ia terima. Setiap hal yang kita anggap sebagai kesuksesan justru akan mematikan kita. Orang yang menjadikan uang sebagai yang utama maka uang akan menjadi titik awal dari kebinasaan. Hati-hati, iblis sengaja memberikan kekayaan bahkan seluruh isi dunia dan kemudian dibuang dalam kebinasaan. Inilah saatnya dimana anak Tuhan menyuarakan kenabian dan menyatakan kebenaran dan dosa.

Demikian juga halnya dengan kepandaian yang dimiliki oleh seseorang. Dengan kepandaian yang ia miliki, orang merasa tidak perlu Tuhan lagi. Agustinus menyatakan pikiran dan rasio haruslah ditaklukkan di bawah iman sebab pikiran atau rasio yang tidak ditaklukkan di bawah iman menjadi liar. Adalah pendapat yang salah yang menyatakan bahwa hidup kita akan sengsara, kekayaan dan kepandaian menjadi hilang ketika kita mengikut Tuhan. Tidak! Status, kepandaian dan semangat Paulus tidak menjadi hilang atau pudar setelah ia mengenal Tuhan. Paulus sadar bahwa semua yang ia banggakan itu tidak ada artinya, semua itu hanyalah sampah belaka setelah pengenalan-Nya akan Yesus Kristus; yang kukehendaki adalah: 1) mengenal Dia, dan 2) kuasa kebangkitan-Nya, 3) persekutuan dalam penderitaan-Nya, 4) serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 5) beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Kelima aspek ini berubah total kehidupan Paulus.

Pertama, Mengenal Kristus yang dimaksud Paulus bukan hanya mengenal secara teoritis atau pengetahuan belaka. Kalau secara teoritis, sesungguhnya, Paulus sangat mengenal Kristus mengingat Paulus hidup sejaman dengan Tuhan Yesus apalagi hari itu, seluruh gerak gerik Tuhan Yesus menjadi sorotan utama dari para ahli Taurat maupun orang Farisi. Mengenal Dia yang dimaksud oleh Paulus ini mau menggambarkan person to person in touch, menyatu dengan pribadi Kristus. Untuk lebih jelasnya, mengenal disini seperti layaknya suami istri yang saling kenal secara intim dalam seluruh aspek hidup. Paulus sadar bahwa seluruh kepandaian, status dan semangat jika tidak ditundukkan di bawah Kristus, semuanya sia-sia belaka. Pertanyaannya sekarang adalah kita mau mengikut siapa? Ada dua pilihan: ikut diri sendiri atau ikut Tuhan? Sadarkah kita bahwa segala sesuatu yang kita pandang baik, hebat, dan benar itu tidaklah sah kalau tidak dilihat dari sudut pandang Tuhan? Kita harus mengenal Kristus terlebih dahulu barulah kita dapat mengenal diri. Hidup yang sejati haruslah kembali pada Kristus. Dunia semakin hari tidak bertambah semakin baik sebaliknya dunia dengan semangat pluralisme menawarkan segala opini dan solusi. Hati-hati, berbagai opini dan solusi yang ditawarkan, itu tidak menyelesaikan masalah dan tidak menjadikan hidup kita menjadi lebih baik.

Hanya dengan kembali pada Allah barulah kita mengenal diri. Celakanya, hari ini banyak orang yang tidak mau mengenal Allah, orang lebih percaya pada diri sendiri. Pertanyaannya adalah siapakah diri kita sehingga diri layak dipercaya? Kita bukanlah apa-apa di hadapan Tuhan. Kita hanyalah manusia bodoh karena itu janganlah kita memegahkan diri di hadapan-Nya. Namun ironis, orang menjadi marah ketika dibukakan realita tersebut. Manusia mencoba menutupi kekurangan yang ada padanya dengan berbagai cara dan manusia saling membohongi diri. Inilah realita manusia berdosa. Maka tidaklah heran ketika fakta akan dosa ini dibukakan, manusia tidak dapat menerimanya, manusia terlalu sombong untuk mengakui bahwa dirinya adalah manusia berdosa. Biarlah kita sadar diri, kita bukanlah apa-apa; kalau kita merasa diri pandai, hebat, kaya maka pandanglah ke atas karena masih banyak orang yang lebih dari kita; setiap kali kita melihat ke atas kita akan sadar, siapa kita sesungguhnya. Janganlah terus melihat ke bawah, melihat orang yang kurang dari kita sebab itu menjadikan kita sombong. Pengenalan akan Kristus menyadarkan Paulus akan realita, kelemahan dan keterbatasan dirinya, the only thing I want to know is Christ and Him crusified.

Kedua, setelah mengenal Dia maka kita juga harus mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Hal ini menjadi kekuatan Kekristenan. Di saat yang sama kita bukanlah siapa-siapa akan tetapi pada saat yang sama pula, kita tahu Tuhan memberikan kuasa terbesar, yakni kuasa kebangkitan. Di alam semesta tidak ada kuasa lain yang lebih besar yang dapat mengalahkan kuasa kematian selian kuasa Kristus. Dunia mencoba mencari cara untuk menyelesaikan kematian tetapi fakta membuktikan bahwa dunia tidak dapat mengalahkan kematian. Kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang mematikan kematian seperti yang diungkapkan oleh John Owen. Kristus mati bukan karena Ia berdosa. Tidak! Tetapi Ia menanggung beban dosa dan Ia diberikan kuasa kemenangan untuk menghancurkan kematian yang membelenggu manusia. Kebangkitan Kristus merupakan penyelesaian dari problema manusia yang paling dahsyat, yakni kematian. Problema yang paling besar dan dahsyat di dunia adalah kematian dan dosa maka tidak ada satu permasalahan apapun di dunia yang dapat diselesaikan oleh Kristus sebab masalah terbesar sudah terselesaikan. Kuasa kebangkitan membawa kita pada kemenangan total dan membuat kita mempunyai daya juang. Kita memang kecil dan lemah tetapi Allahku besar dan kuat, inilah paradoks dan ini menjadi kekuatan bagi kita melangkah di tengah dunia. Hendaklah kita mengevaluasi diri kita dengan kekuatan apakah kita menghadapi tahun 2007? Dengan kekuatan kita sendiri ataukah bersandar mutlak pada pimpinan Tuhan?

Manusia berdosa lebih suka mengandalkan kekuatan diri dan ironis, ketika ia mengalami kehancuran Tuhanlah yang disalahkan bahkan lebih celaka lagi, Tuhan yang harus memperbaiki kesalahan yang ia telah perbuat. Inilah sifat manusia berdosa. Tuhan menuntut kita kembali pada Dia dan tunduk mutlak pada-Nya barulah kemudian, Ia akan memimpin langkah kita dengan kuasa kebangkitan-Nya. Memang, kuasa Kristus sangatlah dahsyat tetapi ingat, Ia memimpin dengan kuasa kedaulatan-Nya. Namun, manusia seringkali memperlakukan Tuhan tak ubahnya seorang pesuruh yang harus menuruti setiap keinginan kita. Tahun ini akan segera berlalu, biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Hati-hati banyak orang yang mengaku cinta Tuhan bahkan mau menyerahkan seluruh hidup hanya untuk Tuhan tetapi sesungguhnya, di balik itu, keinginan dirilah yang menjadi utama. Dengan dalih, penginjilan maka orang menggunakan berbagai macam cara seperti kesembuhan, musik yang agung dihilangkan dan sebagai gantinya memakai musik yang hingar bingar tak beda dengan dunia. Perhatikan, untuk menjadikan orang bertobat maka hidup berdosa harus dibawa pada hidup yang suci bukan sebaliknya, yang suci diturunkan tingkatnya pada hal-hal yang berdosa. Tidak! Manusia berdosa hanya mau gampang dan selalu berpikir dari sudut pandangnya akibatnya kuasa Tuhan dipakai untuk kepentingan manusia, kuasa Tuhan dipakai untuk memuaskan apa yang menjadi keinginan manusia. Karena itu, kita perlu bersekutu dalam penderitaan-Nya.

Ketiga, Paulus dengan tajam melihat, kalau kita hanya ingin kuasa kebangkitan dan segala macam bentuk kuasa kemenangan-Nya saja tetapi kita tidak mau menjadi serupa dalam penderitaan-Nya maka rusaklah iman Kekristenan. Ada pendapat yang salah yang menyatakan bahwa selain doktrin pengajaran yang baik maka orang perlu mendapat kesembuhan atau mujizat, orang perlu dikenyangkan seperti yang pernah dilakukan Tuhan Yesus pada 5000 orang. Memang benar, selain mengajar, Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat dan menyembuhkan banyak orang tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah apakah Tuhan Yesus melakukan mujizat pada 12 murid-Nya? Perhatikan, Paulus meminta berkali-kali pada Tuhan untuk mencabut duri dalam daging yang menjadi kelemahannya tetapi Tuhan tidak sembuhkan bahkan Tuhan menyatakan anugerah-Ku sudah cukup bagimu. Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat pada orang lain tetapi tidak demikian halnya pada murid-murid terdekat-Nya. Orang-orang mendapat banyak mujizat itu tidak mengenali Dia yang adalah  Mesias, mereka justru menyalibkan Dia. Inilah manusia berdosa. Ketika orang tidak dipuaskan keinginannya maka orang yang oportunis tetap jadi seorang oportunis. Orang Kristen yang oportunis adalah seorang yang mau menjadi Kristen karena mendapat keuntungan. Murid-murid Tuhan Yesus hidup menderita bersama Tuhan Yesus, mereka tidak mendapatkan mujizat dari Tuhan Yesus namun perhatikan, mereka inilah seorang murid sejati. Mereka inilah yang mau berkorban untuk Tuhan Yesus dengan menjadi martir. Paulus menyadari bahwa untuk mengenal kuasa kebangkitan-Nya haruslah disertai dengan berani hidup bersama-sama dengan Kristus dalam penderitaan-Nya.

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa menjadi anak Tuhan akan selalu hidup nikmat, anak Tuhan tidak pernah mengalami kesulitan. Tidak! Dunia tidak bertambah baik sebaliknya, dunia semakin menuju pada kehancuran, banyak tantangan dan kesulitan yang harus kita hadapi namun di tengah tantangan itu, ingatlah Tuhan janji akan memberikan kekuatan, kuasa kebangkitan-Nya akan menyertai kita sehingga kita mampu berjalan di tengah dunia. Cuaca tidak akan selalu terang benderang, badai mungkin akan menimpa tetapi satu hal yang kita tahu rahmat Tuhan itu selalu serta. Sebuah emas nampak kemurniannya setelah ia ditempa dan dibakar terlebih dahulu demikian juga halnya dengan hidup Kekristenan, ditengah tantangan dan kesulitan itu akan nampak kemurnian kita. Penderitaan yang kita alami itu memang Tuhan ijinkan dan dipakai untuk kemuliaan nama-Nya.

Paulus pertama kali datang ke Filipi tidak mendapat perlakuan baik, sebaliknya perlakuan buruklah yang ia terima, ia langsung dipenjarakan di penjara yang paling dalam dan dibelenggu. Namun penderitaan ini tidak membuat ia mundur, di tengah penderitaannya, ia memuji Tuhan. Orang yang tidak mempunyai hati seperti Kristus yang memahami jiwa penderitaan sekaligus memahami kuasa kemenangan maka mustahil bagi seseorang dapat memuji Tuhan di tengah penderitaan yang ia alami. Kuasa Kristus itu justru nyata ketika kita mau hidup taat, hidup dalam penderitaan. Tuhan tidak janjikan kenikmatan, terkadang kita harus melewati tantangan yang berat namun pada saat itulah nyata kuasa kemenangan Kristus. Ketika kita berjalan bersama Tuhan bukan berarti tidak akan mengalami kesulitan. Tidak! Kesulitan itu ada di depan kita bahkan terkadang kita merasa menemui jalan buntu, pimpinan Tuhan itu nyata saat itu, Tuhan memimpin jalan yang kita anggap buntu ternyata dibukakan oleh Tuhan. Hidup di dalam Tuhan adalah hidup yang paling kokoh.

Keempat, Hidup serupa dengan kematian dan beroleh kebangkitan merupakan cara paradoxical untuk mencapai kesuksesan. Orang seringkali berpikir bahwa kesuksesan berarti kita terus naik ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak! Menurut Alkitab, untuk mencapai kesuksesan maka orang harus diturunkan sampai ke titik nadir, titik terendah untuk kemudian ia naik dan naik sampai ia mencapai kestabilan yang paling besar di dalam seluruh hidupnya. Kristus telah memberikan teladan indah pada kita, untuk mencapai kemuliaan, Kristus harus turun menjadi manusia hamba mati di kayu salib dan Kristus taat maka Allah memuliakan Dia di atas segala apapun juga. Seluruh lutut bertekuk lutut dan semua lidah harus mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Kekuasan dan kemuliaan itu bukan didapatkan pada saat kita meninggikan diri. Makin kita meninggikan diri maka kita akan semakin hina.

Orang yang sadar diri bahwa di hadapan Tuhan kita tidaklah berarti apa-apa akan menjadikan kita kuat dan tidak takut menghadapi dunia dengan segala tantangannya. Hendaklah kita bertekad menjadikan tahun 2007 ini sebagai waktu dimana kita harus berjuang keras namun ingat, jangan berjuang dengan menggunakan kekuatanmu sendiri tetapi hendaklah perjuangan itu adalah perjuangan untuk taat, perjuangan untuk semakin setia dan perjuangan untuk semakin mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya, perjuangan untuk menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya dan berakhir dengan kebangkitan.  Amin?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)