|
Ringkasan Khotbah : 17 Desember 2006
Nats: Mat. 1:23 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Pendahuluan
Dalam bulan Natal ini, tentu kita banyak mendengar hal-hal yang berkaitan dengan Natal, seperti lagu-lagu Natal, pohon Natal, hiasan Natal yang banyak kita jumpai di jalan-jalan maupun di pertokoan. Secara tak sadar, kita sering terbenam dalam aspek fenomenal Natal, kita mengikuti banyak kegiatan yang berkaitan dengan Natal namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah yang kita pikirkan ketika kita merayakan Natal? Salah satu kisah natal nampak dalam Mat. 1:18-25 yang dapat dikaji dari berbagai macam aspek; ada orang yang melihat dari kacamata Yusuf, ada orang yang menekankan bagaimana cara Tuhan bekerja melalui Maria, dan ada pula orang yang mencoba mensinkronkannya dengan Luk. 2:1-7. Hari ini kita akan merenungkan Injil Matius 1 khususnya ayat ke-23, yakni tentang misteri Immanuel.
Latar Belakang dan Problem
Istilah Immanuel sangat akrab di telinga kita, baik di saat kita menghadapi pergumulan atau kesulitan, setiap orang yang menyadari ada Allah beserta kita (Immanuel) dan Imanuel itu menjadi kekuatan bagi kita. Kita mungkin juga mendengar ada orang yang berkata, “Jangan takut, Tuhan ada di pihak kita“; orang dapat mengatakan hal demikian karena ia yakin, Allah beserta kita. Istilah Imanuel sangat mempesona banyak orang maka tidaklah heran kalau dipakai untuk nama orang, sebagai contoh: Immanuel Kant. Kata Immanuel ini juga menjadi salah satu dari tujuh julukan terbesar bagi Bayi Yesus yang diungkapkan oleh malaikat, yakni: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Immanuel, Raja Damai, Bapa yang Kekal, Juruselamat, dan Tuhan. Meskipun istilah itu akrab dengan diri kita, namun kata Immanuel itu sendiri di dalam Alkitab hanya disebutkan sebanyak 3 kali (Yes. 7:14, 8:8; Mat. 1:23). Mengapa kata yang penting ini hanya disebutkan sebanyak 3 kali? Bila kita bandingkan Yes. 7:14 dan Mat. 1:23 maka disana kita menjumpai ada beberapa masalah, yaitu: (1) Ada sedikit perbedaan dalam menamai bayi Yesus dengan sebutan Immanuel. Di kitab Yesaya dituliskan bahwa yang menamai Dia Immanuel adalah perempuan itu (tunggal) tetapi di Injil Matius, yang memberi nama adalah mereka (jamak), yaitu Maria dan Yusuf. Apakah Matius, seorang pemungut cukai yang dikenal sangat teliti itu melakukan kesalahan? (2) Siapakah perempuan muda yang dimaksud oleh Yesaya? Apakah ia seorang perempuan biasa ataukah ini mengacu pada Maria? (3) Misteri dari Immanuel itu sendiri.
Istilah Immanuel ini muncul pertama ketika Aram dan Israel berniat untuk membentuk suatu koalisi dengan Yehuda guna mencegah laju perkembangan kekuasaan Asyur. Mendengar hal ini, maka Ahas raja Yehuda itu gemetar, ia pun menolak koalisi yang diajukan tersebut, karena itu Aram dan Israel memutuskan untuk menghukumnya. Di tengah-tengah segala kegalauan itu, Tuhan mengutus Yesaya untuk mengingatkan agar Ahas tidak perlu takut dan gemetar tapi satu hal yang harus dilakukan Ahas adalah harus bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan Tuhan akan memberikan suatu pertanda padanya namun dengan dalih tidak mau mencobai Tuhan, Ahas menolaknya (Yes. 7:11-14). Kalau kita mengamati misteri Immanuel dalam konteks kitab Yesaya maka kita harus perhatikan 3 prinsip, yakni: Pertama, Istilah Immanuel yang berkaitan dengan kelahiran bayi itu merupakan pertanda dari Tuhan. Hal ini seharusnya menyadarkan kita akan intervensi Allah atas umat-Nya – Allah sedang mengerjakan karya keselamatan yang agung; Kedua, Istilah perempuan muda dalam kitab Yesaya adalah alma (bahasa Ibrani), kata alma ini tidak pernah dipakai dalam Alkitab maupun dalam literatur Timur Dekat lain. Padahal ada kata lain yang juga bisa berarti dara yaitu betula, namun kata ini dalam PL memiliki dua makna sehingga bisa disalahartikan, yaitu seorang perempuan yang belum bersetubuh maupun seorang perawan yang sudah bertunangan. Dalam Yoel 1:8, kata betula ini dapat diartikan sebagai seorang yang sudah menikah. Kata betula ini mempunyai makna ganda, karena itu Yesaya tidak memakai kata betula supaya orang tidak salah mengerti. Seorang perempuan muda yang dimaksud adalah seorang dara yang belum pernah bersetubuh dengan seorang pria. Dari penerapan kata alma kita tahu bahwa kelahiran sifatnya supranatural; Ketiga, Istilah Immanuel itu harus diterapkan kepada bayi itu sendiri karena dalam kelahiran-Nya terdapat kehadiran Allah, dimana Allah telah datang kepada umatNya di dalam seorang Anak.
Bagaimana menyelesaikan perbedaan antara Yesaya 7:14 dan Matius 1:23? Kita percaya doktrin progressive revelation dimana orang semakin lama akan semakin jelas memahami wahyu Tuhan, demikian halnya dengan Matius ketika ia menafsir Yes. 7:14, Tuhan memberikan suatu pencerahan kepadanya bahwa Immanuel itu tidak hanya disebut oleh seorang perempuan saja tetapi Immanuel itu akan disebut oleh banyak orang. Hal ini dapat diperjelas dengan melihat apa yang terjadi dalam kitab Ibrani. Penulis Ibrani memberikan suatu interpretasi terhadap suatu kejadian yang terjadi dalam PL tentang kisah anak-anak Tuhan yang disebut sebagai pahlawan iman (Ibr.11). Bahkan dalam bagian yang lain, penulis Ibrani memberikan interpretasi terhadap apa yang tidak diungkapkan dalam PL.
Dimensi Misteri Immanuel
Secara historis biblika, kitab Yes. 7:14 ini sangatlah penting di dalam kaitannya dengan sejarah Kristologi khususnya dengan peristiwa natal. Namun bila kita hanya membahas masalah biblika Yes. 7:14 dalam kaitan dengan Immanuel sesungguhnya kita tidak memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang misteri Immanuel ini.
Ada 5 dimensi berkaitan dengan misteri Immanuel, yaitu:
1. Dimensi Sejarah Umat Allah: Allah kembali bicara
Sejarah umat Allah menjadi tidak sama lagi dengan keadaan sebelumnya dengan munculnya Immanuel. Selama 400 tahun, Allah tidak berfirman pada bangsa Israel. Mereka bukan hanya sekedar mencari-cari tetapi mereka menjadi takut sehingga di tengah-tengah keheningan itu, mereka menambah dan mengintepretasi hukum Taurat sedemikian rupa bahkan akhirnya menjadi jerat bagi mereka. Pengalaman bangsa Israel di padang gurun itu yang menyebabkan mereka menjadi sangat takut kalau mereka dibinasakan Tuhan lagi. Bangsa Israel tidak ingin Tuhan menghukum mereka karena penyembahan berhala. Itulah sebabnya, ketika Tuhan Yesus, Immanuel datang, mereka tidak langsung percaya. Dalam konteks inilah Immanuel menerobos umat Allah karena mulai saat itu Allah kembali berbicara. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mengalami keadaan yang sama seperti bangsa Israel, berada dalam kekelaman karena kita tidak pernah lagi mendengar suara Tuhan melalui Firman? Ketika kita merenungkan Immanuel, biarlah kita bercermin pada bangsa Yahudi; bangsa Yahudi sebagai umat pilihan tetapi mereka tidak mengenal Mesias, Immanuel itu.
2. Dimensi Covenan Umat Allah: Allah menjadi Manusia
Covenan adalah suatu perjanjian antara Allah dengan manusia ketika manusia jatuh dalam dosa. Janji Tuhan itu nyata dengan hadirnya Sang Immanuel di tengah dunia; Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh. 1:14). Hal ini merupakan refleksi untuk menyatakan bahwa covenan umat Allah beribu-ribu tahun yang lalu sekarang menjadi jelas dengan kedatangan Immanuel. Bukan hal yang mudah untuk memahami Firman telah menjadi manusia. Seorang teolog bernama Wolfheart Pannenberg menyatakan untuk memahami Firman yang menjadi manusia, kita harus membangun suatu pengertian Kristologi dari bawah, sehingga dengan demikian kita dapat memahami Kristus sebagai suatu bagian yang sama seperti kita (sifat-sifat manusiawi) baru kita dapat memahami sisi Ilahi Kristus. Seorang teolog lain, Klaas Runia dalam penelurusannya berkaitan dengan siapakah Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk mengerti Kristus Yesus, kita harus melihatnya dari atas (Christology from above) dimana Kristus harus menjadi yang terutama. Terkadang, kita berkata Tuhan menyertai kita, seolah-olah kita yang menjadi aktor. Donald McCloud dalam bukunya yang berjudul The Person of Christ menyatakan bahwa kalau kita mau memahami pribadi Yesus maka pertama kali, kita harus melihat Dia sebagai Allah. Ada satu pribadi, yaitu Allah sendiri yang dikatakan Yesaya sebagai Elgibor (Allah maha kuasa). Biarlah kita mengevaluasi diri, ketika kita menyebut Yesus sebagai Immanuel, apakah kita menjadikan Yesus sebagai Allah ataukah pesuruh kita?
3. Dimensi Pewahyuan Umat Allah: Nabi Teragung
Yesus lahir bukan sebagai umat manusia saja tetapi Dia juga sekaligus adalah Nabi teragung yang ada di dunia; meskipun demikian Yesus berbeda dengan nabi-nabi lain di dunia:
a. Yesus adalah Tuhan dan Pencipta sedangkan nabi-nabi lain adalah manusia atau ciptaan.
Kebenaran ini sulit dimengerti oleh logika manusia. Hati-hati, hari ini banyak ajaran Liberal yang menyatakan bahwa Kristus bukanlah Tuhan.
b. Yesus adalah Firman sedangkan nabi-nabi lain adalah pembawa firman.
Yesus adalah Firman yang menjadi manusia dan Firman itu berotoritas maka pernyataan Tuhan Yesus sebagai: kebangkitan dan hidup; terang dunia; jalan, kebenaran dan hidup adalah benar sebab Dia adalah Firman itu sendiri; nabi-nabi lain di dunia tidak berhak menyatakan dirinya sebagai I am that I am.
c. Yesus adalah jalan sedangkan nabi lain hanya penunjuk jalan
Sebagai juru sambung lidah Allah, Yesus adalah jalan itu sendiri sehingga orang bisa dengan yakin, karena Yesus adalah Allah, dengan apa yang diungkapkanNya. Nabi lain hanya menyatakan “insya allah“ apa yang ditunjukkan adalah benar. Ini merupakan suatu pembeda yang demikian tegas.
d. Yesus adalah Nabi sempurna sedangkan nabi-nabi lain tidak sempurna.
Tuhan Yesus memberikan hukum yang sempurna yang membawa orang kembali pada esensi dimana Allah seharusnya dimuliakan sedangkan nabi-nabi yang lain hanya merupakan bayang-bayang. Pewahyuan Allah tidak lagi samar-samar tetapi sekarang muncul dalam suatu pribadi, yakni Immanuel. Kalau selama ini, orang mencoba menerka-nerka siapakah nabi yang sempurna maka ketika Immanuel itu muncul maka orang dapat melihat pewahyuan Allah yang paling sempurna.
e. Yesus tidak berdosa sedangkan nabi-nabi lain adalah manusia berdosa.
Seluruh hidup pelayanan Yesus sangat sempurna di hadapan Allah walaupun di hadapan manusia, Ia dianggap gagal karena kematian-Nya di atas salib. Kristus tidak hanya sekedar berteori tetapi Dia menjalankan kebenaran yang Dia ajarkan itu.
4. Dimensi Ibadah Umat Allah: Imam Teragung
Bangsa Israel sangat dikenal sebagai bangsa yang sangat mengagungkan hukum Taurat. Bahkan orang yang mau menjadi Farisi harus menghafal seluruh isi hukum Taurat. Ibadah dalam kehidupan Israel menjadi bagian yang sangat penting dimana di dalamnya mengandung unsur sistem kurban. Bangsa Israel memberikan korban kepada Allah dipimpin seorang imam yang berfungsi sebagai mediator di hadapan Tuhan dan manusia. Dalam dimensi ibadah umat Allah, Immanuel muncul sebagai Imam teragung. Kitab Ibrani menegaskan bahwa Yesus adalah Imam Besar perjanjian baru; Kristus lebih tinggi dari imam Harun. Kehadiran Immanuel menyebabkan suatu perubahan yang begitu besar dalam sejarah ibadah umat Allah. Sebelum Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, orang harus datang kepada imam dan mempersembahkan korban dengan berbagai macam aturan. Tuhan Yesus datang sebagai Imam Agung maka apa yang ia lakukan pengorbanan sudah tuntas; ketika ia menjalankan kehidupan-Nya sebagai Immanuel maka arah korban-Nya adalah orang lain. Perbedaan lain adalah Yesus menjadikan diriNya sendiri sebagai korban kudus, sedangkan imam lain menjadikan hewan atau barang lain sebagai korban; kalau para imam sebelum mempersembahkan korban bagi orang lain maka ia harus mempersembahkan korban bagi dirinya sendiri terlebih dahulu. Korban tersebut harus dilakukan berulang-ulang dan korban itu sifatnya hanya menebus dosa pada masa lalu. Robert Letham dalam bukunya the Work of Christ menegaskan bahwa keimaman dan keagungan Kristus adalah satu kali dan untuk selamanya, the once and forever. Ia mati tetapi Ia bangkit kembali sedangkan imam yang lain mati dan tidak pernah bangkit.. Kalau kita tidak memahami Immanuel, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia maka kita tidak akan mengerti esensi ibadah. Pertanyaannya adalah apakah kita menyadari kalau hari ini kita diselamatkan karena pengorbanan Kristus?
5. Dimensi Kerajaan Umat Allah: Raja Teragung
Kedatangan Immanuel ini menjadikan Kerajaan umat Allah berbeda dengan kerajaan lain yang ada di dunia. Kristus adalah Raja tetapi Dia menjadi Raja yang miskin tetapi justru di tengah kemiskinan itulah terpancar keagungan yang mulia. Kedatangan Kristus menjadikan Kerajaan umat Allah itu menjadi nyata. Simon Kistemaker menyatakan bahwa konsep Kingdom of God membukakan pemikiran orang yang selama ini salah tentang Kerajaan surga. Tuhan Yesus menjadikan kehidupan Kerajaan Sorgawi untuk menebus dosa manusia bukan untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Kerajaan Romawi seperti yang mereka harapkan. Kerajaan Allah ini bersifat rohani bukan fisik dan dijalankan dengan cara mati di atas kayu salib. Salib yang dipandang hina itu justru menunjukkan keagungan kasih Allah yang paling mulia.. Tanpa adanya Immanuel maka kita tidak memiliki suatu pengertian yang benar dalam kita merayakan natal. Christ should be as the Creator, Director, and the Gold of the Universe merupakan suatu pepatah yang tepat; Kristus seharusnya menjadi pencipta, pengarah dan menjadi tujuan dari seluruh kehidupan orang-orang yang berada dalam Kerajaan Sorga. Biarlah kita mengevaluasi diri, seberapa jauh kita mempersiapkan hati menyambut natal, seberapa jauh kita mengerti arti Immanuel secara pribadi? Amin?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)