Ringkasan Khotbah : 19 November 2006

Allah yang Memenuhi segala Keperluan

Nats: Flp. 4:17-19

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Pendahuluan

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19) merupakan ayat yang banyak “disukai“ orang Kristen. Siapa yang tidak suka kalau semua keperluan kita dipenuhi? Paulus mulai menyadari kalau ucapan syukurnya tersebut dapat disalahtafsirkan karena itu, Paulus merasa perlu menjelaskan makna dari pengucapan syukurnya. Kalau selama ini jemaat Filipi telah banyak mendukung pelayanan Paulus dalam hal dana maka Paulus ingin mereka menyadari bahwa itu merupak`an suatu bukti kalau Tuhan sudah memenuhi kebutuhan mereka dan sekarang, Ia menggerakkan hati mereka untuk mendukung pelayanan Paulus dalam bentuk persembahan. Yang terpenting bukanlah besarnya jumlah persembahan sebab ada keuntungan lain, yaitu buahnya yang makin memperbesar keuntungan. Di dalam pemberian ada realita pengalaman pergaulan dengan Allah yang hidup. Paulus menyatakan semua tindakan mereka itu baik dan Paulus sungguh bersyukur atas hal tersebut akan tetapi Paulus juga menegaskan bahwa tanpa dukungan mereka pun, hidupnya sudah cukup.

Dalam Perjanjian Lama, berbicara tentang persembahan berarti menyangkut hidup mati seseorang. Nuh memberikan persembahan kepada Tuhan setelah keluar dari Bahtera yang menyelamatkan hidupnya dan keluarganya dari bencana air bah. Ia terluput dari kematian. Aspek lain adalah, kalau Tuhan berkenan maka ia tetap hidup dan kalau Tuhan tidak berkenan akibatnya adalah kematian. Hofni dan Pinehas misalnya, Tuhan menghukum mati mereka karena memberikan persembahan dengan api asing. Persembahan yang diberikan menunjukkan keseriusan iman. Andaikata, hal ini menjadi prinsip dalam hidup manusia saat ini pastilah orang tidak akan berani berbuat sembarangan dalam ibadah maupun ketika berelasi dengan Tuhan karena menyangkut hidup dan mati. Namun hari ini, orang menganggap biasa hal persembahan maka tidaklah heran kalau tindakan iman yang dilakukan tidak berdampak apa-apa pada kehidupan kerohanian.

Hari ini kita merenungkan tiga aspek yang berkaitan dengan   

1. Allah adalah Allah yang akan memenuhi semua kebutuhan kita.

Paulus memulainya dengan kalimat: “Allahku...“ apakah pernyataan ini menunjukkan Paulus memiliki Allah ataukah Allah yang memiliki Paulus? Theologia Reformed menegaskan bahwa Allahlah yang terlebih dahulu memilih dan sebagai orang yang telah dipilih harusnya berespon dengan tepat. Pernyataan Paulus yang menyebut Dia dengan „Allahku“ ini menunjukkan relasi yang intim antara dirinya dengan Allah; Allah yang dikenal bukan sekedar secara konsep filosofi belaka. Allah adalah Allah yang hidup; Allah yang telah mengubah kehidupannya, paradigma berpikir dan arah hidupnya sehingga ia mempunyai pandangan berbeda tentang hidup. Allah itu adalah Allah yang telah berkomitmen kalau Dia akan memberkati semua orang yang mau taat pada-Nya dan menghukum orang yang tidak taat pada-Nya. Inilah Allah yang Paulus kenal, yakni Allah yang mendedikasikan perjanjian-Nya kepada gereja-Nya; Allah yang tidak pernah ingkar akan janji-Nya. Semua berkat Allah tersebut dapat kita rasakan kalau kita mau taat pada-Nya. Paulus pernah bertemu dengan Allah yang menghukum dan ia juga pernah bertemu dengan Allah yang begitu mengasihi Dia - “Hidupku bukannya aku lagi tetapi Kristus yang hidup dalam-Ku ... Kristus yang telah mengasihi dan menyerahkan Diri-Nya.(Gal. 2:20).

Sesungguhnya, Allah menetapkan sebuah perjanjian, covenant itu supaya semua umat tebusan memiliki persekutuan indah dengan-Nya. Seperti halnya pemazmur yang berkata, “Seperti rusa merindukan sungai-Mu demikianlah aku rindu pada-Mu, ya Tuhan?“ Samuel Rutherford menyatakan I didn’t love Him but He loves me and He desire to have me, who could resist that love? Jikalau Allah sudah mengarahkan cinta-Nya pada orang yang dikasihi-Nya, siapakah yang dapat menolak-Nya? Allah tidak akan pernah menarik kembali tindakan kasih atas obyek yang dikasihi-Nya. Perhatikan, hanya anak Tuhan sajalah yang dapat merasakan kasih Allah berbeda halnya dengan mereka yang tidak mau tunduk pada Allah dan keberadaan-Nya, mereka tidak akan pernah tahu merasakan kasih Allah. Kalau bukan Allah yang bekerja dan mengubahkan hidup kita maka sulit bagi kita untuk tunduk dan mengakui kedaulatan dan keberadaan Allah karena konsep pemikiran kita seringkali berbenturan dengan kebenaran Allah. Hanya anugerahlah kalau kita dapat dipilih dan menjadi anak-Nya. “He is my God“ adalah ungkapan pengakuan dari seorang yang mempunyai hubungan persekutuan yang indah dengan Allah dan juga bukti bahwa ia adalah anak Allah.

Ingatlah, persekutuan yang indah dengan Allah dapat dialami semata-mata karena Allah yang membuka pintu dan memberikan peluang pada kita terlebih dahulu untuk menikmati persekutuan itu. Allah seperti apakah yang kita kenal? Apakah kita hanya mengenal Dia sebatas pengetahuan - Allah adalah kasih, Allah adil dan masih banyak lagi berbagai pengetahuan tentang sifat Allah tanpa kita pernah memahami dan merasakan Allah yang kasih itu? Maka tidaklah heran kalau orang mulai  bertanya-tanya, “Dimana Allah?“ pada saat ia mengalami penderitaan dan kesulitan padahal sesungguhnya, Allah selalu bersama kita. Kitalah tidak pernah tahu karena kita mengabaikan persekutuan dengan-Nya.

Pimpinan Tuhan tidak akan pernah salah meski terkadang kita melihat cara Tuhan sulit dimengerti oleh logika manusia. Lihat, bagaimana Tuhan memanggil Musa untuk menjalankan misi-Nya – memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan. Tuhan memimpin Musa dan bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun dan  selama waktu itu, Musa mengenal siapakah Allah Yahweh. Ia mengalami masa-masa dimana Tuhan melatih imannya, masa dimana Tuhan menghardik dia dengan keras bahkan menghukum dia. Bahkan Musa ditetapkan tidak boleh masuk dalam tanah Kanaan. Musa telah merasakan manis, pahit getirnya berjalan bersama Tuhan namun meski demikian tidak ada satu catatan pun dalam Alkitab bahwa pada akhir hidupnya, Musa mempunyai suatu konsep yang salah tentang Tuhan. Tidak! Inilah ekspresi daripada pengenalan seorang akan Tuhan. Bagi Musa, cukuplah kalau Tuhan memperhatikan dan mempedulikan dirinya.

Demikian juga halnya dengan Daud. Pada saat melawan Goliat, Daud tahu, Allah yang pernah menolong dan melepaskan dia dari mulut singa dan cakar beruang akan menolongnya melawan Goliat. Sebagai anak Tuhan, seharusnya pengalaman iman kita sama seperti yang dialami oleh Musa, Daud maupun para tokoh iman yang lain. Ketika masuk dalam lembah kekelaman dan bayangan maut dimana tidak ada kepastian didalamnya percayalah, Dia selalu beserta dan tidak pernah meninggalkan kita. Itu sudah cukup bagi kita.

2. Allah memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya. 

Realita pengalaman hidup membuktikan ada banyak yang kita minta bukanlah kebutuhan kita yang sebenarnya. Kita menutupinya dengan kalimat-kalimat yang rohani. Ingat, Tuhan yang tahu kebutuhan kita yang sesungguhnya. Kalau kita berbicara tentang pemenuhan kebutuhan maka seringkali, kebutuhan yang kita sampaikan itu ada dalam lingkup materi saja, misalnya: kebutuhan ekonomi, kebutuhan keamanan investasi, dan lain-lain. Kepada jemaat di Filipi, Paulus ingin menekankan hal yang lebih bersifat esensi. Itulah yang terpenting: “...yang paling penting bukanlah pemberian melainkan buahnya yang makin memperbesar keuntunganmu.“

Kebutuhan itu bukan sekedar materi semata sebab sesungguhnya ada banyak lagi kebutuhan yang lain, misalnya (a). kebutuhan akan peran. seorang laki-laki yang bergumul terhadap kebutuhan akan perannya sebagai seorang suami yang beriman pada Tuhan Yesus Kristus. (b). kebutuhan spiritual seperti kebutuhan akan kekuatan untuk mengatasi semua pencobaan, kebutuhan akan kerinduan untuk menjadi serupa Kristus.  Pernahkah kita mendoakan hal tersebut? Kita mendapati ternyata hal itu jarang bahkan tidak pernah menjadi doa kita karena orang menganggap remeh hal tersebut dan orang mempunyai konsep yang sangat sempit, yakni kebutuhan hanya dikotakkan pada lingkup materi semata. (c). kebutuhan yang sifatnya temporal, yakni kebutuhan akan tekanan ekonomi, kebutuhan akan pekerjaan dan (d). kebutuhan fisik, kebutuhan akan tubuh yang sehat, kesehatan pada masa tua dan lainnya.  

Bagaimanakah cara Allah memenuhi kebutuhan itu? Allah memenuhi segala kebutuhan menurut cara yang ditetapkan-Nya.

1. Ada kalanya Dia menjawab doa-doa kita sesuai dengan apa yang kita minta karena sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini kerap tidak dilihat sebagai kesulitan di dalam pergumulan iman.

2. Selain itu Ia juga bekerja dengan cara yang sulit dimengerti oleh manusia. Tuhan dapat memenuhi kebutuhan kita dalam jangka waktu yang cukup lama, sebagai contoh Abraham dan Sarah berdoa untuk sebuah kebutuhan dan Tuhan menjawab doa mereka 25 tahun kemudian. Allah tahu apa yang terbaik bagi kita dan Allah juga tahu kapan waktu yang tepat menjawab semua permohonan itu yang seharusnya menjadikan kita memahami apa arti relasi dengan Tuhan.

3. Terkadang Tuhan memenuhi kebutuhan kita dengan memberikan yang lain yang bukan menjadi permintaan kita dan ironisnya, kita beranggapan Tuhan belum memenuhi kebutuhan kita dan celakanya, kita langsung menuduh Tuhan telah salah memperlakukan kita. Pendapat yang salah! Sesungguhnya, Tuhan tahu apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita justru kitalah yang tidak tahu, apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan kita. Diantara semua kebutuhan materi, sesungguhnya kebutuhan yang paling penting adalah cukup dengan mengetahui bahwa Tuhan ada bersama kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita; cukuplah bagi kita merasakan Tuhan menopang hidup kita.

4. Cara lain yang dipakai adalah sebelum Tuhan menjawab semua kebutuhan kita, membiarkan kita jatuh bangun dalam iman. Ia mengosongkan kita sedemikian rupa untuk kemudian diisi kembali menurut maksud-Nya. Ayub adalah salah satu contohnya. Dia mengerjakannya demi kebaikan kita. Dia akan membangkitkan iman kita dan kita pun menjadi lebih kuat. Namun sangatlah disayangkan, orang malah berprasangka buruk pada Tuhan dan menganggap Tuhan jahat. Ketika Tuhan menguji Ayub, memang sakit yang dirasakan tetapi dibalik semua itu ada rencana indah yang Tuhan rancangkan. 

5. Tuhan menjawab kebutuhan kita sesuai dengan panggilan hidup yang Tuhan berikan. Seorang bernama George Muller yang melayani dalam sebuah panti asuhan, suatu ketika mereka kehabisan persediaan makanan, berarti banyak anak terancam kelaparan, ia pun mulai berdoa dan Tuhan menjawab doanya dengan mengirimkan makanan dan hari itu, semua anak di panti asuhan dapat makan. Tuhan menjawab doa sesuai dengan kebutuhan. Demikian juga halnya dengan mereka yang dipanggil untuk menjadi misionaris, Tuhan akan lengkapi sesuai dengan kemampuannya.

Biarlah dalam segala aspek mengevaluasi diri apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan utama kita sebelum kita minta Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita.

3. Allah akan memenuhi kebutuhan kita menurut kekayaan-Nya dalam Kristus.

Alkitab menegaskan Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Pengalaman Tuhan memenuhi keperluan kita harusnya semakin membawa kita mengenal Kristus. Demi menyelamatkan manusia berdosa, Bapa sudah memberikan anak-Nya menjadi korban tebusan – Paulus mengatakan bahwa Ia yang tidak menyayangkan anak-Nya sendiri maka bagaimana mungkin Dia tidak akan menolong kita? Kita sudah lama mengikut Tuhan, banyak pengalaman telah kita alami ketika berjalan bersama Tuhan maka pertanyaannya adalah sudahkah kita melihat dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam setiap pertolongan yang diberikan-Nya?

 Ingat, dari semua pemenuhan kebutuhan yang kita dapatkan, hal itu bukanlah sesuatu esensi sebab yang esensi adalah bagaimana menangkap relasi yang indah dengan Tuhan dan terlebih penting adalah bagaimana kita memenuhi tujuan hidup seperti yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Tuhan ingin kita mempunyai tujuan hidup yang terarah pada-Nya maka keuntungan itulah akan kita rasakan dan menjadi milik kita. Biarlah kita juga mau dibentuk dan diubahkan seluruh konsep kita dan dengan demikian kita dapat mengenal Allah dengan benar; Allah yang memenuhi segala kebutuhan kita, Allah yang memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya dan Allah yang memenuhi kebutuhan kita menurut kekayaan-Nya dalam Kristus Yesus.  Amin?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)