Ringkasan Khotbah : 29 Oktober 2006

Dynamic of Christian Worldview

Nats: Flm. 5, 6

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Pendahuluan

Tanpa terasa kita akan masuk dalam bulan Natal, pertanyaannya adalah apa yang kita pikirkan ketika kita merayakan Natal? Banyak hal yang terjadi di hari Natal, suasana gegap gempita sangat kental terasa dan semuanya itu telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya dan pasti semua persiapan itu memakan biaya yang besar. Pernahkah kita berpikir bahwa semua kemewahan itu tidak ada artinya tanpa kita mengalami kelahiran baru –  tanpa kita menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat secara pribadi? Memang orang memahami bahwa kelahiran baru sebagai suatu momen yang penting dalam kehidupan spiritualitasnya. Bila ditelusuri bisa saja seseorang mengerti dan mengingat momen kelahiran baru itu namun terkadang kita juga menjumpai orang sulit mengingat kapan dan dimana ia mengalami suatu kelahiran baru. Menemukan momen atau tidak menemukan momen kelahiran baru itu bukanlah hal yang serius sebab yang terpenting adalah bagaimana setelah kita mengalami kelahiran baru tersebut.

Apa yang terjadi dalam hidup kita setelah mengalami kelahiran baru? Pernahkah kita menyadari bahwa kelahiran baru itu merupakan suatu titik awal kehidupan spiritual untuk kemudian kita mengalami suatu pertumbuhan demi pertumbuhan. Pernahkah kita berpikir mengapa seorang Kristen yang satu dapat mengalami pertumbuhan rohani yang demikian pesat sedang orang Kristen yang lain sangat lambat dalam pertumbuhan kerohaniannya? Tidak heran kalau di kemudian hari tidak ada semangat atau gairah ketika merayakan Natal bahkan orang tidak lagi merasakan esensi atau makna Natal yang sejati.

Dari surat Paulus kepada Filemon ini, kita dapat melihat bahwa Filemon adalah seorang yang sudah lahir baru. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan nyata yang ditunjukkan melalui perbuatan Filemon (ay.22) lalu apa yang membuat Paulus merasa perlu mengirim surat pada Filemon? Kalau kita bandingkan dengan surat Paulus yang lain maka surat Filemon ini merupakan surat yang paling singkat dan didalamnya tidak banyak dijabarkan tentang doktrin-doktrin yang detail dan sistematis sebagaimana surat-surat Paulus yang lain. Surat Paulus kepada Filemon ini bersifat pribadi, ada sesuatu yang ingin dirubah oleh Paulus dalam diri Filemon – Paulus ingin merubah worldview yang dimiliki oleh Filemon.

Ronald Nash menjabarkan worldview ini sebagai skema konseptual yang dipakai untuk menempatkan dan mencocokkan segala sesuatu yang kita percaya dan menilai realita yang ada di hadapannya baik secara sadar maupun tidak bahkan juga terhadap prinsip-prinsip iman di dalam dirinya. Secara sederhana, Ronald Nash menggambarkan worldview adalah seperti sebuah kacamata maka kacamata yang tepat akan memberikan penilaian atau respon yang tepat ketika kita melihat suatu benda. W. P. Elstone dalam bukunya yang berjudul Problem of Philosophy of Religion menekankan pentingnya wawasan dunia karena seperti seseorang yang sedang membaca sesuatu yang asing maka kalau ia tidak memiliki suatu wawasan tentang surat itu maka ia akan mengalami kesulitan memahami isi surat tersebut. Sebagai contoh, kita tidak akan dapat membaca atau mengartikan sebuah kalimat sandi dimana sandi ini seringkali kita jumpai dalam pramuka kalau kita tidak memiliki kunci dalam mengartikan suatu simbol.

Ronald Nash mengungkapkan ada beberapa kemungkinan yang terjadi ketika seorang anak Tuhan bertemu antara worldview yang ada pada dirinya dengan worldview Kekristenan, yakni: 1) kedua worldview sejajar dan tidak saling bersinggungan, maka janganlah heran kalau kita menjumpai orang Kristen tetapi masih mempunyai pola pikir seperti dunia; 2) kedua worldview sejajar dan membentuk irisan, banyak hal dalam prinsip-prinsip Kekristenan tidak dapat diterima sehingga sebagai anak Tuhan, tidak ada perubahan totalitas dalam kehidupannya. Ada bagian kehidupan dirinya yang sama sekali tidak bersinggungan dan diinteraksikan dengan kebenaran Firman Allah; 3) worldview Kristen dengan ukuran lebih kecil berada di bagian dalam worldview diri (berada di dalam lingkaran worldview non kristen), maka ada prinsip-prinsip kebenaran tertentu yang dapat dipakai melalui Firman Tuhan tetapi di satu sisi, orang merasa Firman Tuhan tidak pernah cukup mengisi hidupnya – Firman Tuhan tidak menjadi tolok ukur yang sejati secara total, ia tidak menaklukkan pikiran di bawah kaki Kristus; 4) worldview diri makin menyerupai worldview Kekristenan sejati.

Dari surat Paulus kepada Filemon ini kita dapat mengetahui bahwa pertobatan Filemon merupakan hasil dari penginjilan yang dilakukan oleh Paulus selama ia berada di Efesus selama 2 tahun; Filemon juga seorang yang mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat dan ia juga seorang yang kaya. Dari surat Paulus ini kita juga dapat melihat perubahan nyata yang ditunjukkan oleh Filemon, yaitu ia menyediakan rumahnya untuk dipakai sebagai tempat ibadah dan ia juga bersedia memberikan tumpangan kepada hamba-hamba Tuhan yang lain. Paulus juga menyebut dia sebagai rekan sekerja (ay.1), hal ini tidaklah biasa sebab dalam surat-suratnya yang lain, Paulus tidak banyak menyebut orang awam sebagai rekan sekerja. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Paulus menuliskan surat pada Filemon yang secara spiritual ia mempunyai kerohanian sejati? Kalau kita perhatikan, surat Filemon ini berkaitan dengan masalah Onesimus. Siapakah Onesimus? Bagi Filemon, Onesimus hanyalah seorang budak yang telah melakukan tindakan kriminal, yaitu ia melarikan diri dan mencuri sebagian harta miliknya. Dalam pelariannya, Onesimus bertemu dengan Paulus di Roma akhirnya ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui pelayanan penginjilan yang dilakukan oleh Paulus. Kelahiran baru itu seharusnya menjadi satu titik dimana seseorang semakin diproses dalam kehidupannya namun Paulus belum melihat perubahan seutuhnya dalam diri Filemon sehingga ia merasa perlu untuk merombak worldview dalam diri Filemon, yakni:

1. Pola Pikir: Pola Pikir Duniawi jadi Pola Pikir Ilahi

Filemon menganggap Onesimus tidak lebih hanya seorang budak belaka. Dalam budaya Yahudi, seorang budak tidak berhak apapun atas dirinya, ia tidak berhak menikah atau berkeluarga dan seorang budak tidak berhak atas harta pribadinya; bahkan jika para budak ini membuat kesalahan maka si tuan ini boleh menjatuhkan hukuman atas dirinya. Filemon pada awalnya pasti mempunyai pemikiran yang sama dengan budaya Yahudi atas diri Onesimus apalagi Onesimus seorang kriminal. Namun setelah Onesimus mengalami kelahiran baru, ada tuntutan baru Paulus terhadap pola pikir Filemon. Di tengah-tengah kondisi itu maka terdapat suatu konflik bagaimana caranya agar kehidupan iman dari Onesimus menjadi suatu kehidupan iman yang semakin dewasa karena ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Filemon sedang disisi lain, konsep berpikir Filemon sangat dipengaruhi konsep Yahudi.

Paulus ingin menegaskan pada Filemon bahwa Onesimus adalah orang yang sudah mengalami lahir baru. Seorang anak Tuhan mempunyai hak yang sama di hadapan Tuhan, kita bukan lagi budak dosa karena Kristus Yesus telah membebaskan kita dari perbudakan kekal. Paulus ingin mengajak Filemon berpikir bahwa budak itu bukan miliknya lagi. Paulus ingin agar worldview yang dimiliki oleh Filemon diubahkan untuk menjadi semakin serupa Kristus. Dalam Kekristenan, gambaran seorang budak ini berkaitan dengan gambaran ketika seorang berada dalam hukuman dosa. Paulus ingin Filemon memahami bahwa kedudukan seorang di mata Tuhan adalah sama dan bahkan Paulus ingin supaya ia menerima Onesimus kembali. Dan untuk mengerti hal ini maka Paulus memberikan suatu kunci pada Filemon; kuncinya adalah anugerah Allah yang telah bekerja sebelumnya dalam diri setiap orang termasuk Paulus, Filemon maupun Onesimus. Paulus ingin supaya Filemon sadar dan merubah pola berpikirnya yang salah – Onesimus yang mungkin dahulu dianggap tidak berguna tetapi sekarang ia telah menjadi orang yang berguna. Pemahaman berguna dan tidak berguna tentunya berkaitan dengan latar belakangnya sebelum ia bertobat dan menerima Kristus. Kalau kita melihat lebih jauh lagi maka kita akan menemukan ada sesuatu yang menarik ketika seorang bertemu dengan Kristus secara pribadi.

Ronald Nash menyatakan bahwa sesungguhnya seorang anak manusia telah memiliki suatu konsep tentang Allah dalam dirinya. Alvin Platinga mencoba menelusuri apa yang menjadi isi dari worldview dari seseorang dimana suatu bagian yang tidak dapat dilepaskan dari diri seseorang adalah konsep tentang Allah. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Yohanes Calvin tentang sensus divinitas – ketika seseorang memilih untuk mengikut Tuhan itu karena sudah ada kesadaran atau konsep tentang Allah sebelumnya. Sensus divinitas dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah arah dari sensus divinitas yang kadang-kadang menjadi salah karena dosa manusia. Alvin Platinga mengungkapkan seorang yang mau sungguh-sungguh hidup dalam iman maka ia harus meminta pertolongan Roh Kudus dalam kehidupannya. C. S. Lewis telah mengalami pertobatan dalam pemikirannya, ada pertobatan logika atau conversion logic dalam kehidupannya sebelum ia mengalami pertobatan total dan menjadi seorang Kristen. Pertobatan C. S. Lewis itu dimulai dari pemikirannya, yakni saat dia memikirkan dan akhirnya ia mengerti kenapa Kristus harus mati.

Biarlah kita memikirkan secara ulang apa yang menjadi wujud dari pemikiran kita ketika kita bertemu dengan Tuhan; apakah kita telah memiliki pola pikir yang diubahkan? Ataukah kita telah cukup puas diri dengan worldview yang kita miliki sekarang dan menganggapnya telah mencapai kesempurnaan seperti yang diinginkan Kristus. Paulus tidak ingin membawa Filemon masuk dalam pemahaman teologis dalam ruang hampa tetapi Paulus ingin membawa Filemon masuk dalam pergumulan perbudakan yang sedang ia hadapi saat ini khususnya dalam menghadapi permasalahan Onesimus.

2. Otoritas Diri: Otoritas Duniawi jadi Otoritas Surgawi

Paulus ingin menyadarkan Filemon yang selama ini mempunyai pandangan salah tentang budak, yakni budak hanyalah suatu pribadi yang tidak mempunyai hak sehingga tidak ada ubahnya dengan barang. Paulus ingin Filemon memandang Onesimus bukan lagi seorang budak maka hal ini menjadi kesulitan dan kebingungan tersendiri dalam diri Filemon – ia mengalami kebingungan dalam hal otoritas. Bagaimana mungkin seorang budak memiliki kedudukan yang sama dengan dirinya sebagai Tuan? Hal ini seringkali terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari pada hari ini, seorang atasan Kristen sulit bertindak dengan tepat pada bawahannya yang Kristen – orang mengalami kesulitan menata otoritas antara atasan dan bawahan. Hubungan antara atasan dan bawahan atau kesadaran otoritas ini dapat dipahami dan tertata dengan baik kalau seorang sudah diubahkan dalam arah dan sifat otoritas dirinya. Paulus ingin Filemon sadar bahwa ada kesejajaran otoritas antara dirinya dengan Onesimus. Paulus tidak lagi memandang Onesimus sebagai budak tetapi Onesimus adalah seorang pribadi, bahkan menjadi saudara. Paulus ingin supaya Filemon menerapkan prinsip kebenaran Firman Tuhan dalam hal ini adalah kasih kepada orang kudus. Kasih yang sejati itu telah mengubahkan dirinya sehingga ia dapat mengampuni dan menerima Onesimus kembali.

3. Harga Diri: Harga Diri Sekuler jadi Harga Diri Kristiani

Hidup di tengah dunia ketika manusia saling berinteraksi antara satu dengan yang lain maka sebenarnya yang terjadi adalah pertemuan antara paradigma satu dengan paradigma yang lain. Paulus ingin Filemon menyadari bahwa harga diri yang sejati adalah ketika orang menundukkan diri di bawah Kristus. Paulus rela menurunkan dirinya sendiri menjadi sejajar dengan Onesimus maka Paulus juga ingin Filemon melakukan hal yang sama seperti dirinya. Paulus menegaskan supaya bukan harga diri yang dibentuk oleh masyarakat Yahudi yang ditekankan tapi harga diri haruslah ditundukkan di bawah Kristus sebab kalau kita salah membangun harga diri maka hal itu akan menjadi batu sandungan khususnya dalam hal perbudakan. Pernahkah kita memikirkan bahwa harga diri seperti apa yang kita bangun ketika kita berhadapan dengan orang lain? Apakah kita membangun harga diri itu berdasarkan kebenaran Firman Tuhan ataukah berdasarkan tuntutan-tuntutan sosial? Peperangan besar terjadi dalam diri Filemon bukan hanya peperangan otoritas tetapi juga peperangan dalam menempatkan harga diri. Dalam proses pertumbuhan iman Filemon untuk menjadi seorang Kristen, Tuhan membentuk setiap aspek dalam hidupnya. Kehidupan Kristiani bukanlah kehidupan yang hanya di awang-awang tetapi kehidupan Kristiani haruslah nyata dalam realita sehari-hari. Paulus telah memberikan teladan yang baik maka ia ingin  Filemon pun memiliki harga diri yang sejati; kasih yang diungkapkan oleh Filemon kepada semua orang kudus haruslah juga dinyatakan kepada Onesimus. Sudahkah kita memikirkan nilai harga diri di hadapan Tuhan? Bagaimanakah sikap kita pada mereka yang membenci dan memusuhi kita? Ingatlah, di hadapan Tuhan kita semua sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

4. Standar Hidup: Standar Hidup Statis jadi Standar Hidup Dinamis

Kalau kita melihat kehidupan Filemon maka kita melihat seolah-olah tidak ada sesuatu apapun yang kurang dalam diri Filemon. Secara kehidupan ekonomi, ia seorang yang terpandang dan kaya; secara kehidupan bergereja, Filemon telah mendukung pekerjaan Tuhan bahkan ia telah menjadi kesaksian yang nyata dalam kasih dan iman. Mungkin kalau kita menjadi Filemon, kita sudah berbangga sebab tidak banyak orang yang disebut sebagai rekan kerja oleh Paulus. Namun Paulus ingin mengajak Filemon memikirkan lebih lanjut kehidupannya khususnya yang menyangkut masalah perbudakan dengan Onesimus. Pada saat Filemon memikirkan hal ini, ia menyadari bahwa standar hidupnya adalah standar hidup yang seharusnya terus bergerak dan semakin lama semakin tinggi; standar hidup yang terus menerus diproses semakin menuju pada kesempurnaan. Paulus ingin menyadarkan Filemon tentang standar hidup yang ia miliki sudah sampai sejauhmana? Apakah masih jauh dari yang Tuhan inginkan ataukah semakin dekat dengan kehendak Tuhan? Seorang Kristen sejati adalah seorang yang dinamis, yang tidak hanya berpuas diri pada pemahaman yang statis tetapi ia harus menuntut diri dalam hidupnya.

Biarlah Firman Tuhan hari ini menyadarkan untuk kita semakin  diubahkan dalam worldview kita. Secara manusia, kita tidak pernah menyangka bahwa Onesimus yang tadinya seorang budak dan pencuri tapi Tuhan pakai dia dan akhirnya menjadi seorang uskup di Efesus; seorang yang terhina menjadi seorang yang terhormat di lingkungan orang-orang kudus. Dari perlakuan Paulus yang sederhana, ia membawa Onesimus pada pribadi Kristus namun hal itu justru membawa perubahan yang besar dalam dirinya. Biarlah menjelang Natal, kita mempersiapkan diri dan hati kita; sudahkah kita merenungkan samapi seberapa jauh perubahan dalam kehidupan kerohanian kita?  Amin?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)