Ringkasan Khotbah : 15 Oktober 2006

Antara Kedatangan Pertama & Kedatangan Kedua

Nats: 1 Kor. 15: 40-44, Kol. 1:3-5

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Pendahuluan

Tanpa terasa untuk ke sekian kali kita masuk dalam suatu momen yang penting di dalam Kekristenan, yaitu Natal. Setiap orang Kristen bersiap diri menyongsong datangnya Natal dan mengenang kembali kedatangan Tuhan Yesus yang pertama. Namun kalau kita bandingkan kepedulian dan antusias orang menyambut Natal, kedatangan Tuhan Yesus yang pertama dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua maka kita mendapati ada perbedaan besar diantara keduanya. Orang tidak terlalu antusias menyambut kedatangan-Nya yang kedua, yang sesungguhnya tidak kalah penting dibandingkan kedatangan-Nya yang pertama.

Di Kolese, Paulus memuji iman dan kasih jemaat di sana (Kol. 1:4). Mengapa jemaat Kolese mempunyai iman dan kasih yang sedemikian besar? Alkitab mencatat yang memotivasi mereka adalah pengharapan yang Tuhan sediakan. Bagaimana dengan kita hari ini? Apa yang memotivasi kita untuk melayani? Kita cenderung melayani karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi kita – Dia  datang ke dunia menebus dosa dan sebagai ucapan syukur, kita melayani Dia. Jawaban itu tidak salah. Namun kalau kita lihat kehidupan dari para jemaat mula-mula dan para rasul, kehidupan pelayanan mereka tidak hanya dipengaruhi atau didorong oleh kedatangan Kristus yang pertama saja tetapi dimotivasi oleh kedatangan Kristus yang kedua.

Hal ini nampak dalam pernyataan Paulus: ia menyebut dirinya yang paling hina, tidak layak menerima keselamatan yang Kristus kerjakan dan ia bagaikan anak yang lahir sebelum waktunya. Kedatangan Tuhan pertama begitu memotivasi Paulus melayani. Namun di sisi lain, ia menyatakan: “Aku melupakan apa yang di belakangku dan aku mengarahkan apa yang ada di depanku,“ juga: “Kesusahan yang kita derita hari ini tidak dapat dibandingkan dengan segala kemuliaan yang kita nikmati kelak ketika Tuhan Yesus datang kedua kali“ dan sebelum Paulus meninggal, dipenggal kaisar Nero dari mulutnya keluar pernyataan indah, yakni: “Aku sudah mencapai garis akhir dan sekarang sudah tersedia mahkota kebenaran yang dipersiapkan Tuhan bagiku dan bagi setiap orang yang mengasihi Dia.“ Jelaslah bahwa Paulus, para rasul lain dan jemaat mula-mula tidak hanya dimotivasi oleh kedatangan Kristus yang pertama tetapi juga dimotivasi oleh kedatangan Kristus yang kedua.

Jikalau kita hanya dimotivasi oleh kedatangan Kristus yang pertama saja maka kemungkinan setelah beberapa waktu kita akan menjadi lelah dan tawar hati; Seorang yang berlari dengan kesadaran bahwa di depan ada garis finish akan memiliki motivasi dan ketekunan yang berbeda dibandingkan seorang pelari yang tidak pernah memikirkan garis finish. Seorang teolog bernama Jurgen Moltman sangat menekankan pentingnya pengharapan. Pertanyaannya orang Kristen mengimani, berharap, atau percaya pada apa?  Orang Kristen mengimani dan percaya pada janji Tuhan. Penantian dan respon yang tepat kepada janji Tuhan akan mengubah beberapa aspek dalam hidup kita.

Hari ini kita akan merenungkan beberapa faktor yang membuat kita tidak berespon secara tepat terhadap janji Tuhan, yaitu:

Pertama, ragu dengan si pemberi janji sehingga kita menjadi ragu akan janjinya.

Bisa dipahami kalau kita bersikap acuh tak acuh terhadap janji yang diberikan oleh seseorang yang terkenal suka mengingkari janjinya. Tetapi biarlah kita menyadari bahwa Allah tidak kurang mampu dan kurang mau untuk menepati janji-Nya; Allah pasti menepati janji. Kedatangan Tuhan Yesus yang pertama membuktikan hal itu. Kitab Ruth menunjukkan bagaimana Allah dengan kuasa-Nya yang besar memastikan agar kakek Daud bisa dilahirkan meskipun secara manusia hal itu merupakan suatu kemustahilan. Demikian pula Allah dengan kuasa-Nya yang mengatasi kuasa maut memperpanjang usia Hizkia, sehingga Manasye bisa dilahirkan dan garis keturunan Daud bisa diteruskan. Semua ini menunjukkan bagaimana kedatangan pertama tidak terlepas dari kuasa Allah yang maha besar. Kedatangan Kristus yang pertama menunjukkan bahwa Allah mampu menggenapi janji-Nya. Demikian pula kuasa Allah cukup untuk menggenapi setidaknya dua hal yang harus terjadi sebelum Kristus datang kedua kali, yakni jumlah orang yang diselamatkan haruslah genap dan harus muncul manusia pendurhaka. Selain menyatakan kuasa Allah, kedatangan pertama juga menyatakan kasih Allah sehingga kedatangan pertama menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mampu tetapi juga mau menggenapi janji-Nya. Dan Allah yang sama juga akan mampu dan mau menggenapi seluruh janji-Nya di dalam kedatangan kedua.

Kedua, tidak tertarik dengan isi janji tersebut sehingga orang tidak terlalu mengharapkannya.

Kita juga tidak akan meresponi sebuah janji jikalau kita tidak terlalu mengingini apa yang dijanjikan. Sadarkah Saudara akan betapa indah dan mulia janji Tuhan? Allah menjanjikan sorga yang sedemikian mulia. Kita seringkali gagal menghargai Sorga karena kita ga­gal menyadari betapa mulianya sorga. Salah satu cara untuk kita menyadari mulianya sorga adalah dengan menyadari ketidakberlayakan kita masuk ke sana. Kita seringkali berpikir bahwa kita tidak layak masuk sorga semata-mata karena kita adalah orang berdosa sehingga sekali Kristus mengampuni kita dan mengubah status kita menjadi anak-anak Allah maka kita otomatis telah dilayakkan untuk masuk ke dalam sorga. Tetapi sesungguhnya untuk bisa masuk sorga seperti yang dijanjikan oleh Alkitab, kita masih membutuhkan tubuh baru yang dimuliakan, yang akan diberikan kepada setiap orang percaya dalam kedatangan kedua. Hanya setelah itu, orang percaya layak untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga dalam pengertian yang sepenuh-penuhnya. Dalam pengertian ini, orang-orang yang sudah meninggal dalam Tuhan hari ini belum menikmati Sorga dalam pengertian yang sepenuh-penuhnya (meski Alkitab mencatat bahwa hari ini roh mereka sudah berada di Firdaus), karena mereka pun masih menantikan tubuh yang baru, yang akan mereka terima saat mereka dibangkitkan pada waktu Kristus datang kedua kali.

Wayne Grudem menjelaskan keempat ciri tubuh baru, yaitu:

1)Tubuh yang tidak binasa: jikalau tubuh kita hari ini tidak akan bisa menghindari penyakit, proses penuaan atau kematian, maka di sorga nanti kita akan bebas dari semua ini. 2) Tubuh kemuliaan: itu berarti di sorga nanti kita akan tampil dengan kemuliaan yang sempurna dan tidak akan ada di antara kita yang tidak puas dengan penampilan kita atau penampilan orang lain. 3) Tubuh yang kuat: berarti bukan saja kita tidak akan mati tetapi segala kapasitas yang kita miliki akan nyata secara sempurna. 4) Tubuh rohaniah: pada waktu kita dibangkitkan tidak ada lagi pergumulan melawan dosa, kita akan sempurna, tidak ada lagi kejatuhan dalam dosa, kita akan menang untuk selama-lamanya atas dosa. Setelah kita mengenakan tubuh yang mulia ini maka kita akan bersama-sama masuk ke dalam sorga yang mulia, dimana kita akan tinggal untuk selama-lamanya bersama dengan Allah yang maha mulia! Sama sekali bukan janji yang remeh!

Ketiga, penggenapan janji yang dirasakan sangat lama.

Paulus membagi orang percaya ke dalam dua macam kondisi ketika Tuhan Yesus datang kedua kali (1Kor. 15:51-53), yakni: 1) orang yang sudah meninggal, 2) orang masih hidup. Yang perlu diingat, Paulus memasukkan dirinya ke dalam golongan orang yang masih hidup ketika Kristus datang. Apakah itu berarti Paulus salah karena hari ini dia sudah mati sementara Kristus belum datang? Tidak, karena Paulus tidak pernah memastikan kapan Kristus akan datang (1Tes. 5:1). Hal ini seharusnya juga menjadi sikap kita. Kita tidak boleh memastikan kapan Kristus datang tetapi kita harus berharap bahwa Kristus akan segera datang. Kita seringkali mengkritik orang yang terlalu berani menyatakan kapan Kristus pasti datang, sementara kita tanpa sadar juga terlalu berani menyatakan kapan Kristus pasti tidak datang! Sebelum Kristus datang kedua kali, jumlah orang yang diselamatkan memang haruslah genap, tetapi kita tidak pernah tahu siapa orang terakhir yang diselamatkan? Demikian pula, kita tidak pernah tahu apakah hari ini sang anti Kristus itu sudah lahir ataukah belum lahir?

Jangan pernah berpikir bahwa kita sudah menunggu kedatangan-Nya selama 2000 tahun dan Dia belum juga datang maka dapat dipastikan Dia tidak akan datang dalam waktu dekat. Perhatikan, masa penantian dalam Alkitab memang panjang tetapi masa penggenapan bisa terjadi secara mendadak dan sangat cepat. Pertempuran Daud dan Goliat didahului dengan banyak percakapan, tetapi pertempuran keduanya terjadi begitu cepat dan Goliat dengan begitu mudahnya dijatuhkan. Demikian pula, tembok Yerikho selama enam hari dikelilingi oleh bangsa Israel dan tidak terjadi apa-apa tetapi pada hari ketujuh, dalam satu sorakan dan dalam hitungan menit saja tembok Yerikho runtuh. Hal ini seharusnya menyadarkan dan membuat kita senantiasa siap sedia karena kita tahu bahwa masa penantian janji bisa jadi lama tetapi penggenapan­nya bisa terjadi dengan sangat cepat dan singkat. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersiap sedia karena kita menganggap bahwa hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali masih sangat lama. Ingat, tidak ada seorang pun yang tahu kapan kedatangan Kristus; Dia mungkin datang tahun depan, mungkin besok atau mungkin juga hari ini namun satu hal yang kita tahu pasti, yakni Dia pasti datang. Tuhan kalau sudah berjanji pasti ditepati karena itu, hendaklah kita senantiasa siap sedia.

Penutup

Biarlah kita mempersiapkan hati bukan saja menyambut kedatangan-Nya yang per­ta­ma tetapi kita bersiap hati menyongsong kedatangan-Nya yang kedua. Kita bukan hanya merenungkan kedatangan-Nya yang pertama tetapi juga menantikan kedatangan-Nya yang kedua. Jangan pernah berpikir bahwa semua yang kita kerjakan akan percuma atau sia-sia ketika kita menantikan kedatangan-Nya yang tak kunjung datang sebab sekalipun kita sudah mati ketika Kristus datang yang kedua kali, kita tetap tidak akan pernah merasa rugi karena semua yang kita kerjakan diperhitungkan oleh-Nya. Dan seandainya Tuhan Yesus datang dan kita kedapatan masih hidup maka kita sudah ada dalam keadaan siap menyongsong kedatangan-Nya dan kita akan bersukacita karena hari itu juga kita ada bersama-sama Dia dalam Kerajaan Sorga.  Amin?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)