Ringkasan Khotbah : 17 September 2006

Misteri Tubuh Kristus

Nats: 1 Kor. 12:12-13

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta

 

Pendahuluan

Surat Korintus merupakan salah satu bagian yang paling lengkap di dalam Alkitab yang menjelaskan tentang tubuh Kristus (1Kor. 12:12-31). Istilah tubuh Kristus hanya ada dalam Kekristenan. Untuk memahami lebih dalam tentang alasan Paulus menuliskan tubuh Kristus ini maka ada baiknya kalau kita mengetahui latar belakang kota Korintus. Secara geografis, kota Korintus terletak di jalur persimpangan maka kota Korintus menjadi salah satu pusat perdagangan maupun budaya dan penduduknya pun beragam. Jemaat Korintus ini mendapat perhatian khusus dari Paulus dan Sostenes sebagai seorang yang berjuang bersama-sama membangun jemaat Korintus (1Kor. 1:1). Dalam hal karunia dan talenta jemaat Korintus ini merupakan jemaat yang paling kaya dibanding dengan jemaat lain. Namun kekayaan karunia yang mereka miliki bukanlah jaminan mereka tidak ada masalah. Tidak! Di Korintus ini terjadi kawin campur dan juga terjadi perpecahan antar jemaat dan mereka menamakan diri kelompok Paulus, kelompok Apolos bahkan kelompok Kristus. Istilah tubuh Kristus hanya mucul dalam tiga area masalah, yakni:

1) tubuh Kristus secara fisik, Yesus Kristus adalah pribadi yang memiliki tubuh, daging dan darah. Paulus perlu menegaskan tentang hal ini ntuk menentang ajaran sesat yang berkembang di Korintus, yakni ajaran doketisme, ajaran yang menolak bahwa Yesus hanya 100% Allah dan bukan 100% manusia.

2) tubuh Kristus berkaitan dengan perjamuan terakhir, istilah ini hanya khusus diungkapkan oleh Tuhan Yesus. Para rasul maupun para pendiri agama tidak pernah mengungkapkan istilah “tubuh Kristus“ ini sebelumnya. Orang yang tidak memahami akan berpendapat bahwa telah terjadi kanibalisme dalam ajaran Kristen. Kanibalisme yang sifatnya mistik. Dalam bagian ini sesungguhnya, Tuhan Yesus mau menjelaskan bahwa tubuh yang dipecahkan merupakan satu-satunya jalan supaya manusia dapat bertemu dengan Tuhan, yaitu dengan masuk dalam suatu perjamuan dalam penderitaan dan kematian Kristus – menerima Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Tubuh Kristus yang terpecah dan darah Kristus yang tercurah merupakan suatu simbol daripada pelayanan dan pengorban Tuhan yang paling mulia.

3) tubuh Kristus berkaitan dengan kehidupan berjemaat, hal inilah yang akan menjadi perenungan kita pada hari ini.

Pada suatu kesempatan, ada orang menceritakan tentang kehidupannya selama menjadi Kristen. Di satu sisi, ia merasakan keakraban dan persekutuan indah tetapi di sisi lain, ia tidak merasakan suatu kebenaran Firman Tuhan padahal ia rajin beribadah dan melayani. Dalam kesempatan lain, ada orang yang merasakan sebaliknya, ia tidak merasakan kehangatan sebagai bagian dari tubuh Kristus tapi ia mendapatkan cukup kebenaran Firman. Pergumulan yang sama juga pernah dialami oleh jemaat Korintus. Jemaat Korintus adalah jemaat yang cukup besar dan cukup maju tetapi mereka mengalami perpecahan antara seorang dengan orang yang lain. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus (1Kor. 12:12). Namun yang menjadi kegetiran Paulus adalah mereka banyak tetapi sesungguhnya mereka adalah satu tubuh karena telah dibaptis dalam satu Roh dan diberi minum dari satu Roh tapi kenapa masih terjadi perpecahan? Kegetiran ini diungkapkan secara dramatis melalui sebuah ilustrasi dimana ilustrasi ini orang seharusnya langsung mengkoreksi dan mengevaluasi diri sebab bagaimana mungkin satu tubuh dapat mengabaikan tubuh yang lain namun itulah realita yang terjadi dalam jemaat Korintus.

Ada orang yang berpendapat bahwa church is the model of family, gereja adalah model keluarga tapi Paulus melihat ternyata, gereja tidak bisa lagi menjadi satu tubuh yang ideal. Karena itulah, Paulus perlu memaparkan dengan sederhana tapi mendalam tentang kesatuan sebagai tubuh Kristus. Dalam kaitannya dengan tubuh Kristus maka ada empat prinsip penting yang harus kita perhatikan, yakni:

1. Tubuh Kristus dan Kesatuan antara Tubuh dan Kepala.

Bayangkan, kalau kepala atau dalam hal ini yang dimaksud adalah otak tidak dapat berfungsi maka dapatlah dipastikan seluruh anggota tubuh yang lain juga tidak akan berfungsi sebab otak/kepala ini merupakan pusat yang mengkoordinasikan seluruh bagian tubuh yang lain. Demikian juga halnya dengan orang yang telah meninggal, secara fisik tubuh dan kepalanya menyatu tetapi otaknya telah mati akibatnya seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan. Surat Paulus tidak memaparkan tentang kematian suatu anggota tubuh tapi ia membandingkan dengan kondisi realistis. Paulus menenggarai ada keterperpecahan pada jemaat Korintus sehingga ia menggunakan istilah kaki, tangan, mata dan kepala. Paulus mengungkapkan bahwa walaupun orang itu masih hidup ternyata bagian tubuh yang satu bisa merasa teralianasi dari bagian tubuh yang lain (1kor. 12:15). Dengan kata lain, Paulus mau menyatakan bahwa tidak mungkin ada satu bagian tubuh yang tidak mengenal bagian tubuh yang lain. Apakah karena tangan berbeda bentuk dengan kaki maka tangan bukan bagian dari tubuh demikian juga halnya dengan kaki, apakah karena berbeda dengan tangan maka ia boleh berkata, ia bukan tubuh? Paulus dalam ayatnya yang ke-15 bahwa memang ada perbedaan tapi ada hal yang perlu diingat, walaupun beda, kita masih mempunyai satu bagian yang mengikat, yaitu kepala. Kepala itulah yang menyatukan seluruh bagian tubuh.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan menyatu? Yang dimaksud dengan menyatu disini adalah tubuh dalam keadaan sehat, normal, dinamis dan hidup. Kalau kita mengaku anggota tubuh Kristus maka yang menjadi pusat dan mengontrol seluruh bagian tubuh adalah Kristus. Adalah mustahil, orang mengaku sebagai satu tubuh dalam Kristus tapi dia tidak mengerti tentang Kristus, dia tidak pernah mengerti arti ibadah, dia tidak pernah menjadikan Kristus sebagai kepala. Hal itu membuktikan Kristus tidak menjadi Kepala tetapi Kristus hanya sebagai status kepala. Jikalau demikian apa bedanya kita dengan orang mati? Dalam realita berjemaat tidak jarang kita pun mengalami pergumulan yang sama.

Biarlah sebagai anak Tuhan sejati, kita senantiasa menyadari bahwa kalau Kristus rela tubuh-Nya dipecahkan untuk kita, maukah kita rela mengambil bagian di dalam-Nya? Hendaklah kita meneladani Kristus, Dia datang mencari jiwa-jiwa berdosa, apakah kita juga telah melakukan hal yang sama? Hal ini sekaligus menjadi barometer, apakah kita menjadikan Kristus sebagai Kepala? Barometer yang lain, apakah dalam hidup kita hanya mencari dan melakukan kehendak Tuhan saja? Ada orang yang mengatakan bahwa salah satu ciri gereja dimana Kristus menjadi kepala adalah gereja senantiasa memberitakan tentang Kristus kepada orang lain. Cobalah kita mengevaluasi diri, sebagai satu tubuh Kristus kita termasuk dalam bagian tubuh yang mana? Khususnya, menjelang KKR ini pernahkah kita bergumul dan terbeban melihat banyak jiwa yang belum diselamatkan? Maukah kita dipakai menjadi bagian dari tubuh Kristus dengan mengajak orang untuk masuk dalam bagian tubuh-Nya?

2. Tubuh Kristus dan Persekutuan.

Mengenai prinsip-prinsip penting Paulus telah menjelaskan pada jemaat Korintus di pasal sebelumnya, salah satunya tentang kawin campur yang tidak diperkenan oleh Tuhan demikian juga tentang perpecahan yang terjadi di dalam tubuh Kristus sebab hal itu membuat Tuhan sedih. Paulus juga menegaskan bahwa ajaran yang mereka terima dari dunia ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ajaran Kristus (1Kor. 3:18 ). Orang yang sudah mati dalam Tuhan akan bangkit (1Kor. 15), tentang hal ini Paulus merasa perlu untuk memaparkannya karena pada saat itu berkembang suatu ajaran yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan dari antara orang mati. Pengajaran demi pengajaran yang ketat diberikan oleh Paulus pada jemaat Korintus dan di bagian lain, Paulus juga mengingatkan bahwa sebagai satu tubuh, setiap ajaran tersebut haruslah nyata dalam kehidupan persekutuan antara umat Tuhan. Di tengah-tengah segala pergumulan, Paulus ingin menyadarkan dan membukakan pada setiap kita akan suatu realita bahwa semua ajaran itu tidak berarti apa-apa jika tidak diimplikasikan dalam kehidupan kita. Sekalipun aku boleh berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1Kor. 13:1) atau dengan kata lain semua itu tidak ada artinya. Ada suatu pengikat dalam suatu ajaran itu, yaitu fellowship yang indah dengan umat Tuhan yang lain; ada kepedulian antara satu dengan yang lain dalam tubuh Kristus.

Kelompok tertentu mengungkapkan apa yang menjadi kegetiran hatinya: aku kelaparan tetapi engkau mendiskusikan apa itu kelaparan, aku sedang telanjang tetapi engkau sibuk memikirkan bagaimana cara membuat masyarakat ini menjadi lebih baik, aku sedang merintih kesakitan tetapi engkau hanya berbicara di belakang meja dan membicarakan apa itu kesakitan. Memang, kita tidak memungkiri konsep-konsep yang diajukan itu sangat penting tetapi merupakan suatu kesalahan fatal, orang seringkali terjebak dalam suatu konsep kosong, tanpa ada implementasi di dalamnya. Adalah percuma kita mempunyai banyak pengetahuan dan menganggap diri berhikmat kalau kita menjauhkan diri dari persekutuan karena ia merasa bukan bagian dari tangan dan bukan kaki. Orang tidak pernah memikirkan jari kelingking seperti kita memikirkan bagian yang lain, seperti wajah kita misalnya karena orang merasa kelingking tidak terlalu berguna untuk kita. Padahal kita tahu, kalau jari kita lengkap maka cengkeraman tangan kita akan sangat kuat dan kokoh. Pertanyaannya sekarang adalah sudah seberapa jauhkah kita membina suatu fellowship di dalam jemaat? Sudah sampai sejauh manakah kita telah menjadi bagian dalam tubuh Kristus dan hidup di dalam-Nya?

3. Tubuh Kristus dan Karunia

Paulus melihat tubuh Kristus berkait erat dengan karunia Roh. Jemaat Korintus menganggap kalau karunia Roh atau karunia lidah lebih penting dari bagian yang lain. Seperti kita ketahui, jemaat Korintus terdiri dari berbagai macam orang maka jemaat Korintus ini merupakan jemaat yang kaya akan talenta, mereka memiliki 17 karunia bahkan dibandingkan dengan jemaat Roma, jemaat Roma ini tidak ada apa-apanya meski mereka dikenal sebagai jemaat yang pandai. Namun sangatlah disayangkan, kekayaan karunia tersebut tidak dipakai untuk membangun tubuh Kristus. Kekayaan karunia ini justru dipakai untuk membuat kelompok-kelompok yang tersendiri dan memecah belah antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Itulah sebabnya, Paulus memaparkan tentang tubuh Kristus di tengah-tengah pembahasan berbagai macam kekayaan karunia yang ada. Apalah gunanya semua karunia kalau orang tidak memiliki suatu kerinduan untuk berbagi belas kasihan dengan orang lain. Apalah artinya seluruh talenta kita kalau tidak mempunyai hati yang rindu untuk membangun tubuh Kristus. Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah kita mempunyai hati yang rindu membangun tubuh Kristus?

Sebagai satu tubuh, pernahkah kita turut merasakan kesedihan dan kekuatiran yang sama seperti yang dialami oleh saudara seiman kita yang lain? Seperti kita ketahui, bencana lumpur panas yang menimpa pastilah membuat orang yang hidup di sekitar itu akan merasa sedih dan kuatir. Berbeda halnya dengan kita, kita yang jauh mungkin tidak merasa terganggu. Inilah bedanya antara orang yang hidup di daerah bencana dengan orang yang sekedar mengamati saja. Demikian juga halnya dengan Kristus yang diungkapkan dalam satu tubuh bersama-sama dengan anggotanya oleh Paulus. Setiap anggota tubuh seharusnya saling memperhatikan dan mempedulikan supaya kita mempunyai tubuh yang sehat. Apa jadinya kalau satu tubuh tidak dapat bekerjasama dengan bagian yang lain. Bayangkan, seandainya kita merasa lapar tapi tangan tidak mau bekerjasama. Realita ini harusnya kita sadari ketika satu anggota tubuh mengalami masalah maka bagian yang lain harus berjuang bersama-sama. Karunia yang kita miliki tidak ada artinya kalau kita tidak pernah memikirkan bagaimana kita menyumbangkan karunia itu. Salah seorang berpendapat bahwa semangat konsumerisme telah menggerogoti gereja sehingga gereja bukan lagi sebagai tempat melayani tetapi sebagai tempat untuk dilayani. Sadarlah, semua karunia talenta pada kita itu asalnya dari Tuhan dan kita harus kembalikan untuk kemuliaan Tuhan.

4. Tubuh Kristus – Kesatuan dan Keberagaman  

Kesatuan ditengah keberagaman harusnya menjadi satu pemicu. Jemaat Korintus menganggap diri mereka berbeda dengan kelompok yang lain, mereka tidak merasakan sebagai satu kesatuan yang bersama-sama dalam kehidupan akibatnya mereka terpecah dalam satu kesendirian dan mereka mengalami krisis kehidupan rohani. Allah telah membentuk tubuh kita sedemikian rupa, pada tubuh yang tidak mulia, dberikan suatu penghormatan yang khusus. Hal ini dipaparkan oleh Paulus bukan untuk membanding-bandingkan tetapi Paulus ingin mengungkapkan memang ada perbedaan tapi masalahnya justru di tengah perbedaan tersebut bagaimana kita saling menghargai dan saling menunjang antara satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan.

Di tengah-tengah kehidupan berjemaat pun tidak lepas dari perbedaan namun hal itu harusnya tidak memecah belah sebab kita mempunyai kepala yang menyatukan, yaitu Kristus. Adalah mustahil orang dapat menghargai diversitas/keragaman tanpa kita menyadari ada kesatuan dalam tubuh Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua telah dibaptis dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Dalam pelayanan dan kehidupan berjemaat, pastilah kita menjumpai banyak perbedaan pertanyaannya sekarang adalah apakah perbedaan itu menjadikan kita bersatu dan mengarah pada Kristus? Ataukah kita malah menjadikan gereja semakin terpisah dengan gereja yang lain? Namun sangatlah disayangkan, realita justru memperlihatkan pada kita bahwa gereja tidak lagi sebagai satu tubuh. Kalau selama ini kita berjalan sendiri bahkan kita mengalami keterasingan, sadarlah kalau kita tidak lagi mempedulikan orang lain, sadarlah kalau kita telah terlepas dari bagian tubuh dan kita tidak menjadikan Kristus sebagai Kepala. Ingat, kita adalah gereja dan merupakan satu tubuh dimana Kristus yang menjadi kepala (1Kor. 12). Amin?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)