|
Ringkasan Khotbah : 30 Juli 2006
Nats: Yoh. 3:36 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Pendahuluan
Hari ini kita masuk dalam Perjamuan Kudus maka kita akan merenungkan Firman Tuhan yang berkaitan dengan Kristologi. Pernyataan Yohanes (Yoh. 3:36) merupakan kesimpulan dari percakapan antara Yohanes Pembaptis dengan para muridnya dan pernyataan itu sekaligus menjadi pernyataan final dari iman Kristen. Seperti satu keping mata uang yang terdiri dari dua sisi maka Yoh. 3:36 terdiri dari dua sisi: 1) sisi positif, “barangsiapa percaya pada Anak, ia beroleh hidup yang kekal“; 2) sisi negatif, “barangsiapa tidak taat kepada Anak ia tidak akan melihat hidup melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.“ Dua sisi dibukakan supaya kita lebih memahami Firman Tuhan secara totalitas namun orang hanya memperhatikan sisi positif dan mengabaikan sisi yang negatif. Pernyataan final bersifat absolut, sukar bagi manusia untuk berdalih atau lari. Pernyataan final hanya dapat dijawab dengan kalimat: ya atau tidak.
Manusia berdosa tidak suka dengan kalimat final karena memojokkan manusia pada suatu kondisi dimana manusia harus mengambil keputusan: percaya akan beroleh hidup kekal atau tidak taat akan mendapat murka Allah. Manusia harusnya sadar bahwa suatu saat ia akan masuk dalam suatu titik encounter, yakni suatu titik yang mengharuskan kita untuk mengambil suatu keputusan dimana keputusan tersebut sangat menentukan seluruh aspek hidup kita. Ironis, hari ini Kekristenan sendiri tidak suka kalau ketajaman Firman dinyatakan ke tengah dunia, Kekristenan mengabaikan pernyataan-pernyataan Kristus yang sifatnya final dan absolut. Konsep iman sejati menuntut suatu kepercayaan penuh dan kepercayaan itu menuntut suatu ketaatan penuh. Iman berbicara tentang suatu posisi yang absolut.
Latar Belakang
Pernyataan final yang keluar dari mulut Yohanes Pembaptis dilatar belakangi oleh suatu peristiwa Kristus datang untuk dibaptiskan oleh Yohanes. Pada saat itu, Yohanes memberikan pernyataan atau referensi tentang siapa Kristus yang sesungguhnya. Yohanes memberikan suatu introduksi atau pengenalan untuk memperkenalkan Kristus pada orang-orang di sekitarnya. Setelah dibaptis, Tuhan Yesus pun pergi ke seberang danau Galilea kemudian timbul suatu perselisihan antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian dan dari hasil perdebatan itu tidak ada penyelesaian maka mereka pun datang kepada Yohanes dan berkata: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya“ (Yoh. 3:26). Sepintas kalimat ini seperti kalimat biasa namun kalau kita memahami situasi yang terjadi saat itu, kalimat ini untuk mengadu domba Yohanes Pembaptis dengan Tuhan Yesus. Dengan kata lain Yohanes sudah kehilangan pamor sehingga semua orang lari pada Tuhan Yesus.
Sepertinya para murid Yohanes ini, mereka mencintai sang guru dan mereka memberikan dorongan rohani yang sangat positif namun tanpa sadar, sesungguhnya mereka telah mengadu domba. Begitu juga kita, kalau kita tidak berhati-hati apa yang kita lakukan dan pikirkan itu rohani tetapi ternyata tidak, justru sangatlah duniawi. Sebagai contoh, dengan dalih kerohanian jemaat, orang menggunakan cara marketing dunia yang penuh intrik dan licik itu untuk bersaing dan mendapatkan anggota. Inikah yang dinamakan dengan iman? Tidak! Lalu bagaimana kita mengerti iman sejati? Iman yang tidak dimengerti secara esensi akan berakibat fatal; segala hal yang dipikirkan, cara yang dipakai tidak ubahnya seperti dunia.
Yohanes Pembaptis mempunyai kerohanian sejati sehingga ia tidak mudah terjebak oleh kata-kata manis yang penuh dengan kelicikan. Yohanes memposisikan para murid untuk kembali pada suatu kebenaran, yakni: orang dapat mengikut “siapa“ itu Tuhan yang menentukan; kalau kita meraup sesuatu yang bukan hak kita maka kita tidak akan pernah mendapatkannya malahan akan mendatangkan dosa. Sadarlah, semua yang ada pada kita adalah karunia Tuhan termasuk para murid (Yoh. 3:27). Semua dilihat dari sudut pandang Tuhan. Konsep iman sejati menggugurkan seluruh kalimat para murid Yohanes. Kalau Tuhan mengirimkan seorang murid maka tugas kita adalah bertanggung jawab dan mengerjakan seluruh tugas dengan sebaik-baiknya. Kekristenan tidak mengajarkan egois dan mencari keuntungan diri. Tidak! Ingat, tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu buat dirinya sendiri, ingat kalau pun orang bisa mendapatkan maka itu karena karunia Allah; segala sesuatu asalnya dari Tuhan. Yohanes tidak termakan oleh perkataan murid-muridnya sebaliknya Yohanes sadar kalau dirinya hanyalah pembuka jalan, forerider. Yohanes menegaskan bahwa orang harus kembali dan mengikut pada Kristus Sang Mesias; Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil dan barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya (Yoh. 3:36). Iman Kristen tidak memisahkan antara percaya dan taat; orang yang mengaku percaya pada Kristus maka ia harus taat.
Tiga aspek yang menjadi penyebab orang memisahkan antara percaya dan taat:
1. Orang percaya tidak mungkin dimurkai.
Di dunia modern, orang hanya memberitakan Injil secara satu sisi yang positif saja dan mengabaikan sisi yang negatif. Tak terkecuali Kekristenan pun memisahkan menjadi dua sisi yang saling terpisah. Orang hanya menekankan sisi positif, yakni umat pilihan Allah tidak akan mendapat murka; namanya juga umat pilihan, meski kita berbuat dosa apapun kita tetap masuk sorga. Perhatikan, ini bukan ajaran Kekristenan tapi bidat. Berita Injil tidak berhenti sampai pada percaya Kristus dan memperoleh hidup yang kekal saja. Tidak! Sebab jika demikian berarti kita telah menjual murah Injil. Coba pikir, manusia mana yang akan menolak ketika ia ditawarkan akan mendapat sorga hanya dengan percaya saja? Hanya manusia bodoh yang menolaknya. Tentu saja orang mau percaya Kristus toh tidak rugi malahan orang diuntungkan, yakni mendapat sorga. Dengan kata lain, andaikan pernyataan: percaya Yesus akan mendapat hidup kekal itu benar, orang akan diuntungkan tetapi andaikata pernyataan itu salah, orang tidak menjadi rugi karena toh cuma percaya.
Banyak Kekristenan menyelewengkan kebenaran Firman, kata “jaminan keselamatan“ dilepaskan dari konteksnya, seolah-olah hanya dengan percaya saja, orang akan selamat dan celakanya, ada orang yang mengajarkan bahwa keselamatan harus ditandai dengan baptisan. Salah! Alkitab ditafsirkan untuk kepentingan diri. Sebagai contoh, orang menafsirkan bahwa Tuhan berdaulat menetapkan setiap langkah, semua yang kita lakukan tidak lepas dari kehendak Tuhan; dari sini, orang menyimpulkan kalau kita melangkah berbuat dosa maka itupun kehendak Tuhan, jadi seluruh dosa itu harusnya Tuhan yang bertanggung jawab. Salah! Itu penyalahgunaan doktrin dan ajaran bidat. Alkitab menegaskan barangsiapa percaya maka ia harus taat, orang yang tidak taat, tidak akan melihat hidup. Percaya dan taat ini dikontraskan dalam satu sisi; tidak percaya dan tidak taat dikontraskan di sisi yang lain. Iman Kristen sejati tidak mendualismekan percaya dan taat. Jadi, kalau benar kita adalah umat pilihan maka ia pasti akan taat. Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk dalam umat pilihan?
2. Allah yang Kasih tidak mungkin murka.
Orang tidak mau taat karena orang seringkali mendalihkan dengan doktrin Kristen yang mengajarkan: Allah adalah kasih, God is Love. Karena Allah kasih maka Allah tidak akan murka. Maka tidaklah heran kalau hari ini, orang menggebu-gebu memberitakan tentang cinta kasih Allah dan menghilangkan murka Allah. Padahal kita tahu, sejak jaman Perjanjian Lama, Allah telah berbicara tentang murka-Nya. Allah murka pada manusia atas kefasikan manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman (Rm. 1). Memang benar, Allah adalah Kasih; karena kasih-Nya yang begitu besar, Ia mengaruniakan anak-Nya untuk menyelamatkan manusia berdosa, tetapi perhatikan, Allah yang kasih juga Allah yang adil, Ia menyediakan neraka bagi mereka yang tidak taat. Allah adalah kebenaran sejati maka Dia tidak dapat dipermainkan. Dosa menjadikan murka Allah nyata atas manusia, dosa menyebabkan Allah harus memalingkan muka-Nya dari manusia. Perhatikan justru karena Allah mengasihi maka orang yang percaya kepada Anak dapat memperoleh hidup kekal dan karena Allah adil maka orang yang tidak taat pada-Nya tidak akan melihat hidup dan murka Allah akan turun atasnya. Orang menyelewengkan Firman sedemikian rupa, orang beranggapan bahwa Allah yang kasih tidak akan menghukum umat pilihan-Nya sehingga orang tidak perlu taat pada-Nya maka tidaklah heran kalau hari ini, Kekristenan mulai lumpuh.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tiga orang ateis atas gereja-gereja di Amerika maka seorang teolog, A. W. Tozer menyimpulkan bahwa gereja hanya menawarkan kulit tanpa isinya. Dengan kata lain Kekristenan berbicara tentang iman tetapi orang tidak mengerti esensi iman. Apa itu iman? Apa implikasi dari percaya? Orang tidak dapat menjawab sebab setiap orang mempunyai konsepnya masing-masing. Ingat, Tuhan menegaskan bahwa bukan setiap orang yang berseru: “Tuhan, Tuhan akan masuk dalam Kerajaan Sorga tetapi dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga“ (Mat. 7:21). Ini berarti orang yang hanya mau dan mengaku percaya saja tetapi tidak mau taat maka ia tidak berhak masuk dalam Kerajaan Sorga. Firman harus dilihat secara totalitas, dari sisi positif maupun sisi negatif.
3. Murka Allah tidak realistis.
Orang seringkali bersikap prejudice dengan berpikir Allah tidak realistis dengan murka-Nya. Buktinya, Tuhan tidak menghukum orang yang berbuat dosa malahan orang yang hidup dalam dosa bertambah gemuk dan makmur; orang yang hidup taat justru hidup sengsara seperti kena tulah (Mzm. 73). Realita yang sama juga dapat kita lihat di dunia modern sekarang, manusia berbuat dosa tetapi Tuhan tidak murka maka tidaklah heran kalau orang berkesimpulan bahwa murka Tuhan itu tidak lebih hanya gertakan saja. Kesalahan manusia yang terbesar adalah manusia mengukur murka Allah dari sudut pandang manusia.
Dalam hal ini ada dua aspek yang menjadi penyebab orang bersikap prejudice, yaitu:
Pertama, manusia bias dalam melihat atau menilai suatu realita. Orang tidak akan merasa salah atau berdosa ketika ia merugikan atau berdosa pada orang lain tetapi giliran orang lain berbuat dosa pada kita maka kita langsung menghakiminya. Inilah cara manusia menilai penghakimannya. Orang tidak melihat dari sudut pandang Tuhan tetapi sebaliknya segala sesuatu dilihat dan diukur dari sudut pandang manusia. Selumbar kecil di mata saudara kelihatan tetapi balok di depan mata kita tidak kelihatan. Sadarlah, kita telah banyak berbuat dosa maka kita harusnya dihukum tetapi kita malah merasa diri sebagai orang dan kita justru melihat orang lain itu sebagai yang jahat. Orang seringkali mengukur tindakan Allah dari sudut subyektif manusia akibatnya manusia akan menyalahkan Tuhan ketika ia yang kena celaka. Banyak orang yang mengintepretasi atas bencana alam yang terjadi di Indonesia, segala sesuatu diukur dari subyektif manusia. Kita harusnya melihat dari sudut pandang Tuhan, apa yang menjadi rencana Tuhan atas bangsa ini? Apa yang harus kita perbuat dan kita lakukan selanjutnya sebagai akibat dari dampak dosa kita? Orang seringkali melihat secara prematur setiap aspek yang terjadi dalam hidup kita akibatnya orang menghina dan tidak peduli dengan murka Allah; orang menyepelekan murka Allah, orang menganggap murka Allah itu tidaklah realistis. Perhatikan, segala sesuatu haruslah dilihat dari sudut pandang Tuhan barulah kita dapat menilai dengan tepat semua realita dunia.
Kedua, Allah tidak menjatuhkan murka-Nya pada dunia secara sembarangan. Murka Allah terjadi menurut cara Tuhan sendiri. Pada hakekatnya, orang mau percaya pada Kristus karena orang tahu, ia akan memperoleh hidup kekal tetapi orang tidak mau konsekuensinya, yaitu harus taat. Percaya haruslah disejajarkan dengan ketaatan. Allah sangat mengasihi manusia berdosa; Dia mengirim Anak-Nya mati untuk kita. Karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah ini bukanlah pekerjaan yang sederhana. Hal ini melampaui pikiran manusia. Manusia harusnya sadar betapa seriusnya dosa. Pertanyaannya adalah kesalahan seperti apakah yang menyebabkan Allah murka pada manusia? Kesalahan sebesar apakah yang membuat Allah murka? Dosa terbesar yang membuat Allah murka pada mansusia adalah melawan Allah, tidak taat pada Allah. Tidak taat Allah berarti tidak percaya Allah; tidak percaya berarti meragukan kredibilitas Allah, melecehkan Dia sebagai Allah. Bayangkan, jikalau dalam dunia kerja direktur kita menyatakan A sebagai kebenaran tapi kita tidak percaya maka itu berarti kita tidak percaya pada kredebilitasnya dan itu merupakan suatu penghinaan. Ketidaktaatan pada Allah berarti pemberontakan frontal terhadap absoluditas/kemutlakan dan validitas/keabsahan Allah sebagai kebenaran, truth. Kristus telah menanggung murka Allah yang seharusnya turun atas kita. Kalau kita telah diselamatkan, kita ditarik keluar dari murka Allah supaya kita dapat kembali percaya dan taat pada Allah, apakah kita masih mau mempermainkan Dia? Apakah kita tidak mau taat pada-Nya lalu apa artinya percaya kita?
Biarlah kita disadarkan kembali untuk percaya dan taat sepenuhnya pada Dia, Sang Kebenaran sejati. Hanya Dia yang layak dan kepada-Nya kita percaya dan taat. Jangan pernah sekali pun terlintas dalam pikiran kita untuk melecehkan Dia dengan meragukan kredebilitas-Nya. Sebagai anak Tuhan, orang yang mengaku percaya pada Kristus, kita menunjukkan bukti manifestasi atau perwujudan iman dengan berserah dan taat sepenuhnya pada pimpinan-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Alah tetap ada di atasnya (Yoh. 3:36). Hendaklah Firman Tuhan ini terngiang dalam pikiran dan hati kita dan menjadikan kita semakin taat pada-Nya. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)