|
Ringkasan Khotbah : 23 Juli 2006
Nats: Neh. 3:1-32 Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra |
Sebelum kita merenungkan kitab Nehemia pasal 3 maka ada baiknya kita mengingat kembali kitab Nehemia pasal 1 dan pasal 2 yang telah kita renungkan sebelumnya. Kitab Nehemia merupakan suatu tulisan yang didapat dari buku harian Nehemia. Beberapa teolog menafsirkan kalau kitab Nehemia ini telah mengalami penambahan atau pengurangan disana sini namun terlepas dari semua itu kitab Nehemia ini berasal Nehemia sebagai sumber utama. Secara data teknis pembangunan tembok Yerusalem ini dapat kita baca dalam buku H. G. M. Williamson, National International Commentary in the Old Testament (NICOT), dan buku-buku penafsiran yang lain.
Kisah Nehemia ini dimulai dari puri Susan pada bulan Kislew, tahun kedua puluh pemerintahan Raja Artasasta, datanglah Hanani, salah seorang saudara Nehemia dari Yerusalem memberita tentang kehancuran kota Yerusalem. Mendengar berita itu Nehemia sangat sedih dan menangis. Sangatlah wajar kalau orang menjadi sedih mengetahui kondisi tanah airnya yang hancur luluh namun kesedihan Nehemia ini tidak wajar karena kehancuran ini telah lama berlangsung. Yang menjadi penyebab kesedihan Nehemia adalah kenapa bangsa Israel yang telah Tuhan ijinkan pulang tidak juga membangun kota Yerusalem? Padahal jauh sebelumnya, melalui para nabi-Nya Tuhan telah menubuatkan bahwa Tuhan akan membangun kembali kota Yerusalem tetapi tidak ada satu pun orang yang peka dan peduli. Hancurnya tembok Yerusalem ini merupakan gambaran dari hancurnya kerohanian bangsa Israel.
Sampailah pada bulan Nisan, yakni tahun baru dimana raja dalam keadaan senang maka waktu itu dirasa tepat bagi Nehemia untuk menyampaikan keinginannya, yakni pulang ke tanah air dan membangun kembali tempat pekuburan nenek moyang atau kota Yerusalem. Nehemia menyebut Yerusalem sebagai sebagai tempat pekuburan nenek moyang itu bukan tanpa alasan. Tidak! Nehemia tahu kalau raja Artasasta sangat menghormati leluhurnya. Nehemia telah memikirkan hal ini jauh sebelumnya. Biarlah kita meneladani Nehemia yang memohon hikmat Tuhan ketika hendak menjalankan kehendak Tuhan. Nehemia menggunakan seluruh talenta dan kapasitas yang ada pada dirinya untuk mencari kehendak Tuhan. Orang seringkali berpikir seharusnya Tuhan yang Maha Tahu, Tuhan yang Maha Kuasa itu mengintervensi setiap hal yang menjadi kehendak-Nya untuk manusia kerjakan. Tuhan bukanlah Tuhan yang meniadakan hak manusia untuk menggumulkan apa yang menjadi kehendak-Nya. Tuhan juga tidak meniadakan untuk seseorang boleh merasakan ketakutan, kegentaran dan hal-hal lain yang manusia tidak suka karena Tuhan justru pakai saat-saat itu orang dapat menemukan kehendak Tuhan.
Singkat cerita, raja Artasasta mengijinkan Nehemia pulang untuk membangun kembali kota Yerusalem bahkan raja memberikan semua keperluan untuk pembangunan Yerusalem. Nehemia berani menghadapi segala resiko dan tantangan demi untuk menjalankan kehendak Tuhan. Ada orang yang mendukung namun sebagian orang lagi menentang namun meski demikian Nehemia tidak mundur karena ia tahu, semua yang ia kerjakan merupakan kehendak Tuhan. Tuhan pasti akan memimpin seluruh pekerjaan pembangunan tembok Yerusalem ini hingga berhasil karena semua itu sudah dinubuatkan. Evaluasi bagi diri kita apakah kita berani menempuh segala resiko demi untuk menjalankan kehendak Tuhan? Hari ini orang yang merasa mendapat misi dari Tuhan merasa diri adalah “orang penting“ sehingga ia akan menjaga dirinya sedemikian rupa dari segala mara bahaya dan celakanya, ia menuntut orang lain untuk menjaga dan melindunginya supaya “misi Tuhan“ tidak gagal. Ada sebuah slogan mengatakan kalau kita takut lumpur maka jangan coba-coba untuk memandikan seekor babi. Slogan ini dengan kata lain mau mengatakan bahwa banyak tantangan dan kesulitan yang harus kita hadapi ketika kita menjalankan kehendak-Nya. Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari filsafat, ada dua kemungkinan yang harus diperhatikan: 1) menjadikan orang semakin beriman dan hidup dalam kebenaran atau, 2) orang menjadi sesat. Dalam kitab Nehemia pasalnya yang ketiga dicatat tentang orang-orang yang berespon positif dan mendukung pekerjaan Tuhan. Membangun tembok mengelilingi kota Yerusalem bukanlah pekerjaan yang sederhana dan tidak dapat dikerjakan oleh satu orang saja. Banyak orang yang mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem tersebut dimana setiap orang mempunyai bagiannya tersendiri namun perhatikan, diantara banyaknya nama tersebut, tidak satu pun muncul nama Nehemia di dalamnya. Pekerjaan Tuhan begitu besar maka dibutuhkan banyak anggota lain yang harus bekerja sama. Kalau kita bandingkan dengan jaman modern ini, orang pasti akan mendongkol ketika namanya tidak tercantum dalam susunan kepanitiaan atau kemungkin kedua, orang justru merasa senang karena nama yang tidak tercantum dalam daftar dapat dijadikan sebagai alasan untuk tidak bekerja, tidak melayani Tuhan. Setiap manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk dihargai, ingin eksistensinya diakui oleh seluruh dunia. Seperti layaknya sebuah bangunan yang besar maka kita ini tidak lebih hanyalah sebuah batu bagian dari suatu bangunan.
Nehemia adalah orang yang memegang peranan penting dalam pekerjaan Tuhan namun Tuhan justru tidak memunculkan nama Nehemia. Jika dibandingkan dengan jaman Nehemia maka hari ini, orang mempunyai semangat pelayanan yang terbalik, orang ramai-ramai berebut jabatan ingin mendapatkan posisi yang paling penting seperti ketua misalnya karena di posisi itu, tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan, ketua tinggal memerintah saja dan biasanya, ia akan mendapat pujian kalau pekerjaan itu berhasil. Orang tidak sadar disatu sisi ia mendapat pujian namun ia juga bisa mendapat celaan kalau pekerjaan itu gagal. Pembangunan tembok Yerusalem ini merupakan gambaran dari pekerjaan Tuhan yang dipercayakan pada umat Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri apakah kita merasa diri sebagai orang yang paling penting karena mendapatkan visi dari Tuhan? Ingatlah, kita merupakan bagian dari anggota tubuh Kristus, setiap umat Tuhan adalah satu tubuh Kristus. Marilah kita singkirkan semua egoisme kita dan bekerja bagi Tuhan.
Pada jaman Perjanjian Lama, bangunan tembok yang mengelilingi kota merupakan image dari kehidupan keagamaan dari suatu bangsa. Bangunan tembok itu menyatakan kebesaran dari Allah yang disembah oleh suatu bangsa. Merupakan suatu anugerah kalau tembok Yerusalem dapat dibangun dan berdiri kembali, membuktikan kuasa dan kedaulatan Tuhan yang memelihara umat-Nya sebab tanpa campur tangan Tuhan, mustahil tembok Yerusalem yang begitu besar ini dapat ditegakkan kembali. Perhatikan, setiap orang mengerjakan bagiannya masing-masing maka dalam pekerjaan Tuhan ada suatu konsep yang disebut dengan kesatuan, unity dan keragaman, diversity. Unity berbeda dengan uniform. Karena adanya keragaman itulah maka perlu untuk dipersatukan. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Demikian hal dengan tugas anak Tuhan; tugas kita bukan semata mengabarkan Injil tetapi juga menegur dan menasihati saudara seiman ketika mereka berada dalam kesulitan.
Namun satu hal yang perlu kita ingat dalam pelayanan, yakni jangan membentuk semangat sektarian yakni suatu semangat dimana kita ingin menyampaikan suatu kebaikan namun pada saat yang sama kita justru sedang membuang mereka. Karena itu, biarlah ketika kita menegur atau menasihati saudara seiman kita melakukannya dengan lemah lembut dan bijaksana dengan demikian orang tidak salah paham dan berakibat fatal. Sebab sejarah membuktikan maksud hati baik ingin menyampaikan kebenaran namun cara dan sikap hidup tidak menunjukkan kebenaran itu sehingga orang menganggap munafik. Hal yang sama dialami oleh Nietzche, dia adalah seorang yang pandai, usia kurang lebih 20 tahun ia sudah meraih gelar profesor filologi di Bessel University, salah satu universitas besar pada jaman itu. Sejak usia muda ia telah membaca dan memahami pemikiran Plato, seorang filsuf Yunani dan ayahnya yang mengetahui hal ini melarangnya dan menekankan pada Nietzche untuk memahami Alkitab lebih dari filsafat manapun. Namun Nietzche melihat kesaksian hidup ayahnya dan orang-orang Kristen pada umumnya tidak memancarkan kehidupan Kekristenan yang indah; apa yang dikatakan tidak sesuai dengan tingkah lakunya. Hal ini menjadikan Nietzche menjadi atheis. Salah satu buku menyatakan Nietzche merupakan gambaran dari krisisnya orang-orang modern. Satu hal yang harus kita perhatikan adalah kita merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan yang besar. Tidak menutup kemungkinan dalam melakukan pekerjaan tuhan tersebut akan timbul suatu persaingan antara saudara seiman namun ingatlah, kita sedang mengerjakan hal yang sama, yaitu membangun tubuh Kristus. Melakukan pekerjaan Tuhan bukanlah pekerjaan sederhana, banyak aspek yang harus dikerjakan demi untuk pekerjaan Tuhan diselesaikan dengan baik. Bayangkan, apa jadinya kota Yerusalem kalau semua orang ingin membangun bagian temboknya tetapi tidak ada orang yang mau membangun saluran airnya? Maka pertanyaan selanjutnya dan sekaligus menjadi evaluasi bagi kita adalah perlukah kita saling menghina dan membangun suatu persaingan di antara sesama saudara seiman? Setiap orang mempunyai bagian tersendiri dimana setiap bagian itu saling melengkapi. Dalam kesatuan, unity ada keragaman, diversity. Ketika orang mulai berpikir bahwa kalau pekerjaan A lebih penting dari pekerjaan yang lain maka biasanya, ia akan mengabaikan pekerjaan yang lain karena dianggap tidak penting. Hal ini justru menunjukkan betapa sempitnya pikiran kita sebab cepat atau lambat kita akan menuai hasil pemikiran kita. Dapatlah dibayangkan apa jadinya kota Yerusalem, kalau tidak ada satu orang yang mau mengerjakan bagian kecil karena dipandang remeh. Hari ini masih banyak gereja tidak menyentuh mandat budaya seperti politik, budaya, dan lain sebagainya karena gereja menganggap tugas utama gereja adalah penginjilan. Setiap anak Tuhan dipanggil untuk mengerjakan bagian demi bagian hingga tembok itu menjadi satu kesatuhan yang utuh.
Ketika tembok Yerusalem selesai dikerjakan maka reaksi orang-orang yang menentang pembangunan seperti orang Sanbalat dan Gesyen sangatlah kaget. Alangkah indahnya kalau setiap anak Tuhan menyadari pentingnya melakukan pekerjaan Tuhan dan setiap anak Tuhan saling mendukung dalam pekerjaan Tuhan pastilah iblis takut dan gemetar. Sayangnya, hari ini banyak anak Tuhan yang mudah sekali dicerai beraikan, banyak anak Tuhan menganggap pekerjaannya yang paling penting dan menganggap pekerjaan orang lain itu tidak penting sehingga tidak perlu untuk dibantu. Kitab Nehemia mencatat ada satu kelompok, yakni orang-orang Tekoa yang tidak bersedia menyediakan bahunya untuk membantu tapi ada kelompok lain bahkan para penguasa bersedia membantu membangun tembok Yerusalem. Kita juga mendapati banyak orang Kristen memakai ayat Firman untuk membenarkan diri padahal sesungguhnya, satu hal yang hendak dihindari yakni tidak mau bekerja, mengeluarkan tenaga dan keringat atau karena alasan lain, yaitu malas dan gengsi.
Pada Neh. 3:1 tertulis: “Maka bersiaplah...“ kata “bersiaplah“ seharusnya yang tepat adalah “bangkitlah....“ Ketika visi Tuhan diberikan pada satu orang maka visi itu harus disebarkan kepada banyak orang untuk dikerjakan secara bersama-sama. Bukanlah hal yang mustahil bagi anak Tuhan untuk menang atas peperangan rohani jikalau anak Tuhan bersatu. Dalam buku Komunisme Manifesto, Karl Max menyatakan bersatulah para buruh, lakukanlah revolusi maka kamu tidak saja dapat melepaskan rantai yang membelenggu tapi kamu akan mendapatkan dunia untuk dimenangkan. Alangkah indahnya, jikalau kita sekalian orang Kristen bersatu bekerja melayani Tuhan dan nama Tuhan dipermuliakan.
Kapankah kita dikatakan sebagai suatu kesatuan di dalam Tuhan? Apakah ketika kita membicarakan satu topik dan kemudian mencapai kata sepakat itu dinamakan sebagai suatu persatuan? Lalu apa bedanya persatuan didalam Tuhan dengan kesatuan orang dunia? Persatuan Kristen bukan dibangun atas dasar hal-hal yang fenomenal, persatuan Kristen bukanlah persatuan di meja makan. Memang, tidak menutup kemungkinan antara saudara seiman ada pendapat yang berbeda dan ingat, Tuhan menghargai perbedaan itu namun ada satu prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu meski berbeda kita harus tetap berada di dalam Kristus (en Christos, bahasa Yunani). Bukankah ketika kita berdoa untuk para misionaris, kita tidak pernah tahu bagaimana bentuk dan wajah orang tersebut namun dalam doa kita dipersatukan oleh iman.
Biarlah ketika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan, kita bersehati sepikir melakukan yang terbaik untuk Kristus, Raja di atas segala raja. Kalau kita gagal memahami hal tersebut maka persatuan kita hanya bersifat artifisial belaka. Di dalam Kristus, kita satu tubuh dan kita adalah bagian dari tubuh Kristus. Abraham Kuyper dalam bukunya Lectures on Calvinism menyatakan dari semua teologi yang ada, hanya Calvin saja yang memberikan satu kemungkinan dimana manusia dapat langsung bertemu dengan Tuhan tanpa melalui perantara dan setiap orang mempunyai tanggung jawab pribadi dengan Tuhan; dari kesadaran ini barulah negara dapat berkembang dengan baik. Tuhan ingin diantara perbedaan yang ada tetap harus ada satu hati untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan dan kemuliaan kembali pada Tuhan semata. Amin ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)