Ringkasan Khotbah : 16 Juli 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (8)

Nats: Mat. 11:27

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pendahuluan

Empat pernyataan Tuhan Yesus yg terdapat di Injil Mat. 11:27 yg dipenggal dengan kata “dan“ ini sangat penting untuk kita pahami sebab pernyataan Kristus tersebut merupakan pernyataan final, the final statement of Christ yg juga menjadi konsep dasar iman Kristen. Manusia berdosa tidak suka dengan pernyataan Kristus sebab mengandung unsur kemutlakan dan bertentangan dengan nafsu duniawi. Hampir semua pernyataan Kristus yg tertulis dalam Alkitab ditentang oleh manusia seperti Yoh. 14:6 yg menyatakan bahwa Yesus satu-satunya salah satunya jalan, dan kebenaran, dan hidup, dan tidak ada seorang pun yg datang kepada Bapa kalau tidak melalui Kristus. Kekristenan dianggap sombong dan egois menghina agama lain. Sesungguhnya semua itu hanyalah alasan manusia untuk menolak Kristus. Manusia mulai menciptakan “allah“ yg sesuai dengan keinginannya,“allah“ yg dapat memenuhi semua nafsu dosa (Rm. 1:18-32). Setiap orang mempunyai “allah“ sendiri dan celakanya, setiap orang merasa dirinya adalah “allah.“ Ludwig Feuerbach, filsuf Jerman menyatakan God is created by man according to the image by man sehingga manusia tidak perlu percaya lagi pada Allah. Dapatlah dibayangkan apa jadinya dunia semakin rusak dan hancur, manusia menjadi anarkis.

 Hari ini kita akan merenungkan 4 pernyataan final Kristus di Mat.11:27, yaitu:

I. “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku....“

Pernyataan ini merupakan bagian paling  esensial, the final of the final authority. Kebenaran haruslah dikerucutkan sampai di titik paling atas maka disitulah terdapat finalitas kebenaran, yaitu di dalam diri Allah sendiri. God is the final of the final authority maka kita harus taat kepada-Nya. Ini menjadi dasar bagi kita membangun epistomologi. Pasca Perang Dunia II mulai menekankan filsafat posmodern dimana filsafat ini sangat mempengaruhi cara dan konsep berpikir manusia. Orang lebih percaya pada kebenaran pluralitas – apa yg ada dalam pikiran maka itulah yg dianggap sebagai kebenaran. Dunia tidak menyadari ketika menolak absoluditas dan beralih pada pluralitas modern maka itu sama halnya seperti kita menanam bom dan suatu saat pasti akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.

Manusia bukanlah pemegang otoritas final karena secara natur, manusia bersifat relatif; keberadaan manusia itu sendiri bukan tunggal sehingga kalau orang menyatakan diri absolut berarti ia mengabaikan orang lain dan menganggap orang lain itu bukan manusia karena itu orang harus kembali membangun struktur konsep yg benar. Orang harusnya mempertanyakan keabsahan ketika ia membangun konsep khususnya yg menyangkut kehidupan dan iman kita namun hari ini orang berlaku sebaliknya untuk urusan duniawi dan bisnis orang akan bertanya dan melakukan penelitian sedemikian rupa karena takut merugi. Sadarlah, iblis ingin merusak hal yg sifatnya esensi di dalam kehidupan manusia. Iblis tahu pasti kalau hal yg esensi itu memegang peranan penting dan sangat mempengaruhi hal lain yg sifatnya eksistensial. Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dan waspada dengan segala tipu muslihat iblis. Kekristenan mengajak kita kembali pada the final authority.

Salah satu penyebab yg membuat manusia gagal kembali pada the final authority adalah rusaknya pendidikan dunia modern yg mengajarkan relativitas, tidak ada pertanggung jawaban absoluditas. Bayangkan, apa jadinya anak-anak kita dan masa depan bangsa kalau sejak kecil anak diajarkan pluralisme? Kekristenan sejati harus kembali pada Allah sebagai otoritas final. Final otoritas ini bukan hanya ada dalam diri Allah tetapi didelegasikan kepada Kristus (Mat. 11:28). Kebenaran asasi yg ada dalam diri Allah barulah mempunyai kekuatan otoritas dalam kebenaran-Nya ketika hal itu diturunkan dari Allah Bapa kepada finalitas turunannya, yaitu Kristus. Dari sini barulah kita memahami the order of the Trinity yg paradoks. Ordo Allah Tritunggal itu sejajar dan bertingkat. Konsep ini sulit dimengerti oleh manusia sebab pikiran manusia telah dikuasai oleh cara pikir Aristotle yg mengajarkan sejajar tidak mungkin bertingkat begitu juga sebaliknya.

Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah, Allah Roh Kudus adalah Allah. Ketiga-Nya secara esensial adalah Allah, Ketiga-Nya secara natur setara, tidak ada yg lebih tinggi. Dalam kesetaraan Allah itu terdapat suatu urutan atau tingkatan, yaitu: Bapa sebagai otoritas final maka Bapa tidak tunduk pada Anak maupun Roh Kudus – Allah Anak harus taat kepada Bapa – Roh Kudus yg harus taat kepada Bapa dan Anak. Anak tidak akan melakukan apapun dari diri-Nya sendiri kecuali yg Bapa perintahkan demikian juga dengan Roh Kudus, Ia tidak melakukan apapun dari diri-Nya sendiri, Roh Kudus hanya melakukan apa yg menjadi perintah Bapa dan perintah Anak. Urutan ini tidak boleh dibalik: Bapa – Anak – Roh Kudus maka di dalam Tritunggal ini tidak akan terjadi penyimpangan dalam kebenaran. Ketika di Getsemani, Tuhan Yesus berkata, “Bapa, jikalau mungkin cawan ini lalu daripada-Ku tapi bukan kehendak-Ku tapi kehendak-Mu yg jadi“ disini ada perbedaan keinginan tapi keputusan finalnya ada di tangan Bapa dan Anak harus tunduk pada apa yg menjadi kehendak Bapa.

Final authority ini kemudian diturunkan kepada Kristus. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Kristus ingin supaya kita hidup berpusat pada-Nya dan Kristus menyadari benar akan hal ini seperti yg Ia ungkapkan: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku.“ Hari ini manusia tidak suka konsep otoritas turunan karena ia masih harus mempertanggung jawabkan otoritasnya; manusia lebih suka menegakkan otoritas dirinya sendiri, otoritas manusia berdosa. Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus, kalau Kristus yg adalah Allah mau memegang otoritas turunan dari Bapa, Kristus tidak pernah memaksakan diri untuk mengambil alih otoritas lalu kenapa manusia begitu sombong ingin menjadi sebagai pemegang otoritas final? Ingat, pada hakekatnya, manusia bukanlah pemegang kebenaran mutlak.

Sadarlah, otoritas yg ada pada manusia hanyalah otoritas derivasi/turunan yg diberikan oleh Tuhan. Pertanyaannya adalah sampai sebatas manakah otoritas itu diberikan dan boleh kita gunakan? Implikasi dari otoritas derivasi, yaitu: 1) orang dapat mengetahui dan memahami sampai dimana batas kekuatan kita dalam melangkah, kita mengerti batas antara hak dan kewajiban, 2) orang tahu kepada siapa kita harus tunduk dan sampai batas mana boleh tunduk. Adalah wajib anak tunduk pada orang tua tapi ketika orang tua berbuat jahat dan menyeleweng dari kebenaran maka kita tidak boleh tunduk padanya melainkan kita harus tunduk pada otoritas derivasi yg berada di atas orang tua, yaitu Kristus. Selama orang tua berada dalam satu garis dg Kristus maka kita taat, tapi kalau menyeleweng dan keluar dari garis derivasi otoritas maka Kristuslah yg harus kita taati. Gambaran otoritas derivasi ini seperti layaknya sebuah garis lurus vertikal dimana tempat tertinggi ditempati oleh Allah sebagai otoritas final dan Kristus sebagai pemegang otoritas turunan dan dibawahnya adalah orang-orang yg menjadi atasan kita. Jadi, misalnya si A yg berada persis di atas kita dan menjadi atasan kita itu menyeleweng maka kita harus taat pada si B yg merupakan atasan si A begitu seterusnya. Garis otoritas kebenaran ini tidak membuat kita kehilangan arah; 3) orang dapat menata seluruh hidupnya dalam relasi masyarakat dan hidup kita menjadi berintegritas. Orang yg tidak memahami dan berada dalam garis otoritas maka hidupnya selalu berada dalam ketakutan. Ironis orang justru takut pada otoritas palsu, yaitu iblis daripada otoritas sejati, yaitu Kristus.

II. “Tidak ada seorang pun yang mengenal Anak selain Bapa....“

Pengenalan epistomologi, yakni pengetahuan sejati tentang Kristus dimulai dari pengenalan Bapa kepada Kristus. Seluruh pengetahuan haruslah disumberkan pada pengetahuan yg asasi karena di dunia banyak kebenaran palsu. Di tengah dunia ini kita harus mengejar sesuatu yg benar-benar benar sebab itulah pengetahuan yg paling asasi. Apa yg dikatakan manusia sepertinya benar namun sesungguhnya perkataannya mengandung suatu tipuan, sepertinya benar tapi ternyata masuk dalam 3 kondisi lain, yaitu: 1) benar-benar tidak benar, 2) tidak benar-benar benar, 3) tidak benar-benar tidak benar. Orang tidak suka kebenaran asasi; orang lebih suka melawan kebenaran. Adalah natur manusia berdosa hanya suka pada apa yg menjadi kesukaannya saja. Untuk dapat kembali pada kebenaran asasi, pertama-tama orang harus menyadari bahwa dirinya adalah manusia bodoh dan berdosa. Namun, orang tidak suka kalau ada orang lain yg menyadarkan dirinya kalau ia bodoh dan biasanya orang langsung akan marah dan menganggapnya sebagai penghinaan. Kemarahan itu justru menunjukkan kebodohannya. Orang yg tidak sadar kalau dirinya bodoh dan ia merasa diri pintar maka tidak ada harapan lagi bagi orang tersebut sebab ia akan menuju kehancuran. Fakta menyatakan kalau manusia adalah manusia bodoh. Hanya anak-anak Tuhan yg takut akan Tuhan barulah ia mempunyai pengetahuan yg benar sebab takut akan Tuhan menjadi awal dari permulaan pengetahuan tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Sayangnya, pendidikan dunia modern tidak menyadari pentingnya takut akan Tuhan; orang tidak memahami relasi antara pengetahuan dan takut akan Tuhan karena itulah, orang tidak mengajarkan takut akan Tuhan pada anak-anak. Basis epistemologi, basis pengetahuan dasar terjadi jika kita pertama-tama kembali kepada Kristus. Pertanyaannya kenapa harus kembali pada Kristus? Sebab kebenaran asasi haruslah dinyatakan dari sumbernya lalu diakui secara valid.

Epistemologi atau pengertian pengetahuan akan kebenaran sejati terjadi dimulai dg validitas, keabsahan dari pengetahuan. Kalau kita tidak mempunyai basis pengetahuan yg benar maka sepertinya, kita merasa tahu namun makin kita merasa kita tahu sesungguhnya banyak hal yg kita tidak tahu. Inilah permainan pengetahuan manusia. Apalah gunanya seluruh pengetahuan yg kita dapatkan kalau seluruh pengetahuan kita itu dilepaskan dari Tuhan sebagai sumber pengetahuan maka semua pengetahuan itu tidak lebih hanya sekedar data belaka. Pengetahuan bukan realita/data/statistik. Pengetahuan adalah interpretasi terhadap realita. Orang pertama dan orang kedua tahu tapi belum tentu mereka mempunyai interpretasi yg sama. Hal ini sangat disadari oleh Francis Schaeffer yg menyatakan I do what I think and I think what I believe. Pengetahuan tidak dimulai dari berpikir karena apa yg kita lakukan itu adalah hasil dari apa yg kita pikir dan apa yg kita pikir justru itulah yg menjadi iman/kepercayaan kita. Seorang atheis pasti akan berpikir atheistik dan hasil perilakunya pasti menunjukkan ia atheis. Membangun epistemologi sejati harus kembali kepada Kristus sebab tidak seorang pun yg mengenal Anak selain Bapa. Bapa adalah sumber sehingga itu menjadikan Anak mempunyai basis epistemologi valid karena Bapa sendiri yg memberikan pengakuan itu sendiri. Kalau kita mau mengenal Kristus maka kita harus kembali pada Allah Bapa sebagai sumber kebenaran, the source of truth. Bapa dapat mengenal Anak karena Bapa dan Anak adalah Allah Tritunggal yg merupakan suatu keutuhan.

III. “Tidak ada seorangpun mengenal Bapa selain Anak....“

Bagian ketiga ini menyangkut dua aspek, yakni Anak mengenal Bapa dan orang mengenal Bapa. Anak mengenal Bapa secara sah membuat orang mengenal Bapa dg tepat. Kekuatan Anak mengenal sesuatu bukan dari diri-Nya tapi dari Bapa yg memverifikasi hal tersebut. Sesuatu opini atau pendapat yang dilontarkan seseorang tidak dapat dikatakan sah sebab manusia tidak mempunyai otoritas kebenaran dan siapa manusia yg kepadanya ia dapat menyatakan kebenaran. Akibatnya orang memaksakan segala otoritas yg ada pada dirinya, seperti uang, pengaruh bahkan kekuatan fisik. Manusia pada hakekatnya tidak mempunyai validitas maka setiap opini yg dilontarkan itu perlu dipertanyakan darimana validitasnya? Apakah segala sesuatu yg ada dalam pikiran manusia itu selalu benar? Apakah manusia tidak pernah salah? Tidak! Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Validitas itu barulah kita dapatkan kalau diverifikasi oleh sumber kebenaran akan tetapi verifikasi ini perlu diuji sebab jika tidak, darimana kita tahu verifikasi itu benar. Verifikasi kebenaran harus teruji secara obyektif. Hari ini banyak orang yg ingin mendapat pengakuan atau verifikasi ini salah satunya dg mengatakan kalau ia mendapat wahyu dari Tuhan. Dalam dunia epistemologi disebut dg otorianisme, yakni orang memakai otoritas final untuk memverifikasi omongan/pikiran kita sebagai kebenaran yg sah.

Berbeda dg manusia yg seringkali melakukan kesalahan maka setiap pernyataan Kristus ini dapatlah dipertanggung jawabkan dan telah terbukti dalam sejarah. Bapa mengenal Kristus dan Kristus mengenal Bapa maka setiap pernyataan-Nya tentang Bapa adalah sah dan merupakan kebenaran maka itu sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan kenapa manusia harus kembali pada Kristus ketika ia mencari Allah? Dari sini jelaslah bahwa pernyataan: Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia bukan menunjukkan suatu kesombongan atau ide untuk melecehkan agama lain. Tidak! Pernyataan Tuhan Yesus di Yoh. 14:6 adalah sah sebab diverifikasi oleh Kristus dan disahkan oleh Bapa sebagai standar kebenaran. Jadi, ketika pernyataan itu diungkapkan maka kita bukan membicarakan siapapun tapi bagaimana kita dapat mengenal Allah sebagai Sumber kebenaran? Satu hal yg pasti kalau kita tidak kembali pada Kebenaran itu maka kita akan dibuang ke dalam kebinasaan kekal. Dosa membuat kita jauh dari Tuhan maka satu-satunya supaya kita dapat mengenal Allah adalah melalui Kristus Yesus. Sayang, hal ini malah dianggap sebagai suatu kesombongan sebab orang tidak suka akan Kebenaran absolut.

Perhatikan, seseorang yg mengatai orang lain “sombong“ itu merupakan ekspresi dari kesombongan yg ada dalam dirinya sendiri. Hal ini menjadi gambaran dari orang yg mau mengatakan kejelekan dirinya sendiri dg menjelekkan orang lain. Tidak ada cara lain satu-satunya jalan harus melalui Yesus Kristus sebab yg kenal Bapa hanya Anak; tidak kenal Anak maka tidak kenal Bapa. Sebagai contoh, suatu hari oksigen berbicara kepada manusia: “Kalau manusia tidak menghirup saya (oksigen) maka ia akan mati.“ Apakah pernyataan oksigen itu dianggap sombong? Itu realita bukan sombong. Betapa bodohnya manusia kalau ia berpendapat demikian sebab ia justru akan mati sendiri. Sombong itu kalau pernyataan yg diutarakan tidak sesuai/berada di atas realita. Sombong adalah meletakkan standar di atas posisi atau mencoba menipu dg cara merendahkan diri untuk kemudian ia menaikkan diri. Orang yg sudah berada pada titik absolut berarti setiap pernyataan yg ia keluarkan itu sifatnya absolut. Orang yg berkata bahwa 2+2=4 bukanlah orang sombong karena itu merupakan pernyataan absolut. Pertanyaannya adalah apakah Kekristenan tidak mau kembali kepada Kebenaran absolut? Kekristenan bukan fanatisme yg ngawur. Tidak! Kekristenan menyatakan suatu kebenaran final supaya manusia dapat melihat kebenaran asasi. Hal inilah yg hendak Kristus nyatakan dan menjadi tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan Injil menyatakan kebenaran absolut itu. Celakanya, banyak orang Kristen yg tidak mengerti dasar kebenaran iman Kristen, orang tidak mengerti mengapa hanya melalui Kristus saja orang baru dapat kembali pada Bapa akibatnya iman mereka mulai goyah.

IV. “Orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.“

Pernyataan ini hendak menyatakan tentang konsep anugerah. Kalau kita dapat mengenal Kristus, kita diberikan suatu kemungkinan untuk kita mengerti Kristus maka itu merupakan suatu anugerah. Ingatlah, bukan karena kepandaian atau kekayaan atau kecakapan kita sehingga kita dapat menerima anugerah Kristus. Pergumulan tentang anugerah ini bukan terjadi di abad ini saja tapi sejak belasan abad yg lalu sampai muncul suatu pernyataan tentang irresistable grace, yakni anugerah yg tidak dapat ditolak oleh manusia. Orang salah mengerti dg  konsep irresistable grace karena sepertinya orang seakan-akan dipaksa untuk masuk sorga. Tidak! Alkitab menyatakan ketika Kristus hendak menyatakan kebenaran pada seseorang maka anugerah itu tak bisa disangkal; manusia tidak berdaya untuk menolak kebenaran sejati, the truth itu. Ketika orang mengerti suatu hal yg salah pasti orang akan langsung menolaknya akan tetapi kalau orang sampai menerimanya maka itu karena kejeblos masuk dalam jebakan. Kita masuk dalam suatu penipuan karena kita tidak mengerti berbeda halnya kalau sebelumnya kita tahu, kita pasti akan langsung menolaknya. Kalau kita menolak hal yg salah maka pertanyaannya setelah kita mengerti kebenaran apakah kita masih mau menolaknya?

Kita tidak dapat menolak, menygkal atau melawan kebenaran ketika kebenaran itu dibukakan di depan kita. Perhatikan, orang yg melawan kebenaran itu disebabkan karena ia tidak mengerti kebenaran sebab kebenaran itu tidak dibukakan kepadanya. Dunia pikir kalau manusialah yg mencari kebenaran. Tidak! Allahlah yg membukakan kebenaran itu pada kita dan kita tidak dapat menolaknya karena Kebenaran sejati inilah yg selama ini dicari oleh manusia. Biarlah hari ini kalau kita dapat mengerti kebenaran sejati itu menjadikan kita rendah hati sebab semua itu semata-mata karena anugerah dan kita semakin taat dan takluk kepada Tuhan dg demikian kita semakin mengenal Allah yg sejati melalui Kristus.  Amin ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)