Ringkasan Khotbah : 18 Juni 2006

Dinamika Kehidupan Kristen: Mati terhadap Dosa

Nats: Mrk. 9:43-50

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Latar belakang pengajaran Tuhan Yesus di Injil Markus 9:43-50 ini adalah pemberitahuan masa sengsara Tuhan Yesus. Pelayanan Kristus ini sifatnya makin lama makin mengerucut; di awal pelayanan bersifat massa, siapa saja boleh datang dan mendengarkan ajaran-Nya namun menjelang kematian-Nya, ajaran-Nya bersifat spesifik dan eksklusif, yakni untuk para murid. Dari ajaran Tuhan Yesus ini muncul sebuah pertanyaan kenapa Tuhan Yesus mengatakan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung, dari pada dengan utuh kedua tanganmu dicampakkan ke dalam neraka demikian juga dengan kaki dan mata? Apakah ini berarti Tuhan sedang memaksudkan kalau para murid mempunyai kemungkinan untuk dicampakkan ke dalam neraka karena salah satu tubuhnya berbuat dosa? Padahal, pada di bagian lain Alkitab menyatakan bahwa ketika seorang percaya pada Kristus maka ia mempunyai jaminan keselamatan atau kepastian sorga dan seorang yang percaya Kristus berarti ia mempunyai status baru yang tidak akan berubah, yaitu sebagai Anak Allah dan pada waktunya nanti, Anak Allah akan bersama-sama dengan Tuhan di dalam kebahagiaan kekal dalam sorga mulia. Kedua konsep ini sepertinya saling berkontradiksi namun kalau kita perhatikan lebih teliti maka pengajaran Tuhan Yesus tentang “siapa yang menyesatkan“ di Injil Markus ini tidak berbicara tentang keselamatan. Tidak! Pada bagian ini, Tuhan Yesus hendak menunjukkan suatu realita kehidupan seorang yang percaya, yakni dalam perjalanan iman percayanya itu ada suatu kemungkinan dengan anggota tubuh yang ia miliki, orang percaya dapat berbuat dosa.

Tuhan Yesus memakai gambaran neraka tetapi perhatikan, Tuhan Yesus tidak menyatakan bahwa orang percaya akan dilempar ke dalam neraka ketika ia berbuat dosa. Tidak! Biarlah kita mengevaluasi diri ketika mengaku percaya pertama kali maka sejak hari itu apakah kita tidak pernah berbuat dosa? Tidak, bukan? Pertanyaannya sekarang adalah ketika orang percaya berbuat dosa apakah itu akan mengakibatkan ia berada dalam status sorga atau neraka? Tidak! Dia sedang berjalan menuju sorga tetapi hal berbuat dosa yang ia miliki dalam hidup percayanya dapat menjadi sebuah halangan besar menjadikan ia tidak dapat berdiri sebagai seorang Kristen sebagaimana mestinya. Karena itu, Tuhan Yesus menegaskan ketika salah satu bagian tubuh berdosa maka lebih baik dipotong. Disini, Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa orang percaya masih dapat berbuat dosa. Jangan pernah berpikir pada saat kita mengaku percaya maka seluruh dosa kita, yakni sebelum percaya itu akan hilang dengan sendirinya. Salah! Hidup dosa itu tetap ada tetapi yang membedakan sekarang adalah sebelum percaya pada Kristus, dosa menempati urutan pertama dari prioritas hidup kita dan apapun yang kita lakukan selalu cenderung untuk berdosa akan tetapi ketika kita mengenal Kristus, prioritas utama ini berubah; semua hal yang berkaitan dengan dosa tidak lagi berada pada urutan pertama tetapi menempati urutan paling bawah atau urutan-urutan tertentu dalam hidup.

Tandanya adalah ketika kita melakukan apapun akan muncul pertanyaan: apakah yang kita lakukan ini merupakan kehendak Tuhan? Dan akan muncul suatu perasaan bersalah ketika melanggar kehendak Tuhan. Ini menunjukkan ada perubahan urutan prioritas dalam pikiran kita. Dari sini, ternyata kita mendapati bahwa hidup Kristen mempunyai tegangan hidup, yaitu: hidup dalam kehendak Tuhan atau hidup dalam dosa. Seorang yang mengaku percaya pada Kristus akan selalu berupaya untuk hidup kudus dan menyenangkan hati Tuhan namun di sisi lain, ternyata orang selalu mengalami kegagalan maka muncul suatu pertanyaan kenapa anak Tuhan selalu jatuh dalam dosa yang sama? Dimanakah kuasa pembebasan dari Allah itu nyata dalam hidupku? Bukankah Alkitab mengatakan jikalau Anak memerdekakan kamu maka kamupun sungguh-sungguh merdeka namun kenapa kita tidak pernah merasakan kuasa kemerdekaan itu menyentuh hidup percaya kita? Semua yang dinyatakan dalam Alkitab adalah kebenaran namun muncul suatu pergumulan ternyata semua janji-janji Allah itu tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadi kita. Dalam bagian ini Tuhan Yesus memperingatkan sedikitnya ada tiga anggota tubuh, yaitu kaki, tangan, dan mata yang harus dipotong ketika orang berbuat dosa. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya problema dosa di dalam kehidupan orang percaya dan kita akan kaget karena kita mendapati ternyata, dosa itu ada dalam pikiran, hati, dan bagian tubuh kita yang lain. Bagaimana sikap dan  cara kita menghadapi realita ini?

Beberapa orang berusaha mencari jalan keluarnya seperti membaca buku-buku yang menuliskan tentang rahasia kemenangan rohani tetapi orang menjumpai suatu realita, ternyata semua rumusan yang tertulis dalam buku itu tidak berlaku dalam hidup mereka. Orang mencoba cara yang lain, yakni dengan mengikuti berbagai seminar rohani tetapi toh orang tetap jatuh dalam dosa. Orang tidak jera untuk terus mencari jalan keluar dan kali ini, orang mulai mencari pengalaman rohani bersama Tuhan, tapi ironisnya, orang merasa tersinggung dengan pendeta ketika Firman Tuhan itu menegur, dia beranggapan kalau pendeta tersebut membuka seluruh dosanya lalu ia menyusun berbagai argumentasi dengan tujuan untuk mencari legalisasi jawaban terhadap pergumulan rohaninya. Inilah realita hidup dari seorang Kristen namun satu hal yang seharusnya kita sadari, yaitu ketika kita menghadapi problema seperti demikian janganlah lari dari permasalahan sebab penyelesaiannya ada dalam Alkitab.

Jawaban Alkitab itu seperti sebuah koin dengan dua buah sisi, yakni pertama, memandang pada Yesus maka kita akan menemukan semua jawaban dari pergumulan hidup kita; kedua, bertobat, yakni mematikan semua kebiasaan dosa. Ketika seorang Kristen bertekad hendak mematikan kebiasaan lama kita maka kita harus mencari pertolongan Kristus sebaliknya ketika kita berpikir, Yesus sebagai pribadi yang dapat menolong untuk dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya maka kita harus mempunyai pengalaman pertobatan, yakni mati terhadap dosa berkali-kali. Kedua hal ini merupakan konsekuensi logis yang harus ada dalam diri orang percaya. Dinamika hidup rohani yang jatuh bangun ketika orang berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab keputusasaan. Tuhan ingin supaya kita mati terhadap dosa. Namun hari ini, sedikit sekali orang yang menekankan tentang pengajaran ini, orang hanya menekankan sisi yang lain, yakni tentang Kristus dan kemenangan-Nya. Jeffrey Thomas dalam bukunya yang ditulis tahun 1968 menyatakan bahwa gereja telah kehilangan konsep mati terhadap dosa lebih kurang 150 tahun lamanya secara khusus konsep ortodoksi dan sebagai gantinya, gereja mengajarkan tentang konsep kekudusan, konsep perfeksionisme, yakni seorang yang mengaku percaya pada Kristus maka dalam hidup percayanya tersebut, orang pasti tidak akan berbuat dosa namun jikalau suatu hari ternyata kedapatan ia berbuat dosa maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan, ia belum percaya pada Kristus. Dapatlah dibayangkan, bagaimana frustasinya hidup orang Kristen karena ia selalu gagal dan gagal. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah kesempurnaan hidup di dalam Kristus itu? Gereja telah lalai, gereja telah mengabaikan satu sisi; gereja mengajarkan sisi yang lain, yaitu hidup Kristen adalah membiarkan Allah bekerja secara diam-diam untuk membentuk dan menyempurnakan hidup dari setiap orang yang percaya kepada-Nya. Yang perlu kita lakukan adalah menghindari semua bentuk kecurigaan terhadap dosa dan membiarkan Allah yang melakukannya. Dalam hal ini, orang Kristen diajar untuk pasif. Pertanyaannya sekarang apakah tindakan pasif ini menyelesaikan masalah? Ternyata, kita mendapati tindakan pasif ini tidak menyelesaikan masalah justru kehidupan dosa itu semakin menguasai setiap sisi dari kehidupan kita.

Perhatikan, kehidupan Kristen bukan kehidupan yang damai, tanpa pergumulan. Tidak! Kehidupan Kristen adalah peperangan rohani, perjuangan rohani. Alkitab menegaskan bahwa perjuangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi melawan penghulu-penghulu malaikat dan roh-roh jahat di udara. Peperangan rohani disini janganlah dibayangkan sebagai suatu peperangan yang berhadapan atau berkonfrontasi secara langsung dengan iblis. Peperangan rohani yang kita hadapi perjuangan dalam mematikan kehidupan dosa di dalam hidup percaya kita. Orang lupa bahwa dalam diri kita ada musuh besar, yaitu hidup dosa kita. Perdana Menteri Inggris, Neville Chamberlain dan Hitler suatu hari mengadakan perundingan membahas tentang kesepakatan perdamaian antara Inggris dengan Jerman di Munich, 1938. Chamberlain percaya bahwa hasil kesepakatan itu akan membawa perdamaian,  I believe it is peace for our time namun ternyata ia salah, tidak lama setelah kesepakatan itu, Hitler menyerang Inggris. Setahun kemudian dalam suatu konggres, Chamberlain menyatakan: now, we are at war, dia harus berhadapan dengan Hitler dalam peperangan. Dari mulut yang sama, keluar pernyataan yang saling berkontradiksi. Peperangan rohani melawan musuh yang ada dalam diri kita ini tidak dapat dianggap remeh dan Tuhan Yesus memakai gambaran neraka.

Alkitab mengajarkan tiga hal tentang dosa dalam hidup orang percaya:

1. Ada kuasa dosa dalam kehidupan orang percaya. Sekali lagi perlu kita ingat bahwa konteks ajaran Tuhan Yesus ini ditujukan untuk orang percaya pada Kristus Yesus, yakni orang yang menyerahkan hidupnya untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus. Kitab Roma pasalnya yang ke-7 Paulus menggambarkan realita dosa dalam kehidupan orang percaya. Perlu kita ketahui, kitab Roma ini ditulis oleh Paulus pada saat ia sudah percaya. Paulus melihat kehidupan lamanya sebelum ia mengenal Kristus dan proses kehidupannya selama ia berjalan bersama Kristus. Disini, Paulus sudah mulai memasukkan unsur dosa, dalam perintah itu ada dosa (Rm. 7:11), pasal yang sama ayat 17, Paulus dengan jelas menyatakan bahwa dosa itu ada dalam kehidupan orang percaya. Dalam terjemahan bahasa Inggris memakai tenses present continous tense, sin living in me ada juga yang menuliskan dengan sin duels in me (present tense). Ini mau menunjukkan realita dosa itu terus menerus ada. Natur berdosa itu ada dalam diri setiap orang percaya (Rm. 7:18). Hukum dosa itu mulai bekerja di dalam anggota-anggota tubuh dan Paulus mulai frustasi dan kecewa, ia mulai bertanya: bagaimana caranya melepaskan diri dari tubuh maut? (Rm. 7:23-24). Paulus ingin kita menyadari bahwa perbuatan daging bukanlah perbuatan yang sekedar mengasihani diri sendiri, menipu, mencuri, atau perbuatan jahat yang lain. Tidak! Semua itu adalah akibat dari hukum dosa yang ada dalam hidup orang percaya. Selain akibat dosa yang lebih penting dalam diri kita ada hukum dosa yang membelenggu dan mengontrol hidup kita, pada waktu memikirkan apa yang menjadi hukum Allah, hukum dosa itu selalu muncul, saat kita ingin hidup berkenan di hadapan Allah maka saat itu, hukum dosa menginterupsi. Hukum dosa menawarkan segala sesuatu yang riil dan kelihatan manis. Ini menjadi pergumulan hidup orang percaya tiap-tiap kalinya. Ketika orang berbicara mengenai hukum dosa dan semua tawarannya maka sepertinya ada sebuah koneksitas yang terkait. Manusia terbungkus darah dan daging lalu hukum dosa datang dengan segala tawarannya yang indah dimana semua tawaran itu sangat memuaskan tuntutan daging kita dibandingkan dengan hukum Allah yang terasa jauh. Hukum dosa itu muncul pada saat kita ingin melakukan apa yang baik maka pikiran jahat itu muncul. Momen itu adalah momen eksistansial, kita berada pada titik genting antara dosa dan tidak dosa. Sebagai contoh, pada saat kita mau bertekad untuk mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan maka pada saat yang sama hukum dosa menawarkan kenikmatan lain yang dapat memuaskan kedagingan kita. Inilah titik persimpangan antara dosa dan tidak dosa. Dengan piawainya, hukum dosa masuk dan menyentuh sisi-sisi hidup kita. Dengan mengatasnamakan pola kepribadian, orang membenarkan diri ketika hukum dosa itu menyentuh sisi-sisi kehidupannya. Orang seringkali memakai Firman Tuhan: “Roh memang penurut tetapi daging lemah“ untuk membenarkan kondisi dirinya. Hukum dosa ini telah berhasil membuat orang percaya menjadi ragu dan frustasi dan lebih celaka lagi, hukum dosa telah berhasil membuat orang kehilangan kepercayaan.

2. Kewajiban orang Kristen untuk menekan hukum dosa itu sampai ke dalam titik mati. Paulus menegaskan keinginan Roh haruslah mematikan keinginan daging atau yang terjadi sebaliknya keinginan daging itu akan mematikan keinginan Roh (Rm. 8:13). Paulus menyatakan secara lebih spesifik, yakni sesuatu yang duniawi seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala dan itu harus kita matikan (Kol. 3:5). Tidak ada toleransi, tidak penjelasan lain yang Paulus perlu untuk jelaskan. Tidak ada! Hanya ada satu kalimat perintah, yaitu matikanlah. Ketika kita berhasil mematikan dosa maka itu kita mendapat kemenangan dalam Kristus. Herodes sangat mengerti konsep ini, Herodes memerintahkan untuk mematikan semua bayi yang berusia dua tahun ke bawah atau suatu hari kelak, bayi Yesus ini yang akan membunuh dirinya. Peristiwa ini menjadi sebuah gambaran, yaitu kalau hukum dosa itu tidak dibunuh maka hukum dosa itu akan melumpuhkan hidup kerohanian kita. Alkitab menegaskan bahwa hidup orang percaya tidak dapat berjalan selaras dengan hidup orang fasik demikian juga sebaliknya. Dalam diri orang percaya ada benih Ilahi dan setiap orang yang mengaku percaya pasti ingin hidup memuliakan Tuhan namun kelakuan kita tidak menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup akibatnya antara being dan doing menjadi dua kondisi yang tidak saling berkait. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan: “Celakalah aku, siapakah yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?“ Hal tentang mematikan dosa ini merupakan satu sisi dari dua koin. Satu-satunya cara supaya dosa itu tidak masuk adalah menutup semua kemungkinan yang dapat memungkinkan kita untuk berbuat dosa. Mulailah dari jangan pernah berpikir bahwa hal berbuat dosa merupakan sebuah tindakan yang natural dan dapat ditolerir. Tidak! Ingat, membuka sebuah kesempatan dosa itu sama halnya dengan membiarkan sebuah titik karat di atas sebuah plat besi, kalau titik karat itu tidak segera dihilangkan maka karat akan merambat dan menutupi permukaan besi seluruhnya. Dosa seperti sebuah kekuatan hidup yang menjalar dan terus menguasai seluruh aspek hidup kita. Tanpa kita sadari, ternyata salah satu bagian tubuh kita telah melakukan perbuatan dosa. Di satu sisi, orang mengaku percaya dan beriman namun di sisi lain ia memakai anggota tubuhnya, yaitu tangannya untuk melempari perempuan berdosa dan menganggap diri yang paling benar dan dari tangan orang beragama ini pula, mereka memakukan Kristus di atas kayu salib. Dari anggota tubuh kita yang lain, kita melakukan dosa. Karena itulah, Kristus menegaskan salah satu bagian dari anggota tubuh itu harus dipotong. Yang dimaksud Alkitab dengan memotong sebagian tubuh ini bukanlah dilakukan secara hurufiah meski sebagian negara ada yang melakukannya. Tuhan Yesus hendak menggambarkan dosa itu tidak dapat ditolerir lagi. Tuhan Yesus juga memakai gambaran anggota tubuh yang lain, yaitu kaki dan mata. Seberapa banyakkah kita dengan sengaja memakai kaki kita berjalan ke tempat berdosa? Seberapa banyakkah kita memakai mata kita untuk mengintip hal-hal berdosa? Seberapa banyak mata kita dipakai untuk menonton film selama berjam-jam dibandingkan dengan membaca Firman? Orang Kristen harus berani mematikan dosa maka barulah kita dapat memahami arti dari penyangkalan diri secara konkrit.

3. Menyangkal diri. Penyangkalan diri bukan berarti mengabaikan kesenangan dan beralih ke kesenangan yang lain. Tidak! Penyangkalan diri tidak berhubungan dengan hobbi. Penyangkalan diri adalah pada saat kita berhadapan dengan hukum dosa dan hukum Allah maka dengan kesadaran penuh, kita memutuskan untuk melakukan hukum Allah dan tidak berbuat dosa. Manusia mempunyai natur dosa, sinful nature namun kita berani berkata: tidak pada hukum dosa. Inilah peperangan rohani yang sesungguhnya. Ada beberapa aspek yang secara praktis perlu kita perhatikan dalam menyangkal diri: pertama, ukurlah tingkat motivasi kita, apakah menyenangkan hati Tuhan atau menyenangkan diri? Alkitab menyatakan: “Kuduslah kamu karena Aku kudus“ berarti hidup kudus merupakan sebuah potensi yang dimiliki orang percaya. Tuhan yang kudus menginginkan umat-Nya menjadi orang yang kudus dengan demikian dapat terjadi suatu persekutuan yang indah antara Tuhan dengan umat-Nya. Alkitab menyatakan pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan baik. Firman Tuhan juga menyatakan orang benar tidak pernah akan tahan dalam kumpulan orang fasik begitu juga sebaliknya (Mzm. 1) karena secara natur memang berbeda. Janganlah kamu merasa kuat karena pada saat itulah kamu menjadi yang paling lemah; kedua, ada kuasa cinta Tuhan pada diri setiap orang percaya. Pada saat Potifar menggoda Yusuf maka saat itu, Yusuf menyatakan kalimat penting: “Bagaimana aku dapat berdosa terhadap Allahku?“ Yusuf tahu kalau Allah mencintai dia, karena itu dia tidak akan melakukan tindakan yang mengkhianati cinta Allah. Paulus dengan tegas menyatakan: janganlah engkau mendukakan Roh Kudus Allah (Ef. 4:30); karena Tuhan cinta pada umat-Nya maka Ia ingin supaya umat-Nya itu tidak hidup dalam kondisi berdosa. Pada saat kita berbuat dosa, ingatlah, hari itu kita sedang mengecewakan Dia; ketiga, jagalah hati nurani baik-baik. Memang, hati nurani bukan suara Tuhan namun Tuhan bisa memakai hati nurani, bagian yang sangat sensitif itu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kitab Amsal menyatakan jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan; keempat, hindari semua kemungkinan yang dapat membuat kita terjebak dan terjerat dosa sebab manusia rapuh. Sekarang kalau kita tidak berbuat dosa maka itu disebabkan karena tidak ada kesempatan untuk berbuat dosa. Ingat, kuasa dosa itu bagaikan seorang pejuang yang tangguh yang tidak pernah menyerah sebelum sampai pada tujuannya; kelima, matikanlah dosa ketika dosa itu mulai muncul sebagai sebuah cahaya kecil. Dosa pada awalnya seperti seorang kawan tapi ternyata ia adalah seorang mata-mata. Syukur kepada Allah yang di dalam Kristus karena Dia melepaskan kita dari jerat dosa. Tuhan tidak akan membiarkan anak-Nya yang berseru meminta pertolongan untuk melepaskan dia dari jerat dosa. Dalam Mrk. 9:49-50 Tuhan Yesus mengkaitkan antara pribadi orang percaya dengan relasinya dengan komunitas orang percaya yang lain. Dalam PL, korban-korban persembahan sebelum dipersembahkan, Imam menaruh garam ke atas korban-korban itu (Im. 2:13, Yeh. 43:24) sementara dalam PB, setiap orang akan digarami dengan api (Mrk. 9:49). Api merupakan gambaran dari pergumulan yang membawa orang percaya pada penderitaan dimana penderitaan itu membuat mereka bertahan. Penafsiran lain menyatakan bahwa api juga gambaran adanya suatu pengharapan dalam diri orang percaya bahwa ketika orang masuk dalam api penderitaan maka orang akan dimurnikan, ia semakin menunjukkan identitas dirinya. Tuhan Yesus memperingatkan dengan keras: garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Masih beranikah kita mengaku sebagai murid Kristus kalau kita diam-diam menyimpan dosa tertentu dalam hidup kita dan kita mudah terjatuh dalamnya? Garam juga mempengaruhi komunitas Akibatnya hidup damai antara satu dengan yang lain. jikalau ada perselisihan dalam suatu komunitas berarti disana ada dosa. Apakah ada diantara kita yang saat ini sedang berjuang tetapi tiap-tiap kali pula kita merasa kalah? Apakah kita mulai menerima dan menikmati kehidupan dosa lama kita? Apakah ada diantara kita yang merasa frustasi karena kehidupan kerohanian ternyata jauh dari hukum Allah? Kiranya Tuhan memberikan belas kasihan kepada kita dan membuat kita sebagai seorang pemenang dalam hidup percaya kita. Amin ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)