Ringkasan Khotbah : 14 Mei 2006

Theocentric Christian Life

Nats: 2 Kor 1:12-14

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Pendahuluan

Untuk lebih memahami kebenaran Firman maka ada baiknya kalau kita mengetahui apa yang menjadi latar belakang penulisan surat Korintus. Paulus menuliskan surat Korintus ini untuk memberikan penjelasan tentang terjadinya perubahan rencana Paulus dan juga untuk meluruskan pandangan mereka yang keliru tentang Paulus. Perubahan ini disebabkan karena Paulus mendapat hambatan dari musuh. Paulus menyatakan bahwa relasinya dengan jemaat Korintus itu bukanlah relasi yang biasa tetapi relasi ini didasari oleh hikmat sorgawi; hubungan antara Paulus dengan jemaat Korintus dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah dan karena kekuatan kasih karunia Allah (2Kor. 1:12). Hari ini kita akan merenungkan tentang kehidupan Kristen yang berpusat pada Kristus khususnya yang menyangkut relasi yang theosentris dengan sesama, yaitu:

I. Relasi yang theosentris dengan sesama haruslah melibatkan Allah – Kristus  sebagai mediator.

Paulus menegaskan bahwa relasi atau hubungan yang terjadi itu dikuasai oleh  ketulusan dan kemurnian dari Allah; bukan oleh hikmat duniawi tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah. Dalam relasinya dengan sesama, rasul Paulus selalu melibatkan Allah di dalamnya; Allah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dimana ia harus tunduk dan taat pada-Nya. Paulus adalah seorang theis sejati. Paulus menyadari bahwa setiap langkah haruslah senantiasa berpaut pada Tuhan sebab tanpa pimpinan Tuhan, orang tidak dapat berjalan sendiri. Berapakah jumlah minimum orang Kristen yang diperlukan sehingga suatu persekutuan dapat dikatakan sebagai “persekutuan“ Kristen? Apakah satu atau dua orang sudah cukup dikatakan sebagai persekutuan Kristen? Tidak! Pertanyaannya sekarang adalah kenapa dua orang belum terjadi persekutuan bukankah Alkitab menyatakan bahwa dua atau tiga orang berkumpul maka di sana Tuhan hadir? Dua orang jikalau tanpa kehadiran Allah di dalamnya maka itu bukanlah persekutuan Kristen. Karena itulah, Dietrich Bonhoeffer menegaskan keharusan Kristus sebagai mediator bukan hanya dalam relasi dengan Bapa tapi juga dengan sesama.

Persekutuan Kristen berbeda dengan perkumpulan seperti yang dilakukan oleh orang-orang duniawi, yakni sekumpulan orang yang mempunyai ide atau pemikiran sama. Tidak! Dalam persekutuan Kristen ada Kristus. Kristus sebagai mediator yang memperdamaikan hubungan manusia dengan Allah; Dia telah menyerahkan diri-Nya untuk menjadi tebusan sehingga hubungan manusia yang terputus dengan Allah Bapa dipulihkan. Persekutuan Kristen memancarkan keindahan dan menjadi berkat, yaitu: 1) orang yang dapat mengenal Kristus dan orang diselamatkan, 2) sesama saudara seiman saling menguatkan dalam iman sebab tanpa Kristus, sebagai mediator, orang akan sulit berelasi dan yang menjadi penyebabnya adalah ego manusia maka tidaklah heran kalau muncul kelompok-kelompok yang ekskusif.

Alkitab menegaskan bahwa gambaran persekutuan Kristen itu seperti tubuh, satu dan anggota-anggotanya banyak akan tetapi sekalipun banyak bagian-bagian yang berbeda namun setiap bagian itu tidak dapat berjalan sendiri tetapi setiap bagian tubuh dikendalikan oleh Kristus sebagai kepala (1Kor. 12:12-31). Di dunia modern dalam relasi dengan sesama kemungkinan akan terjadi kesalahpahaman, karena itu, kita perlu menghadirkan Kristus didalamnya; Kristus akan meng-absorb/menyerap semua perbedaan yang ada. Ketika kita disakiti, dihina dan dicaci, ingatlah Kristus telah terlebih dahulu mengalaminya. Hal ini menjadikan kita kuat menjalani hidup di dunia yang humanis ini. Kekuatan manusia tidak akan dapat menciptakan suatu relasi yang indah, relasi antara suami-istri, relasi antara orang tua-anak, relasi antar saudara, relasi antar saudara seiman maupun relasi dengan sesama yang lain menjadi rusak. Karena itu, kehadiran Kristus sebagai mediator itu sangat penting dengan demikian relasi kita dengan sesama dapat terjalin dengan indah dan menjadi berkat bagi dunia.   

2. Relasi yang theosentris dengan sesama harus didahului oleh hidup yang dipersembahkan seluruhnya kepada Allah.

Paulus menyatakan bahwa hidup di dunia khususnya hubungan yang terjadi antara dirinya dengan jemaat di Korintus dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah. Rasul Paulus sangat mengasihi dan memperhatikan kehidupan rohani para jemaat di kota-kota yang ia pernah layani. Pertanyaannya sekarang adalah apakah karena jabatan sebagai rasul sehingga ia  harus mengasihi? Tidak! Sebab sejarah membuktikan di jaman Perjanjian Lama, para imam memanipulasi umat untuk kepentingan mereka dan pada jaman Rasul Paulus, ada orang yang mengabarkan Injil untuk kepentingan pribadi, bahkan hari inipun banyak orang yang memakai nama Tuhan demi untuk mencapai keuntungan pribadi. Jadi, jelaslah sekarang kalau seorang dapat mengasihi itu karena Tuhan yang memampukan begitu pula dengan Rasul Paulus, ia bergumul mengatasi kelemahan dalam dirinya. Paulus menegaskan aku telah disalib bersama Kristus, hidupku yang sekarang bukan lagi aku melainkan Kristus yang hidup di dalamku dan kini, hidupku adalah untuk kemuliaan-Nya (Gal. 2:20). Paulus bukan lagi seorang yang dikuasai oleh ego tetapi Kristuslah yang menguasai hidupnya.

Sungguh indah hidup yang merajakan Kristus. Kehidupan jemaat di Makedonia dapat kita jadikan teladan, yakni meski berada dalam pelbagai penderitaan, orang tetap merasakan sukacita; di satu sisi, orang berada dalam kemiskinan namun di sisi lain, mereka kaya dalam kemurahan bahkan dengan kerelaan sendiri meminta untuk mengambil bagian dalam pelayanan, mereka memberikan lebih banyak dari pada yang Paulus harapkan (2Kor. 8:1-5). Rahasianya adalah mereka pertama-tama memberikan diri mereka kepada Allah. Seorang yang menyerahkan dirinya secara total kepada Allah, orang yang telah menyalibkan egonya maka ia dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Dietrich Bonhoffer mengontraskan antara kasih manusia dengan kasih rohani. Memberi pada orang miskin bahkan memberi pada musuh masih belum dapat dikatakan baik selama motivasinya masih dikuasai egonya yang belum diserahkan pada Allah.

Hanya kasih Ilahi, kasih dari Tuhan yang memungkinkan kita dapat berelasi dengan sesama. Kasih Ilahi itu akan kita dapatkan namun kita harus terlebih dahulu mempersembahkan hidup kita pada Tuhan. Merupakan suatu sukacita ketika seorang yang menerima dan berkenan atas pemberian kita. Begitu pula dengan persembahan kita di hadapan Tuhan; tidak ada hal yang lebih indah ketika Tuhan berkenan atas pemberian kita. Persembahan yang hidup seharusnya menyadarkan kita bahwa: pertama, segala yang ada pada diri kita, seperti harta, kepandaian, dan tenaga berasal dari Tuhan dan milik Tuhan maka hanya Dia berhak memakainya sesuai dengan maksud dan tujuan-Nya dan menurut cara Tuhan; kedua, kita ini adalah milik Tuhan berarti kita tidak berhak berbuat sesuatu menurut kehendak kita sendiri. Kalau kita memiliki suatu benda yang sangat berarti pastilah kita akan merawat dan menjaganya dengan baik namun suatu saat ternyata, ada orang yang merusakkan benda yang kita sayangi, bagaimana  perasaan kita? Tentulah kita akan merasa sedih, bukan? Begitu juga dengan diri kita, sadarlah kita sekarang milik Tuhan, Tuhan telah menebus dengan harga yang sangat mahal maka hendaklah kita menjaga hidup kita dengan baik, hidup kudus dan berkenan di hadapan Tuhan; ketiga,  karena kita adalah milik Tuhan, kita adalah hamba/budak Tuhan, maka kita harus melakukan semua apa yang menjadi kehendak-Nya. Seorang hamba tidak akan bekerja menurut kemauannya sendiri dan seorang hamba yang baik yang sadar akan posisinya tidak akan memperlakukan orang lain dengan semena-mena.

Dedikasi, mempersembahkan hidup seutuhnya untuk Tuhan merupakan rahasia rohani yang memungkinkan kita dapat berelasi dengan sesama. Betapa indah hidup kita kalau hidup berpaut dan taat pada Tuhan, itu akan menjadi kekuatan bagi kita ketika kita menjalani hidup di dunia.

3. Relasi yang theosentris dengan sesama harus didasarkan pada kekuatan kasih karunia Allah.

Dalam suratnya pada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan bahwa hubungan mereka terjadi bukan berasal dari hikmat duniawi, tetapi karena kekuatan kasih karunia Allah. Hanya kekuatan dari Allah sajalah yang memampukan kita menjalani hidup di dunia. Adalah mustahil kita dapat menjalani hidup di dunia dengan kekuatan diri kita sendiri. Rasul Paulus menyatakan manusia bagaikan bejana tanah liat yang rapuh, banyak kelemahan yang ada dalam diri kita. Hanya kuasa Allah memampukan dan memungkinkan kita untuk berelasi dengan sesama manusia dan membentuk suatu persekutuan Kristen yang indah.

Ada tiga tingkatan kehidupan sebagai perbandingan dan evaluasi diri kita, yaitu: Pertama, Hidup tanpa sandaran dan arahan dari Firman Tuhan (hikmat duniawi). Ketika kita mau ke suatu tempat yang jarang kita kunjungi, adakalanya karena refleks kita melewati jalan yang salah, yaitu jalan yang biasa kita lewati. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita menjalani hidup Kekristenan kita? Dalam berelasi dengan orang lain, apakah kita dikuasai oleh kebiasaan, asumsi yang kita warisi dari manusia lama kita? Kalau orang duniawi saja tidak dapat membenarkan hubungan yang buruk apalagi Kekristenan, kita harus menunjukkan pada dunia indahnya relasi yang theosentris dengan demikian kita menjadi berkat bagi dunia; Kedua, Orang tahu idealnya persekutuan Kristen yang indah dan orang ingin mencapai hal itu. Namun orang tidak mampu menjalankannya, karena tidak memiliki kualitas hidup Kristen yang bersifat rohani. Orang lupa kalau Tuhan yang memampukan sehingga kita dapat berelasi dengan sesama. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan masih berkenan menyadarkan kita akan setiap kesalahan yang kita lakukan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Firman Tuhan sudah mengoreksi hidup kita dan memperbaharui hidup kita? Hendaklah kita menghargai suatu momen dimana Tuhan mengingatkan maka pada saat itulah kita harus berubah. Inilah yang dinamakan dengan progressive sanctification; Ketiga, Sadarlah, kalau hari ini kita mempunyai persekutuan yang indah di dalam Kristus dengan sesama maka itu semata-mata berasal dari kasih karunia Allah yang memberikan kekuatan sehingga kita dapat berelasi dengan ketulusan dan kemurnian. Tanpa Kristus, semua etika dan moral yang kelihatan indah yang diajarkan oleh dunia itu semuanya sia-sia belaka. Biarlah kita dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya. Biarlah ketika kita berelasi dengan orang lain, orang melihat ada Kristus yang ada dalam diri kita dan biarlah kita senantiasa memancarkan keindahan Tuhan dimanapun kita berada.

4. Relasi yang theosentris menghasilkan hidup dengan hati nurani yang bersih dan kita dapat bermegah dalam Tuhan serta memuliakan Tuhan.

Paulus menegaskan bahwa pada hari Tuhan Yesus kamu akan bermegah atas kami seperti kami juga akan bermegah atas kamu (2Kor. 1:14). Yang menjadi pertanyaan adalah pernahkah kita bermegah? Apa yang kita megahkan? Harta, kepandaian ataukah kesuksesan kita? Bukan! Paulus bermegah karena ia telah hidup dengan hati nurani yang bersih, hidup dalam kekudusan, ketulusan dan kemurnian ketika kita berelasi dengan sesama dan melayani bersama. Dalam suratnya pada Timotius, Paulus menyatakan bahwa aku telah mencapai garis akhir, aku telah memenangkan pertandingan iman dan sekarang telah tersedia mahkota kebenaran bagiku. Dalam perpisahan dengan jemaat di Efesus (Kis. 20), Paulus menyatakan bahwa aku bersih, aku telah mengajarkan semua yang patut kepadamu. Demikian juga, Tuhan Yesus mengakhiri hidup-Nya dengan indah, di sepanjang hidup-Nya, Ia senantiasa mempermuliakan Bapa; Kristus taat sampai akhir (Yoh. 17:4). Biarlah hidup Kristus menjadi teladan indah dalam hidup kita. Begitu juga ketika kita berelasi dengan sesama, hendaklah Kristus saja yang dipermuliakan didalamnya. Janganlah kita menjadi batu sandungan.

Ketika berelasi terkadang kita tidak lepas dari kesalahpahaman, gesekan itu pasti terjadi namun sebagai seorang anak Tuhan, yang sejati, janganlah kita menjadi acuh tak acuh dan menganggap sepele setiap permasalahan yang muncul. Tidak! Sebagai satu tubuh dalam Kristus, hendaklah dengan kekuatan dari Tuhan dan bijaksana sorgawi, kita menyelesaikan suatu permasalahan dengan demikian kita mendapatkan suatu kelegaan dan damai sejahtera.  Bagaimanakah hubungan relasi kita dengan sesama dan keluarga?

Hari ini, melalui Firman-Nya Tuhan mengingatkan kita untuk memiliki relasi yang theosentris dengan sesama dengan menjadikan Kristus sebagai mediator persekutuan kita, dipersembahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah dan hidup bersandar pada kasih karunia Allah supaya kita dapat hidup dengan hati nurani yang bersih dan dapat bermegah dalam Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)