|
Ringkasan Khotbah : 23 April 2006
Nats: Mrk. 15:47 - 16:8 Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan |
Di suatu pedalaman diputar film tentang Yesus, adegan demi adegan ditayangkan & sampailah pada adegan Tuhan Yesus disiksa & disalibkan. Tiba-tiba seorang anak berseru memecahkan keheningan, membuyarkan konsentrasi: “Aduh, jahat sekali orang-orang itu.“ Lalu, seorang anak yg lain berkata,“Sudahlah, nanti Dia hidup lagi. Aku sudah nonton film itu.“ Ini merupakan suatu berita kebangkitan. Hari ini, setiap orang Kristen pastilah menyambut berita kebangkitan Kristus ini dengan sukacita karena maut telah dikalahkan. Dengan demikian iman kita tidak sia-sia. Kita memiliki pengharapan. Pertanyaannya, bagaimana reaksi para murid ketika mendengar peristiwa kebangkitan Kristus ini pertama kali? Kita menjumpai ternyata reaksi para murid ketika itu berbeda dengan reaksi orang Kristen hari ini. Berita kebangkitan Kristus ini justru membuat para murid takut & gentar. Hal ini yg akan menjadi perenungan kita. Banyak orang tahu bahwa di dalam Kristus, iman kita tidak sia-sia namun bagaimana merelasikan kemenangan Kristus itu dengan iman di dalam kehidupan sehari-hari secara konkrit.
Pagi-pagi benar hari pertama minggu itu, para perempuan datang ke kubur Yesus untuk merempahi & meminyaki Yesus. Mereka menjumpai kubur itu telah kosong. Di sana ada malaikat yg memberitakan kebangkitan Kristus & bahwa Yesus menunggu mereka di Galilea. Inilah pengalaman bertemu dengan fakta kebangkitan yg ditanggapi dengan ketakutan. Berita yg seharusnya disambut dengan sukacita ini didahului dengan perasaan ketakutan. Mengapa mereka takut? Bukankah Injil Markus dimulai dengan catatan: Inilah permulaan Injil (berita sukacita) tentang Yesus Kristus, Anak Allah tetapi kenapa di bagian akhir dari catatannya, Markus menuliskan bahwa mereka pergi dengan takut. Apakah dasar ketakutan ini? Kehidupan rohani membawa suatu realita, di satu sisi berjumpa dengan Tuhan sangatlah menyenangkan namun di sisi lain, berjumpa dengan Tuhan menimbulkan ketakutan. Kalau Tuhan tidak ada mungkin saja Tuhan membiarkan kita berjalan dalam dosa & menuju pada kematian. Namun jika Tuhan ada maka itupun harus menimbulkan ketakutan dalam diri kita sebab kita harus memberikan pertanggung jawaban akan hidup kita di hadapan-Nya.
Siapakah para perempuan ini? Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Salome & Maria ibu Yoses. (1). Mereka adalah orang yg sangat setia. Mereka selalu mengikuti Kristus kemanapun Dia pergi dalam pelayanan-Nya. Mereka mengalami pengalaman melihat pekerjaan Kristus yg menyatakan Kerajaan Sorga. Mereka melihat Tuhan Yesus mengusir setan & melakukan mujizat. Selama mengikut Yesus terjadi banyak perubahan hidup dalam hidup mereka. Mereka hadir ketika Tuhan Yesus disalibkan & menyaksikan semua peristiwa yg terjadi. Mereka melihat Tuhan Yesus menghembuskan nafas-Nya yg terakhir & menyerahkan nyawa-Nya. Beberapa orang di antaranya melihat dimana Yesus dibaringkan. Bersama Yusuf Arimatea, mereka menurunkan jasad Kristus. Mereka menunggu dengan setia hari Sabat berlalu dan merencanakan meminyaki tubuh Tuhan Yesus. (2). Mereka juga ingin mengungkapkan perasaan cinta mereka pada Kristus walau terkadang terkesan naif. Apakah mereka tidak tahu kalau ada batu besar yg menutup pintu kubur? Kalau kubur itu dimeteraikan & ada penjaga yg menjaga kubur itu? Para perempuan ini sangat mengasihi Kristus. Mereka tidak ingin kalau tubuh Tuhannya tidak cepat menjadi busuk dan karena itu berencana merempahinya. Namun mereka mendapati bahwa Tuhan Yesus tidak ada di dalam kubur. Mereka menjadi sangat takut & kecewa. Sepertinya seluruh loyalitas dan kasih yg mereka tunjukkan menjadi sia-sia. Apakah Tuhan tidak tahu bagaimana membalas cinta kasih yg ditunjukkan oleh para perempuan ini? Hari ini, orang mengaku mengasihi & mau setia pada Kristus & sebagai bukti kasih & kesetiaannya mereka melayani Kristus. Mereka terlibat dalam berbagai bidang pelayanan dan berharap akan menemukan Tuhan di sana. Namun ungkapan loyalitas dan cinta tersebut ternyata dapat bertemu dengan fakta, yakni Tuhan tidak ada di sana. Pastilah mereka akan sangat kecewa. Situasi seperti ini dirasakan oleh orang Kristen sebagai hidup rohani yg berhenti pada suatu titik. Tidak ada kesegaran di dalam kehidupan rohaninya. Berbagai pertanyaan muncul & berkecamuk dalam pikiran. Tidak heran jika Philip Yancey menulis buku berjudul, Where is God when it hurts? Tuhan ada di mana? Dia tidak ada di sini, di dalam pergumulan imanku.
Salah satu artikel di dalam buku Chicken Soup for the Soul menceritakan pengalaman rohani seorang mantan tentara bersama Tuhan. Orang berkata ia dapat menemukan Tuhan di bangku-bangku gereja; di dalam pujian; di dalam doa syafaat; dalam setiap kegiatan rohani, dsb. Tetapi ternyata saya salah. Saya bertemu Tuhan bukan di dalam gedung gereja. Saya bertemu Tuhan justru di dalam medan peperangan, di antara desingan peluru, reruntuhan gedung yg terkena bom, di antara isak tangis orang yg kehilangan sanak keluarganya; Saya menemukan Tuhan justru di tengah serpihan tubuh sersan Moore, yg berada dalam tanganku. Catatan ini memberikan pengertian bahwa Tuhan hadir di tempat-tempat yg tidak terduga. Orang berpikir Tuhan ada di sana tetapi fakta justru berbicara lain, Tuhan tidak ada di sana. Ketika kita berpikir Tuhan tidak ada di sana, justru di situ Tuhan ada. Tuhan ada dalam setiap tempat yg tidak terduga. Mungkin sekarang Tuhan ada di tengah-tengah para pemulung, di antara anak-anak jalanan, di penjara. Tuhan hadir di tempat dimana curahan kasih sayangNya dibutuhkan. Orang merasa Tuhan pasti ada dalam setiap kegiatan rohani yg dikerjakan namun fakta berbicara lain, ternyata Tuhan tidak ada di situ & kita pun menjadi kecewa. Berita “Tuhan tidak ada di sini“ membuat takut. Ada dua sisi pengalaman kehidupan rohani; sisi sukacita karena bertemu Tuhan & sisi ketakutan karena tidak bertemu denganNya. Orang harus bersiap hati menjumpai fakta Tuhan tidak ada di sana. Elia, seorang nabi yg besar & hebat. Ia sarat pengalaman kehadiran Tuhan. Di dalam persembunyi-annya di dalam goa, Tuhan hadir dengan cara tidak terduga padanya. Ia tidak hadir di dalam angit ribut, melainkan di dalam angin sepoi-sepoi.
Apakah yg dapat kita pelajari di dalam bagian ini? (1) Realita Sejati Perjumpaan dengan Allah. Setelah kematian Kristus, para murid kembali pada pekerjaan mereka, penjala ikan. Setelah seharian menjala, hasilnya nihil. Tuhan kemudian menampakkan diri pada mereka &menyuruh menebarkan jala kembali & hasil yg didapat sangat banyak. Para murid baru menyadari kalau Dia adalah Tuhan. Sesampainya mereka di darat, Tuhan telah menyediakan makanan untuk mereka & di dalam momen itu, para murid menjadi sangat takut (Yoh. 21:12). Kebangkitan Kristus membawa para murid bertemu dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah yg sejati & mereka menjadi takut. Kenapa mereka takut? Apakah sebelumnya mereka tidak tahu siapa Dia? Peristiwa kebangkitan menjadi pembatas yg membedakan pengertian para murid sebelum & sesudah Yesus bangkit. Hari itu para murid berada di antara percaya & tidak percaya melihat Dia sebagai Tuhan & manusia. Kondisi ini pernah mereka alami sebelumnya, yaitu ketika perahu yg mereka tumpangi bersama dengan Tuhan Yesus diombang-ambingkan oleh angin ribut. Para murid berpikir kalau Tuhan Yesus tidak peduli akan keselamatan mereka, termasuk Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus pun bangkit & meneduhkan angin ribut. Bagaimana respon para murid setelah itu?“ Siapakah orang ini sehingga laut & angin pun taat kepada-Nya?“ Sampai ditingkat manakah pengertian para murid sehingga menyebut Yesus dengan sebutan “orang ini.“ Inilah kondisi para murid sebelum kebangkitan. Para murid juga memperhatikan & melihat setiap reaksi negatif yg ditunjukkan oleh orang Farisi, para ahli taurat & orang Yahudi yg lain ketika Yesus menyatakan bahwa Dia & Allah. Mereka sulit menerima pernyataan itu & mengatakan bahwa mereka mengenal orang tua & semua saudara Yesus.
Berita kebangkitan Yesus mengubah semua pengertian mereka selama ini, bahwa semua yg dipahami tentang Kristus selama ini adalah kurang. Mereka tahu sekarang, Kristus adalah Tuhan maka hal ini membuat mereka takut. Para murid tertunduk, tidak berani memandang pada Yesus sebab mereka tahu Dia adalah Tuhan. Mereka pasti tidak dapat mengelak andaikata Tuhan Yesus bertanya, “Kemanakah engkau ketika Aku disalibkan?“ Divine Glory of God menekuk semua lutut sehingga orang harus tunduk pada-Nya. Jikalau kita tidak mempunyai pengalaman iman, gentar & takut di hadapanNya, maka jangan kaget kalau suatu saat nanti kita akan merasa kecewa karena kita pikir kita telah berjalan dengan Tuhan namun ternyata tidak mendapati Tuhan ada di sana. Alkitab mencatat, baik di dalam PL maupun PB bahwa setiap kehadiran Tuhan akan menimbulkan rasa takut. Orang Israel terdiam & takut ketika Tuhan hadir di tengah-tengah mereka; mereka takut karena Allah adalah Allah yg hidup, Allah yg tidak berkompromi dengan dosa, Allah yg menghukum setiap orang berbuat dosa. Kalau kita kehilangan rasa takut & gentar pada Tuhan maka hendaklah kita mengevaluasi diri jangan-jangan kita sedang membius diri & beranggapan kalau Tuhan ada di sana tetapi ternyata tidak, Dia tidak ada di sana.
Dalam peristiwa ini, ada Petrus, murid yg menyg kali Yesus sampai tiga kali. Mereka semua tertunduk & terdiam berharap nama mereka tidak dipanggil oleh Tuhan. Namun tiba-tiba dalam kesunyian itu, Tuhan bertanya pada Petrus, “Simon, anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku?“ Pertanyaan ini menghujam hati Petrus. Sepertinya Tuhan hendak mengatakan bahwa, Petrus tidak lebih hanyalah Simon, pasir bukan Petrus, batu karang. Pikiran Petrus menerawang kembali pada rentetan-rentetan peristiwa dimana ia menyg kali Tuhan. Ketika matanya bertemu dengan mata Tuhan pada penyg kalannya yg ketiga seakan menuntut pembuktian dari apa yg pernah dikatakannya – bersedia mati untuk Tuhan. Petrus baru menyadari kesalahannya setelah ayam berkokok. Ia teringat Tuhan Yesus pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Pada pertanyaan ketiga Tuhan Yesus padanya. Petrus menjawab bahwa ia hanya dapat mengasihi secara terbatas. Tuhan pun memberikan jawab: Gembalakanlah domba-domba-Ku. Ini adalah jawaban yg tidak terpikirkan Petrus, unexpected answer. Menanggapi jawaban ini, hanya satu hal yg dapat dilakukan Petrus, “bakti.“ Dosanya sangat besar ternyata mendapatkan pengampunan. Tuhan masih mempercayakan dia suatu pekerjaan besar. Petrus takut bertemu Tuhan karena dia bertemu dengan Tuhan yg hidup.
Contoh lain, Thomas. Ia tidak mudah terpengaruh cerita bahwa Yesus sudah bangkit sebelum membuktikannya sendiri. Alkitab mengatakan bahwa ketika mereka berkumpul dalam sebuah ruangan, tiba-tiba Tuhan Yesus hadir di sana. Ia tahu pergumulan Tomas, Ia menghampiri, menunjukkan & mengijinkan Tomas menaruh tangannya ke bekas luka. Tomas langsung sujud menyembah & dari mulutnya keluar pengakuan iman: “Ya, Tuhanku & Allahku.“ Momen Kebangkitan membawa seseorang berjumpa dengan Tuhan yg hidup, Tuhan yg mengetahui semua pergumulan setiap orang. Divine Glory of God membuat mereka takut & sujud menyembah pada-Nya. Kebangkitan Kristus merestorasi iman, diajar menerima aspek Ketuhanan Kristus dalam hidup secara konkrit. Perjumpaan dengan pengalaman iman yg sejati.Ketakutan jika Dia menjumpai kita sedang tidak berjalan dalam kehendak-Nya.
(2) Kebangkitan membawa orang percaya belajar melihat bagaimana cara Tuhan berbicara. Ia memakai malaikat mengingatkan para murid akan berita kebangkitan. Berita yg sesungguhnya telah didengar para murid berulang kali (Bd: Mrk. 8:31; 9:31; 10:34). Yang menarik adalah para perempuan ini datang pada hari yg ketiga namun bukan untuk kebangkitan melainkan untuk merempahi tubuh Yesus. Kenapa tidak pada hari keempat atau kelima? Mereka tidak tahu ada kebangkitan. Itulah sebabnya mereka sangat takut Berita malaikat menjadi momen Tuhan berbicara mengingatkan mereka. Saat Tuhan berbicara, semua harus diam. Pengalaman rohani kita justru menunjukkan sebaliknya. Kita tahu bagaimana berbicara pada Tuhan, melalui doa kita, tapi bagaimana mengerti Tuhan berbicara pada kita? Kita sukar mengerti & merumuskannya. Kita miskin pengalaman mendengarkan Tuhan berbicara; orang seringkali menyepelekannya. Kita ingin kalau Tuhan berbicara, maka berita yg disampaikan harus yg besar dengan cara yg spektakuler. Tuhan bisa berbicara melalui banyak hal, melalui Alkitab, doa bahkan Tuhan bisa memakai orang lain dalam berbagai cara di luar dugaan kita. Namun kita menganggap momen itu sebagai yg biasa, maka tidaklah heran kalau kita miskin pengalaman rohani memahami Tuhan berbicara. Beberapa cara kemudian dipakai untuk mengerti Tuhan berbicara, yaitu dengan tanda. Perhatikan, kalau Tuhan memberikan tanda berarti imannya lemah sehingga perlu topangan dari Tuhan. Gideon meminta tanda dari Tuhan & Tuhan memberikannya. Cara lain melalui rumusan tertentu. Kepada Musa melalui semak duri yg tidak terbakar & kita mencari “semak“ kita. Setiap tanda pada masing-masing orang berbeda. Ingat, Tuhan berbicara tidak harus sesuai dengan rumusan pikiran kita. Metode menyebut-menuntut; mengingatkan & menuntut janji Tuhan. Tuhan tidak pernah lupa akan janji-janji-Nya. Semua yg berpusat pada diri, bersiaplah untuk menjadi kecewa. Metode pintu terbuka–tertutup. Doa supaya Tuhan membukakan semua jalan kalau Ia berkenan & menutup pintu jika sebaliknya. Bagaimana sebaliknya, Tuhan menutup semua pintu karena Ia berkenan & Tuhan membuka semua pintu karena tidak berkenan. Tuhan menutup pintu bagi Paulus ke Asia Kecil & membuka pintu ke Makedonia. Metode ini tidak salah namun perlu diingat bahwa Tuhan hadir di dalam cara yg tidak terduga.
Alkitab memberikan sebuah pola, Bagaimana mengenali Tuhan berbicara pada kita secara pribadi yaitu:
1. Tuhan memberikan petunjuk secara umum. Ia tidak memberitahukan semuanya pada awalnya. Ia kemudian memberitahu lewat proses apa yg perlu kita ketahui. Di sini ada tuntutan penyesuaian diri kepada kehendakNya. Tuhan tidak memberitahukan secara utuh pada Abraham ketika ia dipanggil, kemana ia harus pergi. Tuhan membukakan satu demi satu di dalam proses itu Ia harus menyesuaikan diri. Tuhan membuat dinamika pengenalan akan Dia dengan limpah pada di dalam proses itu. Kalau mau jujur, kita kerap tidak mau mendengar & tidak mau taat ketika Tuhan berbicara. Amos menegaskan bahwa ketidak taatan akan membawa pada kelaparan akan kebenaran Firman. Tidaklah heran kalau kerohanian kita menjadi kering. Ketika Tuhan berbicara, kita tidak taat. kita justru mengajak Dia berdiskusi (Bd: Musa) & mempertanyakan kebenaran arah pimpinannya. Atau bahkan menerimanya sebagai masukan yg akan dipertimbangkan.
2. Bagaimana mengetahui kalau Tuhan berbicara ada tuntutan penyesuaian diri pada kehendak Tuhan. Agenda utama para perempuan di kubur Yesus pagi hari itu adalah merempah-rempahi mayat Kristus. Perjumpaan dengan malaikat mengharuskan mereka merubah semua rencana utama itu. Mereka harus ke Galilea & bertemu Tuhan di sana. Kebangkitan mau menunjukkan bahwa Tuhan belum pernah selesai & kita harus terus menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya. Kebangkitan menunjukkan Tuhan mengasihi manusia; Ia tahu setiap pergumulan rohani manusia, bagaimana kondisi rohani kita yg kita pikir bagus ternyata bobrok. Ia datang merestorasi, memulihkan manusia & mengarahkan mereka mengalami pertemuan dengan Tuhan yg sejati, mendengar suara Tuhan. Hari ini, ketika berita kebangkitan disampaikan maka adakah perubahan hidup yg Tuhan kerjakan dalam hidup kita; kalau tidak ada, maka jangan pernah berharap dapat memahami Kristus Tuhan yg sejati. Kalau Tuhan tidak ada disini berarti Dia hidup, kalau Dia hidup akankah kita berjumpa dengan Dia sebagai Tuhan yg penuh kasih atau kita berjumpa dengan Dia sebagai Tuhan yg menghanguskan? Inilah ketakutan kita. Biarlah kita memohon padaNya memberikan belas pengasihan-Nya pada kita. memohon pengampunanNya karena selama ini kita telah salah. Kalau Tuhan pernah memulihkan Petrus, Tomas & para murid yg lain maka biarlah kita juga mau memohon agar Ia menyatakan pengampunan-Nya pada kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)