Ringkasan Khotbah : 16 April 2006

Kuasa Kebangkitan

Nats: Mat. 28:5-7

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Pendahuluan

Kristus bangkit membuktikan bahwa kuasa maut telah dipatahkan. Tanpa paskah, Kekristenan tidak mempunyai pengharapan dan kekuatan; tanpa paskah, tidak ada kebaktian pada hari pertama minggu maka orang Kristen yang meniadakan paskah  berarti ia telah berkhianat terhadap iman Kristen. Paskah membedakan iman Kristen dengan semua agama lain. Semua tokoh agama di dunia mengalami proses yang sama, yaitu lahir dan mati, hanya Kristus satu-satunya yang bangkit. Hati-hati dengan berbagai ajaran bidat yang menyatakan bahwa paskah tidak lebih hanyalah hasil dari obsesi para murid yang hari itu sangat sedih karena ditinggal oleh Gurunya. Salah! Kebangkitan Kristus merupakan esensi iman Kristen. Tanpa kebangkitan, Kekristenan tidak lebih hanyalah sebuah catatan sejarah dan Yesus tidak lebih hanyalah seorang tokoh moral yang baik. Sebagai seorang Kristen sejati, kita harus memproklamasikan pada dunia bahwa Yesus telah bangkit dan menang atas kuasa. Pertanyaannya sekarang sampai seberapa jauhkah orang Kristen berpusat kembali pada Kristus yang bangkit?

Malaikat mewartakan berita kebangkitan Kritus pada para murid yang datang ke kubur Yesus hari itu dan perhatikan, ada suatu perintah yang sepintas sangat unik, yaitu malaikat memerintahkan pada para murid untuk pergi ke Galilea dan di Galilea inilah  mereka akan melihat Dia. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa Tuhan Yesus memanggil mereka untuk kembali ke Galilea? Mengapa proklamasi kebangkitan harus dimulai dari Galilea? Galilea adalah tempat dimana Tuhan Yesus memanggil para murid pertama kali dan Galilea juga tempat pertama kali Tuhan Yesus memulai pelayanan di tengah dunia. Ada tiga aspek yang membawa kita recall, mengingat kembali akan seluruh misi dari Kebangkitan Kristus, yaitu:

1.From Creation to Recreation

Tuhan ingin di Galilea manusia merefleksi kembali akan konsep penciptaan, creation. Pertama kali, Tuhan mencipta seluruh alam semesta ini maka Tuhan ingin alam semesta ini menjadi tempat dimana Kerajaan Allah dinyatakan dan Kristus menjadi Rajanya. Adam dan Hawa diberikan suatu kapasitas untuk menguasai bumi dan seluruh makhluk hidup yang hidup di dalamnya. Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini begitu indah dan harmonis. Tuhan ingin supaya manusia menikmati hubungan yang indah dengan Tuhan, suatu kehidupan dimana sifat-sifat Ilahi dinyatakan di tengah hidup manusia. Tuhan mau menyatakan kemuliaan-Nya, kerajaan-Nya dijalankan di tengah dunia. Penataan alam semesta disebut dengan ekonomi. Ekonomi berasal dari kata oikos artinya rumah dan nomos artinya peraturan, jadi ekonomi berarti peraturan rumah tangga. Ekonomi adalah suatu tatanan atau pengelolaan dimana manusia harus kembali pada Allah sebagai sumber pengelola maka Kerajaan itu akan menjadi sangat indah.

Sungguh amatlah disayangkan, tatanan alam semesta yang indah dan harmoni ini tidak berjalan baik karena manusia memberontak dan melawan Allah. Manusia pikir kalau hidup melawan Allah akan menjadikan hidup lebih baik. Salah! Ambisi telah menghancurkan hidup manusia. Akibat pemberontakan itu manusia mati atau putus hubungan dengan Allah. Sesungguhnya, Hawa tahu akibat yang diterima kalau ia melawan Allah bahkan apa yang menjadi perintah Allah ini ia beritahukan kepada iblis. Dalam hal ini iblis telah berhasil menanamkan konsep yang salah pada manusia bahwa taat Tuhan – hidup menjadi susah. Hati-hati jangan tergoda oleh bujuk rayu iblis dan akhirnya kita masuk dalam jebakannya. Manusia justru akan merasa sukacita dan bahagia ketika manusia hidup berpaut pada Tuhan.

Dunia semakin menuju pada kehancuran, manusia mengganti tatanan Kerajaan Sorga dengan tatanan kerajaan dunia, kuasa Allah diganti dengan kuasa iblis. Adam yang pertama telah gagal maka Allah mengutus Anak-Nya; Kristus adalah Adam kedua. Barangsiapa ada di dalam Adam maka ia berada dalam keturunan dosa dan barangsiapa ada di dalam Kristus, Adam kedua maka ia berada dalam tatanan kehidupan kekal. Di Galilea inilah misi Kerajaan Sorga itu pertama kali diberitakan oleh Tuhan Yesus. Tuhan ingin para murid untuk merefleksi diri. Orang Kristen bukanlah orang dunia yang direparasi dan diberi label “kristen.“ Bukan! Alkitab menegaskan barangsiapa ada di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17). Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita mengalami kuasa kebangkitan Kritus? Sudahkah kuasa kebangkitan itu memberikan kekuatan pada kita untuk hidup berpaut dengan Tuhan? Setiap anak Tuhan diberikan kuasa untuk hidup menjadi anak-anak Allah yang menyatakan sifat Ilahi di tengah dunia berdosa. Paskah bukanlah sekedar doktrin yang ada di konsep kita; paskah juga bukan sekedar paparan-paparan rasional tetapi paskah/kebangkitan Kristus haruslah berimbas dalam kehidupan kita sebagai anak Tuhan yang sejati. Dunia modern mereduksi iman Kristen ke tingkat yang paling rendah, nama “Yesus“ tak ubahnya sebuah mantra; sakit menjadi sembuh, miskin jadi kaya. Inikah yang namanya kuasa Allah? Bukan!

Hari ini orang ramai-ramai mengadakan festival “kuasa Allah“ tapi bukannya kuasa Allah yang dinyatakan sebaliknya kuasa iblislah yang dinyatakan. Perhatikan, kuasa Allah yang sejati membuat orang berdosa embali pada Tuhan; kuasa Allah sejati menjadikan manusia hidup dalam kebenaran. Kehidupan Kekristenan telah hancur karena di dalamnya telah masuk konsep duniawi akibatnya berita kebangkitan tidak lagi mempunyai signifikansi lagi. Tuhan Yesus mengajak para murid kembali pada titik awal, Galilea, para murid pertama kali meninggalkan seluruh pekerjaannya sebagai penjala ikan dan menjadi murid Kristus. Di Galilea inilah Tuhan mencipta ulang seluruh konsep pemikiran para murid yang salah, yaitu menjadi murid Kristus bukan kedudukan atau emas yang didapatkan. Tidak!  Biarlah kita mengevaluasi diri kita, benarkah kita hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus? Sudahkah kuasa kebangkitan itu mengubahkan seluruh konsep pemikiran kita yang salah?

Suatu negara yang tidak mempunyai prinsip yang menjadi dasar dan acuan akan hancur begitu juga dengan keluarga dan iman Kristen. Iman Kristen harus kembali pada esensi, yaitu kebangkitan Kristus. Sebagai seorang warga yang hidup bernegara, kita harus menurut pada peraturan yang ada dalam suatu negara maka orang yang mengaku warga Kerajaan Sorga, kita harus kembali pada prinsip tatanan Kerajaan Sorga.

2. From the Darkness to the Light

Tuhan Yesus disalib pada Jumat Agung, hari itu pukul 12 siang tapi bukit Golgota dan seluruh wilayah Yerusalem tiba-tiba menjadi gelap gulita. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa hari itu dan jam itu memang terjadi gerhana matahari total. Orang dapat berpendapat apapun namun toh kalau hari itu bisa terjadi gerhana matahari dan terjadi tepat jam 12 siang dan saat itu Tuhan Yesus berkata, “Eli, Eli lama sabakhtani?“ maka semua itu tidak lepas dari rencana Allah. Kegelapan adalah gambaran kuasa kematian yang menghancurkan seluruh umat manusia. Sebelum dunia ini dicipta maka ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) chaos, dunia kacau balau, 2) blank, dunia tidak ada isi, 3) gelap gulita. Kalimat pertama yang muncul ketika pertama kali Allah mencipta adalah: “Jadilah terang.“ Allah adalah sumber terang, Kristus adalah terang dunia. Ketika terang itu muncul maka kegelapan itu menjadi hilang. Adalah konsep yang salah kalau terang dan gelap merupakan dua realita yang sejajar. Terang merupakan suatu keberadaan, entity sedang gelap bukanlah entity. Gelap berarti tidak adanya terang maka terang dan gelap bukanlah sejajar. Kegelapan tidak dapat menghancurkan terang kecuali sang terang itu ditiadakan barulah kegelapan itu lenyap.

Orang yang masih hidup dalam kegelapan karena sumber terang itu tidak ada dalam dirinya. Berbeda dengan dunia yang memulai hari dari gelap menuju pada gelap. Kristus bangkit pada pagi-pagi benar hari pertama minggu itu. Itulah sebabnya hari ini, orang Kristen kebaktian pada hari Minggu kalau sebelum kebangkitan, orang berbakti pada hari Sabat seperti jaman Perjanjian Lama maka setelah kebangkitan Kristus, orang tidak lagi kebaktian di hari Minggu. Hari Pentakosta terjadi pada hari Minggu; khotbah Petrus pertama dimana 3000 orang bertobat terjadi di hari Minggu, gereja pertama kali berdiri pada hari Minggu. Hal tersebut di atas Karena itulah, sampai hari ini orang Kristen berbakti pada hari Minggu.

Betapa mengerikan kalau orang Kristen hidup dalam gelap. Tidak ada satupun yang dapat memberikan terang ke dalam dunia sebab seluruh tatanan dunia mencengkeram orang untuk masuk dalam kegelapan yang paling gelap. Ketika dunia berpikir kalau konsep pemikiran yang mereka kemukakan itu yang paling baik dan paling hebat, dunia tidak menyadari bahwa semua konsep yang mereka kemukakan justru menuju pada kehancuran. Secara global, dunia kita sesungguhnya telah hancur namun sayang, banyak orang yang tidak sadar termasuk orang Kristen itu sendiri. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita ikut dengan arus dunia; kita harus tahu posisi kita yang seharusnya. Orang yang berjalan dalam gelap, tidak tahu di depannya ada rintangan apa yang menghalangi akibatnya orang akan terjatuh berbeda halnya kalau orang berada dalam terang, ia tidak akan mudah dipermainkan oleh dunia. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menjadi serupa dengan dunia, kita harus memancarkan terang ke tengah dunia gelap. Kebangkitan Kristus membawa kita menuju kepada terang.

3. From the Death to the Live.

Galilea mau mengingatkan para murid akan berita yang Tuhan Yesus teriakkan dimana berita ini sama seperti yang diteriakkan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu: “Bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat“ (Mat. 4:17). Kekristenan bukan sekedar hidup mau menikmati dunia. Kekristenan bukan hidup di dalam kegelapan yang mematikan. Kuasa kebangkitan menghancurkan kuasa kematian. Kekristenan menuntut adanya suatu pertobatan. Bertobat berarti berbalik dari jalan dosa menuju jalan kebenaran, bertobat berarti hidup taat kepada Tuhan dan menolak semua hal yang berhubungan dengan iblis; bertobat berarti memulai citra hidup yang baru di dalam Kristus. Sayangnya, hari ini banyak orang yang tidak mau bertobat dan hidup di dalam Kristus. Di satu sisi, orang mau hidup kekal namun di sisi lain, orang masih ingin hidup dalam dosa. Alkitab menegaskan orang harus memilih satu, tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan; kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24).

Orang sangat takut menghadapi kematian, karena ia tidak bertobat, tidak ada Kristus dalam hidupnya. Orang menyadari kematian itu akan membawa ia pada pertanggung jawaban dosa berarti keadilan itu tidak dapat dihindarkan. Ironisnya, orang tidak mau kembali pada Tuhan dan bertobat maka sebagai pelarian untuk melupakan adanya realita kematian, orang mencetuskan teori reinkarnasi. Dalam konsep reinkarnasi tidak ada kematian – orang yang mati akan dilahirkan kembali; mati – lahir, begitu setrusnya namun toh meski demikian orang yang percaya reinkarnasi masih mempunyai rasa takut ketika kematian itu datang. Seharusnya orang yang percaya reinkarnasi tidak takut mati sebab selama ia hidup di dunia, ia akan menjaga hidupnya dengan baik, ia akan melakukan banyak perbuatan baik dan ia ingin cepat-cepat untuk mati supaya ia dapat dilahirkan kembali menjadi yang lebih baik tapi kenyataannya tidaklah demikian. Orang yang percaya reinkarnasi justru yang paling takut menghadapi kematian karena ia menyadari kalau dirinya adalah manusia berdosa; dibanding dengan perbuatan baik, orang justru lebih banyak berbuat dosa, dalam tingkah laku maupun pikiran mereka.

Reinkarnasi hanyalah pelarian dari manusia berdosa yang takut kematian. Kematian membuktikan satu hal, yaitu manusia berdosa. Kristus datang berinkarnasi menjadi manusia untuk menanggung dosa umat manusia, Dia menghancurkan kuasa kematian supaya kita dapat dibangkitkan. Kebangkitan Kristus memberikan pengharapan bahwa barangsiapa ada dalam Kristus maka ia mempunyai kuasa kebangkitan dan hal ini bukan sekedar teori tetapi  dibuktikan oleh Kristus. Di sepanjang sejarah tidak ada seorang pun yang bangkit dari kematian dan hidup selamanya. Hanya Kristus yang dapat menghancurkan kuasa kematian dan kuasa kematian tidak berkuasa atas-Nya. Iman Kristen bukan imajinasi atau mimpi. Tidak! Sejarah membuktikan bahwa kebangkitan Kristus adalah nyata dan sah.

Tuhan telah menata Kerajaan Sorga dengan indah tetapi sayang, banyak orang tidak mau hidup di dalamnya; orang justru memilih hidup dalam kuasa kegelapan. Biarlah kebangkitan Kristus membangkitkan kesadaran kita untuk hidup dalam terang; kita mendapatkan kemenangan sejati karena telah mengalahkan kuasa dosa dan hidup suci di tengah dunia berdosa. Kemenangan karena kita hidup dalam Kerajaan Sorga dan menyatakan kemuliaan Allah. Kemenangan karena kita hidup menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)