Ringkasan Khotbah : 9 April 2006

Eksposisi Nehemia 2

Nats: Neh. 2:11-20

Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra

 

Pendahuluan

Sepintas kitab Nehemia ini sepertinya tidak membicarakan tentang hal yang rohani, kitab ini hanya berisi tentang visi dan misi Nehemia dimana sebagian orang ada yang mendukung dan sebagian orang menentang. Hari ini kita kembali merenungkan kitab Nehemia 2:11-20 namun ada baiknya kalau kita mengingat kembali beberapa aspek sebelumnya, yakni:

1) Nehemia 1:1-11

- kerusakan fisik mencerminkan kerusakan/kebobrokan rohani di dalamnya.

- setelah mendapatkan visi maka yang dilakukan adalah “sabat“ – berdiam diri di hadapan

  Tuhan, mengkhususkan waktu untuk peka akan kehendak Tuhan.

- bangsa Israel adalah umat pilihan namun telah berbuat dosa sehingga Tuhan menjadi  

  murka dan dalm doanya, Nehemia memohon ampunan dari Tuhan. Nehemia juga

  memegang janji Tuhan, yaitu Tuhan janji akan memulihkan kota Yerusalem kembali.

2) Nehemia 2:1-10

- semua tindakan haruslah dikerjakan menurut waktu dan rencana Tuhan.

- raja Artasasta adalah raja yang besar dan berkuasa namun ada Raja lain yang lebih besar

  dari raja dunia, yaitu Raja di atas segala raja yang mengarahkan hati raja.

- ketika misi Tuhan dijalankan maka ada orang yang tidak suka dan hendak menggagalkan.  

Kitab Nehemia yang menjadi perenungan kita membentuk struktur kiastik, yaitu inti berita terdapat pada bagian tengah dimana bagian ini menjadi batu penjurunya sedang dua bagian yang mengapit harus dipahami sebagai terang dari bagian kedua. Terlebih dahulu, kita akan memahami bagian tengah dengan demikian kita mengerti maknanya.

I. Misi dinyatakan kepada orang-orang Yehuda.

Tugas membangun kembali kota Yerusalem bukan pekerjaan satu orang. Nehemia menyadari akan hal ini maka ia membagikan visi itu pada seluruh bangsa Israel. Hal ini juga menjadi suatu pengujian apakah benar visi tersebut dari Tuhan ataukah hanya ambisi pribadi belaka? Ingat, kita bukanlah pusat dari pekerjaan Tuhan, janganlah mengambil alih hak Tuhan dan mencuri kemuliaan Tuhan. Biarlah kita meneladani Nehemia yang tidak menganggap diri penting, ia tidak menulis namanya dalam kitab yang ia tulis bahkan ia rela berkorban demi pekerjaan Tuhan dijalankan dan nama Tuhan di permuliakan. Nehemia ingin mengungkapkan beberapa hal, yaitu:

Pertama, Kehancuran kota Israel bukan semata-mata kehancuran suatu kota, melainkan kehancuran suatu spiritualitas dan identitas bangsa Israel. Didunia modern ini orang sulit melihat gambaran ini sebab filsafat modern mengajarkan orang untuk berpikir secara dualisme, yakni membagi dua hal antara yang bersifat sakral dan sekuler dan keduanya tidak boleh dihubungkan. Adalah benar bahwa Tuhan memilih sejak kekekalan dan kalaupun kita jatuh dalam dosa, hal itu tidak mempengaruhi keselamatan sebab keselamatan itu merupakan anugerah. Kebenaran ini ditafsirkan salah, akibatnya banyak orang berbuat dosa. Namun di sisi lain, orang sangat takut kalau keselamatan itu hilang sehingga ia menjalani hidup baik-baik bahkan cenderung paranoid. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat kita yakin kalau kita adalah umat pilihan? apakah kita pernah melihat ada nama kita yang tertulis dalam kitab kehidupan? Bagaimanakah kita tahu kalau kita adalah umat pilihan Allah? Sungguh sangatlah menyedihkan, orang yang terjebak dalam konsep dualisme, ia tidak dapat merasakan sukacita sejati di dunia. Merupakan suatu kebahagiaan, ketika seorang yang mengerti kebenaran sejati dan mengimplikasikan dan kehidupan sehari-hari. Nehemia mengajak orang Israel untuk melihat suatu fenomena fisik bukan berhenti pada fenomena tersebut saja melainkan juga mencerminkan hal lain yang ada di dalamnya.

Kedua, Allah menyatakan kemurahan-Nya kepada Nehemia dan juga seluruh bangsa Israel. Nehemia sangat menyadari bahwa kemurahan Tuhan itu bukan semata-mata untuk dirinya sendiri  melainkan untuk menyatakan kemurahan yang lebih besar bagi banyak orang. Seorang anak Tuhan setelah mendapatkan kemurahan Tuhan, ia harus membagikan berkat itu kepada orang lain dengan demikian pekerjaan Tuhan dibangkitkan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita mempunyai hati seperti Nehemia ataukah kita justru merasa diri sebagai “orang penting“ karena mendapat visi dari Tuhan? Sudahkah kita menjadi saluran berkat? Ataukah karena kita telah menerima kemurahan Allah, kita merasa punya hak kepada siapa kita membagikan berkat Tuhan. Sesungguhnya, orang menyadari bahwa berkat Tuhan yang telah kita terima haruslah kita salurkan kepada orang lain namun sadarkah kita kalau kita justru telah menjadi batu sandungan karena kesombongan kita karena kita merasa sebagai “orang penting“ yang mengemban visi Tuhan? Ingatlah, ketika kesombongan itu mulai menyergap hati kita, siap-siaplah kaki dian itu diambil dari kita dan dipindahkan pada orang lain (Why. 2:1-7). Biarlah kita boleh meneladani hidup Nehemia dimana ketika ia men-sharingkan visinya, ia tidak menyebut satupun jasanya, antara lain: ia bertaruh nyawa ketika berhadapan dengan raja Artasasta. 

Ketiga, pada bagian ini Nehemia dengan terang-terangan memisahkan antara raja dan Raja tidak seperti sebelumnya – seolah-olah tersembunyi dibalik raja (Neh.2:1-10). Raja yang sesungguhnya bukanlah raja yang di istana yang terbatas yang tidak tahu setiap perbuatan kita yang tersembunyi. Tidak! Dia adalah Raja di atas segala raja, Dia adalah Tuhan, Dia tahu setiap perbuatan kita maka hal itu, seharusnya membuat kita berhati-hati dan melakukan setiap hal dengan sebaik-baiknya. Di dunia, orang lain mungkin tidak tahu setiap perbuatan kita yang tersembunyi namun ingat, ada Tuhan yang melihat setiap perbuatan kita, Dia tahu setiap hal yang kita pikirkan; Dia menuntut pertanggung jawaban dari setiap perbuatan dan kelakuan kita. Nehemia menyadari bahwa di balik semua keberhasilannyanya ada Raja di atas segala raja yang menjadi Penentu dan Pemegang sejarah.

II. Tindakan Nyata terhadap misi I: Persiapan

Kisah ini dimulai dengan tibanya Nehemia di Yerusalem sebagaimana diamanatkan oleh raja. Sepintas kalau kita membaca kisah ini maka kita menjumpai tidak ada suatu keanehan dengan survei yang dilakukan oleh Nehemia namun perhatikan, kata “bangunlah“ (Neh. 2:12) di sini berasal dari bahasa Ibrani “qum“ yang artinya bangkit. Kata qum ini juga yang dipakai oleh Tuhan Yesus ketika Ia membangkitkan Lazarus setelah tiga hari meninggal, yakni tabita, talita qum. Kata “qum“ yang diterjemahkan dengan “bangun“ dalam terjemahan bahasa Indonesia disini kurang tepat, seharusnya terjemahan yang tepat adalah “rise“ (bhs. Inggris). Neh. 2:11 tertulis: “sesudah tiga hari aku disana...“ maka bagian sarat dengan tipologi Kristus. Kebangkitan Kristus membangkitkan setiap manusia untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah kalau kita telah dibangkitkan Kristus maka sekarang, kita membangkitkan siapa untuk boleh sama-sama ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan?

Perhatikan, Nehemia ketika mensurvei tembok-tembok Yerusalem pada malam hari dilakukan seorang diri. Pada jaman itu, kondisi kota Yerusalem yang telah menjadi puing-puing itu sangatlah menyeramkan. Rute yang ditempuh Nehemia bukanlah rute yang singkat, ia harus melewati terowongan-terowongan air yang gelap dimana di sana menjadi tempat sarang penjahat dan binatang buas. Nehemia demi untuk menjalankan misi Tuhan ini, ia berani dan rela menempuh bahaya. Hari ini, orang begitu sombong, merasa dirinya sebagai orang penting karena dipakai menjadi alat Tuhan, sehingga dirinya perlu dijaga sedemikian rupa dijauhkan dari segala mara bahaya. maka jelaslah kalau itu bukan visi dari Tuhan. Nehemia ketika menjalankan misi Tuhan, ia tidak melakukannya dengan sembarangan; dengan segenap hati dan tenaga ia curahkan untuk pekerjaan Tuhan. Nehemia  mengamati tembok Yerusalem dengan seksama, baik dari luar maupun dari dalam tembok. Bagaimana dengan kita?

Ketika kita mendapatkan visi dari Tuhan apakah kita menganggap diri sebagai orang penting dan paling pandai, kita merasa berhak untuk mengarahkan orang lain dan orang lain harus tunduk. Pertanyaannya sekarang adalah bukti apa yang dapat kita berikan? Bukti yang kita berikan justru tidak lebih adalah pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Kita hanya sibuk sendiri dengan berbagai cara kita berusaha supaya diri menjadi pusat. Kita minta supaya orang lain percaya akan semua hal yang kita ajarkan yang kita anggap sebagai kebenaran namun ternyata, kita justru melanggar etika yang paling mendasar. Kita mengaku diri sebagai saksi Kristus namun perbuatan dan sikap kita tidak mencerminkan sebagai murid Kristus. Maka jangan heran kalau Kekristenan ditolak dan ditertawakan oleh dunia. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita telah menjadi alat iblis. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkah kita menjadi saksi Kristus dan memancarkan terang-Nya?

III. Tindakan nyata terhadap misi II: Pro Kontra

Ketika misi Tuhan ini dinyatakan maka kita melihat ada dua kelompok orang; kelompok pertama adalah orang-orang yang berespon untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan dan kelompok kedua adalah orang-orang yang menentang. Namun perenungan kali ini tidak membicarakan kelompok pertama karena itu mencakup keseluruhan pasal ketiga. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mendukung dan dengan sekuat tenaga melakukan pekerjaan Tuhan, tidak ada satupun dari mereka yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang menentang pekerjaan Tuhan, ketika misi Tuhan disampaikan, mereka justru memfitnah, mencaci maki bahkan menghina. Cara yang dipakai oleh golongan kedua ini sangatlah halus, orang akan sulit melihat kejahatan yang sedang mereka rencanakan. Mereka tidak memakai kata-kata yang jahat untuk menggagalkan pekerjaan Tuhan. Tidak! Sebaliknya mereka memakai kata-kata yang sepertinya sangat nasionalis, mereka menuduh Nehemia dan kawan-kawan mau memberontak terhadap raja. Orang-orang ini sepertinya adalah orang yang setia kepada negara dan raja namun sesungguhnya mereka justru melawan titah raja yang menginginkan kota Yerusalem untuk dibangun kembali.

Di dunia modern, orang berani mengatasnamakan orang lain demi untuk kepentingan pribadi bahkan yang lebih berani lagi orang memakai nama Tuhan demi untuk mencapai tujuan pribadi. Kita tidak lebih hanyalah seorang penjilat jikalau benar demikian lalu apa bedanya dengan orang-orang yang berjihad, orang memakai nama Tuhan untuk membunuh orang lain. Secara esensi, kita tidak beda dengan mereka; perbedaannya adalah kalau para jihad memakai bom dan benda-benda peledak tapi kita memakai kata-kata untuk menghancurkan orang lain. Ingat, pada saat itu Tuhan akan membuang kita.  Firman Tuhan menegaskan Allahlah yang membuat berhasil dan setiap orang yang menentang pekerjaan Tuhan  tidak akan mempunyai bagian atau hak dan tidak diingat di Yerusalem.

Sanbalat, orang Horon adalah bangsa yang ada di Kanaan dimana Tuhan pernah perintahkan bangsa Israel untuk menumpas habis mereka. Tobia, orang Amon adalah keturunan Lot, saudara Israel; ketika bangsa Israel hendak masuk tanah Kanaan, mereka meminta ijin untuk melewati wilayah bani Amon. Bangsa Israel sangat menghormati bani Amon sebagai saudara sebaliknya bani Amon membayar Bileam untuk mengutuki bangsa Israel. Pada jaman hakim-hakim, bani Amon bekerja sama dengan suku-suku yang lain untuk memusnahkan bangsa Israel. Gesyem adalah orang Arab, keturunan Ismael. Mereka bukanlah orang yang baru kemarin sore bermusuhan dengan bangsa Israel. Sesungguhnya orang-orang tersebut adalah gambaran diri kita. Kita seringkali menuntut orang lain untuk mengampuni kesalahan kita sebaliknya kita tidak pernah mengoreksi diri sudahkan kita mengampuni kesalahan orang lain dan melupakan kesalahan mereka? Bukankah hal ini sama dengan diri orang-orang Sanbalat, bani Amon, dan orang Gesyem; bangsa Israel telah berbaik hati mau melupakan kesalahan mereka dan bersahabat dengan mereka namun sebaliknya mereka tidak pernah mengampuni bangsa Israel bahkan mereka terus berusah untuk menghancurkan bangsa Israel. Ketika menghadapi semua intrik ini, Nehemia tidak tergoyahkan karena ia tahu ada Raja di atas segala raja, Allah Yahweh yang berkuasa yang membuatnya berhasil.

Di dunia modern ini ada tiga golongan orang yang berespon terhadap teguran, yakni: 1) orang modern, orang yang “berkuasa,“ sekalipun salah, ia tetap harus dibenarkan bahkan orang tak segan-segan mengkambing hitamkan orang lain demi untuk menutupi kesalahan yang ada pada dirinya; 2) orang postmodern, mereka mengakui kesalahan dan mau meminta maaf namun tidak ada perubahan dalam hidupnya, kesalahan yang sama akan dilakukan lagi, 3) anak Tuhan sejati, mau mengakui segala perbuatan dosa dan hal itu ditunjukkan dengan adanya pertobatan sejati dalam hidup yang ditunjukkan dengan adanya perubahan hidup.

Biarlah kita dipakai menjadi alat Tuhan yang memuliakan nama-Nya dan menjadi saksi Kristus yang memancarkan terang di tengah dunia yang gelap. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)