|
Ringkasan Khotbah : 05 Februari 2006
Nats: Mat. 20:1-16 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Pendahuluan
Hubungan relasi kerja antara si tuan dan pekerjanya dalam perumpamaan ini merupakan gambaran dari Kerajaan Sorga, yakni Tuhan Allah dengan para warga Kerajaan Sorga. Perumpamaan ini menyadarkan kita akan konsep waktu, konsep anugerah, konsep manfaat, konsep hidup dan konsep kerja yang berbeda dengan dunia. Pemilik kebun anggur merupakan gambaran dari Tuhan Allah Sang Raja, kebun anggur itu merupakan gambaran dunia yang adalah wilayah kerja kita dan para pekerja itu adalah gambaran dari setiap orang yang dipanggil oleh Tuhan. Seluruh konsep berpikir mempengaruhi seluruh aspek hidup kita. Hari ini sampailah kita pada tema terakhir, yaitu konsep kerja. Etos kerja yang salah membuat orang mempunyai konsep berpikir salah, hal inilah yang terjadi pada si pekerja jam 6 pagi – 6 sore, ia iri hati karena orang yang hanya bekerja sejam mendapat upah yang sama dengan dirinya. Tuhan Yesus mengkritik dengan keras konsep kerja yang diajarkan oleh dunia karena seluruh orientasi itu sudah membalikkan esensi kerja yang benar. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita mengerti konsep kerja yang benar? Untuk memahami etos kerja yang sejati maka terlebih dahulu, kita harus menghancurkan seluruh pemikiran kita yang selama ini telah salah dengan demikian kita dapat memahami konsep yang benar seperti yang Tuhan inginkan.
I. Apa dan Mengapa Bekerja – Manusia Dicipta untuk Bekerja
Untuk memahami konsep kerja yang sejati maka kita harus kembali pada penciptaan. Manusia adalah ciptaan tertinggi, manusia dicipta sebagai the head of creation, manusia menjadi kepala dari semua ciptaan dan Allah memberi tugas pada manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Hak istimewa ini hanya diberikan pada manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Jadi, kerja merupakan natur manusia yang adalah mahkota ciptaan. Bekerja bukanlah beban. Manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah maka apa yang ada dalam diri Allah yang sifatnya sempurna itu harus turun secara derivatif dalam diri kita meski secara kualitatif, manusia tidak dapat menyamai Allah. Allah itu kasih, Allah itu suci, Allah itu adil maka manusia juga harus memiliki sifat kasih, adil dan manusia juga harus hidup suci. Dunia modern telah menyelewengkan konsep kerja sedemikian rupa maka tidaklah heran tujuan orang bekerja hanya untuk mencari hal-hal yang sifatnya duniawi. Betapa rendahnya nilai kita sebagai manusia. Ketika bekerja orang hanya mengkaitkan dengan benda mati saja maka orang akan berakhir dengan kematian. Dunia tidak akan pernah memahami bahwa prinsip kerja tidak hanya sekedar berkait dengan benda mati semata tetapi ada hal lain yang lebih bernilai dari itu, yakni kerja berkait dengan kekekalan.
Alkitab menegaskan bahwa Allah Bapa itu bekerja bahkan sampai hari inipun Allah tetap bekerja di dalam diri setiap manusia dan Tuhan Yesus menyatakan bahwa Bapa-Ku bekerja sampai sekarang (Yoh. 5:17) itulah sebabnya kita juga harus bekerja. Kalau Allah saja bekerja maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bekerja. Untuk memahami konsep kerja yang sejati maka kita harus kembali pada Alkitab. Dalam perumpamaan, orang yang bekerja mulai jam 6 pagi itu menuduh si tuan pemilik kebun anggur itu tidak adil. Bukankah sebelumnya telah terjadi kesepakatan tentang upah sedinar sehari maka ketika ia menerima upah sedinar apakah hal itu dapat dikatakan sebagai ketidakadilan? Si tuan inipun berkata,“Ambillah bagianmu dan pergilah....“ Sepertinya ia sukses namun pada saat yang sama ia dibuang. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah saat ini kita telah bekerja seperti halnya bekerja seperti yang Tuhan Yesus ajarkan?
Upah sedinar sehari ini tidak sama dengan konsep UMR (Upah Minimum Regional) pada jaman sekarang. Konsep UMR ini lebih cocok untuk pekerja jam 5 – 6 sore, upah sedinar yang diterima pekerja jam 6 pagi – 6 sore itu merupakan upah dan penghargaan. Upah adalah nilai kerja setara dengan pembayaran harga kerja maka kalau hari ini kita bekerja dan mendapat upah dimana nilai upah itu setara dengan nilai kerja yang kita hasilkan maka itu yang disebut dengan prinsip keadilan. Sistim UMR ini diberlakukan bagi mereka yang tidak mencapai kualitas yang diinginkan tapi upah yang diterima itu tidak akan cukup untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.
II. Bagaimana Bekerja – Menebus Dunia Kerja
Ada perbedaan drastis dalam bekerja antara sebelum dan sesudah jatuh ke dalam dosa. Dosa menyebabkan dunia kerja, sikap kerja dan cara berpikir kita telah bergeser dari aslinya; orang bekerja berdasarkan kondisi kasual, orang bekerja diikat oleh situasi yang ada di sekelilingnya. Dua aspek yang perlu mempengaruhi konsep kerja, yaitu: pertama, dari diri sendiri yang selalu mencurigai kebaikan Tuhan. Setan telah berhasil membuat manusia jatuh ke dalam dosa karena konsep yang ditanamkan, yaitu membalikkan kebaikan Allah ditafsirkan sebagai kejahatan (Kej. 3:1-5). Sungguh tak habis pikir, Tuhan telah berbaik hati memberikan pekerjaan tapi orang justru menuduh Dia tidak adil. Segala hal yang berkaitan dengan kebenaran Tuhan, kemurahan Tuhan, kebajikan Tuhan dikaitkan dengan hal yang negatif.
Dalam perumpamaan ini, si tuan pemilik kebun anggur ini beberapa kali keluar rumah untuk mencari pekerja, yaitu mulai jam 6 pagi, jam 9, jam 12, jam 3, dan terakhir jam 5, pertanyaannya sekarang adalah mengapa ia melakukan hal tersebut? Seorang penafsir menyatakan ada 2 kemungkinan yang menyangkut hal ini, yaitu: 1) kekurangan jumlah pekerja karena kebun anggurnya terlalu luas. Namun kemungkinan ini sangatlah kecil sebab hal itu tidak sesuai dengan sifat Kerajaan Sorga, yakni serakah, si tuan ini mengambil seluruh pekerja sehingga tidak ada satu pun yang tersisa untuk si tuan yang lain. Jikalau hal ini benar terjadi mengapa si tuan ini bertanya,“Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?“ Bukankah itu berarti ia ada di sana sepanjang hari itu maka dapatlah disimpulkan bahwa penafsiran yang menyatakan kekurangan pekerja ini tidak sesuai; 2) pekerja pertama – pekerja jam 6 pagi ini tidak bekerja dengan baik, tidak setara dengan hasil yang diharapkan sehingga si tuan ini perlu untuk mencari pekerja lain maka si pekerja jam 5 sore inilah yang kemungkinan mencapai kualitas kerja yang diharapkan. Seorang yang bersepakat bahwa 12 jam kerja mendapat upah sedinar maka itu belum menyelesaikan kualitas kerja tetapi baru aspek jam kerja. Hal inilah yang terjadi hari ini di dunia dan Indonesia khususnya; orang sengaja mengulur waktu karena sistim upah harian sebaliknya ketika sistim upah borongan tidak diberlakukan, orang bekerja secara sembarangan tanpa mempedulikan kualitas kerja. Hal ini disebabkan karena orang tidak mengkaitkan antara kualitas kerja dengan upah kerja, orang hanya berpikir sempit, yakni mengkaitkan upah dengan jam kerja. Kerja yang baik adalah mencapai kualitas tinggi dalam waktu yang singkat namun sayang, hal ini tidak dimengerti.
Kedua, aspek lingkungan, lingkungan kerja kita mungkin buruk tapi justru disanalah Tuhan menempatkan kita supaya kita menjadi berkat. Hendaklah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus, lingkungan tempat Ia bekerja tidak baik namun sikap Tuhan Yesus tidak bergeser, semangat hidup, cara kerja menunjukkan kualitas yang tinggi karena Tuhan Yesus taat mutlak pada Bapa-Nya di sorga. Sadarlah hari ini kalau kita dapat bekerja maka itu semua karena anugerah, Tuhan berkenan memakai kita untuk menjalankan rencana-Nya. Kalau kita menyadari anugerah ini maka sikap kita pasti berbeda, tidak seperti pekerja pertama yang bersungut-sungut dan menuduh si tuan jahat sebaliknya kita akan bekerja dengan maksimal, seluruh tenaga dan pikiran dicurahkan demi untuk mendapatkan kualitas yang terbaik.
Hendaklah ketika kita bekerja, kita mempunyai jiiwa untuk memberi bukan ingin mendapatkan sesuatu, kita mempunyai jiwa ingin menebus dunia kerja, redeem the work,untuk dipakai bagi kemuliaan Tuhan. Menebus berarti membayar dan untuk hal ini kita harus siap berkorban. Alasan kenapa kita harus menebus dunia kerja, yaitu karena dunia ini telah jatuh dalam dosa. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, alam kerja manusia sangatlah indah, tapi setelah kejatuhan manusia dalam dosa maka dunia kerja kita menjadi dunia kerja yang penuh dengan onak dan duri; manusia harus berjerih lelah ketika bekerja. Dunia telah jatuh dalam dosa, karena itu jangan pernah bermimpi atau berharap kita akan mendapat lingkungan kerja yang baik seperti layaknya di taman Eden. Tidak! Karena itu, kita harus menebus dunia kerja yang telah rusak itu, kita harus menjadi berkat di tempat kita bekerja.
Janganlah pernah sekalipun terlintas dalam pikiran kita kalau memberi itu sebagai kerugian. Tidak! Sebaliknya ketika memberi justru menjadi suatu keuntungan, kita akan merasakan sukacita tersendiri. Hati-hati jangan terjebak dengan pertanyaan: kalau bekerja mau upah berapa? Sebab yang berhak memberi dan berapa jumlah upah yang kita terima itu adalah atasan kita. Si pekerja pertama dalam perumpamaan ini telah terjebak dengan hal ini, ketika ia ditawarkan mau gaji berapa ia telah sepakat dengan upah sedinar dan ironisnya ketika ia mendapat upah yang diinginkan, ia justru merasakan ketidakpuasan karena ia melihat pekerja lain, yaitu pekerja yang hanya bekerja sejam ternyata mendapatkan gaji yang sama. Hal ini seharusnya menyadarkan kita supaya jangan terjebak dengan nilai uang ataupun kondisi lingkungan kerja kita. Ingat, sebagai warga Kerajaan Sorga yang telah memahami etos kerja yang benar maka menjadi tugas kita ketika kita bekerja kita harus memberikan yang terbaik di tempat dimana Tuhan tempatkan kita untuk bekerja, kita harus menebus dunia kerja dan untuk itu kita juga harus siap berkorban. Etos kerja Kristen ini hanya dipunyai dan dapat dilakukan oleh anak Tuhan yang sejati. Dunia tidak akan dapat menjalankan konsep kerja ini sebab: 1) dunia tidak pernah memahami arti dari karya penebusan Kristus sehingga dunia tidak akan pernah mau berkorban, dunia hanya mau menerima hal-hal yang menguntungkan saja, 2) dunia tidak akan tahan menghadapi tantangan sebab tantangan yang dihadapi bukan datang dari dunia saja tapi juga penguasa-penguasa dunia, yaitu iblis dan hanya Kristus, Tuhan yang berkuasa saja yang dapat menolong kita, memberikan kita kekuatan sehingga kita dapat melawan segala penguasa dunia. Jangan pernah berpikir bahwa pengorbanan itu sebagai hal yang merugikan. Tidak! Kualitas kerja itu bukan diukur dengan nilai uang atau dipengaruhi dengan lingkungan kerja. Biarlah ketika bekerja kita membawa kemuliaan Tuhan di tempat kita bekerja.
III. Dimana Bekerja – dalam Kerajaan Sorga
Dalam perumpamaan ini kita menjumpai bahwa tuan pemilik kebun anggur ini adalah tuan yang murah hati tetapi sayang, kemurahan hati sang tuan ini tidak dimengerti oleh para pekerjanya. Adalah wajar ketika kita bekerja di dunia, kita akan berjumpa dengan atasan yang jahat dan semena-mena maka merupakan suatu anugerah kalau kita dapat bekerja dan mempunyai atasan yang sangat baik. Jadi, kalau kita ditempatkan di suatu tempat kerja maka itu bukan sembarangan tapi ada maksud dan rencana Tuhan. Kerja yang sejati adalah kerja yang harus sesuai dengan kebenaran Tuhan maka tidak semua tempat kerja dapat kita masuki dan tidak semua tempat kerja itu namanya kerja. Sebagai anak Tuhan yang sejati kita harus berani menyatakan kebenaran meski untuk kita harus dimusuhi oleh dunia sebab dunia berdosa tidak akan suka dengan kebenaran. Bagi orang berdosa, kebenaran itu merupakan suatu kejahatan, sebagai contoh, bagi seorang pencuri, polisi itu jahat meski polisi itu bertindak benar tetap akan dikatakan jahat.
Kerja bukan tergantung dari diri kita apakah kita suka atau tidak, kerja bukan tergantung dari orang tua kita mau atau tidak mau. Tidak! Kerja itu tergantung dari Sang Tuan yang memanggil kita untuk bekerja dan menempatkan kita bekerja dimana. Jangan takut dan kuatir sebab Tuan yang memanggil kita bekerja itu akan menyertai kita dimana kita ditempatkan untuk bekerja dan kita harus mempermuliakan nama-Nya dimanapun saja kita bekerja. Inilah prinsip Kerajaan Sorga yang dibukakan oleh Kristus Sang Raja itu sendiri pada kita. Karena kita ini adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10). Tuhan telah memberikan talenta yang cukup pada setiap kita maka kita harus kembangkan dan kerjakan semua itu dengan bertanggung jawab.
Dunia telah jatuh dalam dosa, karena itu orang tidak memahami prinsip kerja Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Kristus. Dunia selalu mengajarkan manusia untuk menjadi seorang yang materialis dan humanis, orang tidak pernah diajar bagaimana mengerti kehendak Tuhan. Maka tidaklah heran kalau berhubungan dengan spiritualitas, masuk sekolah Theologi misalnya, orang akan bergumul keras tapi tidak demikian halnya ketika ia hendak sekolah atau bekerja di tempat “basah“, yakni tempat yang menguntungkan maka orang tidak perlu bergumul lagi. Ingat, kita bukan bekerja di tempat yang diinginkan oleh dunia, kita bukan bekerja di tempat yang diinginkan oleh orang tua kita. Tidak! Kita bekerja karena Tuhan yang menginginkan kita untuk bekerja di tempat dimana Tuhan mau menaruh kita bekerja dan dimanapun Tuhan tempatkan kita harus memuliakan nama-Nya.
Kita telah memahami tentang prinsip Kerajaan Sorga, bagaimana dengan diri kita? Kalau selama ini mentalitas dan etos kerja kita dicengkeram oleh filsafat dunia, maukah kita bertekad untuk diubahkan? Betapa indah hidup kita kalau mengimplikasikan prinsip kerja Kerajaan Sorga yang diajarkan oleh Kristus, kita akan bekerja dengan penuh sukacita karena kita tahu segala yang kita kerjakan itu bernilai kekal, kita tidak terikat dengan nilai uang maupun kondisi lingkungan. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Sang Tuan berkenan memanggil kita bekerja di ladang-Nya karena itu, marilah kita kerjakan talenta yang Tuhan sudah berikan itu dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab dengan demikian kita dapat menjadi berkat bagi dunia. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)