Ringkasan Khotbah : 29 Januari 2006

Life & Works: Concept of Life

Nats: Mat. 20:1-16

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Sepintas kalau kita membaca perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dalam Injil Matius ini sepertinya berbicara tentang kerja dan masalah upah. Tidak! Sesungguhnya perumpamaan itu hendak mengungkapkan suatu rahasia Ilahi yang indah, yakni konsep Kerajaan Sorga dimana di dalamnya terdapat konsep hidup, the concept of life seperti yang diajarkan dalam doa Bapa Kami, yakni datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,... ini berarti Kerajaan Allah itu hadir dalam diri orang percaya. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana merelasikan antara Kerajaan Sorga yang sifatnya rohani ke tengah dunia yang materi? Secara logika adalah mustahil merelasikan antara dunia materi dan dunia non materi akibatnya manusia terjebak dalam konsep dualisme. Muncul pendapat yang mengatakan bahwa dunia platonik terbagi atas dua dunia, yaitu: 1) dunia tubuh yang bersifat negatif dan tidak sempurna, 2) dunia roh yang bersifat positif dan sempurna.

Hari ini kalau kita melihat banyak sekali kejahatan di dunia maka itu disebabkan karena roh yang sifatnya baik itu telah dibelenggu oleh tubuh yang jahat sehingga roh tidak berdaya lagi. Dunia barat menyebutnya dengan teori soma sema. Kata “soma“ berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti tubuh/daging sedang kata “sema“ berarti belenggu/penjara. Teori ini mengajarkan bahwa tubuh adalah penjara jiwa maka untuk melepaskan ikatan jahat itu dilakukan berbagai cara, yaitu: pertama, cara asketis, orang menjauh dari keramaian dunia, pergi ke suatu tempat sepi dan menyendiri; orang juga meredupkan hidup mereka dengan tidak memakai sesuatu yang bernilai karena orang menganggap barang bernilai hanya memberikan kenikmatan pada tubuh. Orang demikian ini biasanya hanya memakai pakaian yang sangat sederhana, makan makanan yang sangat sederhana, tidak mau menikah, dan masih banyak lagi hal lain yang dianggap memanjakan tubuh tidak dilakukan. Ternyata di dunia modern ini, sebagian orang berpikir asketis, orang tidak mau menggunakan segala sesuatu yang berbau teknologi karena orang beranggapan semua produk yang berbau teknologi modern itu dosa karena semua itu sifatnya hanya memberikan kenikmatan pada tubuh, kedua, orang menganiaya tubuhnya sendiri, tubuh dianggap telah mencengkeram roh maka satu-satunya cara supaya kita terbebas dari penjara jiwa tersebut adalah dengan menghancurkan tubuh yang menjadi penjara jiwa dengan demikian diri kembali suci. Konsep ini juga muncul di dunia modern yang kita kenal dengan teori new age. Konsep new age memaparkan bahwa tubuh yang adalah penjara jiwa ini dapat dilepaskan dengan cara mistis, yakni out of the body experience – suatu pengalaman dimana roh dapat keluar dari tubuh. Hati-hati, ini merupakan salah satu cara setan untuk mempermainkan manusia. Ketika manusia berhasil melepaskan rohnya dari tubuh maka orang merasa dirinya sudah rohani.

Alkitab menegaskan bahwa manusia itu terdiri atas: tubuh dan roh dimana tubuh dan roh ini merupakan satu kesatuan; jika roh lepas dari tubuh maka manusia itu akan mati. Tuhan mencipta manusia sangat unik, Allah mencipta manusia menurut gambar dan rupa-Nya dan Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan Dia menghembuskan nafas kehidupan. Jadi, hidup merupakan gabungan dari jasmani dan rohani, keduanya tidak bisa dipisahkan; tubuh tanpa roh maka ia tidak lebih hanya seonggok debu tanah. Itulah sebabnya kita harus melawan teori evolusi termasuk evolusi theistik yang menyatakan bahwa Allah sebagai perancang evolusi itupun juga harus kita lawan. Teori evolusi melihat penciptaan itu tidak lebih hanya sekedar proses bukan sebagai suatu momen. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka tubuhnya mati dan rohnya pun juga mati. Konsep ini tidak dimengerti oleh dunia maka tidaklah heran kalau orang menjadi dualistik; kita tidak tahu bagaimana merelasikan antara dunia spiritual dan dunia material.

Bagaimana kita dapat memahami hidup yang sejati, yakni hidup yang benar-benar hidup? Mungkinkah bagian yang rohani ini dihimpit oleh hal yang sifatnya jasmani? Jika salah satu bagian, misalnya kalau tubuh yang rusak apakah roh itu bisa masih tetap baik? Pertanyaannya sekarang adalah mana mempengaruhi mana, tubuh mempengaruhi roh atau roh yang mempengaruhi tubuh? Jawabnya: keduanya saling mempengaruhi karena tubuh dan roh merupakan satu kesatuan. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah manakah yang lebih utama berpengaruh, tubuh atau roh? Jawabnya adalah roh yang lebih utama mempengaruhi tubuh. Sayangnya, dunia tidak paham akan hal ini akibatnya, orang melihat hidup secara sempit karena orang tidak dapat merelasikan antara hal yang sifatnya spiritual dengan hal yang sifatnya materi. Hal inilah yang akan kita renungkan pada hari ini, kita hendak meneladani Tuhan Yesus dimana Dia sendiri datang untuk mengimplikasikan Kerajaan Sorga yang sifatnya spritual ke dalam dunia yang sifatnya materi.

1. Hidup sejati bukan bergantung pada materi

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pekerja dengan tuannya yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah terjadi kesepakatan dengan si pekerja, yaitu sedinar sehari maka ia pun mulai bekerja. Masalah mulai muncul ketika ia tahu bahwa upah yang diterima oleh pekerja yang mulai jam 5 sore itu ternyata juga sebesar satu dinar, jadi kalau bekerja sejam sedinar maka ia yang mulai jam 6 pagi sampai jam 6 petang harusnya mendapat upah 12 dinar. Si pekerja ini telah terjebak masuk dalam konsep pola berpikirnya yang salah akibatnya ia melihat pekerjaan itu tidak lebih hanya sekedar angka. Tuhan Yesus menegaskan bahwa (banyak) orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir (Mat. 20:16). Marilah kita mengevaluasi diri kita hari ini kalau kita bersekolah atau bekerja maka semua itu dilakukan untuk apa? Untuk uang! Lalu uang itu untuk apa? Untuk mendapat kekayaan! Kekayaan untuk apa? Untuk mendapat kebahagiaan. Maka dapatlah disimpulkan bahwa sesungguhnya tujuan akhir hidup manusia adalah kebahagiaan.

Sungguh amatlah disayangkan kalau hidup hanya dikunci oleh materi, orang hanya akan bekerja dan bertindak kalau ada angka tertentu yang dianggap menguntungkan maka disini angka itu menjadi segala-galanya. Sebaliknya, orang yang telah berpikir tentang tujuan akhir hidup berarti ia telah memahami bahwa antara hidup dan kekekalan itu saling berkait. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana merelasikan antara dunia spiritual dan dunia material? Bahagia sifatnya non materi lalu bagaimana membawa hal yang bersifat non materi masuk ke dalam dunia materi? Sangatlah disayangkan sampai hari ini orang masih mempunyai pandangan yang keliru khususnya di budaya Tionghoa mengajarkan bahwa uang adalah sumber kebahagiaan. Adalah suatu kesalahan fatal kalau kebahagiaan yang sifatnya non materi dikunci oleh uang yang sifatnya materi.

Perhatikan, uang hanyalah sarana untuk mencapai kebahagiaan. Jikalau benar kebahagiaan itu sasaran akhir dari hidup manusia dan uang hanyalah sarana untuk mencapai kebahagiaan maka pertanyaannya sekarang adalah kalau uang itu tidak membuat orang bahagia, maukah orang melepaskan uang yang adalah sumber bencana? Untuk lebih jelasnya kita mencoba memahami melalui sebuah ilustrasi yang diceritakan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Dikisahkan ada sebuah patung yang disebut patung damai sejahtera. Patung ini sangat dipercaya dapat membawa kedamaian bagi seluruh rakyat yang di dalamnya ada patung perdamaian tersebut. Celakanya, ternyata ada empat suku di sekitar Indocina yang mempercayai hal ini, tentu saja setiap suku ini ingin mendapatkan patung perdamaian tersebut akibatnya terjadilah perang antar suku. Ironis, negeri yang ada patung perdamaian justru tidak merasakan damai sejahtera.

Secara logika, sangatlah mustahil hal yang materi menguasai hal yang non materi, yang mati menguasai yang hidup. Kristus datang ke dunia bukan memberikan materi tetapi Dia datang menyerahkan hidup-Nya demi untuk menyelamatkan manusia berdosa. Hidup yang diberikan oleh Kristus itulah hidup yang sejati – hidup yang  menghidupkan. Sadarlah, kita ini adalah manusia berdosa maka mustahil seorang manusia berdosa dapat mencapai kebahagiaan kecuali kita itu kembali pada Allah Sang Sumber Kehidupan maka kita tidak akan dihimpit oleh hal yang bersifat materi sebab Dia yang mengontrol seluruh aspek material di dalam hidup kita. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya bahwa tubuh dan roh saling mempengaruhi tetapi yang paling utama mempengaruhi adalah roh; kalau aspek spiritual kita dihidupkan maka tubuh kita akan dihidupkan. Inilah konsep Kerajaan Sorga yang tidak dimengerti oleh dunia bahkan oleh murid Tuhan Yesus. Berulang kali para murid ini berpikir hal Kerajaan Sorga itu sama seperti kerajaan dunia. Ingat, Kerajaan Sorga berbeda dengan kerajaan dunia, jadi,  jangan samakan Kerajaan Sorga dengan kerajaan dunia.  

2. Hidup sejati merupakan suatu anugerah

Sepintas kalau kita membaca perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur pasti kita akan langsung setuju dengan protes yang diteriakkan oleh si pekerja yang bekerja mulai jam 6 pagi. Kita hanya melihat permasalahan secara sempit berbeda halnya kalau kita melihat secara totalitas, kita akan menemukan suatu kebenaran Ilahi. Beberapa penafsir menyatakan bahwa melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus hendak mengungkapkan tentang hal Kerajaan Sorga dan seluruh tatanan sejarah; perumpamaan ini menjadi sebuah sindiran bagi orang Israel. Pekerja yang bekerja mulai jam 6 pagi sampai jam 6 petang merupakan gambaran dari orang Israel, orang pertama yang dipilih oleh Tuhan sedang pekerja yang bekerja mulai jam 5 sampai jam 6 petang merupakan gambaran dari orang kafir yang bertobat, seumpama pohon anggur maka ia bukan anggur asli tetapi anggur yang dicangkok. Hal inilah yang hendak dikontraskan oleh Tuhan Yesus.

Pekerja yang protes ini yang merasa diperlakukan tidak adil ini tidak dapat melihat permasalahan secara tajam, mereka telah mengulang kembali sejarah manusia berdosa. Perhatikan, ketika si tuan rumah ini keluar mencari pekerja-pekerja pada pagi hari, disana berkumpul banyak orang yang memang hendak mencari pekerjaan termasuk pekerja yang mulai jam 5 sore juga ada di situ. Orang-orang ini tidak mempunyai hak untuk meminta pekerjaan. Mereka sangat tergantung pada si tuan rumah yang memberikan pekerjaan pada mereka. Cobalah bayangkan, bagaimana perasaan si pekerja jam 5 sore ini ketika ia mendapati bahwa temannya telah mendapat pekerjaan terlebih dahulu. Pastilah ia sangat iri, bukan? Maka sepanjang hari itu ia menunggu kalau-kalau ada tuan rumah yang memberikan pekerjaan padanya. Orang yang mendapat pekerjaan mulai jam 6 pagi itu seharusnya bersyukur sebab diantara sekian banyak orang, ia mendapat anugerah, ia yang dipilih pertama kali. Begitu juga dengan diri kita, kita sepatutnya bersyukur sebab Tuhan telah berkenan memilih kita untuk masuk dalam Kerajaan-Nya dan menjadi umat Allah; semakin dini kita dipilih kita harus semakin bersyukur sebab kita telah mendapatkan kesempatan lebih banyak berjalan bersama dengan Tuhan.

Sayangnya, orang Israel tidak memahami bahwa kalau mereka yang dipilih Tuhan itu merupakan suatu anugerah yang patut disyukuri. Tuhan yang Maha Baik itu memelihara umat pilihan-Nya dari kelaparan, dari ancaman musuh, dan masih banyak lagi hal yang dikerjakan Tuhan dengan cara yang dahsyat dan ajaib demi untuk menjagai umat pilihan-Nya. Sungguh sukar dimengerti oleh logika manusia, orang Israel yang sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuhan menolong dengan caranya yang ajaib, mereka merasakan penyertaan dan pimpinan Tuhan namun hal itu tidak membuat mereka bersyukur sebaliknya mereka malah bersungut-sungut. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sama seperti orang Israel yang tidak pernah mensyukuri akan anugerah Tuhan yang begitu limpah atas kita? Sadarlah, kalau sampai hari ini kita masih bisa hidup dan bekerja, kita tidak kekurangan suatu apapun maka itu merupakan suatu anugerah.

3. Hidup sejati berkait dengan rencana kekal Allah.

Si pekerja jam 6 pagi ini merasa hidupnya lebih sengsara dibanding dengan pekerja jam 5 sore karena jam kerjanya lebih lama, yakni 12 jam dibandingkan dengan mereka yang bekerja sejam. Benarkah demikian? Pada hakekatnya, Tuhan mencipta manusia untuk bekerja maka jangan pernah berpikir kalau kita menganggur itu justru sangat menyenangkan. Tidak! Kita ini adalah buatan Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:10). Tuhan ingin kita bekerja karena kerja itu merupakan sebuah natur. Kalau kita dihadapkan pada dua pilihan, yaitu: bekerja atau menganggur dimana segala sesuatunya telah disiapkan, mau apapun tinggal minta bahkan makan pun di suapin, kita hanya tidur saja maka mana yang lebih kita pilih? Pilihan pertama atau kedua? Perhatikan, orang yang kerjanya hanya tidur saja maka ia justru akan lebih cepat mati dibanding mereka yang bekerja.  Merupakan suatu sukacita kalau hidup kita dipakai oleh Tuhan. Biarlah ketika kita hidup di dunia, itu berarti bekerja memberi buah dan kalaupun kita mati maka itu merupakan suatu keuntungan (Flp. 1:21-22). Kerajaan Sorga berbeda dengan kerajaan dunia. Setiap kita yang dipanggil untuk hidup dalam Kerajaan Sorga berarti mengerti akan arti dan makna hidup, yakni hidup bekerja bagi Tuhan dan menggenapkan rencana-Nya sehingga ketika menghadap Tuhan kita dapat berkata: “Sudah selesai.“  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)