|
Ringkasan Khotbah : 22 Januari 2006
Nats: Pkh. 4:17 Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta |
Tema kitab Pengkhotbah secara keseluruhan adalah kesia-siaan, segala sesuatu yang ada di dalam kolong langit ini adalah sia-sia. Memang, segala sesuatu adalah sia-sia namun satu hal yang ingin Salomo tegaskan bahwa jika kita kerjakan di dalam Allah dan takut akan Allah maka hidup kita tidak akan menjadi sia-sia. Kitab Pkh. 4:17 ini merupakan suatu khotbah yang khusus sebab kalau kita bandingkan dengan kitab Amsal yang berisi petunjuk-petunjuk positif untuk seseorang dapat menjalani kehidupan di tengah dunia yang kacau balau atau kalau kita bandingkan dengan kitab Ayub yang membukakan pada kita bahwa dalam kehidupan seorang anak Tuhan pun tidak lepas dari penderitaan maka melalui kitab Pkh. 4:17, Salomo membukakan suatu realita kehidupan ibadah. Salomo menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh manusia itu bisa menjadi suatu kesia-siaan meskipun hal itu dilakukan dalam bait Allah, dilakukan dalam suatu hubungan yang paling intim antara manusia dan Tuhan. Mengapa kehidupan ibadah ini menjadi suatu kesia-kesiaan padahal kehidupan ibadah ini menjadi suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Israel sehari-hari.
Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah (Pkh. 4:17), kalimat ini bukanlah sekedar saran atau himbauan tetapi kalimat yang diungkapkan oleh Salomo ini merupakan suatu perintah. Menurut bahasa aslinya, kata “menjaga“ disini mengandung suatu unsur kewaspadaan, watch your step. Perhatikan, ada perbedaan yang signifikan antara seorang yang pergi ke rumah Allah dengan seorang yang hendak pergi untuk berjalan-jalan santai sebab ketika seorang hendak pergi ke rumah Allah di dalamnya terdapat peperangan rohani. Lalu bagaimana orang dapat memahami bahwa ada suatu peperangan rohani ketika ia hendak melangkah ke dalam rumah Tuhan? Kita mungkin pernah mendengar atau bahkan kita yang mengalaminya, yakni ketika kita mengajak orang untuk beribadah, mereka menolaknya dengan berbagai alasan. Kita mungkin juga pernah mendengar orang yang menganggap ibadah itu hanya pada saat pemberitaan Firman saja sehingga hal itu menjadi alasan baginya untuk datang terlambat. Di satu sisi kita juga melihat orang yang mengalami keterhambatan dalam fisik bergumul untuk dapat pergi beribadah. Ini adalah suatu bentuk peperangan rohani.
Kitab Pkh. 4:17 ini dimulai dengan suatu perintah dan diakhiri dengan suatu prinsip penting yang menjadi kunci dasar dari seluruh kitab Pengkhotbah, yaitu: “takutlah akan Allah“ (Pkh. 5:6b). Dalam perikop ini kita melihat ada tiga unsur penting yang tidak dapat dilepaskan dari suatu ibadah, yaitu: doa, korban dan nazar. Namun, seluruh doa yang dipanjatkan, korban persembahan yang diberikan dan nazar yang diucapkan itu menjadi sia-sia kalau tidak dilakukan di dalam takut akan Allah. Ironisnya, orang tidak menyadari kalau dalam ibadah yang mereka lakukan itu mereka telah berbuat dosa. Perenungan kita hari ini bukan tentang doa, korban atau nazar tetapi kita akan merenungkan tentang beberapa aspek peperangan rohani yang terjadi ketika kita hendak melangkahkan kaki ke rumah Tuhan.
1. Hadirat Tuhan vs Kemegahan diri
Ketika seseorang hendak berjalan ke rumah Allah sesungguhnya ia sedang berjalan di dalam peperangan untuk mencari hadirat Allah atau mencari hadirat yang lain. Apakah ibadah itu? Ibadah bukan hanya sekedar duduk, memberikan persembahan atau mendengarkan Firman. Tidak! Ibadah adalah pertemuan pribadi antara pencipta dengan Sang Pencipta, pertemuan antara manusia berdosa dengan Allah yang Maha Suci. Ibadah layaknya sebuah festival atau celebration karena itu, di dalam ibadah ada liturgi, seperti votum, doa pengakuan dosa, saat teduh sampai pada akhirnya, yaitu doa berkat. Sadarkah kita kalau sesungguhnya ketika kita melangkah dalam rumah Tuhan, kita sedang menuju tahta Allah yang Maha Kudus; kalau sesungguhnya kitalah yang membutuhkan Tuhan bukan sebaliknya! Kita bukanlah siapa-siapa di hadapan hadirat Tuhan maka janganlah kita memegahkan diri. Ibadah seharusnya menjadi evaluasi dan refleksi dan juga ucapan syukur kita atas pimpinan-Nya selama satu minggu. Ibadah merupakan suatu persekutuan yang bersifat khusus dan pribadi bukan suatu rutinitas belaka. Inilah peperangan yang sangat mendasar yang sampai saat ini kita hadapi. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah kita mengkhususkan hati ketika kita hendak pergi ke rumah Tuhan? Apakah kita sudah menundukkan diri di hadapan Tuhan dan bukannya memegahkan diri? Ingat, rumah Tuhan disini bukan bangunan fisik tetapi rumah Tuhan yang dimaksud dalam kitab Pengkhotbah ini adalah tempat dimana Allah bisa bersemayam di dalamnya. Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Biarlah kita mengevaluasi diri dan diubahkan dengan demikian Firman Tuhan menjaga langkah kita ketika kita berjalan ke rumah Tuhan.
2. Kebenaran Allah vs kebenaran lain
Ketika kita datang ke dalam rumah Allah maka sesungguhnya kita sedang mencari kebenaran Allah. Seorang Pengkhotbah ketika sedang memberitakan kebenaran Firman Tuhan maka itupun merupakan suatu peperangan. Itulah sebabnya kita menjumpai dalam suatu Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) ada beberapa orang yang mendoakan dan berpuasa ketika Firman diberitakan sebab ada peperangan antara kuasa Allah dan kuasa iblis. Ingat, kalau seorang dapat disadarkan akan dosa-dosanya dan bertobat maka itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sadarkah di dalam kehidupan kita, ketika kita datang ke dalam rumah Tuhan maka pada saat yang sama kita sedang mencari kebenaran-Nya? Bagaimanakah sikap kita ketika kebenaran Firman itu diberitakan? Apakah kebenaran Firman menyadarkan kita akan dosa? Apakah kebenaran Firman mengubahkan hidup kita? Ataukah kita bersikap sebaliknya ketika kebenaran itu diberitakan kita justru bersikap tak acuh? Atau kita memandang Kebenaran Firman tidak lebih hanyalah sebuah permainan logika belaka? Sisi hati kita yang paling gelap tidak pernah tersentuh oleh Sang Kebenaran sejati sehingga kita tidak pernah menemukan kebenaran sejati. Mengenai keadaan dan kondisi hati manusia ini juga diungkapkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan tanah dan penabur. Marilah kita berdoa untuk setiap hamba Tuhan yang hendak menyampaikan kebenaran Firman sekaligus kita membuka diri sedalam-dalamnya untuk kebenaran yang sejati itu dengan demikian hidup kita diubahkan dan semakin serupa Dia. Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!
3. Mendengar Suara Allah vs suara lain
Alkitab menyatakan bahwa menghampiri untuk mendengar lebih baik daripada kita mempersembahkan korban seperti yang dilakukan oleh orang-orang bodoh. Namun kalimat tersebut bukan berarti orang-orang dilarang untuk mempersembakan korban persembahan. Tidak! Konteks ketika kalimat itu diberikan adalah pada saat itu anak-anak Imam Eli, yakni Hofni dan Pinehas melakukan korban persembahan di dalam Bait Allah dengan tidak bertanggung jawab dan tidak disertai dengan rasa takut akan Allah. Hari inipun masih banyak orang yang beranggapan bahwa kalau kita memberikan persembahan maka Tuhan pasti akan memberkati dengan lebih banyak; semakin banyak persembahan yang kita beri maka berkat yang diberikan semakin banyak. Kita mungkin berkata dalam hati, “Aku bukan termasuk dalam golongan orang seperti Hofni dan Pinehas, ketika dalam rumah Tuhan, aku mendengarkan Firman.“ Namun pertanyaan lebih lanjut adalah kalau benar kita datang untuk mendengar suara Tuhan, sudahkah Firman Tuhan menyentuh hati kita yang terdalam?“ Kata “mendengar“ disini mempunyai pengertian, yaitu mendengar hal-hal yang benar yang hanya dari Tuhan sendiri. Peperangan rohani itu terjadi ketika kita berada dalam suatu masa dimana kita dikoreksi oleh Tuhan, apakah kita mau menjadikan Firman Tuhan menjadi bagian dari diri kita atau kebenaran itu hanya memantul di hati kita? Jagalah langkahmu kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Biarlah dengan rendah hati kita datang di hadapan Tuhan, mohon Tuhan mengubahkan saat kita mendengar kebenaran Firman itu. Banyak penafsir yang berpendapat bahwa “mendengar“ merupakan sikap penerimaan yang pasif artinya orang tidak akan mengurangi atau menambah apa yang diungkapkan dari apa yang ia terima ketika ia mendengar suatu pesan. Kalau mendengar bersifat pasif, apakah itu berarti kita tidak boleh mengkritisi setiap khotbah yang disampaikan? Jawabnya: sangat perlu tetapi perhatikan, semua itu harus dilakukan dengan suatu semangat dan motivasi karena kita ingin mendengarkan suara Tuhan terlebih dahulu dan kita mau diubahkan. Biarlah kita berkata, “Tuhan, jangan biarkan aku melewatkan setiap bagian demi bagian di dalam ibadah mulai sejak awal sampai akhirnya.“ Dalam suatu ibadah, pemberitaan Firman Tuhan merupakan bagian yang terutama namun Tuhan bukan hanya sekadar bicara pada saat itu saja. Tidak! Tetapi setiap bagian demi bagian dalam ibadah disana juga Tuhan berbicara. Ketika kita ingin mendengarkan suara Tuhan dengan baik maka iblis tidak akan tinggal diam dengan segala cara ia berusaha mengalihkan kita maka hal ini menjadi suatu peperangan. Oleh karena itu, jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!
4. Pelayan Tuhan vs penikmat berkat Tuhan
Ketika seorang anak Tuhan datang ke dalam rumah Allah maka ia dapat melakukan ibadah dengan baik namun semua itu tidak lebih bersifat ritual belaka. Orang dapat berdoa, mempersembahkan korban dan bernazar dengan baik namun sesungguhnya ia tidak pernah menjadi seorang pelayan Tuhan yang sejati. Orang terjebak dalam suatu ritual belaka, mereka kehilangan makna dari ritual itu sendiri. Mereka tidak memahami apa arti dari korban persembahan! Sadarlah, kita dipanggil bukan untuk sekadar masuk dalam suatu ritual tetapi kita dipanggil untuk masuk dalam suatu ibadah dengan demikian kehidupan ibadah kita menjadi sesuatu yang berdampak dalam kehidupan kita. Kita dipanggil menjadi seorang pelayan Tuhan bukan sekadar penikmat berkat! Setiap orang yang mengambil bagian dalam pelayanan dalam pekerjaan Tuhan maka mereka sudah menjadi pelayan Tuhan yang sejati. Biarlah kita tidak sekadar menjadi penonton yang baik saja tetapi kita mau menjadi pelayan Tuhan dan biarlah kita dipakai menjadi pelayan yang takut akan Allah. Pernahkah kita menyadari bahwa kalau Tuhan memakai kita menjadi pelayan-Nya dan dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain itu sebagai suatu anugerah? Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Biarlah dengan takut dan gentar kita mau menjadi pelayan Allah yang sejati bukan sekedar penerima berkat Tuhan saja.
5. Masuk vs Keluar dari rumah Allah
Ketika masuk dalam rumah Allah, Tuhan ingin supaya kita menjaga motivasi kita, memiliki hati yang siap. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya ketika kita keluar dari rumah Tuhan ada suatu perubahan dalam hidup kita? Salomo menegaskan bahwa mempersembahkan korban hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh karena mereka tidak tahu kalau sesungguhnya mereka telah berbuat jahat. Hal ini membuktikan apa yang kita lakukan di dalam rumah Tuhan tidak otomatis membuat kita lebih baik di hadapan Tuhan. Bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran, mereka melakukan ritual-ritual yang kudus namun pada saat yang sama mereka melakukan praktek dosa. Hendaklah kita memohon pada Tuhan supaya ketika kita masuk dalam bait-Nya yang kudus, Tuhan mengubahkan kita dan sepulang dari rumah Tuhan; kita tahu akan kebenaran maka hendaklah kita memohon pada Tuhan untuk memberikan keberanian, kekuatan dan memampukan kita untuk berubah. Sia-sialah seluruh ibadah kita kalau tidak ada sedikitpun perubahan yang nampak dari diri kita; ketika kita masuk dan keluar dari rumah ibadah kelakuan kita masih sama malah membuat kita semakin jauh dari Tuhan. Antara masuk dan keluar dari rumah Tuhan ini merupakan bentuk peperangan yang lain. Orang dapat menangis ketika ia datang dalam ibadah tetapi ketika ia keluar dari rumah ibadah, air matanya tidak berguna; di dalam rumah Tuhan keluar puji-pujian indah dari mulutnya tetapi setelah keluar dari rumah Tuhan, keluar makian dari mulutnya. Sesungguhnya dalam rumah Tuhan itulah saatnya Tuhan memulihkan setiap kelemahan kita. Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Biarlah kita senantiasa menjaga langkah kita ketika berjalan dalam rumah Tuhan dengan demikian hidup kita semakin memuliakan Tuhan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)